Chapter Text
.
"Paris. Jauh juga ya," komentar Fella. "Ngeriset tentang cinta-cintaan ternyata mesti fancy."
Dia menyilangkan kaki dengan anggun, seolah mereka sedang berada di restoran mewah alih-alih kafe kecil di dekat kompleks rumah Piko.
"Gak usah komen kalo ngatain doang," kata Piko sambil menyisip kopinya. Terlalu manis. “Gue mesti ngelukis sesuatu yang justru kebalikan dari cinta-cintaan. Temanya post-romance. Kayak post-kiamat, tapi cuman buat perasaan manusia aja.”
Ponselnya bergetar. Pesan dari Ucup. Nemu di pinggir jalan, adalah teks yang menyertai foto kucing kecil dengan badan dan ekor terangkat jengkel. Kelakuannya mirip elu.
"Kiamat cinta, nggak, tuh." Fella tertawa. "Gimana caranya bikin lukisan kayak gitu?"
"Paris, ‘kan, udah banyak bikin orang kasmaran jadi depresi. Gue pasti nemu inspirasi di sana."
"Bullshit sih kalo kata gue Pik. Post-romance." Fella mengerucutkan bibir menirukan cara bicara orang Perancis. "Apa coba, njing. Kayaknya lo doang yang bisa bikin istilah pseudo-intelek serasa sastra tinggi cuman buat bilang kalo lo udah lama nggak ngewe."
"Kenapa malah jadi ngewe sih," protes Piko, melambaikan garpunya seperti pointer. "Konsep yang di bayangan gue simpel aja, cuma gambaran semisal semua manusia jadi mati rasa. Mungkin di situ kalo ada yang mirip cinta, ya semu aja. Abstrak. Nggak beneran nyata.” Dia mengunyah perlahan, mengulur waktu. Tidak ada orang lain di kafe itu selain mereka, dan TV di atas rak gelas menayangkan film klasik yang lebih disukai Fella daripada Piko. "Lagian gue nggak ngelukis tentang realita. Itu cuma teori, Fel."
Ponselnya bergetar lagi. Si Gofar bawain ayam tiren seember. Nyesel gak lo skip lunch bareng gue? Piko tersenyum, dan membalas: dih, orang gue lagi ditraktir sama Fella.
"Banyak banget orang awam yang hype sama pameran lo yang ini," kata Fella, mengalihkan pandangan dari TV dan kembali ke Piko. "Kayaknya pada suka ya, sama topik romantis tapi suram gitu. Apa tuh yang pernah lo tulis di lukisan lo dulu? ‘Ketelanjangan manusia adalah memilih sepi’. Si paling pujangga emang." Fella hanya bercanda, sama seperti biasanya, tapi Piko merosot di kursi plastik yang tidak nyaman dan menyilangkan lengan, kopinya terlupakan. "Atau orang cenderung penasaran sama konsep manusia yang nggak percaya sama cinta." Fella melirik dari sudut matanya. "Lo yakin ini gallery ini bukan autobiografi?"
"Nggak lah. Gue percaya cinta," kata Piko. "Gue cuman nggak percaya itu buat gue."
"Tuh kan.” Fella mendengus. “Pantesan aja lo jomblo terus."
"Kenapa sih akhir-akhir ini tiap kali gue ngomong sama lo atau Sarah, ujungnya ke situ?"
"Soalnya kita khawatir sama lo," kata Fella. "Ya, sebenernya mostly Sarah sih. Gue lumayan kepikiran juga, tapi lo ngerti kan gimana. Uring-uringannya Sarah tuh nular, terus Tuktuk ikutan stress, si Gofar jadi nyebelin dan akhirnya ngaruh ke gue."
"Emang paling setia kawan dah mbak satu ini." Piko tertawa. "Terusin Fel. Lo dikit lagi nominasi dapet predikat sobat kentel juga."
"Ogah, makasih," kata Fella. "Tapi serius, Pik."
"Nggak usah lebay lo pada. Nggak ada yang perlu dikhawatirin," jawab Piko. Dia mengambil garpu lagi dan melanjutkan acara mengaduk isi piringnya yang hanya dimakan beberapa sendok. "Gue nggak kesepian. Dan nggak ada yang salah juga kan kalo gue lebih pengen sendiri. "
"Bisa jadi itu bener," kata Fella, memainkan es krim meleleh di atas biskuitnya dan mengernyit seolah dia merasakan sesuatu yang asam, "dan emang bener, buat banyak orang-orang lain…"
"Udah, Fel."
"Tapi bukan lo, Pik. Lo emang manusia paling pesimis tapi lo gigih banget perjuangin orang yang lo sayang.”
"Ya kalo ke bokap konteksnya beda, nyet. Lagian lo gak semestinya tahu soal itu—"
"Makanya lo jangan mabok depan orang kalo sadar banyak yang dipendem," kata Fella tajam, yang buru-buru diralatnya dengan nada menyesal. "Gini-gini, Piko, gue nggak permasalahin itunya. Kalo lo nggak beleber duluan juga pasti gue udah nanya ke lo, soalnya jujur gue penasaran udah dari lama banget. Tapi ternyata cerita lo tentang bokap lebih fucked up dari bayangan gue. Apalagi lo putus sama Sarah nggak lama abis itu, gue nggak judge kalo lo jadi nutup diri Pik.”
Perut Piko serasa diaduk. "Bisa nggak kita stop bahas ini."
"Oke," kata Fella. "Tapi poin gue bukan itu. Gue nggak bakal lupa sama apa yang lo bilang pas sekali-kalinya lo lagi jujur. Lo boleh deh sok nggak kenapa-napa ke orang termasuk Sarah—dia bakal sedih banget kalo denger ini—tapi lo sebenernya orang yang nggak sanggup sendirian. Lo yang ngomong, Pik. Lo pengen banget punya pegangan lagi, pengen sesayang itu sama orang lagi tapi nggak sanggup kalo ditinggal lagi."
"Gue nggak ditinggal," kata Piko datar. "Bokap pergi soalnya gue yang ninggalin dia duluan."
Mulut Fella menjadi garis tipis. "Sori," gumamnya.
"Gue nggak apa-apa," kata Piko. "Gue baik-baik aja kayak begini."
Fella menatapnya, dan Piko menghela napas. "Gue masih punya keluarga Fel.”
“Kak Ali di New York, Dilan di Bandung.”
“Bukan itu maksud gue. Ya itu juga sih, tapi lebih dari itu gue punya kalian. Lo, Sarah, Tuktuk, Gofar, sama Ucup—"
"Ah," kata Fella, mukanya mendadak seperti orang yang baru menang togel, "oh iya, gue lupa. Lo punya Ucup."
"Nggak kayak gitu, anjing," gumam Piko. "Lo tuh daritadi ternyata mancing ya? Demen banget sih ngada-ngadain yang nggak ada."
"Apa pendapat Ucup tentang niatan lo buat nggak mau sayang sama orang lagi?"
"Kayaknya nggak ada pendapat apa-apa," kata Piko. Nasi gorengnya sekarang dingin, keras, dan berantakan.
"Masa sih," cibir Fella. Tangannya diketukkan beberapa kali di meja seperti menghitung sesuatu. "Seandainya aja dia sadar kalo semua karya-karya lo yang paling sedih itu entah kenapa selalu jadi tiap dia mesti pergi lama ke luar kota."
Piko mengalihkan pandangannya. "Ngarang bebas lo."
"Kasian si Ucup," kata Fella. "Kekurangan dia banyak, tapi yang paling ancur itu seleranya."
"Nggak kayak gitu." Piko mencoba memasukkan sebanyak mungkin kekesalan ke dalam suaranya, tetapi dia memerah dan cemberut, sehingga Fella jadi tertawa. "Udah anjing. Gak usah mikir yang aneh-aneh," kata Piko, setelah beberapa saat. Fella menusuknya dengan tatapan datar. "Beneran. Gue seneng hidup kayak gini aja, Fel."
"Ya udah," kata Fella, dengan alis melengkung. "Sidang Anda ditunda. Buat hari ini."
"Makasih, Yang Mulia," kata Piko masam, lalu dia melirik jam di dinding dan tersedak. "Anjir, gue telat! Dini bakal ngabisin gue."
"Nggak," kata Fella, melambaikan tangannya dengan acuh untuk meminta bill. "Dia cuman bakal senyum creepy ke lo sambil minta supaya hasil kerjaan lo dibikin lebih emo lagi. Terus abis itu lo tinggal mikirin Ucup."
"Gue cabut, bangke," kata Piko, menyambar jaket ke tubuhnya saat dia berjalan keluar dari kafe setelah mengangguk cepat pada pelayan yang mengucapkan selamat jalan padanya.
"Bilangin Ucup suruh bales email gue," teriak Fella di belakangnya. "Nggak dibales hari ini dia gue pecat!"
"Iya, iya," gumam Piko. "Bilangin sendiri lah, Sat."
Dia memeriksa ponselnya. Ngomongin apa lo sama Fella? Pasti yang jelek-jelek tentang gue. Piko tertawa.
-
Saat dia bergerak di antara kerumunan orang di kereta menuju Gambir, Piko memikirkan rencana perjalanannya. Dia akan berangkat dua hari lagi ke Paris, dan dia belum berkemas ataupun membuat itinerary, karena dia baru memutuskan untuk pergi tiga hari yang lalu dan Sarah belum sempat mengomelinya untuk berberes. Pekerjaan Ucup dan Gofar yang baru di BRIN (berkat ibu Fella yang naik menjadi jajaran wakil menteri) membuat mereka harus bolak-balik Jakarta-Cibinong nyaris tiap hari.
Piko naik pesawat jam 08:15 dengan Air France. Dia impulsif membeli tiket di tengah malam saat sedang tidak bisa tidur, dan terbangun dengan tiket pesawat menunggu di emailnya.
Travel agent yang dia hubungi keesokan hari ternyata telah mengurus semuanya. "Emang gitu Bang," kata Tuktuk (yang sudah terbiasa dengan berbagai pekerjaan aneh-aneh sekarang). "Mereka udah kebiasa sama orgil kayak lo yang mutusin apa-apa dadakan."
Gofar bertanya kepadanya di telepon: lu lagi ngapain sih Pik, mau nyari inspirasi beneran apa nyari alesan kabur aja? yang membuktikan bahwa dia kebanyakan nongkrong sama Fella. Piko butuh waktu sesaat untuk mencegah dirinya sendiri menjawab, gue nggak tau, Far.
Pagi ini dia menelepon Dini untuk menanyakan kemungkinan sedikit menggeser deadline mereka. Dini, seperti kata Fella, tidak protes sama sekali. Hanya mengingatkan bahwa dia punya banyak ekspektasi untuk pamerannya yang akan datang, karena kesuksesan pameran debutnya tahun lalu.
Tentu saja, setelah Dini begitu akomodatif, Piko malah terlambat.
Beberapa stasiun dari tujuannya di Salemba, ada segerombolan mahasiswa yang naik ke kereta, dan Piko hampir tidak menyadari saat ponselnya bergetar.
Sabtu jam 5 jadi kan?
Piko tersenyum. Ucup selalu bertanya, seolah mereka tidak menghabiskan waktu bersama setiap akhir pekan selama hampir delapan tahun bersahabat sejak usia tujuh belas. Piko senang Ucup tidak pernah berasumsi. Piko bisa tiba-tiba muncul di rumah sengketanya tengah malam buta tanpa mengabari, dan menumpang tidur di kamar Ucup tanpa minta izin, tapi Ucup tidak pernah melakukan hal yang sama. Dia mungkin sering kurang ajar soal minta makanan atau titipan barang, tapi kalau soal waktu dan perhatian Piko, Ucup tidak pernah menuntut.
Nggak, gue berubah pikiran, Piko mengetik kembali. Tiba-tiba gue gak pengen liat muka lo lagi.
Ya udah gantengnya gue kurangin dikit deh.
Piko mulai mengetik jawaban, tapi keretanya berhenti, jadi dia mengantongi ponselnya dan berjalan keluar ke stasiun. Dia mengeratkan pegangan ke tas kanvasnya dan berjalan menuju gedung kantornya Dini.
Ketika dia tiba, Dini sedang memasukkan sesuatu ke dalam lemari arsip, membungkuk di atas laci yang terbuka dengan di belakangnya banyak dokumen terhampar di atas meja.
"Sejak di-hack sekarang arsipnya pake gembok manual ya," kata Piko, dan Dini hanya tertawa kecil tanpa melihat ke arahnya seolah dia sudah tahu Piko ada di sana.
"Kamu terlambat, Piko."
"Maaf," kata Piko. "Saya kejebak interogasi tadi."
"Iya, sudah saya jelaskan ke yang lain. Orang kantor jadi penasaran sama teman kamu yang di kafe,” kata Dini santai. Dia tidak terlihat kaget. “Banyak yang nanya ke saya, kapan terakhir kali kamu kelihatan punya date."
Piko sudah lama tidak mempertanyakan dari mana Dini seperti sudah tahu semua hal. “Terus Mbak Dini jawab apa?”
“Bahwa itu bukan urusan saya.”
Piko mendengus tertawa. "Kayaknya cuma Mbak Dini yang sadar itu,” kata Piko, “nggak kayak temen-temen saya.” Dia membuka kancing jaketnya dan mengusap rambutnya dengan sembarangan.
"Kardigan kamu bagus," komentar Dini tiba-tiba. "Saya belum pernah lihat kamu pakai itu."
Piko meraba kerahnya salah tingkah. Jaket lembut itu memang lebih mirip kardigan daripada jaket betulan, tapi Piko menyukai bahannya yang halus dan hangat. "Makasih," katanya. "Ini hadiah ulang tahun."
"Jadi," kata Piko. "Gimana menurut Mbak?"
"Saya rasa," kata Dini, "kalau kamu mau pergi sekedar cari inspirasi, saya oke saja." Dia melambatkan suaranya. "Tapi yang mau saya diskusikan itu soal centerpiece, Piko."
"Centerpiece?" Piko bergeser dengan tidak nyaman. "Kenapa centerpiece-nya?"
"Kelihatan belum selesai. Saya rasa kamu sepertinya pilih lukisan asal buat dipajang di main room karena tidak tahu bagaimana cara mengakhiri pameran ini, jadi kamu menyerah."
Itu … lebih akurat dari prasangka Piko.
"Lagi saya usahakan, Mbak. Mungkin saya lagi perlu memahami temanya lebih baik." Piko berharap begitu. Saat dia memulai mengerjakan proyeknya, dia menyadari bahwa runut karya yang akan dipajangnya terasa antiklimatik; jauh dari centerpiece yang dikenal banyak orang dari galeri debutnya. "Menurut Mbak, saya mesti bikin yang kayak gimana?"
Dini mempelajarinya sejenak, sebelum melipat kedua tangannya. "Bukan saya yang memutuskan, Piko."
Piko tidak pernah benar-benar membuat lukisan yang “indah”, bahkan untuk karya-karya pribadi yang tidak dipamerkan. Sejak debut pasca-kelulusannya dia selalu membuat lukisan-lukisan yang menggugah perasaan yang tidak menyenangkan, dari mulai kesedihan, kemarahan, hingga sensasi terancam. Gaya melukisnya gila, campur-aduk, dan tidak pernah sama; seperti makhluk tanpa wajah yang tidak punya jati diri dan dan mencoba berkompromi dengan menjelma jadi seratus identitas di saat yang sama. Ditambah lagi dengan status anonim dan pengungkapan misteri negara yang kadang-kadang tersembunyi di balik beberapa karya, semua enigma itu melambungkan reputasinya. Membuat orang-orang berdebat di kelas seni dan media sosial tentang apa makna gambar ini, apa teori konspirasi di balik gambar itu.
Bahkan di sketsa-sketsa yang lebih berwarna, keindahan selalu menghindarinya; seperti begitu banyak kapal megah yang karam di dasar samudera, yang dengan mudah ditelan dalam lautan sinismenya.
"Oke," kata Piko. "Kalo gitu mungkin saya harus bikin ulang aja ya."
Dini menatapnya lamat-lamat. "Lukisan opening piece-nya … "
"Kenapa?" tanya Piko. "Mbak nggak suka?"
"Justru itu yang saya paling tertarik," kata Dini. Dia mencondongkan tubuh ke depan, poninya sedikit menutupi wajahnya saat dia memberi Piko senyum di balik matanya yang gelap. "Sosok di situ satu-satunya yang paling hidup. Terinspirasi dari seseorang?"
"Bukan siapa-siapa." Itu tidak sepenuhnya benar, tetapi Piko tidak mau menjelaskan.
Dan lagi-lagi Dini, seperti yang Piko duga, tidak terlihat terkejut.
"Coba kita review yang lain kalau begitu," katanya, dan Piko mengangguk, membuka tas dan bersandar di kursinya.
-
"Lo kayak lagi pundung, Bang," kata Tuktuk saat Piko memasuki ruang tamu. “Orang mah kalo mau jalan-jalan mestinya seneng.”
"Lagi ngapain lo di sini?" Piko bertanya, berjalan ke sofa dan meletakkan tasnya di atas meja, melepas jaketnya untuk menggantungnya di sandaran kursi kosong. "Katanya lo udah dapet kosan baru deket kampus, gue kira lo sibuk pindahan."
Ponselnya bergetar. Ini Ucup lagi, dengan gambar panel-panel komik yang jelas membuat dia stres karena terlihat dari pesannya: EICHIRO ODA ANJIIIINGGG.
Tertawa kecil, Piko menjawab, kemaren jujutsu, sekarang ini, semua yang bikin komik aja lo sumpahin, dan menyimpan ponselnya lagi.
"Maafin, Bang," kata Tuktuk. "Gak nyangka gue ganggu. Kirain lo nolep."
"Bahkan pas dulu kuliah gue nggak se-gila lo ngikut acara kampus mulu," kata Piko. "Tapi bukan berarti gue nggak sibuk ya, nyet." Dia meletakkan bungkus makanan yang dibelinya di atas meja, dan Tuktuk terkekeh.
"Ya elah Bang, lu sibuk mau malem Sabtu ama siapa sih? Netflix?"
"Diem," kata Piko, melepas tasnya dan melemparkannya ke wajah Tuktuk. "FYI, gue harus packing malem ini."
"Gue tau kok," kata Tuktuk. "FYI, gue dateng buat bantuin."
"Terakhir kali lo bantuin gue packing," kata Piko, "lo ngebongkar semua isi lemari gue, ngejembreng semuanya ke lantai, terus lo ngadu ke Fella kalo di lemari gue banyakan hoodie Ucup yang ‘bau’ dan ‘gembel’ dan ‘jangan-jangan nularin penyakit’."
"Gue siap diem kali ini," kata Tuktuk. "Lagian gue capek abis jadi perkap, udah nggak ada tenaga buat bongkaran." Dia membuka makan malam Piko dan mulai melahapnya.
“Anjir, langsung keliatan motivasi lo ke sini.”
Ponselnya bergetar. Dia meraba-rabanya dengan satu tangan saat tangan lainnya mengambil sepotong gorengan dari wadah terbuka di pangkuan Tuktuk. Ucup sudah membalas. Beda arti itu pik. Kalo gue bilang “oda anjing”, itu ungkapan sayang. Kalo gue bilang “gege anjing”, itu ujaran kebencian.
"Proyek lo abis ini tentang apa sih Bang?"
"Kayaknya gue juga nggak terlalu ngerti," kata Piko. "Mungkin itu masalahnya." Terus pas kita lagi mario kart lo teriak “piko anjing”, itu artinya yang mana?
"Stop ngechat Bang Ucup, mending makan dulu sebelom gue abisin," kata Tuktuk. "Gimana caranya lo gambar sesuatu tapi nggak tau apa yang lo gambar?"
"Kadang lo emang nggak ngeh sampe udah mau kelar," kata Piko. "Kayak, gimana ya? Gambarnya terus-terusan ngeliatin lo selama lo kerjain, tetapi lo baru benar-benar nyadar pas udah selesai. 'Oh, jadi ini tentang itu ya?’ Gitu."
“Rada orgil sih Bang, maap.”
“Dimaapin.”
"Asli gue kagak ngerti jalan pikiran seniman." Tuktuk menggeleng. "Kalo gue berasa ada lukisan yang ngeliatin, gue gembok semua pintu terus panggil polisi."
"Coba aja. Palingan abis itu lo yang diselidikin, terus catetan kriminal kita malah jadi ketauan lagi." Piko merosot ke sofa di sebelah Tuktuk, menggendong ponselnya sambil menunggu jawaban Ucup.
Tebak aja Pik yang mana. <3 Wkwkwkwk.
"Mikirin dipenjara kok malah sambil cengar-cengir sih Bang, nerbener orgil lu."
-
Akar masalahnya ada satu: Lukisan yang ingin digambar Piko tidak seperti apa pun yang pernah dia buat sebelumnya.
Bagaimanapun, keahlian terbesar Piko adalah meniru, mungkin itu sebabnya dia terseok-seok ketika diminta melahirkan sesuatu. Bukan soal orisinalitas, tapi penghayatan. Piko bisa saja membuat lukisan tingkat tinggi yang baru sama sekali tanpa referensi. Tapi sejatinya tangan seorang pemalsu itu dingin dan tidak memihak. Dulu karya replikanya hebat karena dia tidak pernah mencemari kanvas tiruannya dengan perasaan pribadi, dan sekarang itu berbalik menyerang dirinya sendiri.
Dulu dia nyaris mengungkapkan kehampaan itu pada Sarah. Mungkin juga kepada ayahnya, di dalam hati, menolak untuk diakui. Seperti: Maaf, aku meninggalkanmu. Maaf, ternyata cinta yang kupikir cukup untuk kita ternyata tidak cukup, dan tidak pernah bisa cukup.
Apa itu cinta? Apakah itu pergi berboncengan di sore hari, menikmati rintik hujan dengan segala romantisme masa muda? Apa itu kecupan di kepalanya, terbasuh deras hujan dari langit yang sama ketika ayahnya bilang ia sayang padanya?
“Jangan suka maksain diri terpaku sama apa yang sebenernya nggak bikin lo bahagia, Pik.” Sarah dulu pernah berkata, jauh lebih lembut dari yang Piko pantas dapatkan darinya. “Berkat lo, gue belajar tentang itu.”
.
