Work Text:
"Dek Juyeon,"
Juyeon berlari mendekat ke sumber suara, panggilan Mamah menghentikan aktivitas bermain ponselnya.
"Iya Mah?"
"Tolong bawain minuman ke belakang ya, buat kang kuli. Udah Mamah siapin di meja makan. Ini Mamah lagi buatin pisang goreng sebentar lagi selesai, nanti tolong dibawa juga ya dek," Kata Mamah yang masih sibuk memasak. Juyeon hanya manggut mengerti sambil mengambil nampan di meja makan.
Halaman belakang rumah Juyeon sedang ada pembangunan, Mamah ingin membuat taman kecil untuk menaruh koleksi bunganya serta membuat ruangan kecil semacam gudang. Halaman rumahnya memang luas sehingga tak ada banyak perubahan jika hanya menambah taman kecil dan gudang.
Kang kuli yang melakukan pembangunan juga hanya dua orang mengingat pembangunan yang tak seberapa besar itu. Mungkin tak sampai seminggu sudah selesai, hari ini adalah hari ketiga mereka bekerja dan kalau Juyeon lihat sudah 60% selesai.
"Kang Mingyu, Kang Hyunjae.. ini diminum air putihnya sambil istirahat dulu," Ucap Juyeon sambil menaruh nampan berisi minuman di meja dekat kang kuli. Tubuhnya dibawa lebih menunduk sehingga belahan dadanya terlihat.
Sengaja. Iya, Juyeon sengaja.
Siang itu Juyeon hanya mengenakan tank top ketat tanpa bra yang sangat menyetak payudaranya dengan jelas, serta celana di atas paha yang menampilkan kaki mulus dan jenjangnya.
Tiga hari bekerja di Rumah Juyeon, Kang Mingyu dan Kang Hyunjae banyak menyita perhatiannya karena wajah keduanya yang terlihat sangat tampan. Badan kedunya juga sangat bidang dan dipenuhi otot keras, Juyeon bisa dengan jelas melihat urat yang mencuat dari lengan dua kang kuli itu.
Beberapa kali Juyeon melamun, membayangkan bagaimana rasanya berada dalam kukungan badan besar itu, Juyeon sepertinya tak akan sanggup melawan dan hanya memberikan tubuhnya begitu saja.
Bohong kalau Juyeon bilang dia tak menyadari kemana arah tatapan dua kang kuli di depannya. Mereka berdua mendekat dengan Juyeon yang sedikit membusungkan dada sambil memainkan rambutnya centil.
"Dek," Juyeon gelagapan ketika mendengar suara Mamah dari belakang.
"Eh.. iya mah?"
"Mamah mau arisan dulu ya dek ditemenin Papah, kamu jagain kang kuli kalo ada minta sesuatu nanti dibantu ya. Pisang gorengnya juga jangan lupa dibawa ke sini," Ucap Mamahnya sambil mengelus punggung si anak gadis yang beberapa waktu lalu baru saja menginjak 17 tahun itu.
"Kang, saya tinggal dulu ya. Kalo mau minta bantuan, ini ada Dek Juyeon," Kata Mamahnya sambil menatap dua kang kuli yang berdiri tak jauh dari Juyeon.
"Oh.. iya Bu," Jawab keduanya sopan.
"Dek, Mamah tinggal ya,"
Mamah dan Papah akhirnya pergi dengan mobil setelah berpamitan.
Juyeon memutuskan untuk duduk sambil menonton tv setelah menaruh pisang goreng di meja dekat kang kuli. Dari posisinya menonton tv sekarang, ia masih bisa melihat Kang Mingyu dan Kang Hyunjae yang sibuk bekerja, terlihat tubuh besar mereka yang sudah basah karena keringat, urat di tangannya juga semakin jelas terlihat. Seksi banget.
Hampir setengah jam Juyeon menaruh tubuhnya di sofa depan tv dengan mata yang jelas bukan menonton apapun itu pada layar karena pikirannya sedari tadi terus melayang membayangkan dua kang kuli seksi.
Sampai suara lain menyadarkan si gadis, "Dek Juyeon," Panggil suara tersebut.
"Eh.. iya Kang?"
Kang Mingyu yang memanggilnya kini mendekat, "Dek boleh minjem palu gak ya? Ada paku nyangkut kayaknya harus dicongkel,"
"Loh emang bisa congkel pakai palu, Kang?" Juyeon bertanya bingung, Kang Mingyu yang melihat malah tertawa gemas, "Hahaha si Adek. sisi satunya atuh Dek yang dipake buat nyongkel, bukan palunya. Lucu ya kamu,"
Juyeon tersipu malu mendengar pujian yang justru terdengar seperti godaan dari si kang kuli. Tapi tak masalah, Juyeon seneng digodain seperti ini, membuat dirinya tertantang dan ingin menggoda balik si kang kuli.
"Juyeon cari dulu ya, Kang,"
Kang Mingyu mengekor di belakangnya saat Juyeon mulai berjalan ke arah dapur. Juyeon ingat, Papah biasa menaruh perkakas di rak paling bawah di lemari dekat dapur.
Wah... ini kesempatan Juyeon untuk kembali menunjukkan aksinya.
Juyeon berjongkong saat membuka laci, lalu tubuhnya dibawa menungging tepat ketika Kang Mingyu berdiri di belakangnya. Papah memang sedikit dalam menaruh perkakas itu, Juyeon masih terus mencari dengan pantat yang sengaja ia goyangkan beberapa kali, "Bentar ya Kang, agak di dalem soalnya,"
Tak lama Juyeon berhasil menemukannya, tubuhnya kembali dibawa berdiri, "Yey, ketemu!" Juyeon memekik, ia sedikit loncat kegirangan sehingga payudara yang tidak terbalut bra itu ikut bergoyang.
Juyeon melihat Kang Mingyu yang tatapannya terfokus pada dadanya, pria yang Juyeon tebak belum menginjak kepala tiga itu meneguk sulit ludahnya melihat pemandangan di depan mata.
Juyeon sedikit mencondongkan dadanya sengaja, "Kang?" Panggil Juyeon centil.
Suara Juyeon menyadarkan lamunan Kang Mingyu, pria itu mengerjap beberapa kali sambil kembali memandang tubuh gadis di depannya dari atas sampai bawah, Juyeon merinding ditatap seperti itu.
"Dek kamu kalo pake baju emang gitu ya?" Tanya Kang Mingyu tiba-tiba, Juyeon paham maksud Kang Mingyu apa, namun dirinya memilih untuk pura-pura bodoh.
"Gitu gimana Kang?"
"Seksi gitu, dada sama pantatnya keliatan loh Dek," Ucap Kang Mingyu sambil dengan terang-terangan melihat kearah dada dan pantat Juyeon. Yang lebih muda malah tertawa iseng.
"Ah masa sih? Gak keliatan tuh," Kata Juyeon ikut melihat kearah dada dan pantatnya sambil sedikit digoyangkan. Juyeon memang gila karena berani menggoda kang kuli.
"Keliatan itu Dek,"
"Ini?" Juyeon menunjuk kearah dadanya, "Ini kan baru belahannya doang Kang," Tubuhnya dibawa sedikit menunduk agar Kang Mingyu bisa melihat dengan jelas belahan dadanya sambil tersenyum jahil.
"Wah," Kang Mingyu menganga, matanya tak bisa lepas dari dada Juyeon.
Juyeon cekikikan melihat respon Kang Mingyu, "Jadi, Juyeon seksi ya Kang?"
"Seksi lah dek, abg kayak kamu punya badan montok gitu jelas seksi banget," Kang Mingyu ini sepertinya kalau ngomong ceplas ceplos. Juyeon yang mendengar sedikit kaget, namun setelahnya malah tersipu malu.
"Kang Mingyu juga seksi," Ucap Juyeon pelan.
"Ah masa Dek?"
"Iya. Badan Kang Mingyu gede banget, ototnya juga keliatan kenceng dan keras, seksi banget Kang,"
"Wah, makasih ya Dek,"
Juyeon perlahan mendekat, "Juyeon boleh pegang Kang?" Tanya Juyeon yang tanpa sengaja mengigit bibirnya karena membayangkan otot Kang Mingyu.
"Pegang aja," Kang Mingyu mulai menggulung lengan bajunya ke atas, memperlihatkan otot bisepnya yang besar. Juyeon dengan berani memegang otot tersebut, sedikit menekannya untuk merasakan seberapa keras otot itu, "Keras banget," Kata Juyeon kagum.
"Iya Dek, namanya kuli kan harus jadi ototnya buat tenaga angkat beban,"
Juyeon masih asik merasakan otot bisep Kang Mingyu, sedangkan Kang Mingyu terus mencuri pandang ke arah dadanya. Yang lebih muda tersenyum senang karena tahu apa yang pria itu inginkan.
"Kang Mingyu mau pegang juga?"
"Hah?" Kang Mingyu tidak menjawab, namun tangannya yang besar dan berurat itu dituntun Juyeon untuk meraba dada kirinya.
Juyeon sedikit melenguh ketika tangan berurat si kang kuli yang selama ini hanya ada dibayangannya akhirnya menyentuh tubuhnya.
"Gede gak Kang?" Tanya Juyeon menahan desahnya karena Kang Mingyu sudah lihai meremas dadanya, menangkupnya bulat-bulat dan membuat gerakan memutar ke kanan dan kiri.
"Gede Dek, emang abg teteknya bisa segede ini ya?" Tanya Kang Mingyu takjub dengan tangan yang masih asik memutar dada Juyeon.
"Kang ih ngomongnya jorok," Juyeon memukul lengan keras Kang Mingyu tak seberapa kencang. Ia malu, wajahnya seakarang mungkin terlihat seperti kepiting rebus.
Detik selanjutnya Kang Mingyu menyelipkan puting Juyeon yang masih dibalut tank top diantara dua jarinya, memilin dan mencubitnya kencang sampai Juyeon terkesiap.
"Ahh! Kang,"
"Keras banget Dek,"
Juyeon menikmati permainan tangan Kang Mingyu pada dada kirinya, lihai dan enak banget kalau kata Juyeon. Juyeon tanpa sadar menggesekkan kemaluannya yang sudah gatal pada paha samping Kang Mingyu.
Juyeon menggigit bibir bawahnya sambil menatap Kang Mingyu centil, "Kang, tank top Juyeon gak mau dibuka aja? Biar lebih enak maininnya,"
"Keenakan kamu nanti teteknya dimainin langsung, orang pentilnya aja udah keras banget gini,"
Juyeon melenguh mendengar kalimat jorok dari Kang Mingyu, napasnya mulai terdengar putus-putus seiring dengan remasan Kang Mingyu yang semakin kencang dan berani. Juyeon semakin mencondongkan dadanya dengan dagu yang mulai ia sandarkan ke leher yang lebih tua. Enak sekali remasan Kang Mingyu, tubuh bawahnya tak bisa diam dan terus digesekkan pada paha si kang kuli.
Tentu Kang Mingyu sadar akan hal itu.
"Dek, udah sange banget ya kamu?"
Juyeon mengangguk lemah, ditatapnya si yang lebih besar dengan mata sayu keenakan. Berusaha menggoda agar Kang Mingyu mau melepaskan tank topnya dan membebaskan dadanya yang sudah siap dijamah.
"Gyu, mana palu... ANJING!"
Suara pria lain langsung menghentikan aktivitas keduanya. Juyeon terkejut, refleks mendorong tubuh Kang Mingyu menjauh, namun Kang Mingyu yang lebih cepat dan kuat kembali menarik tubuhnya dan meremas asal dada Juyeon untuk diperlihatkan ke si sumber suara.
"Anjing lu ngapain Gyu?" Kang Hyunjae si sumber suara masih membulatkan mata, pria yang kulitnya lebih pucat itu bahkan tak berniat mendekat dan hanya berdiri di tempatnya.
"Je sini," Panggil Kang Mingyu yang langsung membalik badan Juyeon untuk menghadap teman kulinya itu. Kang Mingyu kini berdiri di belakang Juyeon dengan tangan yang menangkup bulat-bulat dada kiri Juyeon seperti tengah membanggakan tangkapannya.
Kang Hyunjae tak banyak berkata selain serapah dengan Juyeon yang mulai malu karena tatapan Kang Hyunjae yang sulit ia artikan. Juyeon sedikit mengeluarkan desahan pelan berniat menggoda, "Kang Hyunjae," Panggil si gadis manja.
"Gyu jangan diperkosa anjir anaknya majikan ini nanti kita dipecat,"
"Juyeon gak diperkosa kok Kang Hyunjae. Juyeon pengen," Kata Juyeon yang masih keenakan karena payudara dan putingnya tak henti dimainkan.
"Tuh lu denger sendiri. Orang dia juga dari tadi godain gua, minta teteknya dipegang lagi,"
Juyeon meremas dada sebelah kanannya sebelum tangannya berusaha untuk meraih tangan Kang Hyunjae, "Kang Hyunjae mau pegang juga gak?" Tanya Juyeon tak tahu malu.
"Wah anjing, gak bener," Kang Hyunjae mundur beberapa langkah sambil menggeleng, pria itu seperti berusaha untuk tak tergoda dengan pemandangan di depan matanya.
"Centil banget Je," Kata Kang Mingyu yang sudah mulai menciumi tengkuk Juyeon, "Lu ditawarin gitu masa nolak,"
Juyeon tau sekalipun Kang Hyunjae berusaha untuk tidak tergoda, namun jauh di dalam dirinya ia juga ingin. Lagian, mana ada yang bisa menolak tubuh Juyeon jika sudah disediakan di depan mata seperti ini.
Kang Hyunjae meneguk ludahnya, "Serius boleh pegang?" Tanyanya ragu, kali ini pria itu mulai mengambil langkah mendekat.
"Boleh, kan dada Juyeon ada dua. Kang Hyunjae pegang yang kanan,"
Juyeon kegirangan setelah berhasil menggoda Kang Hyunjae. Yang lebih pucat sudah berada disisi kanannya dan mulai memberanikan diri untuk ikut menyentuh tubuh Juyeon.
Juyeon mendongak dengan mulut yang terbuka tanpa suara ketika tangan berurat lainnya, akhirnya, menyentuh dada bulatnya. Juyeon mengigit bibirnya menahan desah karena kedua tangan tersebut memiliki cara dan tempo yang berbeda saat memainkan dada dan putingnya.
Kedua pria yang Juyeon yakini belum menginjak kepala tiga itu juga mulai menciumi lehernya, salah satunya menghirup aroma tubuhnya dalam lalu memberi beberapa kecupan lembut. Sedang yang satunya menjilat panjang dari bawah leher sampai ketelinganya.
"Gila.. bini gua perasaan teteknya gak segede gini dah," Kata Kang Hyunjae, matanya fokus pada payudara Juyeon yang hampir 10 menit terus dimainkan.
"Iya Je. pacar gua juga teteknya gak segede gini. Ini masih abg teteknya udah segede gini anjing," Timpal Kang Mingyu setuju.
Juyeon mulai tak kuasa menahan berat tubuhnya karena kepalang keenakan, tungkainya mulai lemas dan mulai mencengkram kedua pundak kokoh di kedua sisinya.
"Kang, Juyeon pegel berdiri terus. Mau pindah ke kamar Juyeon aja gak?"
Kedua kuli itu menghentikan aktivitas meremasnya dan mengangguk dengan semangat. Juyeon tertawa kecil melihat tatapan kedua kang kuli yang sudah sangat siap untuk menyantapnya.
Kamar Juyeon terletak di lantai dua, gadis itu membawa kedua kang kuli menuju ke kamarnya. Ketika di tangga, pantatnya beberapa kali dipukul dan diremas oleh kedua kang kuli yang mengekor di belakangnya, membuat Juyeon sedikit menggoyangkan pantatnya iseng tak sabar ingin cepat digagahi.
"Ini Kamar Juyeon," Ucap Juyeon menjatuhkan tubuh ringannya ke kasur.
Juyeon tersenyum melihat dua kang kuli yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, "Masuk Kang, sekalian tutup ya pintunya," Kang Mingyu duduk disisi kiri Juyeon dan Kang Hyunjae ikut duduk disisi kanan Juyeon setelah berhasil menutup pintu.
Lalu tanpa peringatan, Kang Hyunjae dan Kang Mingyu sudah kembali menaruh telapaknya di dada Juyeon, Juyeon terkesiap diiring lenguh ketika remas demi remas tak henti diberikan padanya.
Juyeon menumpukan kedua tanggannya di belakang agar dadanya lebih condong, memberikan akses yang lebih mudah untuk Kang Hyunjae dan Kang Mingyu dalam memberi nikmat. Putingnya sudah keras sempurna karena terus dipilin, dicubit, dan disentil. Kedua kang kuli itu memainkannya begitu asal-asalan.
Si gadis dengan tetiba melemparkan kepalanya ke belakang karena merasa berat di dada. Juyeon melihat Kang Mingyu dan Kang Hyunjae mulai menyusu padanya, namun yang lebih membuat Juyeon frustrasi adalah mereka sama sekali tak berniat untuk melepas tank top Juyeon.
"Kang, lepas aja tank topnya. Gak tahan," Juyeon menggigit punggung tangannya karena suara pengiring basah pada dada terus-terusan keluar.
"Sabar ya cantik, masih pengen mainin tetek kamu," Juyeon berdesir mendengar puji. Jelas gadis itu sering mendengar kata 'cantik' yang selalu dilontarkan ketika mendeskripsikan dirinya, namun saat Kang Hyunjae yang mengatakan rasanya mendebarkan. Juyeon merah semuka-muka.
Kang Hyunjae yang melihat merasa gemas, pria itu menarik wajah Juyeon untuk mendekat dan tanpa permisi mencumbu bibirnya. Juyeon menerima dengan sukarela, balik menyesap dan menjilat tak mau kalah dari yang lebih tua.
"Wah udah duluan lu," Ucap Kang Mingyu merasa dicurangi, "Dek, Kang Mingyu juga mau," Kang Mingu menarik dagu Juyeon, membuat ciumannya dengan Kang Hyunjae terputus.
Kini Kang Mingyu meraup bibir Juyeon seperti kesetanan, Juyeon tak banyak berlaku banyak. Bagi Juyeon, Kang Mingyu terlalu sulit untuk diimbangi.
"Eh gua duluan, lu sabar lah tunggu giliran," Kini Kang Hyunjae juga menarik dagu Juyeon, menyatukan kembali ranum mereka untuk kembali ia sesap.
Kang Mingyu sepertinya memberikan waktu untuk Kang Hyunjae merasa Juyeon, menunggu saat tiba gilirannya untuk mengecap kembali bibir si Adek. Namun Kang Hyunjae malah keasikan dengan waktunya.
"Kelamaan lu," Lagi, Kang Mingyu menarik dagu Juyeon. Kali ini kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah Juyeon agar si Adek tak lagi diambil teman kulinya itu.
Juyeon hanya tersenyum bibirnya diperebutkan dua kuli tampan ini.
Tak ingin banyak berdebat, Kang Hyunjae memilih untuk memberikan fokusnya pada bagian tubuh Juyeon yang lain, yaitu ceruk leher. Jelas si gadis langsung memberikan akses tanpa memutus cumbuannya pada bibir Kang Mingyu.
Celana pendek Juyeon seperti tidak berguna karena pahanya semakin terekspos ketika duduk, memberikan kebebasan bagi siapa saja yang ingin menyentuhnya. Lalu gerakan jari-jari pada pahanya terus naik sampai ke paha dalam, seakan nyaris menyentuh entitas lembab dan basah milik si gadis.
Juyeon menggerakan pinggulnya seakan berusaha untuk membuat jari itu menyentuhnya. Dekat sekali... Namun berat pada pahanya tetiba menghilang dan Juyeon hampir menangis karena mendamba.
Kang Hyunjae masih menyusu padanya dari luar tank top, padahal tank top Juyeon sudah basah pada beberapa bagian namun dua kang kuli seperti tidak peduli. Sedangkan Kang Mingyu baru saja melepas ciuman, pria itu mengendus dan menjilati seluruh bagian leher Juyeon.
Juyeon tak bisa menahan kuatnya cengkram Kang Mingyu ketika membawa tangannya untuk terangkat, "Tahan," Ucap si kang kuli telak.
"Kang mau nga- AH!"
Kang Mingyu membenamkan wajahnya pada lipatan di antara lengan atas dan bahu Juyeon, menghirupnya dalam-dalam membuat Juyeon bergerak kegelian, "Kang jorok ngapain jilatin ketek Juyeon,"
"Badan lu mulus dan wangi banget Dek, gak boleh ada yang kelewat buat dirasain gini," Lalu setelahnya Juyeon dapat merasakan basah di area ketiaknya. Kang Mingyu menjilat panjang mulai dari dada yang masih terbungkus tank top lanjut ke ketiak lalu ke leher dan berakhir di daun telinga Juyeon.
"Kang- nghh!"
Kang Hyunjae yang melihat tak mau kalah, ikut mencengkeram lengan Juyeon agar terangkat dan mulai menjilati ketiak Juyeon tak habisnya. Juyeon dapat dengan jelas mendengar bunyi kecipak dari kedua sisi yang terdengar sangat kotor.
Gerakan menjilat yang entah sampai kapan akan berakhir itu terus diulangi sampai Juyeon pening, menggeliat kesana kemari seperti mencari sentuhan, mencari inginnya yang sialnya belum juga diberi. Gadis itu mulai merengek karena kepalang tak tahan.
"Kang udah," Juyeon menarik tangannya untuk turun, "Juyeon udah sange banget, tolong," Juyeon menatap manja kedua kang kuli bergantian, berharap dapat membuat mereka luluh.
"Mau apa cantik?" Kang Hyunjae buat Juyeon merah dengan suara lembut dan pujiannya. Kang Hyunjae bahkan memberi Juyeon beberapa kali kecupan pada pipi.
"Tolong lepasin tank top sama celana Juyeon," Juyeon merengek berusaha semanja dan secentil mungkin agar dua kang kuli disisinya itu setuju. Kang Hyunjae terlihat tak tega, ia juga sama inginnya dengan Juyeon. Yang lebih pucat beralih menatap Kang Mingyu, seperti menunggu jawaban teman kulinya itu.
Kang Mingyu menimang, "Oke," Ucapnya.
AKHIRNYAAA, seru Juyeon dalam hati.
"Gua juga udah gak sabar nete langsung,"
Juyeon terlampau bersemangat. Setelah disetujui dan tanpa banyak menunggu, si gadis segera melepas tank top dan celananya, saking semangatnya celananya sampai tersangkut di kaki.
"Pelan-pelan dong cantik," Kang Hyunjae tertawa, membantu Juyeon melepas celananya. Kini hanya tersisa celana dalam hitam polos yang membalut kemaluannya.
Juyeon mencondongkan dadanya bangga, melihat dua kang kuli yang tak bisa alih dari dua gundukan bulat yang akhirnya terbebas itu.
"Kang Hyunjae, Kang Mingyu, liat," Juyeon kini menangkup kedua payudaranya, membuat gerakan memutar beberapa kali dan memukulnya tak seberapa kencang hingga bergetar. Juyeon menyatukan kedua dadanya, membuat kedua putingnya menyatu, lalu meludah di atasnya. Putingnya kini basah dengan liurnya yang sedikit jatuh ke paha.
"Seksi gak Juyeon?" Tanya si gadis tak punya malu.
"Buset," Kang Mingyu ikut menampar dua bulatan padat, lalu puting Juyeon ditarik dengan kencang sampai si gadis mengerang sakit, "Dek badan kayak gini mah cocoknya jadi lonte,"
"Sialan lu Gyu," Kang Hyunjae tak habis pikir dengan perkataan temannya itu, namun pria itu kini malah ikut menampar dada Juyeon kegirangan. Juyeon mengerang manja melihat dadanya yang terus bergoyang.
"Lagi Dek, mainin lagi teteknya,"
Lagi, Juyeon memainkan kedua dadanya sendiri. Jari telunjuknya juga dibuat untuk memberi sentuhan pada putingnya. Putaran ke kanan dan ke kiri dilakukan berkali kali dengan bibir bawah yang digigitnya untuk menahan desah. Kang Hyunjae dan Kang Mingyu yang melihat susah payah agar tak langsung melahap si gadis.
Tangan Kang Hyunjae mengelus paha Juyeon, sedikit memaksanya untuk terbuka lebar. Paha dalamnya diberi usap seperti sebelumnya, terus ke dalam namun tak kunjung menyentuh yang semestinya. Juyeon kini menggerakkan pinggulnya, mencoba menggesekkannya ke kasur diiring erang frustasi.
"Seksi banget dah ini lonte satu," Ucap Kang Mingyu sambil menampar dua gundukan bergantian. Mencubit puting Juyeon kencang dan menekannya gemas.
"Jadi lonte aja yuk Dek, nanti dipake sama Kang Mingyu setiap hari,"
"Kan udah," Ucap Juyeon sambil berusaha menahan desah, bibirnya masih digigiti keenakan, "Juyeon kan udah jadi lontenya Kang Mingyu sama Kang Hyunjae,"
Juyeon sengaja, ia sengaja membangunkan hewan buas.
"Anjing ya lu,"
"Anjing,"
Lalu Juyeon didorong oleh salah satunya agar terbaring, membuat punggungnya kini bersentuhan langsung dengan kasur.
Dua kang kuli kembali menjamah tubuhnya, menggerayangi dada hingga perutnya, menjilat dan mengecup apapun itu yang dapat bibir mereka gapai. Juyeon hanya bisa menengadah keenakan, memberikan seluruh tubuhnya pada dua kang kuli karena Juyeon hanyalah lonte untuk mereka.
Kedua tangan kini sudah bertengger pada paha dalam Juyeon, memaksanya untuk semakin terbuka lebar. Lalu Juyeon memekik keras ketika, akhirnya, beceknya di bawah sana mendapat hangat.
Celana dalam si Adek disingkap dan kemaluannya untuk pertama kali pada hari itu akhirnya diberikan perhatian yang semestinya. Jemari itu hanya meraba sebentar sebelum akhirnya ditarik kembali.
"Mulus banget anjing," Ucap Kang Mingyu kaget, pria itu menatap yang lebih pucat dengan Kang Hyunjae yang ikut meraba kemaluan tanpa bulu milik Juyeon.
"Lebarin kakinya," Ucap Kang Hyunjae ikutan takjub. Celana dalam Juyeon kini diturunkan keseluruhan agar si mulus akhirnya terlihat langsung oleh mata kepala kedua kang kuli.
Kini tak ada sehelai benangpun yang menutupi cantiknya tubuh si gadis. Dibelai langsung oleh udara dingin kamarnya membuat Juyeon semakin bergetar antusias, merengek membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
Kang Mingyu dan Kang Hyunjae sedikit menunduk agar lebih jelas melihat lembap Juyeon, "Wah bangsat,"
"Mulus, pink, tembem. Cantik banget Dek," Kang Hyunjae kagum. Juyeon dapat melihat kedua kang kuli masih menatap kemaluannya senang, matanya berbinar seperti baru saja menemukan harta karun.
"Mana becek banget lagi Je," Kang Mingyu kini menyentuh bibir kemaluan Juyeon dengan dua jarinya, bukan berniat untuk memanjakan Juyeon, pria itu hanya ingin merasakan seberapa basah si gadis.
"Nghhh!" Refleks pinggul Juyeon bergerak ribut, kepalang ingin si gadis seperti kesetanan.
Tolong, apapun itu tolong buat Juyeon penuh sekarang juga.
Jari Kang Mingyu pada bibir kemaluan Juyeon bergerak perlahan menampung becek yang paling muda sebelum akhirnya ditarik kembali, "Baru dimainin teteknya aja udah becek banget si lonte,"
"Nih rasain," Dua jari tersebut diarahkan ke mulut Juyeon, yang tentunya diterima langsung oleh si gadis, "Enak?" Tanya Kang Mingyu dengan satu alis yang dibawa naik, senang karena berhasil mengerjai. Juyeon menjilati jari yang lebih tua lihai, lidahnya dibawa mengitari jari panjang itu keenakan.
Tubuh bagian bawah Juyeon diangkat naik oleh Kang Hyunjae, membuat kemaluannya kini sangat dekat dengan wajah dua kang kuli. Kang Hyunjae dan Kang Mingyu bergantian menghirup panjang kemaluan Juyeon, "Kang!" Juyeon hampir menjerit karena kegelian.
Lalu salah satunya dengan tetiba meludah di sana, diikuti pria yang lain. Keduanya menggeram rendah ketika air liurnya bercampur dengan lendir yang keluar dalam Juyeon.
Kedua kang kuli lalu menampar si becek bergantian sampai terlihat kemerahan, nyeri bukan main Juyeon rasakan, namun tubuhnya tak berhenti menggelinjang diperlakukan seperti murahan. Juyeon senang.
"Seksi banget anjing," Ucap Kang Mingyu sebelum kembali memberi basah pada perut mulus si gadis, memutarkan lidahnya pada pusar sebelum memberi jilatan panjang sampai ke dada.
Juyeon mendesah lena sambil membusurkan tubuh, pening mulai terasa karena dua jari milik kedua kang kuli terus menekan iseng pintu masuk liang becek Juyeon bergantian.
Kang Mingyu sudah kembali berhadapan dengan payudara Juyeon, sedangkan Kang Hyunjae kini mensejajarkan wajahnya dengan kemaluan Juyeon, kembali menghirup pusatnya dalam-dalam.
Hembus hangat napas Kang Hyunjae membuat Juyeon berdebar, "Dek, Kang Hyunjae masukin satu jari ya," Juyeon sedikit mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan tatap Kang Hyunjae yang memelas.
Belum sempat Juyeon menjawab, dirinya sudah merasa ada yang memaksa masuk. Juyeon membuka lebar mulutnya tanpa suara, matanya terpejam merasakan.
"Kang Mingyu ikut masuk ya Dek,"
"Jangan dua du- AH!"
Dua jari mendesak liang si gadis. Juyeon dipaksa terbelah. Kakinya menendang kesana kemari berusaha lepas sedangkan pinggulnya ditahan untuk tetap pada tempatnya oleh lengan yang jauh lebih kuat.
Lalu detik selanjutnya satu jari dari masing-masing kang kuli berhasil terbenam sepenuhnya dalam Juyeon.
Kang Mingyu masih asik menyusu ketika jarinya sudah dibawa dengan perlahan untuk bergerak dalam Juyeon, "Kang se-ben-AH! tar," Susah payah Juyeon berucap namun tak ada yang hirau. Pada akhirnya yang lebih muda pasrah merasakan dua jari dalam tubuhnya bergerak tak bersamaan.
Belai hangat napas Kang Hyunjae masih dapat Juyeon rasakan, menandakan bahwa wajah si kang kuli masih tepat berada di depan kemaluannya. Lalu Juyeon refleks menarik tubuhnya saat benda tak bertulang pertama kali menyapa.
"AHH!" Erang nikmat terdengar lebih kencang dari sebelumnya, Kang Hyunjae menghentikan aktivitasnya untuk memastikan keadaan si Adek, "Sakit Dek?" Tanyanya khawatir.
Juyeon menggeleng ribut, tangannya yang satu diletakkan pada kepala Kang Hyunjae, "Lanjutin aja Kang, enak,"
Mana mungkin Kang Hyunjae menolak, wajahnya kini dibawa untuk kembali terkubur dalam selangkangan Juyeon. Menghirup aroma kemaluan si gadis, dengan lidah yang lihai bermain pada klitoris yang paling muda, menyesap kencang sampai terdengar erang kencang banjir nikmat.
Dua jari dalam Juyeon pun semakin liar bergerak, Kang Mingyu dan Kang Hyunjae sama sekali tak selaras di dalam sana. Ada yang tengah berputar, ada yang tengah keluar masuk, namun tujuan keduanya pasti yaitu mencari titik telak.
"Lagi, mau lagi," Juyeon tak sadar mengatakannya. Pikirnya sudah tak sanggup sedang tubuhnya masih tak puas.
Kang Mingyu tersenyum miring, pria itu kini memaksa satu jarinya lagi untuk masuk bersama dengan dua jari yang lain. Juyeon mencoba kabur karena ngilu, namun tangan Kang Hyunjae dan Kang Mingyu pada masing-masing pahanya menahannya agar terbuka lebih lebar, diperlakukan seenaknya tanpa belas kasih membuat debar Juyeon bergemuruh kegirangan.
Lalu erang panjang menandakan bahwa Kang Mingyu berhasil membenamkan dua jarinya di dalam bersama dengan satu jari Kang Hyunjae.
"Penuh," Ucap Juyeon lemah.
"Baru jari Dek, gimana nanti kontol kita yang masuk, bisa luber memek kamu," Kotor sekali jawaban Kang Mingyu.
Gilanya Juyeon justru tak sabar menantikannya. Membayangkan bagaimana kejantanan kedua kang kuli memenuhi liangnya bergantian, mengisinya dengan cairan kental yang sampai tak sanggup Juyeon tampung kesuluruhannya.
Juyeon membuka matanya untuk melihat bagaimana liangnya dipermainkan di bawah sana. Sayang pandangnya terhalang oleh kepala Kang Mingyu yang belum berhenti menyusu padanya.
Hisap Kang Hyunjae pada klitorisnya semakin geli dirasa Juyeon, tangannya semakin membawa kepala yang lebih tua agar tak meninggalkan beceknya. Jangan lupakan tiga jari yang masih bersemayam di dalamnya, memberikan gerakan melampaui gila yang beberapa kali mengenai titik terdalam telak. Juyeon melempar kepalanya ke belakang, tubuhnya bergetar hebat, pening. Ia tahu dirinya sudah dekat.
"Kang, Juyeon mau keluar,"
Kedua kang kuli dapat merasakan liang Juyeon yang berkedut dan menyempit. Lalu secara bersamaan mereka menarik tubuhnya menjauh dari Juyeon, meninggalkan liangnya yang beberapa detik lagi sampai pada pelepasan.
Juyeon menjerit dibiarkan bergetar nyeri karena dekatnya tak terealisasi.
Yang paling muda tengah merengek, tutur katanya tak jelas terdengar, "Kenapa?" Tanyanya hampir menangis, Juyeon kepalang dekat dan nyeri membuatnya semakin tak waras.
"Nanti lah, enak aja udah main keluar,"
"Kita aja masih pake baju Dek,"
Juyeon menatap dua kang kuli, gadis itu masih kesulitan mengatur napas, "Yauda ayok lepas," Kedua tangannya sibuk meraih ujung kaos kutang milik dua kang kuli, "Ayok bikin Juyeon keluar Kang," Rengeknya tak sabaran.
Tak ingin lagi menunggu, kedua kang kuli melepas seluruh pakaiannya tanpa ada yang tersisa. Desah lemah keluar dari bibir Juyeon menyaksikan bagaimana atletisnya tubuh kedua kang kuli di depannya, otot perutnya jelas sekali terlihat, kencang dan sangat keras, seksi banget. Juyeon dapat merasakan ada yang mengalir keluar dari dalam tubuhnya karena kegirangan.
"Bangun," Kang Mingyu menepuk beberapa kali kemaluan Juyeon sebelum mencengkeram pergelangan tangan si gadis dan menariknya untuk terbangun, tubuh yang jauh lebih kecil itu tak bisa menolak.
"Sini dudukin muka gua, gua bikin keluar,"
Mendegarnya membuat Juyeon bersemangat, debarnya kembali bergemuruh menantikan pusatnya yang akan kembali dimanja.
Lalu Kang Mingyu menyamankan posisinya untuk telentang di tempat tidur Juyeon, sedang yang paling muda siap menunggangi wajah tampan kang kuli. Kemaluannya diposisikan tepat di wajah Kang Mingyu sedang tangannya bertumpu pada abdomen tak rata milik yang lebih besar.
Kang Mingyu mencengkeram pinggul Juyeon cukup kencang, lalu perlahan membuat tubuh si gadis untuk semakin turun. Detik ketika basah tak bertulang milik si kang kuli menyapa kemaluannya, Juyeon melayang keenakan.
Suara kecipak bergema pada setiap sudut kamar Juyeon. Sedang si gadis hanya bisa melebarkan mulutnya tanpa suara bentuk nikmat, dengan pinggul yang ia bawa berputar agar Kang Mingyu menjamah seluruh beceknya tanpa ada yang terlewat, membuat wajah si kang kuli mengkilap karena lendir.
Sedang kang kuli yang lain, Kang Hyunjae, kini tengah berdiri di samping Juyeon, tegang yang besarnya hampir seukuran kaleng minuman itu mengacung bangga di depan wajahnya.
"Buka mulutnya cantik,"
Patuh. Juyeon membuka mulutnya, memaksa rahangnya untuk terbuka lebar menyesuaikan besar Kang Hyunjae agar dapat masuk ke mulutnya.
Tak sampai keseluruhan, Juyeon sudah ingin menyerah. Milik Kang Hyunjae terlampau besar dan panjang, namun si gadis tak ingin mengecewakan, sebisa mungkin keseluruhan Kang Hyunjae ia bawa untuk diselimuti hangat rongga mulutnya.
"Sayang, jangan nangis dong," Kang Hyunjae memberi usap lembut pada kepala Juyeon, air mata yang meleleh dari ujung mata disekanya lembut. Si gadis mengeluarkan tegang Kang Hyunjae dari mulutnya, lalu membawanya kembali masuk dalam sekali hentak sampai mengenai pangkal tenggorokan.
"Dek iya git- ANJING!" Kang Hyunjae menggeram cukup kencang, Juyeon melihat bagaimana ekspresi si kang kuli yang keenakan karenanya, membuat tubuh Juyeon seperti disulut api. Juyeon bangga akan kemampuannya memberi nikmat dan gadis itu ingin lagi.
Maka yang paling muda membawa kepalanya untuk bergerak maju mundur, sampai mulutnya terasa kebas dengan besarnya milik Kang Hyunjae.
Tegang lain yang menganggur di depan sana tak mendapat perhatian dari si gadis, Kang Mingyu terlihat menyelubungi kejantanannya dengan tangannya sendiri. Lalu Juyeon sedikit membawa tubuhnya lebih maju agar dapat meraih tegang yang ukurannya tak jauh berbeda dengan milik Kang Hyunjae itu.
Tangan Juyeon yang berhasil menggenggam milik Kang Mingyu ia bawa naik dan turun, tentu tanpa melupakan berat Kang Hyunjae di dalam mulutnya yang masih ia hisap seperti permen. Si gadis sangat berkonsentrasi dalam memberi nikmat untuk dua kang kuli dengan tegang yang sebesar kaleng minuman itu.
Kang Mingyu membawa pinggul Juyeon untuk lebih terangkat, menjilat lubang belakangnya sampai ke lubang depan, Juyeon sudah gila secara keseluruhan. Milik Kang Hyunjae dalam mulutnya terlepas begitu saja, gadis itu nyaris berteriak.
Kang Mingyu melakukannya berulang kali, lidahnya membuat gerakan melingkar pada masing-masing bibir lubang. Lalu ketika dua jari Kang Mingyu mengisi kosongnya, Juyeon sudah melayang sampai ke langit.
"Dek tahan dikit lagi," Kang Hyunjae kembali memasukkan tegangnya ke dalam mulut Juyeon, kali ini pria itu menahan kepala Juyeon agar tetap pada posisinya. Ia merenggut rambut Juyeon, memaksa kepalanya untuk bergerak sesuai kemauannya, memberikan sensasi yang membakar selatan si kang kuli.
Faktanya Juyeon senang, gadis itu semakin bersemangat untuk menuntun Kang Hyunjae sampai pada pelepasannya. Tangannya pun tak tinggal diam, ia bawa untuk mengurut tegang Kang Mingyu yang kedutnya sama dirasa oleh Juyeon pada mulutnya.
Gerak Juyeon membuat Kang Mingyu terus menusuk liangnya, memberikan gerak asal di dalam sana. Sedang lidahnya menyesap kuat klitoris Juyeon tak tahu ampun.
"AH! Kang terus, enak banget,"
Juyeon kewalahan menerima nikmat, pinggulnya dibawa memutar dan maju mundur, bergerak asal karena hanya satu tujuan yang ingin ia capai yaitu putih. Juyeon memejamkan mata ketika perutnya mengencang, tegang yang terus menyundul tenggorokannya dengan jari yang menekan telak titik terdalam dan hisapan kuat pada klitorisnya menjadi tanda bahwa Juyeon sudah sangat dekat.
"Dek gua ke- Anjing!" Belum sempat Kang Hyunjae menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah sampai pada pelepasan yang ia habiskan dalam rongga mulut Juyeon. Geraman dalam dan sumpah serapah membuat Kang Hyunjae terdengar semakin seksi bagi Juyeon.
Lalu ketika pinggulnya semakin ditekan pada wajah Kang Mingyu, Juyeon tahu gadis itu akhirnya sampai pada nikmat dunia yang sesungguhnya.
Kang Mingyu dan Kang Hyunjae sama-sama menyaksikan pelepasan pertama Juyeon, menggeram rendah ketika si gadis menyemburkan cairan bening yang membasahi wajah sampai badan Kang Mingyu.
Juyeon mengangkat tubuhnya, meninggalkan wajah Kang Mingyu yang seluruhnya sudah dipenuhi air seni. Beberapa kali semburan lemah sisa-sisa penghabisan keluar dari dalamnya dengan paha yang bergetar.
"Enak banget cantik sampe kencing gini?"
Kang Mingyu dan Kang Hyunjae menepuk kemaluan Juyeon bergantian, sambil sesekali menarik klitoris si gadis gemas.
Juyeon terkulai lemas di samping Kang Mingyu, gadis itu sibuk mengatur napas ketika Kang Mingyu baru saja membersihkan wajahnya dengan tissue wajah di meja nakas lalu memposisikan dirinya di antara Juyeon.
Kejantanan Kang Mingyu yang masih tegang dibuat bergesekan dengan becek Juyeon yang masih nyeri akibat pelepasan.
"Kang tunggu dulu, Juyeon baru keluar,"
"Lu berdua udah keluar, gua belum anjing,"
"Kang- AH!"
Kang Mingyu tak hirau, ia mendorong pinggulnya untuk semakin rapat dengan selatan si gadis. Juyeon lalu menjerit sejadinya, tubuhnya menggelinjang hebat ketika benda panjang dan keras milik si kang kuli yang masih mencari pelepasan itu berhasil terbenam dengan mudah di dalamnya.
Kejantanan yang sebesar kaleng minuman memenuhi lubang Juyeon. Juyeon dapat merasakan seberapa besar Kang Mingyu di dalamnya, seakan membentuk dan memaksa lubangnya untuk menyesuaikan bentuk kejantanan si kang kuli.
"Longgar banget lobang lu, gampang banget masuknya," Ucap Kang Mingyu asal, pinggulnya memutar pelan berusaha untuk menggoda liang Juyeon yang pasalnya memang semakin becek.
"Wah bukan lobang perawan dong Gyu?" Sahut Kang Hyunjae.
"Bukan ini mah, sering dipake pasti sama temennya ya? Atau sama guru lu?"
Juyeon menggeleng ribut. Gadis itu terlalu sulit berucap, suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Liangnya masih perih dan panas dengan kehadiran tiba-tiba benda besar di dalamnya.
Juyeon memang bukan perawan. Gadis itu sering melakukannya dengan pacarnya terdahulu. Namun kejantanan yang sebesar kaleng minuman ini baru pertama kali ia rasakan, dan tubuhnya beberapa kali masih bergetar karena tak pernah merasa sesesak ini.
Juyeon rindu digagahi, dibuat tak berdaya hanya karena nikmat dunia.
"Ahh- Kang!" si gadis mengerang kencang ketika Kang Mingyu mulai bergerak maju dan mundur, menemukan dengan pasti titik terdalam tanpa perlu mencari.
Juyeon hanya mampu membuka mulutnya lebar, menahan segala desah dalam tenggorokan, merasakan bagaimana liangnya dipermainkan dan dibuat semakin membengkak dengan gerakan brutal Kang Mingyu. Mata sayunya menatap Kang Hyunjae disebelahnya yang berusaha untuk membuat kejantanannya tegang kembali.
"Kang Hyunjae, mau Juyeon bantu?"
Juyeon meraih kejantanan Kang Hyunjae degan tangannya, menyelubungi milik si kang kuli yang terlihat lemas karena sudah sampai pada pelepasan. Namun dengan beberapa kali gerak Juyeon, Kang Hyunjae kembali tegang dengan mata yang terpejam erat.
"Remes Kang, tetek Juyeon jangan didiemin," Juyeon mengambil tangan Kang Hyunjae, membawanya untuk menyentuh dadanya yang menganggur.
"Lonte," Decak Kang Hyunjae sebelum menampar dada Juyeon sampai timbul bercak kemerahan, lalu meremas si kenyal kencang dan menarik putingnya sampai si gadis membusur nyeri.
Kang Hyunjae kembali menyusu pada Juyeon, memberi kehangatan pada puting yang sudah terlalu lama disapa dingin. Juyeon kegirangan, tangannya meremas kepala Kang Hyunjae, menahan si kang kuli agar tak lepas dari dadanya.
Sedang Kang Mingyu membawa satu kaki Juyeon untuk terangkat, menumpunya di bahu lebar si kang kuli. Posisi yang membuat Juyeon merasa terbelah, Kang Mingyu masuk begitu dalam, menekan dengan pasti titik terdalam Juyeon.
"Gyu pelan anjing, mukanya merah banget ini,"
Kang Mingyu jelas tak hirau akan perkataan Kang Hyunjae, pria itu hanya fokus untuk membawa dirinya menjemput putih tanpa memikirkan tubuh Juyeon yang sudah kepalang nyeri.
Namun kembali lagi, Juyeon senang diperlakukan seperti murahan yang dia lakukan cukup mengangkang dan menyerahkan lubangnya untuk menampung segala pelepasan.
"Denger gak? Suara memek lu becek banget," Kang Mingyu menghentak beberapa kali, seakan menunjukkan kepada Juyeon bahwa suara kecipak nyaring yang timbul berasal dari liangnya yang terlampau becek.
"Kang Mingyu mentokin yang dalem- AHH!" Juyeon mencengkeram apapun itu yang dapat digapainya, sedang Kang Mingyu semakin mengangkat satu kaki Juyeon agar liangnya terbuka semakin lebar, menyesuaikan gerakan Kang Mingyu yang kian buas.
"Tuh Je anjing, anaknya keenakan. Emang seneng dipake, otaknya otak lonte,"
Hentak Kang Mingyu di dalamnya membuat Juyeon lupa akan dunia. Juyeon bisa dengan cepat keluar jika terus seperti ini.
Lalu Kang Hyunjae memberikan beberapa kali kecupan pada wajah Juyeon menenangkan, sebelum membawa si gadis dalam ciuman panas. Tubuhnya yang terus terpantul, membuat Kang Mingyu dan Kang Hyunjae kembali memainkan payudaranya.
Desahan Juyeon memenuhi ruangan, erangnya semakin kencang ketika Kang Hyunjae memberikan jilatan panjang pada ketiak sampai ke dadanya. Menghisap kuat tonjolan coklat yang membulat sempurna seakan dapat mengeluarkan susu.
"Anjing! Iya dek gitu ketatin," Milik Kang Mingyu semakin besar di dalamnya, tubuh Juyeon seperti terbakar. Gadis itu membuka kakinya lebar dengan otot liang yang ia ketatkan, membawa Kang Mingyu pada geraman rendah sambil menatapnya keenakan.
Tangan Kang Hyunjae yang lain menyentuh klitoris Juyeon, refleks tubuh si gadis membusur, membuat tegang Kang Mingyu semakin menusuk dalam, "Kang- AH! Dalem banget," Juyeon hampir menangis.
Kang Mingyu menahan punggung Juyeon agar lebih terangkat, mempermudah si kang kuli untuk bergerak lebih dalam, menghujam titik Juyeon kesekian kali. Juyeon menjerit ribut, liangnya tak pernah dipermainkan senikmat ini, bahkan air liurnya sampai menetes.
"Dikit lagi," Ucap Kang Mingyu terus menghentak.
"Dek, lu seksi banget," Kang Hyunjae menatap tubuh Juyeon napsu. Dada besar si gadis memantul, sedang tubuhnya mengkilap karena keringat, wajahnya merah karena nikmat, di bawah sana juga terlihat persatuan Kang Mingyu dan Juyeon yang menghasilkan bunyi becek.
Tangan Kang Hyunjae tak berhenti mencubit dan memberi gerakan memutar pada klitorisnya dengan hisapan pada dada dan beberapa kali jilatan sampai ke ketiak, membuat badan Juyeon tak kuasa dihujam nikmat.
Lalu ketika Juyeon bergetar hebat, ketiganya tahu bahwa gadis itu sudah dekat.
"Dek, gua keluarin di dalem ya?" Kang Mingyu semakin mempercepat geraknya, Juyeon dapat merasakan milik kang kuli yang mulai berkedut di dalamnya.
Juyeon menahan pergerakan Kang Mingyu panik, "Kang jangan, nanti Juyeon hamil,"
Namun tenaga si kang kuli jelas melebihinya, maka dua hentakan kencang dan geraman panjang menjadi tanda bahwa Kang Mingyu sudah sampai.
"Kang- NGHHH!"
"Dek-hh! Bangsat!"
Kang Mingyu baru saja keluar dalam liang Juyeon, menyentak beberapa kali sisa penghabisan di dalam kemaluannya yang merah dan becek. Juyeon pun mengikuti, gadis itu kembali mengeluarkan air seninya, derasnya hampir membuat milik Kang Mingyu terlepas dari lubangnya.
Kedua Kang Kuli menyaksikan bagaimana basahnya kasur Juyeon sekarang karena dua pelepasan deras si gadis.
"Kelepasan Dek. Enak banget sih memek lu,"
Juyeon melenguh panjang ketika Kang Mingyu menarik miliknya keluar, meninggalkan liang Juyeon yang menganga. Terlihat cairan kental milik Kang Mingyu keluar dari dalam sana, menjadikannya tontonan menarik bagi si dua kang kuli.
Kang Hyunjae memasukkan satu jarinya ke dalam, ingin merasakan bagaimana lubang Juyeon setelah diisi tegang sebesar kaleng minuman, "Anjing longgar banget lobangnya," Juyeon hanya bisa mengeluarkan lenguhan lemah, tubuhnya terasa lemas karena terlalu banyak dikerjai.
"Tahan di dalem Dek, jangan sampe keluar biar lu beneran hamil," Kang Hyunjae menambah satu lagi jarinya untuk masuk berniat menyumpal lubang Juyeon agar tak lagi mengeluarkan kental putih temannya itu.
"Gak bisa," Juyeon merengek, "Gak mau rapet lobang Juyeon," Juyeon berusaha, berusaha mengencangkan otot liangnya namun tak berubah banyak. Ia masih merasakan bagaimana cairan di dalamnya mengalir keluar tak tertahan.
"Atau gua tahan pake yang lain ya?" Kang Hyunjae menarik tubuh Juyeon untuk terbangun, si kang kuli kini menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur dan memposisikan tubuh Juyeon agar terduduk di atasnya.
Paha Juyeon bergetar ketika menahan berat tubuhnya, pasalnya cairan Kang Mingyu masih mengucur dari dalam lubangnya.
"Gua tahan pake kontol gua ya cantik?" Ucap Kang Hyunjae nyaris berbisik, tubuh yang lebih besar kini mendekapnya, memberikan usapan lembut dari pinggang sampai ke paha Juyeon.
Lalu Juyeon pasrah, tak lagi ada tenaga untuk menahan. Gadis itu membiarkan tubuhnya dibawa sesuai kemauan dua kang kuli. Kejantanan Kang Hyunjae yang sudah mengacung tegang menyundul liangnya beberapa kali, siap untuk diberi kehangatan.
Lagi pula, gadis itu juga ingin merasakan besar Kang Hyunjae di dalamnya. Merasakan bagaimana liangnya kembali terbuka menyesuaikan tegang Kang Hyunjae yang panjang dan besarnya terlihat sama dengan milik Kang Mingyu.
"Masukin Dek, turun pelan-pelan,"
Juyeon memposisikan milik Kang Hyunjae di bibir kehangatan lalu membawa tubuhnya untuk turun sedikit demi sedikit. Keduanya saling menatap, dengan mulut yang terbuka menahan desah. Kang Hyunjae mencengkeram pinggul Juyeon sebagai tumpuan, membawa tegangnya untuk semakin masuk pada liang becek si gadis.
Lalu keduanya melenguh panjang ketika besar si kang kuli berhasil terbenam sepenuhnya, "Anjing becek banget lobang lu," Ucap Kang Hyunjae diikuti gerakan menghentak pelan untuk merasakan becek Juyeon, keduanya, bahkan ketiganya, dapat mendengar suara kecipak yang cukup nyaring, menandakan bahwa liang Juyeon terlampau basah akibat segala pelepasan pada beberapa menit terakhir.
Juyeon membawa tubuhnya naik dan turun. Awalnya pelan dan terlihat ragu, Juyeon masih merasa nyeri akibat rangsangan berlebih, laun gerakannya semakin bertenaga, membawa tegang si kang kuli pada ruang terdalam.
Tugas Juyeon hari ini adalah menyenangkan para kuli, maka ia harus melakukan yang terbaik.
Tangan Juyeon bertumpu pada tubuh Kang Hyunjae, merasakan bagaimana atletisnya tubuh itu dibanding dengan dirinya. Juyeon merasa kecil, mendesah pelan menyaksikan bagaimana tegang Kang Hyunjae dapat ditelannya, yang mana membuatnya semakin bersemangat untuk cepat membawa yang lebih tua pada pelepasan.
"Iya gitu, cantik. Pinter!" Juyeon mendengar puji setiap kali otot liangnya diketatkan, lubangnya memang terasa longgar akibat menerima tegang sebesar kaleng minuman, namun ia yakin ketika di dalam, otot liangnya masih dapat memberi impit nikmat.
Gerakan Juyeon melemah setelah beberapa kali memantul pada paha yang lebih tua. Kepalanya pening dengan kemaluan yang dirasa terlalu panas, perutnya kram dan Juyeon merengek karena tiba-tiba bergetar hebat.
"Kang," Rengeknya menatap Kang Hyunjae, "Kayaknya Juyeon gak bisa keluar lagi,"
Lalu Juyeon berhenti, tubuhnya tak lagi sanggup bergerak. Kang Hyunjae memberikan usapan lembut pada punggung Juyeon menenangkan, sebelum pinggangnya dicengkeram dan dibawa untuk lebih terangkat. Kini Kang Hyunjae yang bergerak sepenuhnya, sedang Juyeon hanya sanggup menerima segala bentuk nikmat.
"Bisa, cantik. Mingyu udah dikencingin dua kali, gua juga mau dikencingin sama lu,"
Maka detik setelahnya Kang Hyunjae bergerak begitu cepat, menghujami liang Juyeon dengan hentak kesetanan. Juyeon mengerang sejadinya, lidahnya terjulur bentuk nikmat, liurnya terlihat menetes dari sudut ranum, beberapa kali si gadis mengerang panjang setiap kali Kang Hyunjae menghentak titik terdalam.
"Kencing sekali lagi ya cantik, pasti bisa kok,"
Kang Hyunjae mengecup beberapa kali wajah Juyeon, geraknya dibawah sana tak melemah bahkan justru semakin panas, seakan tiap hentaknya disulut api agar kian terbakar. Memang tak perlu Juyeon ragukan lagi kekuatan kang kuli, dan Juyeon tak menyesal memberikan tubuhnya secara cuma-cuma.
Juyeon kini merasakan ada hangat lain yang menyentuh tubuhnya, mengecupi punggung sampai pundaknya diikuti jilatan panjang. Kang Mingyu kini memeluk tubuh Juyeon dari belakang, menempelkan punggung si gadis pada dada bidang yang lebih besar.
"Sini gua bantu biar memek lu bisa kencing lagi,"
Juyeon dapat merasakan tegang lain diantara pantatnya, menggeseknya perlahan menimbulkan panas. Sedang tangan Kang Mingyu dibawa untuk meremas payudara Juyeon yang memantul ribut akibat gerakan brutal Kang Hyunjae.
"Kang Mingyu mau ngapain?" Tanya Juyeon kesulitan, si gadis sedikit waswas kala kepala tegang Kang Mingyu beberapa kali menyundul lubang lainnya yang tak terisi.
"Lobang lu kan ada dua, ini yang belakang gua pake juga ya,"
Juyeon menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari cengkeram Kang Mingyu, "Kang, gak bakal muat," Namun geraknya malah diartikan Kang Mingyu sebagai bentuk menggoda, si gadis menerima tamparan beberapa kali pada masing-masing pipi bokong sebelum Kang Mingyu kembali menggesek si keras diantaranya dan mencoba menerobos masuk.
"Muat pasti Dek, gua bikin longgar juga kayak lobang memek lu,"
"Nghh- Kang!" Kang Mingyu memberikan usapan pada sekitaran pinggul sampai ke paha dalam Juyeon. Tegangnya selalu terlepas dan hilang arah akibat tubuh Juyeon yang tak henti bergerak karena masih dihujam Kang Hyunjae.
"Je anjing, jangan gerak dulu," Kang Mingyu memukul beberapa kali paha Kang Hyunjae, membuat yang lebih pucat menurut dan berhenti. Kang Hyunjae bahkan kini ikut membantu dengan melebarkan pipi bokong Juyeon agar Kang Mingyu dapat masuk ke dalamnya.
Juyeon merasakan tubuhnya terbelah, nyeri bukan main ketika liang bokongnya dipaksa untuk menyesuaikan benda sebesar kaleng minuman untuk masuk didalamnya. Jangan lupakan liang vagina yang sudah diisi tegang lain yang masih mengacung bangga dan berkedut di dalamnya.
Tubuh Juyeon jatuh menimpa tubuh Kang Hyunjae karena kakinya terus bergetar, posisi ini justru membuat liang Juyeon lebih jelas terlihat dan mempermudah Kang Mingyu untuk terbenam semakin dalam.
"BANGSAT," Teriakan diikuti geraman rendah dari Kang Mingyu menjadi tanda bahwa seluruh tegangnya sudah berhasil terbenam sepenuhnya. Juyeon mengigit bahu Kang Hyunjae menahan lenguhan, napasnya terdengar putus-putus, tubuhnya bergetar hebat dengan dada naik turun mencari pasokan udara.
Penuh. Penuh banget.
Sekarang tengah bersemayam dua tegang yang sebesar kaleng minuman pada masing-masing lubangnya, berkedut dengan urat kejantan yang menempel pada dinding liang, berusaha mencari nikmat dunia dengan tubuh Juyeon sebagai medianya.
"Kang Mingyu, Kang Hyunjae, kontolnya gede banget. Lobang Juyeon penuh,"
Juyeon kesulitan berucap, namun yang ia dapat malah tawa puas dari dua kang kuli. keduanya bersamaan memberi gerakan memutar, sesekali menekan pelan. Juyeon berusaha untuk menyesuaikan besar keduanya di dalam tubuh, terasa lubangnya semakin longgar saat milik dua kang kuli dirasa Juyeon tengah berkedut.
Juyeon membuka mulutnya dan mengerang tanpa suara, manik sayunya menatap Kang Hyunjae. Yang lebih tua membawanya dalam ciuman panas, sedang Kang Mingyu kini memainkan kedua payudaranya dari belakang.
"Enak kan cantik lobangnya dibikin penuh sama kontol kuli gini?" Kang Mingyu berbisik tepat di telinga Juyeon. Yang ditanya mengangguk pelan, setuju, lenguhan putus-putus terdengar setelahnya membuat ciumannya dengan Kang Hyunjae terputus.
"Penuh banget- ngh! Mau pipis,"
Beberapa kali tubuh Juyeon berjengit seakan tersengat listrik padahal dua kang kuli belum banyak bergerak namun liangnya seakan siap mengucur kembali, sesaknya membuat Juyeon bisa kencing lagi tanpa hitungan menit.
Lalu Kang Hyunjae mulai kembali bergerak, menarik miliknya hampir setengah dan kembali menekan masuk dengan tempo yang semakin ia percepat melebihi sebelumnya. Kang Mingyu melakukan hal yang tak jauh berbeda, hanya ketika menekan masuk, pria itu memutar pinggulnya beberapa kali, membuat kepala kejantanannya menekan telak titik terdalam.
Gerak keduanya lambat laun lempas kendali, tempo dan beratnya di dalam Juyeon tak beraturan dan terkesan berantakan. Keduanya tak pernah satu paham, maju dan mundur sesukanya, menekan tak tahu hitungan, yang terpenting tujuannya sama, yaitu menjemput putih.
"Ahh- Kang!"
Penuh banget. Beneran penuh banget. Juyeon tak akan pernah melupakan rasanya sepenuh dan sesesak ini, otaknya harus mengingat bagaimana liangnya dibiarkan merenggang untuk menampung tegang sebesar kaleng minuman.
Juyeon merasakannya. Ketika Kang Hyunjae menarik miliknya keluar, Kang Mingyu justru menekan masuk, lalu ketika setengah Kang Mingyu mengosongkan liangnya, Kang Hyunjae menghentak terlalu dalam. Keduanya seakan memastikan bahwa liang si cantik tetap harus terisi, maka Juyeon semakin membusur merasakan berat yang tak hentinya menggesek pusat tubuhnya.
"Kang- ngh! Yang cepet. Iya, iya terus gitu Kang.. ah! enak banget,"
"Tadi katanya jangan, sekarang minta terus,"
Kang Mingyu menggodanya dengan menghentak dalam, puting Juyeon ditarik cukup kencang sampai ngilu. Di depannya Kang Hyunjae langsung menyesap tonjolan kecoklatan yang sudah sangat keras, sedang tangannya yang lain asik meremas bulat Juyeon.
Panas yang berpusat pada masing-masing lubang si gadis membuat kedua kang kuli semakin kesetanan. Juyeon tak bisa menahan lengkingan yang keluar dari mulutnya saat dua kang kuli menubruk titik terdalam bersamaan.
"Anjing," Entah siapa yang terus-terusan mengeluarkan serapah, Juyeon seakan tak lagi bisa mencerna. Lubangnya mengetat, semakin menjepit dua tegang dalam tubuhnya, menyalurkan sensasi yang ketiganya rasa seperti melayang sampai ke udara.
"Keenakan dijadiin lonte sama kang kuli ya cantik?" Tanya Kang Hyunjae mencuri kecupan di bibir Juyeon.
Lagi. Yang paling muda mengangguk lemah dengan pinggul yang terus bergerak dengan sendirinya, Juyeon bahkan tak bisa menebak siapa yang kini tengah memandu geraknya.
"Enak nghh! Juyeon pengen diewe terus,"
Juyeon tak lagi ingat dimana terakhir kali menaruh waras, suaranya semakin keras selaras dengan gerak kesetanan. Juyeon menumpu tangannya pada dada bidang Kang Hyunjae, satu lengannya mengalung pada leher Kang Mingyu dengan tubuh yang disadandarkan pada dada bidang pria di belakangnya. Lalu detik selanjutnya Juyeon ikut mempercepat geraknya, semakin mengetatkan lubangnya seperti kehausan.
"TERUS! AH KANGHHH!" Juyeon sampai bergetar karena gerakan gila kedua kang kuli dalam lubangnya. Gadis itu bahkan tak peduli jika suaranya dapat didengar tetangga. Yang ia pedulikan hanyalah menjemput putih kesekian untuk ketiganya.
"Kang keluarin di dalem," Ucap Juyeon putus-putus, hentak semakin keras dirasa Juyeon dengan napas tercekat seakan tegang keduanya dapat menembus kerongkongan, "Pengen dibikin penuh, pengen dibikin hamil,"
"Anjing,"
"Lonte bangsat,"
Serapah terus bersahutan dengan gerak yang semakin brutal dalam liang Juyeon. Kakinya semakin terbuka lebar, agar hujam yang diterimanya terbenam semakin dalam.
Terus. Dikit lagi. Juyeon mau kencing sekali lagi.
"Kang- NGH!"
Lalu Juyeon menyemburkan cairan bening untuk ketiga kalinya, kali ini lebih deras dan lebih banyak dari dua sebelumnya. Tubuhnya lemas, tak lagi memiliki tenaga bahkan hanya untuk menumpu tubuh ringannya.
Namun gilanya kedua kang kuli masih menghentak buas, mengujam tanpa henti liangnya yang merah dan membengkak, mencari pelepasan yang sudah diujung tanduk.
"Iya gitu. Kencing yang banyak sayang, kencingin gua," Kang Hyunjae kegirangan karena cairan Juyeon yang membasahi perutnya, menyembur kesana-kemari akibat tubuhnya yang terus bergerak karena hujaman dua kang kuli.
Juyeon seperti sudah kehilangan akal, bahkan nyawanya tinggal setengah. Tubuhnya ditumpu oleh besar tangan Kang Mingyu pada perutnya dan tangan Kang Hyunjae pada pundaknya.
"Tahan Dek, dikit lagi gua- ngh! Keluar," Ucap Kang Hyunjae dengan mata terpejam, pinggulnya menghentak dengan tegang yang berkedut dalam Juyeon.
"Je bareng,"
Lalu geraman rendah dan panjang terdengar diikuti cairan kental yang menyembur bersamaan di dalam tubuh si gadis. Juyeon bergetar dan membusungkan dada, sisa hentak masih dilakukan kedua kuli untuk mengosongkan putihnya dalam liang.
Wajah Juyeon seperti tolol, lidahnya terjulur dengan liur yang terus menetes dari sudut bibir.
"Anjing- Dek jangan diketatin," Ucap Kang Mingyu sambil menahan pinggul Juyeon.
Yang paling muda bahkan tak sadar liangnya mengetat, entah karena menerima begitu banyak pelepasan yang mengalir atau karena tak ingin setetespun kental lepas dari liangnya.
"AH! Bangsat gua kencing,"
"Kang janga di da- ahhh!"
Kang Mingyu keluar bahkan sebelum Juyeon selesai berucap. Giginya tertancap pada pundak si gadis dengan pinggul yang dihentak beberapa kali. Lidah Juyeon semakin terjulur, kepalanya terlempar ke belakang, merasakan cairan lebih ringan dari sebelumnya terus menyembur ke dalam lubangnya.
"Bangsat,"
"Anjing lu Gyu,"
Penuh. Hanya itu yang bisa Juyeon rasakan. Lubang depannya dipenuhi dua air mani sedang lubang belakangnya dibanjiri air seni. Bahkan saking banyaknya, air seni Kang Mingyu juga mengalir menghangatkan persatuan Juyeon dan Kang Hyunjae.
Juyeon puas. Juyeon puas tubuhnya dipermainkan, digunakan hanya untuk kesenangan dua kang kuli, dikerjai hanya untuk menampung berbagai pelepasan seakan lubang Juyeon hanyalah toilet bagi mereka.
"Beneran lobang terenak yang pernah gua pake," Ucap Kang Mingyu sambil menarik tegangnya yang melemas keluar.
Juyeon mengatur napasnya yang masih memburu, tubuhnya memeluk tubuh Kang Hyunjae, keduanya bertukar hangat sambil menyamakan deru napas dengan persatuan tubuh keduanya di bawah sana yang masih terjadi, seakan keduanya enggan untuk meninggalkan hangat.
Kang Hyunjae memberikan beberapa kali kecupan pada wajah Juyeon sebelum mengangkat si gadis, melepas perasatuan keduanya dengan rasa kosong yang segera menggerayangi tubuh Juyeon.
Kang Hyunjae menidurkan Juyeon di sebelahnya, tubuh si gadis tidak hanya bermandi peluh, melainkan mani juga seni. Otot lubangnya beberapa kali diketatkan seakan mencari benda lain agar tersumpal di dalamnya, namun yang didapat hanyalah cairan yang mengalir keluar.
Yang paling muda mengeluarkan beberapa kali erangan, berusaha untuk menahan cairan lebih banyak keluar. Namun lubangnya seakan tak lagi bisa dirapatkan karena merenggang terlalu banyak.
"Lebarin kaki lu, mau liat lobang lu yang makin longgar itu,"
Kang Mingyu menarik kedua kaki Juyeon untuk terbuka lebar, memperlihatkan lubang Juyeon yang berantakan, merah juga bengkak dengan banyaknya cairan di dalam serta luarnya.
"Ah anjing seksi banget," Selatan Juyeon ditampar beberapa kali, membuat tubuh si gadis terkesiap dan bergetar.
"Gua foto dulu buat bahan coli,"
Kang Mingyu mencari ponselnya di saku celananya yang tergeletak di lantai kamar. Setelah menemukannya, si kang kuli melebarkan kaki Juyeon, dua jarinya diletakkan pada bibir kemaluan si gadis dan membukanya agar cairan dalam liang lebih terlihat.
Juyeon tak sanggup menolak, gadis itu pasrah saat mendengar bunyi potret dari ponsel Kang Mingyu. Juyeon yakin keadaan kemaluannya sekarang akan menjadi tontonan yang menggiurkan.
"Nanti kirim gua juga Gyu,"
Kang Mingyu mengambil beberapa foto kemaluan Juyeon, beberapa kali gadis itu merasakan si kang kuli juga mengambil foto tubuhnya secara keseluruhan.
Lalu entah pikiran dari mana, Juyeon ingin berpose, untuk lebih dipertontonkan, untuk lebih membawa kesenangan pada dua kang kuli. Maka tangan kirinya menangkup payudaranya, sedang tangan yang lain ia arahkan untuk menyentuh klitorisnya. Dadanya dibawa untuk lebih membusur sedang kakinya dibuka semakin lebar.
"Kang Mingyu, Kang Hyunjae," Panggil Juyeon centil.
"Je bangsat liat nih si lonte,"
"Anjing malah gaya,"
Kang Mingyu tentu tak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu mengambil banyak foto Juyeon yang tengah berpose menggoda, bahkan Juyeon juga merubah ekspresinya seperti keenakan, mengigit bibirnya dan memejam nikmat.
Mungkin benar kata kedua kang kuli, kalau Juyeon cocok jadi lonte.
Puas dengan foto Juyeon. Kang Mingyu kembali memasukkan ponselnya di saku celana. Sedang Kang Hyunjae kini memasukkan dua jarinya ke dalam liang Juyeon, mencoba mengumpulkan kentalnya dan juga milik teman kulinya, lalu mengolesinya pada puting Juyeon sebelum menyusu rakus dan mengulanginya beberapa kali.
Kang Mingyu yang melihat ikut tergiur, melakukan hal yang sama seperti teman kulinya itu. Keduanya terus mengobrak-abrik lubang Juyeon sampai si gadis terangsang kembali.
Namun Juyeon tak lagi bisa keluar, gadis itu kosong. Lenguhan panjang yang keluar dari bibirnya, dengan getaran pada pahanya adalah hal yang ia lakukan sebelum hilang sadar.
"Cantik jangan tidur dulu, bersihin badan dulu itu kencing dimana-mana,"
Tubuh Juyeon dibawa Kang Hyunjae untuk bangun. Sisa sadarnya yang tak sampai setengah kesulitan dikumpulnya. Gadis itu dapat melihat Kang Hyunjae dan Kang Mingyu tengah membereskan pakaian mereka yang tergeletak di lantai, sebelum membuka pintu kamar Juyeon untuk berlalu dengan tubuh keduanya yang tak dibalut apapun.
"Kang Mingyu Kang Hyunjae," Kedua kang kuli menoleh, menatap Juyeon penuh pertanyaan, "Kalau besok mau pake Juyeon lagi, ajakin juga kang kuli yang lain ya,"
Kang Mingyu dan Kang Hyunjae sama sama bertukar pandang dan berucap, "Anjing!"
