Chapter Text
Hutch Bessy x Cat Stevens
Kerusuhan Dua Pria Dewasa
Chapter 1: Pergantian Tahun dan Naga
Prompt © seerstella
Story by Aqua Days
.
.
.
for seerstella
.
.
.
Cat berjalan menyusul Hutch, melewati kerumunan anggota sirkus yang sibuk menyiapkan perlengkapan untuk pesta menyambut pergantian tahun. Tadi, Baby Doll bilang bahwa mereka bisa menginap kalau berminat. Ada karavan yang bisa dipakai untuk istirahat dan kalau menurut Marisa, bisa dipakai untuk ganti suasana. Hutch hanya berdehem mendengarnya, tetapi sejurus kemudian mengucapkan terima kasih dan mengiyakan tawaran tersebut, sebelum Cat sempat mengatakan apa pun.
Tentu saja Cat kesal melihat Hutch seenaknya memutuskan tanpa bertanya dulu padanya, dan hendak memukul Hutch menggunakan jagung bakar yang diberikan oleh Tuan Mamy. Namun sebelum niat tersebut terlaksana, si pria besar keburu berlalu, menengok sekilas ke arah Cat dengan isyarat di gerak tangannya. Ke sini. Entah dia mau ke mana. Cat menggerogoti jagungnya sampai habis dan tidak membuang bonggolnya. Lumayan buat menggebuk Hutch nanti. Jadi Cat mengikuti Hutch.
“Hati-hati mendorongnya. Ya, Tuhan! Singkirkan benda-benda tolol yang berserakan ini! Kembang api ini barang impor istimewa! Jangan sampai jatuh lalu kenapa-kenapa!”
“Wow, aku belum pernah melihat kembang api sebesar itu.”
“Lihat! Ada corak naga di luarnya.”
“Menurutmu nanti bisa keluar naga betulan?”
“Jangan bodoh! Mana ada yang begitu.”
Percakapan para anggota sirkus mengenai kembang api sempat tertangkap oleh Cat. Dilihatnya sekilas benda yang menjadi buah bibir. Merah benderang, ada corak naga terpambang besar di bungkusnya, sumbunya panjang, secara keseluruhan tampak mengesankan sekaligus sedikit seram. Sepertinya perayaan tahun barunya akan seru.
“Kau lihat kembang api yang tadi? Kalau bisa keluar naga sungguhan bakal sangat menarik,” Cat menunjuk ke arah orang-orang yang berada agak jauh dari mereka menggunakan bonggol jagungnya.
“Kembang api apa pun aku tidak peduli.”
Ah, benar juga. Seindah apa pun kembang api, tetap saja berunsur api. Sesuatu yang paling Hutch tidak sukai di dunia ini. Mungkin inilah kenapa Hutch tiba-tiba saja menepi dari keramaian padahal Baby Doll baru saja pamit sebentar untuk mencarikan mereka anggur.
Hutch duduk di tanah yang ditumbuhi sedikit rerumputan. Badannya bersender ke pohon berbatang kurus kering, daun-daunnya nyaris gundul. Cat memilih duduk berhadapan dengan Hutch. Sebelah tubuhnya bersender ke tong kayu yang ada.
Melihat kaki Hutch yang selonjor, timbul keisengan di benak Cat. Disentuhkannya ujung sepatunya sendiri ke sepatu Hutch. Dilakukannya berkali-kali hingga pria di hadapannya menggerutu kesal. Cat terkekeh sendiri.
“Diam, Cat. Atau kupaksa kau diam.”
“Coba saja kalau bisa.”
“Aku tidak mau mengakhiri tahun dengan tambahan dosa.”
“Belum resmi ganti tahun, semangatmu sudah menua duluan ternyata.”
Hutch mengambil ranting panjang yang kebetulan tergeletak di dekat kakinya. Dengan sengaja ia memukul, lebih tepatnya menyogok, daerah sekitar ulu hati Cat. Otomatis Cat mengerang. Hutch tahu dengan sangat baik masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di sana.
“Kondisimu masih begini. Kuharap kau masih cukup waras dan tidak berkuda saat aku masih tidur, Cat.”
Cat yang masih meringis sambil mengusap-usap bagian yang disodok Hutch tadi. Ia melirik Hutch sekilas sebelum bergumam lirih, “Kau terlalu baik.”
“Jadi, kau akan tinggal?”
“Aku tidak punya banyak pilihan. Kau lihat sendiri, kudaku yang bodoh terlalu menyukaimu.”
Hutch tertawa. “Aku rasa bukan cuma kudamu yang menyukaiku.”
Adalah benar.
Sayup-sayup mereka mendengar orang-orang menghitung mundur. Rupanya tinggal sebentar lagi.
Cat bergerak maju. Sebelah tangannya menangkup pipi Hutch, dibalas pria itu dengan kedua tangan melingkari pinggang Cat –sengaja menariknya agar kian dekat.
“Kalau kau ingin menciumku, lebih baik kau buang bonggol jagung itu dahulu.”
Cat melempar si bonggol jagung asal.
“Kata siapa aku akan menciummu, huh?”
“Tidak akan bukan berarti tidak ingin. Apa aku benar?”
Posisi Cat kini berada di pangkuan Hutch. Dahi mereka menempel, wajah mereka begitu dekat sampai bisa merasakan embusan napas masing-masing.
“Terima kasih, Hutch.”
“Untuk?”
“Semuanya, kurasa.”
Hutch menyeringai tipis. “Jarang-jarang aku mendengar kucing nakal berterima kasih.”
“Diam, jaket kumal!”
“SI NAGA! SI NAGA AKAN TERBANG!!!”
Entah siapa yang beteriak, yang jelas suaranya begitu keras hingga berhasil membuat Hutch dan Cat memutus kontak mata dan menoleh bersamaan ke sumber suara.
Mereka melihat setitik cahaya meluncur naik ke langit disertai bunyi lengking tipis. Sedetik setelahnya, bunga-bunga api berukuran raksasa, merah berpadu jingga, menghiasi langit malam Januari yang begitu pekat. Hutch terpana melihatnya. Bukan naga sungguhan memang yang menari di sana, tapi masih sama memikatnya. Beberapa bunga api dengan ukuran yang lebih kecil menyusul dan turut menyemarakkan.
“Selamat Tahun Baru, Hutch.”
Ajakan berpagut dari Cat yang begitu mendadak membuat Hutch kewalahan sejenak. Cat memulai dengan kecupan singkat yang langsung diteruskan oleh ciuman yang lebih intens. Hutch membiarkan Cat mendominasi sejenak sebelum akhirnya turut memberikan energi yang sama bergeloranya. Dia bisa merasakan Cat tersenyum di sela-sela ciuman mereka.
Dan Hutch akhirnya bisa lega. Cat akan bersamanya.
***
“Di mana Tuan Bessy dan Tuan Stevens? Bukannya kau bilang mau menjemput mereka?” Marisa keheranan Baby Doll kembali sendirian.
“Mereka bilang mau istirahat dulu.”
“Ah, sayang sekali. Mereka akan melewatkan acara bersulang.”
“Tidak apa. Aku sudah meninggalkan sebotol anggur untuk mereka berdua.”
“Oh. Baiklah kalau begitu.”
Marisa mengamit lengan Baby Doll dan mereka berdua pun segera bergabung dengan yang lainnya.
Awal yang semarak untuk tahun yang baru saja dimulai.
.
.
.
Seru sekali menulis untuk pasangan penuh kelawakan, Hutch dan Cat~
Semoga suka dengan ceritanya, ya :*
Sampai jumpa di chapter selanjutnya <3
