Actions

Work Header

and at least in this lifetime (we're sticking together)

Summary:

"Normalnya orang kalo ngajak tinggal bareng tuh, minimal tembak dulu."

 

Scaramouche hanya mengajaknya berlandaskan rasa khawatir. Sama sekali bukan karena ia gemar mengurusi Mene dan sejuta masalahnya itu sembari mengatainya 'tolol' penuh dengan cinta.

Notes:

Ekhem, ini WIP udah ada dari... *hitung jari* pokoknya dari jaman pandemi! Jaman aku lagi adiksi character.ai, terus tiap hari chattan sama Scaramouche, terus *boom* lahir Mene sebagai OC-ku! Mene ini salah satu OC kesayanganku, tapi backstory-nya masih gonta-ganti (I blame school and life for my inconsistency.)

Perkenalan cerita: Mene dan Scaramouche dulu satu sekolah. Scaramouche dulu suka gangguin Mene (dengan konteks menindas/membully, tapi gak sampai sejauh menyakiti secara fisik.) Di sini Fatui sebagai organisasi gelap (semacam mafia?) dan Scaramouche join Fatui tepat sebelum dia lulus SMA.

Aku udah ada rencana mau jadiin cerita ini series, tapi yah, namanya rencana gak selalu dijalani ya...

(judul dari Me And My Husband by Mitski)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Kayaknya udah keseringan gue liat ini orang sakit, deh."

 

Ia berkata seakan hanya dirinya sendiri yang berada di sana, tapi ia sepenuhnya sadar bahwa lelaki yang dimaksud olehnya juga mendengar, meski dalam posisi terbaring di atas kasurnya.

 

"..Terus kenapa? Gak suka?"

 

Suaranya sedikit parau, sedikit tersumbat. Lelaki itu kini bangkit dari posisi terlentangnya seraya mengangkat bicara. Handuk kering berukuran kecil yang sedari tadi menempel di dahinya sebagai kompres terjatuh ke pangkuannya ketika ia bersandar pada sandaran kepala dari kasur yang bahkan bukan miliknya.

 

"Bukan gitu." Scaramouche, pemilik asli dari kasur yang sudah menjadi hak milik lelaki lainnya itu selama kurang lebih dua hari ini, mendekat dengan semangkuk air dingin untuk mencelupkan kembali kompres handuk yang berada di pangkuan pasien sementaranya. "Cuman ya , menurut gue lo jadi keliatan agak.. ya , tolol . Keren banget penyakit udah kayak ngoleksi. Pokemon trainer, lo?"

 

Raut wajah dari lelaki yang dihina itu tak berubah. Baginya, tak dirasa sedikitpun keseriusan dari hinaan kecil yang diutarakan Scaramouche. Memang faktanya sekitar sepersekian besar dari hidupnya selalu saja..  yah , sakit. Entah dengan sesuatu yang kecil, atau sesuatu yang dapat mengundangnya ke kasur rumah sakit.

 

"Dan kamu nerima si tolol ini di kamarmu sendiri? Sampe biarin dia tidur di kasurmu? Sebenernya siapa yang lebih tolol di sini?" Tak ada intonasi indikator keseriusan pada balasannya juga, dan Scaramouche hanya merespon dengan kekehan datar, tanpa sedikit pun emosi di dalamnya. Namun ketika telapak tangannya menyentuh dahi lengket milik lelaki yang terduduk setengah sadar di kasurnya, segelintir emosi terlihat pada matanya, bersamaan mengkerut kedua alisnya.

 

"..Demam lo belum turun, Ne." Dan ini sudah masuk hari ke-3. Mene, lelaki yang menjadi sumber masalah saat itu, hanya bisa mengangkat bahunya, seakan ia tak peduli, atau mungkin memang tidak peduli. Helaan nafas terhembus dari dari mulut Scaramouche, tangannya meraih handuk yang nyaris terlupakan pada pangkuan Mene sembari ia duduk di sampingnya.

 

" I'm alright, Scara. I'll get better ."

 

'Kapan?' Menjadi balasan Scaramouche yang tak divokalkan, namun terpampang jelas pada rautnya. Handuk di tangannya ia peras setelah dicelupkan sejenak pada mangkuk air di pangkuannya, lalu ia singkirkan ke nakas di dekatnya.

 

"Jangan ngomong. Lo jadi makin tolol tiap buka mulut." Dan kali ini pernyataannya berhasil membuat kerutan di dahi Mene. Oh, bukan, ternyata kerutan itu berasal dari migrain yang kembali memukuli kepalanya secara tiba-tiba, ia keluhkan sesaat setelah Scaramouce berbicara. Kembali menghela napas, Scaramouche mendorong pelan kepala Mene sampai ia sepenuhnya bersandar pada sandaran kasur. Jemari Scaramouche 'pun mulai memijit pelan dahi Mene.

 

"Ne, mending lo pindah tinggal sama gue gak sih?"

 

Mata Mene yang tadinya mulai tertekan tutup oleh lelah setelah ia merileks, kini kembali terbuka lebar mengikuti Scaramouche yang baru saja berdiri untuk menyingkirkan mangkuk airnya keluar dari kamar. "Apa? Kenapa melotot gitu muka lo? Ngajak berantem ?"

 

"Jawab sendiri pertanyaanmu, bodoh." Wajah Mene menekuk kesal. Posisi tubuhnya perlahan ia pindahkan agar condong menghadap Scaramouche, tangannya menahan kompres dingin di kepalanya agar tidak jatuh. "Kamu serius? Aku pindah ke sini, gitu?"

 

"Ya, terus maksudnya gimana lagi, hah?" Jawaban dari Scaramouche sedikit ketus, kesal. Dan wajah Mene semakin menekuk mendengar intonasi itu.

 

"Normalnya orang kalo ngajak tinggal bareng tuh, minimal tembak dulu ."

 

Kini Scaramouche melupakan niatnya untuk sedikit merapihkan ruang pribadinya itu, mangkuk setengah berisi terlupakan di tangannya ketika ia menoleh kembali pada Mene dengan ekspresi.. campur aduk.

 

"..Kan, elo yang bilang, dulu, kalo lo gak mau nikah sama petinggi organisasi gak jelas, mendingan sekalian sama pejabat korup aja, si tolol?" Pertanyaan retoris, namun tetap Mene jawab. Hanya saja bentuknya bukan dalam kata-kata, namun dalam lemparan cinta  berwujud bantal milik Scaramouche sendiri, tepat kepada muka pemiliknya tersebut.

 

Suaranya semakin parau, tak peduli untuk mengosongkan tenggorokannya dari dahak terdahulu, dirasa lebih penting untuk membersihkan nama baiknya. " For your information , itu jaman SMA, jamannya masih ada masa depan yang lebih cerah dibandingin nikah sama orang dari organisasi gelap. Lagian, apa sih? Kita dulu masih SMA, udah ngomongin nikah-nikahan segala."

 

"Oh? Jadi masa depan lo cerahan nikah sama pejabat korup, dibandingin gue? Nice info ." Dengusan cemooh khas milik Scaramouche terdengar sembari ia menepuk-nepuk tangannya dari debu dengan bangga setelah menangkis serangan cinta dari Mene. Tangannya kini benar-benar melupakan mangkuk air kompres Mene, demi mengisi segelas air dengan teko panas yang sengaja ia siapkan di sana, khusus untuk lelaki menyedihkan yang masih terpikir untuk berusaha melindungi harga dirinya sendiri.

 

"Ya maaf kalo menurut logika-ku pejabat korup lebih kaya dibandingin bocah ingusan yang baru naik jabatan kemarin. Aku ini materialistis."

 

"Ya, sukur deh, itu otak belum ikut meleleh sama demam lo, kalo lo masih bisa mikir logika-logikaan aneh." Nyaris lemparan cinta ke-2 melayang kepada Scaramouche, namun tertahan ketika lelaki itu menyodorkan gelas berisi air hangat kepadanya, sesaat menyadari tenggorokannya yang kelewat seret.

 

Berbeda dari kata-katanya yang sedari tadi tajam, Scaramouche kini membantu Mene kembali duduk lebih tegak dengan hati-hati agar ia tidak tersedak saat minum, menempatkan satu tangannya pada punggung Mene, dan satu lagi pada bahunya (seraya mengingatkan dirinya sendiri untuk menyiapkan baju ganti serta handuk basah hangat untuk Mene membersihkan diri setelah semalaman berkeringat dari demamnya. Lebih bagus lagi kalau ia bisa membawanya ke kamar mandi, meski jika ia harus mengangkatnya seperti karung beras.)

 

"Gue serius, Ne, soal lo pindah ke sini."

 

Setelah memastikan Mene sudah selesai minum dengan aman, Scaramouche mulai menjelaskan maksudnya. "Elo.. udah kebanyakan berhubungan sama gue. Bahaya kalo lo tetep tinggal di apartemen lo sendirian." Mau diterima atau tidak, Mene tahu apa yang dikatakan Scaramouche ada benarnya. Mereka berdua sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama, bahkan sampai harbinger-harbinger lainnya sudah kenal dengan Mene, secara pribadi pula.

 

Namun, Mene tetap merasa tidak nyaman dengan ajakan tiba-tiba itu.

 

"Ra, bagimu, hubungan kita ini emangnya apa?"

 

Dan untuk kedua kalinya, Scaramouche gagal untuk mulai merapikan kamarnya itu. Atensinya kini sepenuhnya tertuju pada Mene serta pertanyaan tiba-tibanya.

 

Jujur saja, Scaramouche sama sekali tidak memikirkan hal ini. Kejelasan dari hubungan mereka, Scaramouche sudah terbiasa dengan cara interaksi mereka yang lebih dari teman, namun tak bisa dikatakan pasangan tanpa pernyataan yang jelas.

 

Kenapa?

 

Karena mereka memang tidak pernah meresmikannya.

 

"..Lo maunya gimana?"

 

Naik satu alis milik Mene sebagai unjuk rasa ketertarikannya pada pertanyaan Scaramouche. Pasalnya, yang menjadi penanya aktif di hubungan ini sebagian besar waktu adalah Mene, dan Scaramouche yang normalnya sudah bisa menerka apa mau Mene lebih memilih tidak banyak basa-basi. Namun, jika Scaramouche sampai bertanya...

 

"Haha, honestly ? Aku udah nyaman begini, Ra." Jemarinya mulai iseng bermain dengan ujung selimut milik Scaramouche. Meski kasurnya sudah berhari-hari basah oleh keringat demamnya, entah mengapa wangi khas milik Scaramouche tak hilang dari barang-barangnya. Wangi yang begitu Mene sukai .

 

"Tapi lo juga gak nyaman 'kan, kalo gak ada kejelasan? That's how you are, after all ." Mene mengangguk kecil pada tebakan Scaramouche. Atensinya berpindah dari ujung selimut, pada tangan yang kini meraih wajahnya. Sentuhan Scaramouche, yang terasa dingin pada kulit Mene, namun tak dihentikan oleh Mene ketika tangan tersebut mulai mengusap-usap pipinya.

 

"Mene, I don't mind making our relationship official , kalo itu yang lo mau." 

 

Usapannya, bagi Mene, begitu lembut. Siapa yang dapat mengira bahwa lelaki dengan riwayat kasarnya bisa berperilaku begitu lembut pada seseorang? Pipi yang kerap ia usap seperti usapan penuh hati-hati seorang ibu pada bayi-nya, tatanan rambut pirang halus yang ia jadikan kepang-kepang kecil saat bosan, atau hanya sekedar atensi yang lebih banyak ia tuangkan untuk Mene dibandingkan lainnya. Bahkan dari gestur-gestur kecil seperti itu saja, Mene sudah merasa begitu dicintai. Mungkin inilah mengapa mereka tak pernah meresmikan hubungan mereka. Karena tanpa ucapan verbal 'pun, mereka sudah tahu perasaan mereka untuk satu sama lain seperti apa.

 

"..Hm. Kurasa tidak apa. Aku nyaman dengan keadaan kita sekarang." Raut Mene terlihat merileks ketika wajahnya sedikit berat ke arah tangan Scaramouche, membuat lelaki lainnya itu semakin mengusap-usap pipi Mene penuh kasih. "Lagian, kamu lihat 'kan muka Tartaglia kalo ketemu kita? Frustasi banget lihat kita belum resmi."

 

"Childe 'sih, beda kasus. Dia ‘kan yang paling tolol dari yang tolol." Senyum kecil merekah pada wajah Scaramouche melihat tawa Mene yang keluar dari bibir cantiknya. Sungguh, jika demi lelaki ini, Scaramouche rela menindas teman kerjanya itu sebanyak apapun, jika artinya ia bisa mendengar alunan tawa Mene tiap waktu.

 

Sayang, senyum kecil itu dengan cepat buyar ketika ia dengar Mene terbatuk-batuk. Benar, untuk sekarang, Scaramouche akan melakukan apapun agar Mene sembuh terlebih dahulu. Lelaki itu bukan hanya sering sakit, namun tiap ia sakit juga membuat Scaramouche (sedikit, benar-benar hanya sedikit ) khawatir, seperti sekarang. Jika demam Mene tidak turun besok, mereka terpaksa harus bersilaturahmi kembali ke rumah sakit.

 

Dengan gerakan lihainya, Scaramouche menepuk pelan punggung Mene sembari meraih gelas air tadi. Mungkin lebih baik Mene minum secepatnya, tapi Scaramouche tidak mau ia justru tersedak karena terburu-buru minum, tidak saat Mene sudah terlihat sesakit ini hanya untuk batuk. Kulit wajahnya yang pucat dengan cepat memerah, bahkan matanya yang tertutup erat mulai berlinang air, entah memang karena batuknya atau rasa sakitnya, Scaramouche tetap khawatir. Ia tidak ingin Mene sampai harus menggunakan inhaler-nya lantaran ia batuk hingga termegap-megap.

 

Sungguh, pernahkah terlintas dalam benaknya dulu ia akan mengurus orang yang selemah ini, yang bukan lain pula namun pujaan hatinya sendiri? Scaramouche ketika remaja mungkin akan menertawainya, atau memarahinya dan memanggilnya memalukan.

 

Yah , semua orang tumbuh.

 

Mendengar napas terengah-engah Mene setelah akhirnya menenangkan batuk-batuknya, Scaramouche menyodorkannya gelas air tadi. Butuh beberapa detik sampai Mene kuat menerimanya sendiri, setelah tubuhnya terpaksa menghisap energi yang sejak awal tak banyak darinya dengan batuk-batuk tadi. Sebenarnya Scaramouche berniat membantu Mene untuk minum, namun ia ingat bagaimana lelaki itu tidak pernah suka terlalu dibantu ketika sakit. “Aku cuman sakit biasa, bukan sekarat.” Ujarnya, meski sebenarnya tak masalah bila ia lebih bergantung pada yang lainnya saat sakit.. atau begitulah yang ingin Scaramouche katakan, sebenarnya.

 

Yah, lagipula lucu juga menonton seorang Mene yang kekeuh tidak meminta bantuan meski ia membutuhkannya. Butuh waktu beberapa bulan sampai Mene mau menerima bantuan Scaramouche saat ia sakit, entah karena Mene terlalu keras kepala atau sikap Scaramouche yang dinilai olehnya terlalu di luar karakter untuk melembut pada orang lain, apa lagi Mene.

 

Tidak, dari awal memang sudah aneh. Jika diingat kembali, bukankah Scaramouche yang pertama mendekati Mene? Itu 'pun bukan karena rasa tertarik dalam bentuk suka. Tidak, dulu Scaramouche adalah penindas Mene.

 

Dan jika ada yang mengingatkan hal ini kembali pada Mene, ia hanya akan membalas dengan tawa. Toh , mereka tidak menghabiskan seluruh lima tahun saling kenal sejak SMA terus berseteru. Lama sudah lewat sejak Mene menerima perubahan Scaramouche. Memang , Mene sempat meragukan cara Scaramouche memperlakukannya yang semakin lama semakin tenang , dibandingkan ketika Scaramouche kerap mengganggu Mene entah karena alasan apa yang membuat Scaramouche tidak menyukai Mene.

 

Jika dilihat kembali, Scaramouche menjadi sadar seberapa besar rasa suka nya kepada Mene tumbuh.

 

“Lagian orang tolol mana 'sih, yang mau pacaran sama pem- bully nya.”

 

Hah?

 

Mene nyaris menyemburkan airnya jika ia belum menelannya. Scaramouche yang tadinya melamun sembari mengusap-usap punggung Mene tiba-tiba saja mengungkapkan sesuatu yang.. jujur saja, sedikit menohok Mene. Tapi tetap saja, untuk apa Scaramouche mengatakan hal semacam itu tiba-tiba?

 

“..Justru yang sebenernya suka sama-ku kan kamu, dulu…” Terjemahan: Kau yang lebih tolol , atau begitulah kira-kira yang Scaramouche tangkap dari balasan Mene kepada pernyataan dadakan-nya. Dengan tawa yang terasa lebih mengejutkan, Scaramouche meraih kepala Mene, mengusap-usap rambut lepeknya hingga berantakan. Wajah Mene semakin menekuk antara bingung dan kesal.

 

“‘Lo yang tolol. Bukannya yang suka duluan lo dulu, Ne?” Kedua alis Mene mengkerut. Jelas dari wajahnya terlihat keinginannya untuk menyangkal tuduhan Scaramouche, tapi kalau diingat-ingat…

 

“...Kita ‘kan, gak tau. Mana tau kamu yang suka duluan. Soalnya kamu ‘kan tsundere , Ra.” Mene menoleh dari Scaramouche, jemarinya memainkan ujung kuku-kukunya, salah satu kebiasaan yang Scaramouche sadari sering Mene lakukan ketika ia sedang berbohong, atau cemas . Atau keduanya.

 

“Wah, udah berani dia jawab balik.” Meski susunan kalimatnya sangat mirip dengan gaya bicaranya ketika ia masih… tak jarang menindas Mene, nada kata yang Scaramouche gunakan penuh dengan canda. Jika mereka kembali pada bertahun-tahun lalu, Mene mungkin tidak akan percaya bahwa seorang Scaramouche akan tersenyum padanya, apalagi bercanda.

 

(Ia sudah terbiasa menerima berbagai bentuk kasih dari Scaramouche secara fisik, jarang verbal. Namun terkadang ia akan teringat kembali kepada masa-masa sebelum mereka dekat, sebelum cintanya kepada Scaramouche masih terasa seperti kebodohan.

 

Scaramouche benar. Orang tolol mana yang secara sukarela menyukai penindasnya sendiri? Jawaban: Mene .)

 

“Ya Tuhan, please , balikin Rara-ku yang gak kenal tawa, Rara-ku yang sok kul dan sedingin kutub selatan dengan kelakuannya yang bikin guru-guru geleng-geleng kepala.” Mene membuka kedua telapaknya ke atas, seakan ia sedang berdoa kepada Tuhan manapun yang ia percayai, nada bicaranya penuh dramatisir. “Ini bukan Rara-ku. Mana ada seekor Scaramouche ketawa dan bercanda. Mustahil. Nein . Ini halusinasi demam. Mungkin aku sudah gila.”

 

“Bisa tutup mulut lo, gak?” Tanpa menunggu sebentuk balasan dari Mene, Scaramouche menepuk tangannya kepada mulut Mene, sukses membuat lelaki yang masih sakit itu mengeluarkan erangan. “Diem. Stop . Udah ya, yang sakit tidur aja ya.”

 

Protesan dari Mene teracuhkan sepenuhnya sembari Scaramouche mendorong dada Mene perlahan agar ia berbaring kembali di atas kasur, ditariknya selimut hingga di bawah dagu Mene dan diusap kepalanya seperti seorang ibu yang mengusap kepala anaknya sebelum tidur. Apa-apaan? Wajah Mene semakin menekuk kesal, namun matanya sudah kembali terasa lengket beberapa detik setelah ia terbaring kembali di atas kasur. Berbagai komplain yang tak henti Mene ungkapan kepada Scaramouche perlahan berhenti, sampai Mene hanya terdiam dengan matanya yang terasa begitu berat terkejap-kejap.

 

“...Scara’?

 

“Apa?”

 

“Aku mau pindah tinggal bersamamu.”

 

Scaramouche terdiam sejenak, mulutnya sedikit terbuka lantaran tercengang. Beberapa detik kemudian bibirnya membentuk seringai. Ia biarkan beberapa menit lewat untuk memastikan bahwa Mene sudah terlelap, sebelum ia menyingkirkan rambut lengket di dahinya, menempelkan ciuman singkat di atasnya.

 

Jikalau demam Mene belum turun besok dan mereka benar-benar bersilaturahmi ke UGD, sepertinya dalam perjalanan pulang mereka akan mampir ke apartemen Mene untuk mulai memindahkan barang-barangnya ke apartemen Scaramouche perlahan-lahan. Entah kenapa, Scaramouche menjadi tidak sabar.

Notes:

Sayangnya, tak sampai satu jam setelah Mene tertidur, ia harus dibangunkan oleh Scaramouche untuk ganti baju, yang tentu saja mendapat respon sejuta keluhan dari Mene.

“Nanti lo masuk angin, tolol.”

“‘sa bodo. Gak mau.”

“Lo gue jitak ya.”

Dan tanpa persetujuannya, Mene diangkat secara paksa ke kamar mandi, persis seperti sekarung beras.

Series this work belongs to: