Work Text:
fushiguro megumi cuma anak umur empat tahun yang tergila-gila pada permen gula kapas saat itadori yuuji mengenalnya untuk pertama kali.
kausnya—sebab di hari pertama mereka masih belum mendapat seragam—bergambar salah satu karakter film waralaba yang punya identitas laba-laba dengan sablon yang hampir luntur seluruhnya. di hari pertama mereka masuk tk, hanya dia dan yuuji yang tak diantar oleh orang tua. jadi yuuji berjalan menuju laki-laki yang terlihat pendiam itu. tangan kanannya memegang gula kapas dan ia memandang yuuji dengan tatapan menghakimi. bagi yuuji yang saat itu juga anak umur lima tahun bertangan kosong, ia tak peduli dengan tatapan megumi saat itu. sebab di kepalanya hanya ada satu; permen gula kapas.
“aku boleh minta?”
megumi masih dengan pandangan menghakimi menjawabnya, “ini?”
yuuji mengangguk, “aku nggak tahu itu apa.”
“nggak tahu kok mau minta?”
di kepala kecilnya saat itu, yuuji hanya paham kalau permen gula kapas punya penampilan menarik. dan cara megumi—yang kala itu duduk sendirian di kursi panjang lorong kelas mereka di taman kanak-kanak—terlihat begitu menikmatinya. yuuji tak punya banyak pertimbangan. dia juga ingin mencobanya.
“pasti manis.”
“bener,” kata megumi. dia lalu menyobek sedikit permen gula kapasnya dan memberikannya pada yuuji. “cobain.”
mata berbinar yuuji muncul saat ia menerima permen gula kapas itu. megumi menggeser posisi duduknya, meminta yuuji buat ikut duduk.
“kata ibu kalau makan harus duduk.”
tak banyak kata-kata lagi, yuuji ikut duduk di samping megumi. pelan-pelan, ia menggigit permen gula kapas itu, merasakan manis menyelimuti lidahnya. matanya menyala girang dan bibirnya tersenyum. megumi, yang kaget karena bagaimana bisa permen kapas bisa memberi dampak yang begini hebat pada anak laki-laki yang masih tak ia tahu namanya ini, lama-lama jadi ikut senyum.
“namanya permen kapas,” megumi kini memberikan sisa permen gula kapasnya kepada yuuji. “kamu sama sekali belum pernah coba?”
“belum,” ujar anak itu setelah berterima kasih menerima permen kapas megumi. “ini pertama kalinya.”
“nggak boleh sama ibu kamu, ya?”
“aku nggak pernah ketemu ibu. katanya, ibu udah di surga sejak aku masih kecil,” yuuji menghabiskan sisa-sisa permen kapasnya. “aku sama kakek. tapi kakek aku nggak pernah beliin aku permen kapas kayak gini.”
megumi menatap yuuji dengan pandangan kasihan—walau saat itu belum sanggup diurainya perasaan menjadi bentuk definisi yang utuh. dia hanya tahu kalau tidak punya ibu itu bukan sesuatu yang bisa membuat bahagia. oleh karenanya ia mengizinkan yuuji tetap duduk di sampingnya hingga guru menyuruh mereka masuk.
“oh iya, nama kamu siapa? aku yuuji.”
“aku megumi.”
“megumi, kita duduk bareng, ya, di dalem?”
tadi, beberapa jam sebelum masuk ke tk, ayahnya bilang kalau megumi harus berteman. tapi teman yang megumi pikirkan tadinya adalah anak yang mungkin memakai seragam keren dan sepatu warna putih. sementara yuuji, adalah anak biasa, yang terlihat polos dan tidak pernah memakan permen gula kapas sebelum dirinya.
hanya, sesuatu dalam dirinya bergerak secara otomatis. ketika ia menyambut uluran tangan yuuji yang menggandengnya masuk ke dalam ruang kelas dan ikut berbaris bersama beberapa anak baru lainnya. membentuk seri dan menuju kursi masing-masing.
saat yuuji tersenyum lebar sambil menatapnya karena mereka berhasil duduk bersama, megumi tahu kalau punya teman yang tidak memakai sepatu warna putih ataupun seragam keren, tidak buruk juga.
---
waktu mereka naik ke sekolah dasar, yuuji dan megumi kembali menimba ilmu di tempat yang sama.
ibu megumi bahkan akan dengan sengaja membawakan dua bekal; satu buat anaknya sendiri dan satu buat yuuji. lalu mereka akan menghabiskan waktu pulang sekolah dengan bermain bersama. berkejaran ke rumah megumi sebelum yuuji dijemput kakeknya ketika sore tiba. kadang dalam kondisi keduanya tertidur di ruang tamu, hingga megumi harus digendong menuju kamarnya sendiri dan yuuji digendong sang kakek menuju rumah mereka.
masa kecil yang mereka pelihara itu seperti genangan yang tenang. putih merah yang ramah, kadang mereka bermain hujan kalau ibu megumi mengizinkan. telur gulung di depan sekolah mereka pun sudah tahu kalau mereka akan membeli enam tusuk untuk tiga masing-masing. semua orang tahu kalau di mana pun megumi duduk, maka yuuji juga akan ada di situ.
mereka tumbuh bersama—dua orang anak laki-laki yang hidup saling menggantungkan pada satu sama lain. oleh karena itu ketika ibu megumi mulai sering masuk rumah sakit, yuuji adalah orang kedua yang lebih sering mengunjungi ruangannya setelah anaknya sendiri.
yuuji tak pernah mengenal orang tuanya. di kepalanya, kakek adalah satu-satunya figur orang tua yang ia ketahui. ia tidak pernah diajari ayahnya naik sepeda, ia juga tidak pernah dibuatkan bekal oleh ibunya. oleh karena itu, buat yuuji, ibu megumi adalah seorang malaikat yang diturunkan kepadanya, dengan wujud seorang ibu yang tidak pernah ia punya.
sel kanker yang menggerogoti tubuh ibu megumi membuatnya harus terus menerus tidur di ranjang rumah sakit untuk waktu yang lama. jadi setiap pulang sekolah, tujuan pulang yuuii dan megumi berganti. mereka berjalan menuju rumah sakit tempat ibu megumi dirawat—yang lokasinya tidak jauh dari sekolah—lalu bermain di sana hingga sore. tsumiki, kakak megumi, akan menyusul lebih siang dan kadang kala ikut bergabung bersama mereka. tapi sering kali ia hanya membaca buku di sofa ruang rawat inap itu dan tertidur sampai sore tiba.
megumi bukan anak yang pintar mengekspresikan perasaannya. dan meskipun ia hanya anak berumur dua belas tahun yang baru beranjak remaja, ia tak banyak bicara. berbanding terbalik dengan yuuji yang bisa dengan mudah apapun yang diinginkannya. oleh karena itu, yuuji akan selalu bertanya bagaimana perasaannya tiap mereka mengunjungi ibu megumi yang tubuhnya semakin kurus itu. apa yang dia rasakan. apa yang diinginkannya.
dan seringkali, megumi hanya menjawabnya dengan satu frasa,
“nggak apa-apa.”
yuuji selalu tahu anak itu berbohong. tapi tak pernah benar-benar bisa melakukan sesuatu untuknya. mungkin karena, juga, ibu megumi telah melakukan segala hal yang dia bisa untuk menyembunyikan rasa sakitnya. ia akan mengajak megumi dan yuuji naik ke ranjangnya lalu menceritakan banyak sekali kisah dari seluruh dunia yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. lalu dengan suara dan senyumnya yang hangat, ibu megumi akan mengusap kedua anak itu, sebelum berkata,
“kalian harus saling jaga satu sama lain, ya.”
sering kali, kata-kata itu jadi seperti janji. karena setahun setelahnya, ibu megumi meninggal dunia. tidak lama setelah mereka berdua masuk smp.
yuuji hadir di pemakaman itu sejak pagi. mengekori megumi ke mana-mana yang tampak tidak mengeluarkan ekspresi apapun sejak sang ibu pergi untuk selamanya. hingga pemakaman berlangsung, megumi hanya memandangi pusara ibunya dengan tatapan kosong sementara yuuji mewakili megumi dengan menangis untuknya.
“lu nggak apa-apa, gum?”
setelah malam semakin larut, orang-orang yang datang untuk berbelasungkawa sudah meninggalkan rumah duka. toji mengurung diri di kamarnya sementara tsumiki tidur bersama neneknya. dan yuuji bersikeras tak ingin pulang karena ia ingin menemani megumi di sini—seperti yang dijanjikannya pada ibu anak laki-laki itu. di kamar megumi, hanya ada mereka berdua. duduk bersisian di ranjang sambil memandang layar komputer megumi yang tidak menyala.
“nggak apa-apa,” kata megumi. ia berbaring di ranjangnya sambil memeluk beanie yang dikenakan ibunya. “lu balik aja, yuuji. gue nggak apa-apa.”
mungkin selain semesta, cuma yuuji yang tahu kalau anak laki-laki ini tengah bersandiwara. arah matanya yang kabur dan mengawang, hela napasnya yang berat, serta caranya berbicara. meskipun megumi bukan anak yang sering bicara, intensitasnya berkata-kata menurun drastis dibanding biasanya.
dari situlah yuuji menyimpulkan kalau megumi sedang tidak baik-baik saja.
yuuji ikut berbaring di samping sahabatnya itu, ikut memandang langit-langit kamarnya, berusaha merasakan apapun yang sedang megumi rasakan meskipun ia tak sepenuhnya mengerti. ia masih sangat kecil ketika ayah dan ibunya pergi, satu-satunya perasaan kehilangan paling familiar yang bisa dirasakannya justru hari ini.
dan yuuji, ingin juga, sahabatnya merasakannya. merasakan kesedihan yang wajar, kesedihan yang normal, kesedihan yang memang seharusnya dia rasakan.
“dari kecil, gue sama kakek, ‘kan, gum,” kata yuuji. “tapi sebenernya, walaupun kelihatannya gue biasa aja, gue selalu penasaran gimana rupa ibu gue. gue ingin tahu wanginya, gue ingin tahu suaranya, gue ingin tahu bagaimana rasa masakannya.”
megumi terdiam mendengarkan yuuji berbicara.
“nyokap lu yang kasih tahu gue semua itu, gum. rasa penasaran gue, semuanya terjawab,” yuuji pelan-pelan meraih tangan megumi menepuk-nepuknya. “nyokap lu seperti dikirimkan tuhan buat membayar semua rasa sepi gue selama ini. jadi, gue yang bukan anaknya aja sedih banget, gum. apalagi lu.”
saat itu, ada sesuatu dari suara yuuji yang membuat megumi sesak luar biasa. memori tentang sang ibu tahu-tahu terputar seperti roll film di kepalanya. semua usahanya di hari-hari terakhirnya, senyumnya, air matanya, dan semuanya. kesedihan yang sejak tadi ditahan megumi menggumpal di kelopak matanya, membuatnya ingin menangis.
“kalau mau, keluarin aja, gum,” yuuji menepuk pundaknya. “sini.”
dan megumi menurut. ia membalik kepalanya, menyembunyikannya di pundak megumi untuk meraung-raung di sana. mengeluarkan seluruh emosi yang sejak tadi ditahannya.
“nggak apa-apa, gum, nangis aja. biar nyokap-nyokap kita ngetawain kita dari surga.”
malam itu, megumi dan yuuji menangis bersama. menumpahkan semua kesedihan yang selama ini tersimpan di sudut hati mereka masing-masing. karena orang yang mati tak lagi bisa apa-apa selain dikenang, beginilah cara megumi dan yuuji merawat sisa-sisa perasaan mereka dalam tangis pilu yang menyesakkan; dengan menepati keinginan ibu megumi untuk saling menjaga satu sama lain.
sebab itu yang kini mereka punya.
---
“gue diajakin nobara masuk osis.”
yuuji, yang baru saja sukses memasukkan bola ke dalam ring langsung menoleh ke arah sahabatnya itu. gedung olahraga indoor milik sma mereka ini tak diisi oleh siapapun selain mereka berdua. jadi, suara megumi yang tidak begitu keras tadi bisa didengarnya dengan baik.
“kemarin katanya mau ikut apa itu, ekskul robotik-robotik. sekarang osis?” yuuji berlari untuk mengambil bola basket dan kembali ke posisinya tadi sambil mendribble bola. “ntar capek lu.”
“makanya bantu gue mikir,” megumi—yang semula duduk di kursi penonton—kini ikut turun dan merebut bola dari yuuji. “mending robotik, kir, apa osis?”
“buset, tambah kir juga?” yuuji berusaha mengambil kembali kuasa bola dari megumi. tapi sahabatnya itu sedikit lebih tangkas. dalam beberapa dribble, megumi sedikit melompat untuk melempar bola itu ke dalam ring dan sukses melewatinya. “lihat aja habis ini ada yang tambah basket juga.”
megumi tertawa, “kagak lah. gue mau yang kegiatannya di dalem ruang ber-ac.”
yuuji meraih bola lagi, kali ini tanpa diintervensi megumi. ia mendribble-nya dan melakukan lay up yang sukses mencetak angka.
“osis aja,” kata yuuji. “lu itu ada bakat jadi pemimpin tau, gum.”
“ngaco lu.”
“yeeh, bener kali.”
kali ini keduanya berjalan beriringan menuju kursi penonton. begitu sampai, megumi langsung menyerahkan air mineral yang tadi dibelinya di kantin dan yuuji meneguknya hingga sisa setengah. kompetisi basket antar sma tinggal menghitung hari dan tiap ada waktu seperti jam kosong begini, yuuji selalu menyempatkan diri untuk berlatih sendiri.
“osis aja sumpah, percaya gue,” yuuji meletakkan botol itu tepat di sampingnya. “kalau lu bisa nyalon ketua osis, ‘kan, lumayan, gum, gue bisa lobi-lobi buat bintang tamu pensi.”
megumi tertawa kecil, “emang mau panggil siapa sih?”
“ya, sekarang belum kepikiran. tapi nanti tahun depan pas jaman angkatan kita jadi panitia, ‘kan, siapa tahu udah.”
saat sibuk berdiskusi begitu, tahu-tahu sesosok tubuh perempuan muncul dari ambang pintu. nobara kugisaki, salah satu teman sekelas mereka, berlari-lari kecil menuju bangku penonton.
“gue cari ke mana-mana malah pacaran di sini,” kata perempuan itu.
“enak aja pacaran!”
“habis kalian ke mana-mana berdua mulu kayak biji,” perempuan berambut pendek itu kemudian meraih selembar kertas yang terlipat dari sakunya lalu menyerahkannya kepada megumi. “ini formulir osis. kalau lu daftar, udah pasti masuk, gum.”
“nepotisme, ya, ini?” celetuk yuuji.
“yaa, nggak salah sih,” seloroh nobara. “tapi, tetap ikut tes kok. cuma bang yuuta kemarin kasih tahu gue, kalau anak yang pas smp ikut osis, kemungkinan keterimanya hampir sembilan puluh persen.”
“ya udah sana, gum, daftar osis aja.”
“beneran ini?” megumi tampak ragu-ragu.
“iya, beneran.”
“buset, harus banget perkara beginian aja izin suami dulu, gum,” kali ini, kata-kata nobara mendapat tepukan ringan di bahunya dari megumi. “kenapa gue dianiaya sih!”
“habis mulut lu itu, ara,” megumi menarik formulir dari tangan nobara. “suami-suami.”
“ya udah pacar.”
“ara, kalau kamu bacot terus aku cubit, loh,” kali ini yuuji yang bersuara. takjub dengan kemampuan mengoceh perempuan berambut pendek itu. “aku sama megumi nggak pacaran.”
mendengar kata-kata itu, nobara hanya mengendikkan bahu. lalu berkata, “belum aja kali.”
setelahnya, perempuan itu berlalu meninggalkan lapangan olahraga indoor diikuti megumi. sementara yuuji termenung di kursi yang sama sambil memandangi punggung megumi dan nobara yang semakin tidak terlihat setelah melewati ambang pintu.
belum, katanya. memang akan begitu?
---
di tahun kedua mereka menduduki bangku sma, megumi—sesuai prediksi yuuji—menjadi ketua osis.
tidak begitu banyak yang berubah di antara yuuji dan megumi. selain kalau mereka jadi jarang pulang bersama seperti biasanya. sejak kakek yuuji pensiun, yuuji tak pernah lagi mampir ke rumah megumi setiap pulang sekolah. selain karena ia jadi punya kewajiban untuk langsung menuju ruang olahraga untuk berlatih basket, megumi juga lebih sering berada di ruang osis daripada di tempat lain.
kadang yuuji datang mengunjungi sahabat laki-laki itu untuk memberikannya makanan atau sekadar mengecek kondisinya. megumi sendiri hanya punya waktu untuk membeli air mineral dan menitipkannya kepda siapapun anak basket yang bisa ia temui buat memberikannya ke yuuji.
banyak yang terjadi di bangku sma, sebetulnya. tapi memori yuuji dan megumi, meskipun telah berbaur dengan campur tangan eksistensi orang-orang lainnya, tetap melibatkan satu sama lain. makanya meskipun mereka mengatakan kalau mereka hanya sekadar teman kepada nyaris siapapun yang bertanya, tidak pernah ada jawaban yang tergantung secara mutlak.
sebab entah sejak kapan yuuji menyadari kalau di mata megumi ada banyak bintang-bintang.
sudah hampir setahun lalu kata-kata nobara membangun sejenis teori di kepalanya. tentang belum dan tentang bagaimana megumi di pandangannya. tapi tiap kali ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi, di kepalanya selalu hanya terputar kata-kata ibu megumi agar ia tidak meninggalkan anaknya. sebagai teman, itu saja.
cuma, konstelasi bintang itu jadi mengerikan. entah sejak kapan.
ada sejenis agenda tahunan rutin yang dilaksanakan di sekolah mereka. salah satu program kegiatan osis di bidang seni yang akan mengadakan acara musik. biasanya setelah penampilan dari murid-murid, akan ada bintang tamu besar yang jadi penutup acara.
“bintang tamunya danilla.”
“sumpah?”
yuuji dan megumi ada di rumah yuuji. setelah agenda colong-colongan waktu karena hari ini rapat pensi libur dan yuuji mendapat dispensasi latihan karena kemarin kakinya cedera. walaupun tidak parah, coach mereka memaksa yuuji untuk tidak datang latihan sampai seminggu ke depan. jadilah mereka berdua berakhir di sini.
“iya,” megumi mencuri pisang goreng yang ada di tangan yuuji. membuatnya mendapat satu pukulan di leher. “anjing penganiayaan.”
“lu ambil kek yang dari piring!” yuuji melotot sewot. “danilla sama siapa?”
“danilla aja—yuuji woi, itu lu minum pakai gelas gue?”
“oh iya, sorry,” tapi permohonan maaf itu tetap dilanjutkan dengan yuuji meneguk jus jeruk buatan kakek yuuji itu dari gelas milik megumi. “jadi buka buat umum nggak?”
“jadi, tapi tiket buat yuuji udah gue siapin.”
“asik.”
yuuji sudah membayangkan kalau dia bakal dapat posisi depan demi menonton penyanyi cewek kesayangannya itu. dia akan datang dari sore, mungkin sambil membantu anak osis menyiapkan pensi. lalu mengobrol bersama megumi sembari makan snack-snack yang dijual tenant sponsor. begitu danilla tampil, dia akan berlari kencang menuju barisan paling depan.
semua rencana itu sudah tersusun rapi di kepalanya. terutama karena dia memang sangat menunggu penampilan danilla dan karena selama ini ia selalu tersandung izin dari kakeknya tiap kali hendak menonton acara gigs, ini adalah kesempatan yang sangat langka. gratis pula.
sayangnya, rencana hanya tinggal rencana.
di hari acara pentas seni diadakan, yuuji datang sejak sore sesuai yang sudah ia atur. lalu ia segera mencari megumi yang mungkini tengah bergabung dengan anak osis lainnya. dan ia menemukan megumi dalam kondisi pucat pasi. badannya demam.
“nggak usah kerja lagi,” yuuji bicara begitu ia berhasil menyeret megumi ke klinik sekolah. saat itu, hari sudah mulai gelap dan orang-orang mulai mendatangi sekolah mereka. baik murid-murid maupun pengunjung umum. “lu sakit, megumi.”
“tapi bentar lagi kelar,” megumi meneguk air mineral dari gelas di meja. “gue udah nggak apa-apa kok. ayo stand by nonton danilla.”
“gumi.”
“yuuji.”
mereka berpandangan untuk waktu yang lama. saling mempertahankan pendapat satu sama lain. biasanya, kalau sudah begini, megumi sama sekali tidak bisa dibantah. tapi wajahnya yang pucat dan badannya yang terlihat lemas begini, tinggal menunggu waktu saja sampai dia benar-benar pingsan.
dan yuuji tidak bisa. yuuji tidak bisa melihat megumi kesakitan.
saat akhirnya yuuji menyerah, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke venue. masih ada penampilan dari teman-teman sekolah mereka. yuuji menyapa semua orang yang mereka lewati—alih-alih megumi, sebab meskipun dia yang ketua osis, kemampuan sosialisasinya jauh lebih payah apabila dibandingkan sahabatnya yang satu itu.
saat sedang menyapa orang-orang itu, yuuji tidak menyadari kalau langkah megumi mulai sempoyongan. pandangannya mengabur. ingatan terakhirnya adalah, ia melihat yuuji membalik badannya panik sambil berteriak, “megumi!”
dalam skala yang susah buat dibaca denotasinya, megumi telah menjadi epigram di buku yang tidak sengaja megumi tulis. mungkin jauh lebih dulu daripada ketika yuuji mengamini segala permintaan ibunda dari megumi untuk selalu menjaga anak ini. tapi pikirannya yang pendek segera menggendong megumi untuk kembali ke klinik dan menetap di sana meskipun dokter penjaga bilang kalau ia bisa mengatasi ini seorang diri. yuuji tetap di tempatnya berdiri melihat megumi diperiksa oleh dokter itu dengan tatapan cemas.
padahal, orang bodoh pun tahu kalau megumi hanya pingsan karena terlalu lelah. tapi dari situ yuuji menyadari satu hal, mengamini sesuatu yang selama ini tak pernah ia sadari karena terlalu lama hidup bersama megumi. menyetujui sesuatu antara yuuji dan dirinya sendiri kalau;
ia tak akan pernah lagi membiarkan megumi kesakitan karena rasanya seolah ia seperti sedang menyakiti diri sendiri.
sepanjang malam pentas seni berlangsung, yuuji menemani megumi di klinik sekolah. mengabaikan danilla yang sudah ia tunggu-tunggu entah sejak kapan karena baginya, menunggu megumi hingga ia sadar jauh lebih sepadan dibandingkan apapun.
hari itu, ia menunggu megumi sampai laki-laki itu terjaga. ia memandangi wajah itu sambil membatin, bolehkah kalau ia jatuh cinta pada teman masa kecilnya?
---
satu hal yang selalu bergerak dengan cara ajaib adalah waktu.
meskipun bagi megumi waktu itu cuma sekadar konsep, ia menyadari kalau waktu adalah faktor paling fundamental sepanjang ia hidup di dunia ini. ia masih berumur empat tahun kala bertemu yuuji untuk pertama kalinya, lalu ia berumur tiga belas tahun saat ibunya pergi untuk selamanya, ia berumur enam belas tahun saat menjadi ketua osis, ia berumur delapan belas tahun saat masuk kuliah, dan ia berumur dua puluh satu tahun saat ia menyadari kalau dia mungkin sudah melihat yuuji tidak lagi sama seperti sebelumnya.
semuanya diukur dengan satuan waktu. dan megumi secara tidak sengaja jadi menghitung cara kerja detik untuk mempertanyakan apakah ia hanya bisa bergerak tanpa mengubah apapun.
karena sekarang usianya dua puluh satu dan dia menyadari satu hal: ada perasaan perih tidak nyaman ketika yuuji bilang kalau dia berencana untuk memacari nobara.
mereka berakhir di perguruan tinggi yang sama, tapi kali ini ada juga nobara. perempuan berambut pendek teman sekelas megumi waktu sma. dan megumi tidak tahu sejak kapan mereka jadi sedekat itu. mungkin waktu mereka sama-sama bergabung di himpunan sementara megumi menjalani tiga tahunnya di organisasi eksekutif fakultasnya.
waktu telah memegang kendali dan megumi mungkin sedikit terlambat untuk memahami kalau yuuji yang ia kenal sudah tidak berada di sana lagi. terutama ketika laki-laki itu dengan sengaja mengajaknya ke rooftop indekos mereka untuk membicarakan itu.
“ya, kayaknya gara-gara kebanyakan bareng,” kata yuuji. “gue nggak pernah begini ke cowok atau cewek, sih, sebelum-sebelumnya. tapi kayaknya nobara deh.”
selama berteman dengannya, yuuji tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun. waktu sma, tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang mencoba peruntungannya untuk mendekati megumi demi mendapatkan yuuji. ada juga yang cukup bernyali untuk langsung menanyakan kepada yuuji. tapi semuanya hanya mendapatkan permohonan maaf berikut alasan-alasan lain yang sebetulnya hanya diada-adakan.
dan sekarang, tiba-tiba nobara.
“ya udah ajak pacaran aja.”
“tapi menurut lu cinta itu gimana sih, gum?”
di kepala megumi, cinta yang paling terus terang adalah bentuk nyaman dari kebiasaan. atau memang selama ini ia juga tak punya siapa-siapa untuk mendefinisikan cinta. ia tidak tertarik, ia tidak punya waktu, ia tidak-tidak lainnya yang sebagian dibuat-buat semata-mata barangkali ia sudah punya pemahamannya sendiri soal cinta.
cinta yang sudah ia kenal sejak umurnya lima tahun. cinta yang selama ini bersembunyi. cinta yang baru dia sadari di penghujung waktunya sebagai mahasiswa.
cinta yang familiar. cinta yang selama ini ada tepat di depan matanya tapi tak pernah disadarinya.
“nggak tahu cinta-cinta,” kata megumi. “nggak ngerti.”
“menurut lu, gue beneran suka nobara nggak, ya?”
“kenapa tanya gitu?”
“ya, karena ini pertama kalinya,” yuuji terlihat ragu. “lu ngerti nggak sih maksud gue kayak—“
“nggak ngerti.”
kata-kata itu diikuti dengan kepergian megumi. meninggalkan yuuji yang sekali lagi memandangi punggungnya tanpa bertanya-tanya. mungkin ia sudah tak mau tahu atau tak lagi bertenaga. yang jelas malam itu, megumi tahu kalau dia akan menangis kalau dia berbalik dan melihat wajah yuuji yang mungkin saat itu sedang membayangkan skenario menyatakan cinta pada nobara.
---
seumur-umur, yuuji tidak pernah mengalami penolakan.
bukan, bukan karena hidupnya selalu mudah. ada puluhan sakit hati yang sudah pernah ia rasakan, tapi penolakan yang dia maksud sekarang adalah kata-kata nobara yang bilang kalau perempuan ini tidak bersedia jadi pacarnya. dan karena ini pertama kalinya dia mendengar kalimat penolakan semacam itu, yuuji jadi bingung harus bereaksi seperti apa.
“aku suka kamu sih, yuuji,” kata nobara. “aku juga percaya kamu suka sama aku. tapi, kayaknya, bukan suka yang kayak begitu deh.”
“emang ada berapa jenis suka-sukaan?”
nobara tertawa, “dikira aku nggak tahu kalau selama ini kita sering jalan bareng cuma waktu megumi nggak rapat bem aja? aku nggak mau ah, jadi back up.”
“tapi aku beneran nyaman sama kamu kok, ra, aku suka ngobrol sama kamu, suka juga jalan-jalan sama kamu.”
“iya, aku tahu kok yuuji tulus, tapi yang barusan aku rasain, kamu bukan kayak lagi menyatakan cinta ke aku. malah kedengeran kayak apa, ya? kayak lagi minta ditolong buat mengakhiri sesuatu dengan pacaran sama aku.”
yuuji terdiam. lama sekali.
ada spektrum yang nobara katakan meskipun tidak gamblang. bahwa rasa suka yuuji sekarang mungkin adalah kamuflase yang dia kira cinta. sebab entah sudah sejak kapan, perasaan itu sudah ditujukan untuk orang lain. dan nobara tidak buta, tidak bodoh. ia melihat semuanya dengan jelas bagaimana yuuji uring-uringan tiap kali megumi susah dihubungi. nobara juga yang bisa melihat dengan jelas kalau ada waktunya yuuji memandang megumi tanpa berkedip ketika ia kebetulan makan bersama dua laki-laki itu.
nobara ada di sana dan mengerti semuanya. oleh karena itu, dia juga tahu pasti apa yang dirasakan yuuji sekarang buatnya adalah apapun yang bukan cinta.
“kalau disimpen doang, anaknya nggak akan ngerti, yuuji.”
kata-kata itu, jadi golnya. seperti ketika yuuji bermain basket dan mencetak angka, ada gejolak dalam dirinya yang tersentil mendengar kata-kata itu. sebab ia tahu pasti nobara sedang bicara soal apa. itadori yuuji tahu pasti nobara sedang membicarakan siapa.
“emang kelihatan jelas, ya?”
“kamu inget nggak jaman prom itu, waktu aku panik takut nggak ada yang ajak sementara kamu santai-santai aja karena kamu bakal dateng sama megumi?” yuuji mengangguk mendengar seloroh nobara. “semua orang juga nggak ada yang ngajak kamu atau megumi ke prom karena semua orang tahu kalian akan dateng bareng.”
yuuji terdiam.
“karena semua orang juga tahu, yuuji, kamu suka sama siapa. semua orang tahu hati kamu punya siapa,” nobara tersenyum kecil. “dari dulu aku cemburu sama kalian berdua. karena hubungan kalian mulus banget. temenan dari kecil, sampai gede bareng, eh jatuh cintanya sama itu-itu juga. nggak tahunya, kalian berdua sendiri malah nggak sadar.”
kata-kata itu menampar yuuji. mengingatkannya akan perasaan yang selama ini mati-matian ia sembunyikan. mati-matian ia simpan dalam hatinya dan berharap tidak akan pernah ditemukan.
tapi yang ia kira tidak terlihat sama sekali itu ternyata bisa dibaca jelas oleh nobara kugisaki. atau, oleh semua orang. kecuali dirinya sendiri.
“iya, kayaknya.”
nobara tersenyum lagi, “kalau disimpen sendiri, orangnya nggak akan tahu, yuuji.”
“jadi aku harus apa, ya?”
satu tepukan di bahu yuuji membuatnya tersadar. berikut kata-kata nobara yang menyusul setelahnya.
“kamu yang paling tahu kamu harus apa.”
---
dari dulu, megumi selalu tahu kalaupun dunia runtuh, dia akan selalu memiliki yuuji.
yuuji yang membantunya menangis ketika ia tidak mampu menerjemahkan perasaannya. yuuji yang merelakan danilla untuk menemaninya sepanjang malam hingga terjaga. yuuji yang ia tahu bersama laki-laki itu ia akan menjalani semua segmen dalam hidupnya. bersama yuuji, megumi tahu kalau segala riuh di dunia yang kejam ini, segalanya bisa dihadapi.
sebab dia punya yuuji.
tapi ia tidak tahu sejak kapan batas-batas yang ia punya bersama yuuji jadi buram. ia tidak tahu sejak kapan ia menahan napas tiap kali yuuji melompat untuk mencetak angka dalam setiap pertandingannya. ia tidak tahu sejak kapan segalanya jadi bilur yang ia takut untuk hadapi.
mungkin, mungkin, selama ini ia berpura-pura tidak tahu karena ia takut kehilangan yuuji.
waktunya barangkali jauh lebih lama sejak ia memilih untuk mengabaikan pertanyaan orang-orang apakah hubungannya dengan yuuji. ia membiarkan semuanya berasumsi kalau yuuji bukan sekadar teman buatnya agar mereka bertanya-tanya. sebab dalam hati, mungkin megumi juga menginginkan jawaban berbeda.
tapi yuuji adalah yuuji. ia tidak dimiliki.
oleh karena itu nobara berada jauh di luar kuasa megumi. dan ia tak bisa melakukan apapun selain memandangi pintu kamar yuuji yang sudah ditinggalkan laki-laki itu beberapa jam yang lalu buat mengungkapkan perasaannya kepada nobara. di tangan megumi, ada selembar surat yang ia tulis semalaman. berisi seluruh perasaannya kepada yuuji yang ingin ia katakan tapi tidak pernah memiliki keberania.
karena, tujuh belas tahun. tujuh belas tahun ia percaya kalaupun dunia runtuh, segalanya akan tetap baik-baik saja karena yuuji berada di sekitarnya. dan bagi megumi, yuuji berhak tahu ia dicintai dalam porsi yang demikian besarnya. meskipun ia tak perlu membalas perasaan dengan kuantitas yang sama.
“megumi?”
suara yang tidak asing itu membuat megumi membalik badannya. dan betapa jantungnya nyaris merosot ke lantai saat yuuji terlihat berjalan makin ke depannya.
megumi gugup karena ini tadinya ia hanya berencana untuk meletakkan surat itu lewat lubang di bawah pintu. tapi segalanya jadi kacau karena yuuji pulang lebih cepat daripada yang ia perkirakan.
“ada apa?”
“nggak ada apa-apa,” megumi menjawab cepat. “gue—anu, emmm, selamat, ya, yuuji. gue yakin lu pasti diterima nobara.”
tidak diduga, yuuji justru tersenyum sedih, “gue ditolak, gum.”
megumi melotot, “bohong? nobara, ‘kan, kelihatan suka sama lu?”
“iya, dia suka sama gue. tapi kata dia, perasaan suka yang gue rasain ke dia dan dia rasain ke gue itu, bukan rasa suka yang bikin pingin pacaran,” yuuji berjalan makin dekat ke arah pintu ke kamarnya. lalu membuka kuncinya. “masuk yuk.”
megumi mengikuti yuuji untuk masuk ke dalam kamarnya. kamar yang penuh dengan poster-poster basket dan sebuah foto jennifer lawrence. kamar yuuji, di manapun itu, selalu jadi kamar kedua megumi setelah kamarnya sendiri.
megumi duduk di atas kasur, sementara yuuji di atas karpet. menyandarkan sebagian tubuhnya ke tepian ranjang.
“katanya, gue udah salah paham soal perasaan gue ke dia,” ujar yuuji.
“emang gimana salah pahamnya?”
“kata nobara, sebenernya gue suka sama orang lain.”
di tangan megumi, masih ada surat berisi seluruh perasaannya yang hendak ia berikan pada yuuji. tapi kini surat itu ia remas kuat hingga bagian tengahnya lusuh.
“siapa?”
“jadi, dulu banget itu gue pernah ketemu sama orang,” yuuji memulai ceritanya. “anaknya banyak diemnya, tapi sebenernya dia jago banget jadi pemimpin. anaknya suka banget makan permen gula kapas. makanya waktu tk, giginya habis.”
tenggorokan megumi tercekat.
yuuji tertawa kecil sebelum kembali berbicara, “dulu, gue sama anak itu suka lomba lari dulu-duluan sampai ke rumah sakit buat nengokin nyokap anak itu yang lagi sakit. aneh deh, gara-gara anak itu gue jadi seneng sama rumah sakit. soalnya gue bisa main sama dia, dan gue bisa disayang juga sama nyokapnya.”
“yuuji—“
“anak itu, nggak pernah pergi dari hidup gue, gum,” kata yuuji. “ketika gue kalah pertandingan basket, ketika gue dapet nilai jelek, ketika gue dimaki dosen, dan sampai hari ini. anak itu nggak pernah pergi.”
mata megumi mulai berkaca-kaca.
“lu tahu, gue bahkan sampai yakin gue bakal tetap baik-baik aja kalaupun dunia runtuh, karena gue masih punya dia.”
megumi kini tak bisa menahan dirinya lagi untuk duduk di samping yuuji. setelah posisi mereka sejajar, megumi menatap mata yuuji. anak laki-laki yang mendewasa bersamanya, anak laki-laki yang sudah ia kenal selama tujuh belas tahun, anak laki-laki yang tengah membalas tatapan matanya dengan berkaca-kaca.
“maaf, ya, gumi. padahal gue janji sama ibu buat selalu jagain lu, selalu jadi temen lu. tapi kayaknya, janji yang kedua nggak bisa gue tepati,” sebutir air mata turun membasahi pipi yuuji. “gue kayaknya bakal ngerusak itu, gum. soalnya gue sayang banget sama lu, bukan sebagai temen lagi.”
megumi punya seribu satu kata-kata yang ia katakan. perihal, ia juga. ia juga. ia juga punya semua perasaan yang selama ini ditakutkan yuuji. ia memiliki itu. tapi seluruh bahasa yang ia mengerti tak bisa digunakannya.
jadi, ia hanya bisa bergerak mengikuti nalurinya.
satu tangannya mendarat di rahang yuuji dan ia bergerak maju untuk memagut bibir itu. dikecupnya lembut dan ia melelehkan seluruh perasaan yang tak sanggup dikatakannya di sana. ia mencium yuuji dengan perlahan, tanpa paksaan, tanpa tekanan. diungkapkannya seluruh yang selama ini hanya ia simpan bersama dirinya sendiri.
betapa dia sudah jatuh cinta jauh lebih lama daripada yang bisa diingatnya.
dan yuuji tak butuh waktu lama untuk membalas ciuman itu. membiarkannya meleleh dalam pagut yang selama ini diam-diam diidamkannya. ciuman yang ia dambakan. ciuman yang begitu ia inginkan.
mereka saling melepas saat keduanya kesulitan bernapas. dan mereka bertatapan sambil tersenyum, terengah-engah memandangi satu sama lain. saling menarik ke kenyataan.
“gue juga,” bisik megumi. “suka sama lu. cinta sama lu. jadi sekalian aja kita rusak ini persahabatan. gue sudah nggak butuh lagi. gue mau lu, yuuji.”
ada perasaan yang luruh hari itu, tapi yuuji dan megumi merasa utuh.
pulang. dan rasanya seperti menemukan kepingan ketenangan yang selama ini mereka cari-cari padahal ada di depan mata sendiri.
di sisi satu sama lain. dalam rengkuhan masing-masing.
---
fushiguro megumi cuma anak umur empat tahun yang tergila-gila pada permen gula kapas saat itadori yuuji mengenalnya untuk pertama kali.
sekarang, usia mereka dua puluh lima tahun, berdiri di atas altar dan mencium satu sama lain setelah pernikahan mereka diberkati. yuuji memandang megumi dengan tatapan penuh cinta seolah baru saja menemukan permata paling langka di dunia. teman masa kecilnya, sahabat di masa mudanya, dan cinta sejati untuk seumur hidupnya.
dan megumi tak jauh berbeda. ia memandang yuuji tanpa berkedip seolah tengah memandang dunianya.
setelah pemberkatan, mereka merayakan pernikahan itu dengan pesta kecil-kecilan. mengundang beberapa teman dan sahabat mereka. tsumiki masih tidak berhenti menangis terharu melihat adiknya menikahi sahabatnya sendiri. sementara toji memeluk yuuji erat dan berbisik, “ibunya megumi pasti lega banget karena orangnya kamu.”
hingga tinggal mereka berdua di kursi pelaminan, tiba-tiba yuuji mengambil sesuatu dari sakunya. sebungkus permen gula kapas seperti yang pernah mereka makan dua dekade yang lalu. mata megumi membelalak melihat itu.
“aku selundupin tadi, minta nobara beli,” yuuji membuka bungkusnya yang terasa lebih kecil dibanding ketika ia memakan permen itu untuk pertama kalinya. disobeknya ke dalam bentuk yang lebih kecil lalu diberikan permen itu kepada megumi. “ini, namanya permen gula kapas.”
megumi menatap yuuji berkaca-kaca setelah menerima permen itu. ia memakan permen yang menyimpan begitu banyak nostalgia akan cerita mereka.
“kamu inget nggak dulu aku minta duduk sama kamu di tk,” cerita yuuji sambil mengunyah permen gula kapasnya. orang-orang berlalu lalang di hadapan mereka. “dua puluh satu tahun kemudian, kita duduk bareng lagi. di kursi kayak gini dan tetap sama kamu.”
megumi menggenggam tangan yuuji, lalu mengusapnya lembut.
“makasih udah minta permen kapas aku dua puluh satu tahun yang lalu.”
yuuji membalas genggaman tangan itu, “makasih udah bagi permen gula kapas itu dua puluh satu tahun yang lalu juga, megumi.”
“selalu, yuuji.”
dua puluh satu tahun yang lalu, mereka cuma dua anak laki-laki yang saling berbagi permen kapas tanpa bayangan akan hidup seperti apa yang menanti mereka. tapi kini mereka sudah tumbuh dewasa menjadi dua orang yang siap untuk berbagi lebih banyak lagi permen gula kapas dan sebanyak-banyaknya cinta;
untuk seumur hidup mereka.
