Work Text:
if you want to break my cold heart
.
.
.
.
KALA hidupmu mulai tertata dengan baik; orang-orang sekitar tak lagi melirik sinis, negaramu tak lagi membutuhkan sepuluh rapat diadakan dalam sehari, prajurit kini mendaftarkan diri secara sukarela, anakmu bangun dan menyapa tanpa absen setiap harinya, serta istrimu yang selalu memastikan mahkotamu terpasang rapi—kau tidak akan mempertanyakan hal-hal seperti, bagaimana jika?
Di ruang rapat seluruh anggota kabinet sudah mempertanyakannya. Sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab, Zuko berusaha memberikan penjelasan dan skenario di mana hal-hal jika yang berbau buruk tidak akan terjadi dan hal-hal jika yang baik harus segera terjadi. Dia dan kabinetnya berputar mempertanyakan yang sudah ada dan yang belum terwujud eksistensinya. Itu adalah tugasnya, di hari yang telah damai ini, untuk memastikan jika yang terjadi adalah hal baik untuk Negara Api.
Sehingga pada suatu hari di awal musim panas, usai dia mengucap selamat tidur pada sang anak dan istri, dia benar-benar kehilangan suara.
Sebuah surat selalu datang untuknya tiap hari. Surat dinas akan berusaha diselesaikannya ketika matahari masih di atas, sementara di waktu malam semacam ini adalah untuk personal.
Suntuk dan lelah membuatnya membaca kalimat pertama tanpa tahu siapa pengirimnya.
Bagaimana jika kukatakan bahwa aku mencintaimu?
Lilin di sudut mejanya berkobar sejenak sebelum Zuko sadar dan memadamkannya sama sekali, meninggalkan dia dan seberkas cahaya bulan yang menerangi kata per kata dalam surat itu.
Bohong, Zuko tak perlu tahu siapa pengirimnya karena dia hapal tulis tangan ini.
Sesuatu terjadi hari ini membuatku memikirkanmu,
Pertengkaran terjadi di antara pasangan, aku mengerti. Namun entah mengapa aku kehilangan kemampuan untuk berteriak. Seolah setiap melihat matanya, ombak yang awalnya akan menyerbu daratan hanya sampai ke pesisirnya saja. Aku tahu bahwa dulu aku tidak seperti ini, aku bisa berteriak—aku bisa menunjukkan kemarahanku. Aku tidak diam dan hanya membalas satu-dua kalimat saja jika sedang bertengkar.
Aku tahu apa yang akan kaukatakan, bahwa jika aku tidak berteriak berarti ada kemungkinan aku memang tidak membutuhkannya—aku tahu aku membutuhkannya. Jangan beri tahu aku tentang perasaanku sendiri.
Aku hanya merasa aneh akhir-akhir ini. Dan aku ingin tahu pendapatmu.
Zuko menghela napas. Tidak ada nama pengirim. Dia membolak-balik gulungan itu. Tidak ada di mana-mana. Apakah ini surat rahasia? Apa dia juga harus tidak menandatanganinya?
Dia tidak bisa menemukan sambungan kalimat pertama.
Bagaimana jika kukatakan bahwa aku mencintaimu, katanya.
Humor Katara jelek akhir-akhir ini.
Hai, apa kabarmu?
Begitulah cara memulai surat, jikalau kau lupa.
Aku tidak akan memberi tahumu tentang perasaanmu sendiri. Menurutku, kau terdengar seperti kau tahu apa yang harus kaulakukan namun kau tidak akan melakukannya dalam waktu dekat. Sehingga saranku hanya satu.
Berliburlah. Kau sangat membutuhkannya.
Tangan Zuko berhenti. Dia membaca kalimat itu beberapa kali. Apa lagi yang harus ditulisnya? Katara menulis surat pendek, apakah dia harus membalasnya dengan panjang?
Dan kau pantas mendapatkan yang terbaik. Apa pun itu.
Zuko kemudian menggulung surat itu tanpa menandatanganinya. Dia tidak memiliki keinginan untuk membuka surat personal lainnya. Dan tidak ingin diajak berandai bersama kata jika, tidak setelah setiap hari membahas kata yang sama dengan para menterinya.
Jika, apa pun itu, tidak akan terjadi.
.
.
.
.
So, if you want to break my cold, cold heart
Just say you loved me
.
.
.
.
Lensa emas itu menatap intens perempuan yang tengah menyisir rambut di depan cermin. Dia mengamati tiap detail; jemarinya yang mengurai rambut kusut, matanya yang belum menemukan fokus pasti karena dipaksa bangun terlalu pagi, kontradiksi dengan postur duduk tegap layaknya tengah di ruang rapat.
“Ada apa, Zuko?”
Zuko mengerjap dua kali sebelum menggaruk lehernya canggung. “Tidak apa.”
Istrinya tidak pernah memaksa dia bicara, tidak pernah menuntut apa-apa. Zuko dengan sendirinya akan menyemburkan semua isi hati. Kebiasaan buruk itu tidak hilang meski sudah bertahun-tahun.
“Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya.
Istrinya meletakkan sisir sebelum perlahan bergerak menuju sisinya. Dia duduk di samping Zuko dan meliriknya curiga.
“Liburkan semua orang di istana hari ini.”
“I-itu mustahil.”
Perempuan itu mengangkat bahu. “Tipikal.”
Zuko menghela napas. “Aku hanya….”
“Hanya?”
“Aku tidak ingin—aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di sini, aku tidak ingin kau merasa harus menyembunyikan sesuatu dariku—aku … aku tahu tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, tetapi aku …” Zuko menggeleng beberapa kali.
“Jika ada sesuatu, aku ingin kau mengatakannya padaku.”
Hening sejenak sebelum sepasang lengan terkalung di lehernya. Ada kecupan yang mendarat di dahi, pipi, lalu bibirnya. Zuko memejamkan mata sebelum tangannya sendiri merayap ke pinggang penggodanya.
“Kalau aku minta sarapan di kamar untuk pagi ini tidak apa, ya?”
“Mmmm.”
Zuko memikirkan banyak hal selalu, tetapi surat itu sungguhan mengusik porsi pikiran dalam kepalanya. Dia tahu bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, apalagi kau telah menjalaninya sepuluh tahun lebih. Namun Zuko juga tahu bahwa seseorang harusnya bisa mencoba. Dia selalu mencoba, berusaha, dan merangkai hati-hati tiap langkahnya ketika berhubungan dengan istrinya. Dia mendapatkan semua dalam hidup tidak tanpa usaha yang keras, dan dia mengerti bahwa usaha itu diperlukan agar semua miliknya tidak terenggut begitu saja.
Zuko juga tahu bahwa ada beberapa yang gagal melakukan itu. Zuko tidak mau gagal.
Aku pernah mencintaimu, sekali.
Dan kukira aku bisa mencintaimu, lagi.
Seseorang harus membangunkanku dari mimpi buruk ini. Lihat, dasar perempuan gila. Dia menganggap hidupnya adalah mimpi buruk. Dia terbangun dengan suami yang mencintainya, anak-anak yang selalu memeluknya—dan dia tega mengatakan semuanya adalah mimpi buruk.
Aku merasa jika itu kau, aku tidak akan sampai di titik ini.
Entah mengapa aku sangat percaya padamu, aku terkadang ingin menertawai diriku sendiri. Dan seluruh pilihan hidupku. Berlibur tidak akan membatalkan semua kejadian yang menghantarkanku ke situasi ini.
Namun tak hentinya aku berharap sesuatu memang terjadi secara berbeda. Contohnya kau dan aku.
Aku ingin berada di sisimu, sehari saja.
Aku ingin tahu apakah aku benar.
Api lilin telah membakar ujung suratnya.
Zuko buru-buru mencelupkan penanya ke tinta hingga ujung jubahnya ikut ternoda.
Apa yang kaupikirkan?
Sungguh, apa yang kaupikirkan?
Katara, apa yang terjadi?
Zuko meremas kertas itu dan membakarnya.
Jika kau memutuskan untuk meninggalkan segalanya, aku tidak punya sesuatu selain kamar tamu untuk menampungmu. Kau bisa liburan. Kemarilah. Bawa anak-anakmu. Seminggu tidak akan menyakiti siapa pun. Jika bukan kemari, kau bisa ke tempat kakakmu. Jangan tinggal jika itu menyakitimu.
Zuko melipat kertas persegi panjang itu alih-alih menggulungnya.
.
.
.
.
And if you want to tear my world apart,
Say you’ll always wonder
.
.
.
.
“Kau tak terlihat sehat.”
Zuko merasakan jari-jari ramping menyingkirkan rambut dari pandangan dan menyisirnya agar rapi.
“Aku tidak cukup tidur.”
“Mmm. Kau selalu bangkit bersama fajar.”
Dan dia bangkit bersama bulan.
Pria itu menggenggam pergelangan tangan sang istri. Mata perempuan itu melebar sejenak sebelum dahinya kembali mengerut khawatir. Zuko mengamati tangan itu, yang kuku-kukunya diwarnai merah pucat. Dia menunduk untuk mengecup satu per satu ujung jari itu sementara sang empunya terkekeh geli.
“Pasti ada sesuatu yang mengganggumu kalau begitu.”
Zuko tetap menunduk ketika tangan itu bergerak memeluk kepalanya.
“Kau ingin libur hari ini? Aku bisa atur agar Izumi juga.”
“Ide bagus,” bisiknya serak.
“Pulau Ember?”
Zuko menggeleng. “Di sini saja.”
“Kita bisa piknik di taman, liburkan beberapa staf. Bagaimana, menurutmu?”
Menurutnya, hidup sudah begitu lengkap dan sempurna. Anak perempuan yang antusias menceritakan hari-harinya di Akademi, istri yang begitu pengertian dan selalu mendukungnya untuk bermalas seharian. Tidak ada jika yang perlu ditulis. Tidak perlu waktu untuk mengulang.
Aku berandai-andai apakah jika bersamamu; hidupku akan lengkap, karena kau pernah kupercayai akan mencintaiku dengan benar.
Setelah menuliskan pikiranku dan bersurat denganmu, hari-hariku membaik. Aku tidak lagi menganggap ini mimpi buruk. Hanya iritasi yang goresannya meninggalkan luka permanen di seluruh tubuhku. Ah, betapa bahagianya aku ketika melihat ke cermin dan tak mengenali diriku lagi.
Mungkin aku tahu bagaimana perasaanmu selama ini.
Maaf. Maaf. Maafmaafmaafmaafkan aku. Akutidaktahuapayangterjadipadaku. Akusamasekalitidakbisa,tidakbisamenatapmatanyalagi.
Aku selalu percaya bahwa bersamanya adalah takdirku, mendampinginya tergores di garis tanganku, menjadi istrinya ada di ramalanku. Aku hanya tidak ingin percaya bahwa begini akhirnya dan aku kemudian mengirimi surat-surat gila sambil menghancurkan persahabatanku dengan salah seorang yang paling mengenalku.
Mungkin satu-satunya.
Maafkan aku. Maafkan aku atas segalanya.
Aku tidak bisa benar-benar pergi, tapi aku akan ke Selatan bersamanya.
Salam,
Katara.
Ketika Izumi menemukannya satu jam kemudian, Zuko masih mengatur napasnya agar kembali normal, menghapus air matanya yang bercucuran. Suratnya telah dimasukkan ke laci sejak tadi tapi bahu Zuko masih bergetar.
“Sesuatu terjadi Ayah?” Izumi mengamatinya khawatir. Dia tampak kewalahan saat melihat Zuko hanya menggeleng dan memintanya menuang teh. Setelah beberapa kalimat menenangkan, Izumi akhirnya menghangatkan teko tanpa semburan api dan menuruti permintaannya.
“Ayah selalu memintaku bercerita kalau ada yang membuatku sedih atau pun senang. Apa Ayah tidak mau bercerita padaku?”
Zuko dan Izumi pindah ke sofa panjang di seberang ruangan. Izumi masih mengamatinya lekat-lekat layaknya burung hantu. Mau tak mau sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Ayah hanya …” Zuko menghela napas. “Seorang teman sedang kesulitan dan Ayah tidak bisa membantunya.”
Izumi menggeleng tidak puas. “Ayah, kau ini Raja Api. Kau bisa melakukan apa saja yang kau mau.”
Zuko berdecak dan balik menggeleng. “Memiliki kekuasaan tidak mengizinkan kita berbuat semena-mena, Izumi.”
“Ayah bukannya mau membantu teman? Apa dia ingin meledakkan Negara Api? Selama bukan itu seharusnya Ayah bisa membantu, bukan? Tunggu, dipikir-pikir lagi … Ayah tidak punya teman banyak … salah satu dari Tim Avatar?”
Zuko mengerang. Gadis kecilnya terlalu pintar untuk dikelabuhi.
Terlalu … pintar?
“Izumi, aku punya permintaan untukmu.”
Dalam hitungan detik, putrinya tersenyum lebar hingga menampilkan gigi. Melihat secara historis, Zuko memang jarang meminta sesuatu pada Izumi. Bahkan ketika dia tidak bisa konsentrasi saat meditasi atau aritmatikanya jelek pun Zuko tidak pernah menaikkan volume suara padanya, Izumi telah diberitahu bahwa itu langka. Kau patutnya menderita belajar meditasi dan aritmatika bersama Ayahmu.
“Apakah ini berhubungan dengan teman yang kesulitan?”
“Kau libur saat musim dingin, bukan?”
“Tidak ada musim dingin di Negara Api tapi iya, Akademi libur saat musim dinginnya Suku Air.” Senyum Izumi bertambah lebar dan dia menggoyangkan bahu Zuko ketika tahu implikasi pertanyaannya.
“Aku punya misi untukmu.”
“Yaaaay!”
Katara, aku tidak memaafkanmu.
Aku memaafkanmu untuk semua hal sebelum usiamu dua puluh. Selebihnya, surat ini pun, tidak kumaafkan.
Berani-beraninya kau mengirimkan surat terakhir itu? Apa yang kaupikirkan? Sungguh, Katara, Apa yang kau pikir bisa kulakukan? Aku tidak bisa menyeberangi lautan lalu membawamu pergi dari sana. Apakah kau ingin memulai perang lainnya? Karena aku, tidak.
Kau menolak untuk bertindak, kau menolak untuk pergi. Aku tidak bisa membereskan kekacauan yang kau buat sendiri.
Maaf, Katara. Aku tidak bisa. Aku bukan pria yang ada di imajinasimu itu.
Istrinya sangat terhibur dengan keputusannya mengirim Izumi ke Kutub Selatan. Zuko berdalih bahwa Izumi akan menginjak tiga belas tahun, usia yang bagus untuk melihat dunia dengan lebih luas. Perempuan itu hanya berkedip dengan bulu mata lentiknya meskipun tahu seberapa besar kebohongan yang baru terlontar dari mulut suaminya.
Zuko membiarkan kepala sang istri beristirahat di pahanya. Tangannya menyisiri helai panjang yang indah itu lalu menekan beberapa titik di pelipis dan kepalanya. Perempuan itu menggumam senang dan memejamkan mata.
“Kau sangat ahli melakukan itu.”
“Aku memang belajar dari ahlinya.”
Suatu hari mungkin. Zuko bisa menceritakan rahasia kecil itu pada pendamping hidupnya. Dia, dari semua orang, pantas tahu. Apa yang terjadi di awal kekuasaan Zuko dan siapa orang yang mengajarkannya mengusir pergi sakit kepala usai diskusi buntu. Zuko ingin menceritakan kisah kecilnya dengan mantan kekasih pada istrinya, bahkan Zuko pun tak yakin dia bisa menyebut kata ‘kekasih’ untuk mendefinisikan hubungan itu.
“Kau mau pergi bersamaku?”
“Kau terlalu banyak libur akhir-akhir ini, Raja Api.”
Zuko mendengus. Ironisnya, mengingat perempuan itu selalu sukses menguncinya dari ruang kerja setidaknya dua kali dalam satu bulan.
“Satu hari saja. Bersama Druk.”
Senyum yang kemudian terlukis mengingatkannya pada Izumi di malam itu. Istrinya langsung bangkit dan mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
“Aku kira kau takkan pernah bertanya!”
“Kau antusias hanya karena Druk,” gumamnya pura-pura kecewa.
Memutar mata, istrinya membalas, “Izumi pikir kau mengirimnya ke Selatan dengan Druk, kau harus lihat wajahnya saat kau memutuskan dia pergi bersama Diplomat Suku Air Selatan yang pulang juga. Dia merajuk tanpa henti, nyaris menangis kalau tidak kuajak bicara.”
“Druk bahkan belum remaja. Dan dia baru-baru ini belajar bahwa jarak bukan berarti perpisahan dan tidak lagi tidur dengan kita dan menganggu …” Zuko menggeleng terhibur ketika lawan bicaranya tertawa renyah. “Dan Izumi belum cukup tegas untuk melarang Druk berburu hewan liar di tempat yang tidak seharusnya.”
“Jadi kau tidak percaya Druk atau Izumi?”
Memutar mata, dia menjawab, “Keduanya.”
“Jangan sampai mereka mendengar itu.”
Perempuannya tertawa lagi. Suaranya teredam di ceruk leher Zuko. Dia bahagia. Sungguh. Hanya orang bodoh yang tega membuang semua ini hanya karena sebuah ‘jika’ yang sama sekali tidak terbukti. Zuko menangkup pipi istrinya dan membawa mereka ke posisi berhadapan lagi. Dia bisa melihat raut bingung yang kerap dilihatnya di saat awal mereka bersama.
Kisah mereka bukan sesuatu yang spektakuler layaknya gerhana bulan atau matahari. Bukan sesuatu yang menggemparkan dunia saat terjadinya. Kisah mereka seperti tidur di bantal sejuk selagi hujan turun, atau piknik di akhir musim panas.
Merasakan seolah dadanya terhimpit, Zuko memaksakan tersenyum tipis sebelum mengecup sudut bibir lawan bicaranya. “Aku tidak bisa meminta lebih.”
Jika dia mengucapkannya lantang mungkin akan terdengar lebih nyata.
Bahwa dia tidak ingin gerhana bulan atau matahari yang hebat namun sekejap itu.
“Setelah semua yang terjadi, lalu kau dan Izumi di sini, aku tidak bisa meminta lebih,” bisiknya pelan.
Terdapat jeda dan Zuko bisa merasakan tatapan bingung itu retak menjadi gusar.
“Zuko …” Tangan bergerak menyentuh dada kemudian bahunya, lalu mendarat di pipinya. “Jangan bilang kau bosan padaku?”
Betapa mengerikannya gagasan itu ketika didengar dengan suara istrinya. Zuko menggeleng kuat. Tangan tak terlihat yang meremas dadanya sejak surat itu datang menguatkan pegangannya pada jantung Zuko, meremas kuat hingga rasanya bernapas pun sulit.
“Zuko—Zuko, ada apa?”
“Aku memikirkan hal-hal yang terlalu tabu untuk jadi kenyataan. Aku memikirkan hal-hal yang bisa terwujud seandainya saja satu peristiwa tidak terjadi. Aku membiarkan diriku terombang-ambing dan membuatmu khawatir, membuat Izumi khawatir. Aku merasa bisa gila jika hal ini terus berlanjut—tapi aku tidak bisa berhenti—”
Zuko bisa melihat bagaimana istrinya berusaha keras mengatur raut wajah agar tetap terlihat tenang. Pegangan di pipinya turun menuju bahu kemudian meremasnya kuat-kuat—beberapa menit lagi dia pasti akan lebam.
Mengapa diantara mereka, hanya dengan sedikit kata-kata, semua kesimpulan bisa ditarik sempurna. Air mata jatuh dan tangannya otomatis bergerak ke pinggang perempuan itu, berniat mendekapnya.
“Katakan padaku—kau tidur dengannya?”
Zuko menganga. “Apa? Aku tidak—”
“Lalu apa yang kaubicarakan! Kau berbicara seakan kau telah berhubungan dengan wanita lain di belakangku selama sepuluh tahun terakhir. Namun semuanya tak masuk akal ketika aku tahu kau baru sulit terlelap sejak musim panas.”
Pria itu menunduk dan kepalanya disandarkan pada bahu sang istri. “Maafkan aku. Tidak ada—aku tidak akan pernah melakukannya padamu.”
Zuko merasakan tangan ramping mendekapnya erat dan dia membalas sembari membawa mereka ke tempat tidur.
“Aku … mungkin pernah mengatakan ini,” Istrinya membuka suara setelah serak sisa tangisnya hilang. “namun aku selalu berekspetasi hal yang buruk tentangmu, tentang tempat ini. Ibuku bilang seorang Raja punya satu Ratu tapi belasan simpanan, aku tak boleh kaget. Tetapi kau tidak begitu, Zuko, aku tidak pernah khawatir tentangmu jika menyangkut kesetiaanmu. Kau adalah pria terhormat, aku percaya itu.
“Jadi, pernikahan kita mungkin bukan apa yang kau harapkan, tetapi kuharap … kuharap kau tidak meninggalkanku tanpa mengatakannya terlebih dahulu.”
Yang mengisi kesunyian selanjutnya adalah tukar pandang dan napas mereka. Dengan tenggorokan yang tercekat, Zuko mulai bercerita,
“Aku pernah sangat—sangat mencintai seseorang. Aku pernah ingin mati untuknya.”
Dan Zuko tahu bahwa dia tidak pernah menyimpan rahasia ketika jemari sang istri menyentuh luka berbentuk bintang di ulu hatinya.
Kau mengirim peri kecilmu kemari, seharusnya aku bisa menduga itu.
Ketika aku melihatnya pertama kali, aku hampir jatuh dan menangis histeris.
Dia terlalu mirip denganmu, Zuko. Bentuk wajah, hidung, bibir, dan matamu—dia punya semuanya. Dia perempuan cerdas. Namun dia terlalu menyukai Sokka dan Sokka sangat menyukainya, mereka tidak bisa diam kecuali badai salju memaksa. Anak-anakku juga lengket padanya, semua orang di sini manyambutnya dengan meriah yang tak bisa disandingkan dengan kedatanganku.
Aku bisa melihat kalau putrimu dididik dengan baik. Dia mendengarkan dan mengamati secara seksama—sangat mirip denganmu, sungguh. Tetapi dia banyak tersenyum dan tertawa, kurasa yang itu tidak bisa kubilang mirip denganmu. Aku pernah melihatmu tersenyum beberapa kali, dan juga mendengarmu tertawa tetapi aku tak yakin mengingat jelasnya.
Kehadiran Izumi layaknya balsam untuk semua luka-lukaku. Kau bilang tidak akan memaafkanku tetapi kau mengirim putrimu. Aku tidak naif untuk berasumsi bahwa kau sudah berubah pikiran.
Maafkan aku, sekali lagi, maafkan aku. Aku harap kita bisa baik-baik saja setelah ini.
Penuh cinta,
Katara.
Surat tersebut hanya selembar namun Zuko seperti biasa mendekatkan semua surat pada cahaya api di tangannya untuk melihat ada sesuatu lain yang tergores. Dan memang benar.
Aku tahu dengan semua surat yang kukirimkan, aku tidak menuai senyum atau tawa dari bibirmu. Aku hanya menimbulkan sakit hati dan pahit masa lalu. Aku melihat Izumi dan tahu bahwa tak sepertiku yang mungkin besok akan hancur—kau baik-baik saja, kau punya istri dan anak; sebuah keluarga yang selama ini kau dambakan. Aku akan berhenti mengusikmu, Zuko. Namun izinkan aku menulis sedikit lagi.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menulis belakangan ini. Aku masih bisa membuat ombak besar—aku sangat lega, kau tahu? Tapi membuat ombak setiap hari akan membuatku dicap lebih gila dari sebelumnya. Jadi aku menulis dan menulis, Beberapa surat untukmu, beberapa untuk yang lain. Aku bahkan menulis beberapa untuk suamiku, berharap suatu saat nanti aku punya keberanian untuk membuat dia membacanya.
Ketika kau bertanya, mengapa aku bisa memgirimkan surat macam itu—aku ikut bertanya. Aku bahkan tak punya nyali untuk membicarakan hal trivial dengan suamiku, namun aku berani menuliskan hal-hal riskan padamu.
Apakah ini karena aku lebih peduli padanya daripada padamu? Atau aku merasa kau akan lebih memedulikanku dibanding dirinya?
Hal yang membuatku memikirkanmu, Zuko, di saat seperti ini, mungkin karena kau begitu kompeten. Kau melakukan segalanya dengan determinasi yang jauh dari yang lainnya. Aku tahu jika ada jalan berbatu kau tidak akan hanya menerbangkan batunya dan membiarkan dia berserakan di tempat lain, kau tidak akan membakarnya—kau mungkin akan mencari jalan lain dan memastikan kita tidak ada di jalan berbatu lagi. Atau kita akan berjalan bersama di jalan itu karena kau percaya padaku, dan karena aku percaya padamu; aku tidak pernah melepaskanmu.
Tapi aku melepaskanmu. Dan aku tidak boleh menyesalinya.
Aku tahu duka yang berbicara pada beberapa surat terakhirmu. Namun ketahuillah aku bahagia untukmu, aku melihat Izumi—aku tahu kau bahagia. Sekali lagi, maafkan aku karena berpikir jika kau yang mencintaiku maka aku tidak akan melalui semua ini. Maaf karena sudah berbagi denganmu bahwa aku harap kita bersama, bahwa aku berandai masa lalu bisa kuubah dengan satu kedipan mata. Maaf karena berpikir aku masih bisa mencintaimu lagi. Mungkin semua itu ilusi, aku tidak pernah mencintaimu—atau aku tidak akan pernah meninggalkanmu.
Aku minta maaf, Zuko. Aku harap tidak ada badai lain yang mengacaukan hidupku, atau hidupmu, atau dunia secara keseluruhan.
Zuko membakar setengah surat itu. Setelah kesulitan mengontrol apinya agar tak sampai di tulisan rahasia itu namun gagal—nyaris semua bagian itu terlalap api. Pria itu menenggelamkan kepalanya di telapak tangan, berusaha mengatur napas dan api yang semakin tidak terkontrol di dalam dadanya.
Jeda tidak mampu menenangkan sama sekali. Cangkir tintanya nyaris tumpah, ujung jubah merahnya telah ternoda tetapi tangan itu tetap menuang semua gusarnya dalam gemetar ….
Katara, kau adalah perempuan badai. Sekarang, besok, selamanya—keberadaanmu akan terus mengusik dunia sekitar. Dan mereka yang kau sentuh, harusnya bersyukur akan hal itu….
.
.
.
.
If the glint in my eye traced the depths of your sigh
Down that passage in time back to the moment
I crashed into you, like so many wrecks do
Too impaired by my youth to know what to do
.
.
.
.
Dia dapat merasakan bahwa gravitasi menolak penerapannya terhadap dia dan Katara.
Momen ketika petir itu meluncur dari ujung jari sang adik, dia tidak berpikir—tidak juga bernapas, hanya berlari dan menangkap kilatan biru itu lalu mengarahkannya ke langit. Namun dengan terlambat, beberapa listriknya telah mengalir ke sekujur tubuh.
Zuko dapat merasakan tragedi itu mengubah warna dalam semua interaksi mereka. Katara yang berpikir dua kali untuk membalas pelukannya, Katara yang meminimalisir sentuhannya hanya pada saat sesi penyembuhan. Zuko ingin berteriak padanya—itu bukan kau, itu bukan kau; aku akan melakukan hal itu untuk siapa pun.
Namun Katara-lah yang dia pilih untuk mendampingi dan dia pula yang ditarget oleh Azula—adiknya itu selalu saja tahu—bukan orang lain. Orang lain tidak ada hari itu; layaknya saat di Ba Sing Se, atau saat malam bulan mati di Kutub Utara. Tidak ada pasang mata lain yang melihat mereka bertarung, atau melihat mereka nyaris saling memeluk, atau menyaksikan bagaimana salah seorang nyaris mati untuk yang lain.
Mungkin fakta intimasi dalam interaksi mereka akhirnya masuk dalam kepala Katara dan perempuan itu menolak interaksi lainnya.
Itu adalah malam di mana dia mengabaikan paksa tanggung jawab dan menelan terlalu banyak anggur akibat perseteruan yang tiada habisnya di antara perwakilan Kerajaan Bumi dan menterinya, di mana dia bahkan tidak akan sampai di kamarnya kalau bukan Katara yang melingkarkan lengan di pinggangnya lalu memapah Zuko ke kamar.
Katara seperti biasa akan membuka tuniknya lalu mencari bekas luka itu; menyentuhnya dengan ujung jari seolah kulit yang hangus itu adalah gelas rapuh. Namun kali ini dia hanya menyentuhnya lama, tidak ada air bercahaya yang menyelimuti. Itu pertama kali Zuko disentuh tanpa tangan penyembuhnya. Laki-laki itu pasti mengucapkannya keras-keras karena lensa biru itu langsung terfokus padanya.
“Kau ingin aku menyentuhmu?”
“Itu hanya observasi,” Zuko dengan setengah sadar melambai acuh tak acuh. “bukan begitu maksudku.”
Dia terdiam sebelum ikut melambai tapi tangannya kemudian terbalut air—dia mengambil air dari udara; kau pernah lihat perempuan yang lebih luar biasa?
“Terkadang aku berpikir petir itu masih ada di tubuhmu,” Menyentuhnya, Katara mengalirkan sejuk yang membuat Zuko menghembuskan napas lega. “Setiap kali aku menyentuhmu, aku merasakannya.”
Sebuah getaran yang membuat Katara tersentak, yang membuatnya ingin menyentuh pemuda itu lagi untuk mengetahui apakah efeknya akan berlangsung lama? Apakah jika dia terus menyembuhkannya sensasi elektrik itu juga ikut hilang? Haruskah Katara berhenti menyembuhkannya?
Zuko tersenyum saat mendengar itu. Katara pikir dia tidak akan melakukannya kalau tidak sedang mabuk.
“Aku juga merasakannya,” Kemudian kelopak mata itu terbuka, menampilkan sepasang lensa emas yang mungkin bisa menjebak Katara; untuk berada di sana selamanya, di sisinya—di pelukannya.
“Setiap aku berada di dekatmu, aku merasa akan kehilangan pijakanku—kau adalah badai, Pengendali Air.”
Mungkin malam itu adalah salah satu dari ratusan alasan Katara akan membalas kecup dan peluknya dua tahun kemudian.
.
.
.
.
You said some things that I can't unabsorb
You turned me into an idea of sorts
.
.
.
.
Dia pulang ke Selatan, didampingi kekasihnya.
Dia kembali ke Caldera, satu setengah tahun kemudian, sendirian.
Dia tidak berbicara pada teman perempuannya yang juga di istana. Dia duduk saat rapat, mengamati sekitar lalu mengamati Zuko.
Sampai saat ini Zuko gagal mendapatkan jawabannya.
“Aku bertengkar dengan Ayahku, terlalu sering akhir-akhir ini.”
Dia mengunjungi Zuko saat malam. Masih dengan kebiasaan membuka tuniknya, mengamati lukanya lalu bertanya apakah dia memiliki sakit di tempat lain. Zuko menggeleng, menggenggam tangan itu; dingin—terlalu dingin, sebelum meletakkannya di kepala.
Perempuan itu dengan hati-hati menarik tusuk mahkotanya lalu meletakkannya di meja. Jemarinya bergerak merapikan helai hitam urakan Zuko sebelum menekan titik-titik di mana stres berkumpul, memijatnya sembari mengalirkan sejuk ke sana.
Zuko mengerang saat Katara berhenti. Suatu hari Zuko pernah memaksa gadis itu berhenti mengobatinya namun dia hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Untukku, semua ini untukku, bisiknya kemudian.
Dia melamun ketika Katara menghibur diri dengan menyisir rambutnya, mencoba mengepangnya lalu terkikik sendiri dan menjambaknya pelan. Zuko menepisnya dan mencebik kesal.
Katara masih tertawa ketika dia berkata, “Mungkin bisa kupotong untukmu.”
Kecepatannya mengucap iya akan memalukan Zuko kalau saja debar jantungnya tidak sedang lebih cepat. Bukan hanya karena tangan di kepalanya, tapi juga senyum dan tawa yang tak diketahuinya akan sangat adiktif.
Katara memandangnya kaget namun dengan senang hati menuruti. Dia mengambil pisau di bawah bantalnya dan mulai bertanya ukuran dan model—mengeklaim dirinya ahli.
Katara memunculkan cermin dari teh dalam tekonya. Dia bisa melihat betapa serius ekspresi perempuan itu; bagaimana bibirnya merengut dan hidungnya mengerut. Sedikit demi sedikit helai hitam pun jatuh.
Beberapa tahun kemudian Katara akan tahu apa arti kegiatan yang dia lakukan bersama Zuko. Bagaimana sebuah kegiatan yang sangat intim itu hanya diperbolehkan terjadi antara suami dan istri di Negara Api. Bagaimana dia bisa merasakan secara nyata hati pemuda itu jatuh dan hancur berkeping-keping ketika dia meninggalkan istana tiga bulan kemudian. Bagaimana dia tidak sengaja berjanji—bahwa dia …
Ketika lensa mereka bersirobok di cermin itu, Katara kehilangan pegangannya pada pisau di tangan.
Dia selalu merasa hangat ketika berada di samping Zuko. Dia mengerti itu adalah mekanisme tubuh para pengendali api. Namun tidak pernah hangat itu berubah menjadi panas, menjadi kobar api tak kasat mata yang menjilati sekujur tubuhnya. Katara menahan napas hingga dadanya sesak ketika Zuko berbalik menghadapnya. Lensa emas itu menyala dengan intensitas yang tak Katara kenali, namun dia tetap balas menatap—balas menggenggam.
Dan membalas bibir yang menempel pada miliknya kemudian. Mengaitkan kaki pada pinggangnya untuk panas itu mendekat. Sesuatu merasuki Katara seolah malam itu adalah malam purnama. Dia bisa merasakan detak jantung Zuko menyamai ritme miliknya dan bagaimana darah laki-laki itu mendesir. Mengetahui hal itu mengirim sensasi elektrik lain sampai ke ujung jari kakinya. Dia bisa memetakan perjalanan darah itu—Katara kemudian melakukannya dengan jari-jemarinya.
Fajar menjemput tanpa salah seorang dari mereka sempat memejamkan mata.
Lalu setiap malam adalah purnama untuknya.
Katara tenggelam dalam euforia dan selalu menyenandungkan melodi asing di telinga Zuko setelah mereka usai. Dia akan tersenyum lalu bercerita pada Zuko atau dia akan mengucapkan kalimat-kalimat yang di kemudian hari akan dipaksanya menjadi tidak berarti.
“Kau terlahir untuk menjadi seorang yang terhormat,” Katara mengucapkannya di siang hari waktu itu, usainya menyelesaikan permasalahan diplomatik lain dan mengirim pulang delegasi dengan puas. “Tidak akan ada yang bisa menodai itu kecuali dirimu sendiri.”
Zuko tidak bisa menerima pujian secara sepihak mulai menggumam dengan gugup. Permasalahan itu tidak selesai tanpa campur tangan Katara. “Kau juga menakjubkan, Katara.”
Yang tidak Zuko perkirakan adalah untuk perempuan itu menyambut perkataannya dengan senyum lebar. “Aku tahu. Kita tidak terkalahkan, bukan?”
Kita.
“Apakah kita bisa menang besok?”
Katara memutar mata. “Besok adalah yang paling mudah.”
“Aku penasaran bagaimana jika kita bersama,” bisiknya ketika bulan dan bintang bersembunyi di balik awan. Selimut jatuh dari bahunya, menampilkan kulit cokelat yang sebelumnya telah dijatuhi banyak kecupan. Katara tersenyum manis. Zuko mencubit pipinya setelah itu.
“Aku bisa menang dengan siapa pun; dengan teman kita yang lain. Namun denganmu—rasanya berbeda. Terlalu manis, terlalu sulit dilewatkan, aku ingin melakukannya tiap hari.”
Manis. Betapa pikiran kita telah menjadi satu. Zuko hanya bisa mengerang sebelum berbisik, “Kita bersama, kita bisa melakukannya tiap hari.”
Dan jika Zuko tak begitu bahagia dengan dunia kecilnya dia akan melihat bagaimana kilau biru mata perempuan itu meredup perlahan sebelum memeluknya erat.
“Aku penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta padamu,” Katara berbisik di malam terakhir mereka. Zuko terlalu keras kepala dan tidak berbalik, membiarkan Katara menempelkan kepala di bahu telanjangnya, “Saat ini rasanya begitu meriah, seperti ribuah kembang api yang meledak di langit malam. Namun malam tak terjadi selamanya.”
Dan malam tidak akan ada tanpa matahari, Zuko menyahut getir dalam hatinya. Bulan pun tak akan bersinar tanpanya. Dia ingin mengajukan ribuan pertanyaan namun perempuan itu menolak menatapnya kemudian. Saat dia beranjak dari selimut merah mereka ketika fajar tiba, saat dia mengenakan kembali biru yang dicintainya, saat dia menutup pintu kamar tanpa suara.
Aku mencintaimu, aku telah mencintaimu, aku minta maaf jika kau tidak menginginkan kembang api itu, Zuko menahan teriakan itu ketika kapal perempuan itu menjauh.
.
.
.
.
Could it be enough to just float in your orbit?
Can we watch our phantoms like watching wild horses?
.
.
.
.
… badai yang datang menghancurkan hidupku dan meninggalkanku untuk membangunnya kembali. Dulu kau melakukannya dengan nyata, kini kau hanya melakukannya dengan tulisan. Katara, selamanya, kau adalah perempuan badai.
Tidak ada yang bisa menangani badai. Namun kini kau berdiam diri dan tidak mengacau atau memberikan teror kepada orang-orang. Kau berhak istirahat, aku tahu, tapi bukankah sudah terlalu lama?
Ke mana perempuan badai yang sempat kucintai itu?
Jika kau memang penasaran, Katara, aku selalu memikirkannya setiap hari.
Jika kau baru melakukannya akhir-akhir ini ketika hidupmu memburuk, ketahuilah aku melakukannya setiap hari tanpa jeda. Setiap hari ketika aku melihat langit biru, aku akan teringat padamu. Setiap kali aku melihat laut, aku mengingat punggung tegap yang menolak mengucapkan selamat tinggal padaku. Bahkan setelah semua yang kita lalui bersama.
Kau tidak pernah memberitahu alasannya tapi aku juga tidak pernah bertanya—tapi apa kau tidak merasa berhutang padaku sedikit saja?
Aku memikirkanmu, Katara. Hidupku selalu dipenuhi kata jika dan kehadiranmu yang sebentar itu mempengaruhinya. Mungkin sebelum surat itu hadir aku bisa hanya memikirkanmu hanya untuk satu kedipan mata, namun berkat kau yang kembali menjadi badai dan menargetkanku sebagai korban pertama—aku tidak bisa tidur. Aku mengirim Izumi supaya aku bisa tidur nyenyak.
Ketahuilah, Katara, mengetahui bahwa kau mungkin sempat mencintaiku hanya memperburuk luka yang kukira sudah sembuh. Maka izinkan aku untuk mencetak skor agar kita seimbang.
Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan kurasa tidak akan pernah, di titik ini.
Bagaimana jika kau mencintaiku? Jika kemarin kau tetap di sini dan mengirim kapal itu pergi. Aku akan menikahimu, aku akan mendeklarasikan perang untukmu jika itu memang maumu. Kau mungkin tertawa dan berkata baahwa itu bukan tindakan yang terhormat. Namun lebih tidak terhormat lagi membuat perempuan yang kucintai menangis dan meratap—aku lebih baik mati.
Apakah kau tahu? Bahwa dibalik semua andaimu, aku telah melakukannya. Aku telah mencintaimu.
Aku bahkan memberitahukan hal ini pada istriku dahulu—bukan kau yang pertama tahu. Dia tidak bicara padaku selama seminggu, dan kukira dia akan pulang dan menarik diplomatnya juga, kau tahu? Aku kemudian menjelaskan bukannya aku tidak mencintainya, yang kurasakan padanya hanyalah berbeda dengan yang kurasakan padamu—dia menampar dan meneriakiku, “Apakah itu bisa membuatku merasa lebih baik?!” Aku bersyukur Izumi ada bersamamu, istana sedang tidak baik-baik saja saat ini. Kami pergi ke tempat favoritnya dengan Druk dan dia juga tidak bicara padaku sampai di detik-detik akhir kami kembali ke istana—Druk membakar jubahku setelah itu.
Mungkin dia tidak akan mau bicara padaku selamanya kalau aku memberiahu bahwa terkadang aku membayangkan kau yang ada di sisiku—aku memang menginginkan kau untuk ada di sisiku. Aku tidak bisa memberitahunya, itu adalah hal keji. Namun kurasa dia tahu, dia tahu dan tetap memutuskan untuk memulai lagi bersamaku.
Aku mencintainya, Katara. Mungkin tidak seperti perasaanku terhadapmu dahulu, tapi aku bahagia.
Beberapa malam setelah ini aku bisa saja dihantui memori kita dan kesulitan tidur lagi. Aku sudah menerima itu. Aku akan membiarkanmu datang pada saat malam, Katara. Layaknya yang kaulakukan dahulu.
Ingatlah bahwa kau badai, kau menghancurkan—bukan hancur. Bergeraklah dengan hidupmu. Kisahmu tidak akan usai jika kau meninggalkan beberapa keping di belakang dan maju bersama kepingan yang baru.
Ketahuilah, apa pun pilihanmu, aku akan selalu menyayangimu.
Salam hangat,
Zuko.
.
.
.
.
Cooler in theory, but not if you force it to be
It just didn't happen
.
.
.
.
Selain sang istri, Izumi juga tidak bicara padanya sejak kepulangan gadis itu. Saat sarapan, kedua mata burung hantu itu akan mengamati Zuko lekat-lekat sebelum ditegur Ibunya. Izumi tidak kapok, dia melakukannya berulang kali. Terakhir melakukannya, dia datang ke ruang kerjanya pada larut malam.
Kini Zuko punya jadwal untuk lembur, tidak sporadik macam dahulu, dan Izumi mengambil kesempatan.
“Itu lebih buruk dari yang Ayah perkirakan.”
Zuko spontan meletakkan sendok tehnya dengan keras. “Apa?”
Izumi menyeringai pahit. “Aku memaksakan diri untuk pulang. Kalau bisa, aku ingin berada di sisinya lagi walau hanya untuk sejenak.”
Zuko tengah merangkai kata-kata untuk membalas ketika Izumi mengeluarkan gulungan dari balik punggungnya dan meletakkan benda itu di atas meja berantakan Zuko.
Izumi mengangkat bahu. “Jangan khawatir tentang Bibi Katara lagi. Dia bilang akan bisa menanganinya. Berkat Ayah juga. Dia bilang maaf dan terima kasih, dan sisanya ada di surat itu.”
“Apa yang terjadi, Izumi? Mengapa—”
Izumi mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah sebelum menghela napas. “Sungguh, aku tidak bisa mengkhianati kepercayaan Bibi Katara dan membocorkan segalanya. Aku hanya bisa bilang dia sangat sedih—sangatsangat sedih. Paman Sokka kembali dari Kyoshi untuk menemani adiknya tapi tidak bisa dibilang membantu,” kemudian gadisnya tersenyum lebar. “Namun Paman Sokka bilang aku membantu.”
Ada banyak yang ingin disampaikannya. Mulai dari permasalahan Katara hingga Izumi yang sungguh kelihatan menyukai Sokka. Sesaat jeda sebelum kata yang terlontar hanyalah, “Syukurlah.”
Izumi mengangguk, matanya melirik gulungan biru itu lagi.
“Surat terakhir.”
Kali ini, Zuko sungguhan terbelalak. “Terakhir….”
“Sesuai dengan isi suratmu yang terakhir,” Izumi menggigit bibir bawahnya sebelum menggeleng kuat. “Dia tidak akan membalas lagi. Jadi jangan kau balas, Ayah.”
Ada bagian lain yang retak di hatinya, selain ratusan keeping yang dibawa pergi Katara. Zuko merasakan jarinya mengalami tremor ketika pintu tertutup, meninggalkannya sendirian dengan surat terakhir Katara.
Aku mencintaimu, Zuko.
Aku harap kau tetap menyayangiku. Kau bilang apa pun keputusanku, bukan?
Ombak, dan badai—aku ingat. Kau menghabiskan setiap malam di waktu singkat kita untuk mengingatkan bahwa itu identitasku. Salah satu dari sekian banyak nama yang disematkan orang padaku; milikmu akan selalu yang terdekat dengan hatiku.
Aku sudah memutuskan bahwa aku akan pergi, Zuko. Bukan besok, namun suatu hari nanti. Ketika putra-putri kecilku bisa mengerti dna tidak akan menghakimi siapa pun atas situasi ini. Ketika memutuskan pergi ke jalanku sendiri tak terasa seperti dosa besar.
Aku tidak bisa ke sisimu, aku tidak diizinkan lagi. Aku mengerti.
Jadi aku akan tenggelam, Zuko. Dengan semua nama yang kau dan orang berikan untukku, aku memutuskan untuk meleburnya dan pergi dengan salah satu yang kubuat sendiri. Dahulu, orang-orang pernah menyebutku sebagai seorang Roh Penyelamat, Painted Lady—pernahkah kau mendengarnya?
Ini rahasia kita, Zuko. Aku mempercayaimu, juga Izumi. Suatu saat nanti, aku akan pergi dan menghilang—lalu kau akan diam dan tidak berbuat apa pun, aku ingin kau berjanji.
Terima kasih karena telah menyambutku dalam mimpimu setiap malam. Kau pun, Zuko, adalah mimpiku. Satu yang tidak pernah berani kuraih—dan tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Aku berharap kita akan bertemu lagi—mungkin nanti jika kebaikan-kebaikan membuat kita terlahir kembali. Aku ingin hidup lebih sederhana tanpa perang atau wabah penyakit. Aku ingin bisa bersamamu di bawah bulan atau matahari. Menggenggam dan memelukmu.
Lain kali kita akan bertemu, Zuko. Karena aku berhutang padamu untuk membuat cerita kita berakhir dengan benar.
.
.
.
.
So if you wanna break my cold, cold heart,
Say you loved me,
And if you wanna tear my world apart,
Say you'll always wonder,
.
.
.
.
.
Katara menatapnya dari kejauhan. Figur sempurna dengan balutan pakaian pengantinnya. Dia menatap dirinya sendiri: tangan, kaki, lalu perutnya yang membesar. Sesuatu bergerak mendikte arah pikirannya—kau bisa memiliki semua itu, seandainya saja kau….
Namun lensa emasnya berkilau cerah dan senyum yang tak pernah terukir di bibirnya pun kini menjadi nyaris permanen. Perempuan di sampingnya menggandeng lengan pria itu kuat dan kelihatan kesulitan menahan diri untuk tidak berjinjit dan mengecup suami barunya.
Katara pikir dia tahu persis rasanya. Dan dia telah melepaskan semuanya. Ada tangan lain yang menopang punggungnya dan Katara merasakan pikiran penuh khianat itu memudar. Tidak ada yang bisa berubah, takdir kami memang tidak bersilang lebih dari itu….
Namun kemudian lensa emas itu bersirobok dengan miliknya yang biru. Senyum itu nyaris luntur karena miliknya tidak terangkat sama sekali. Dadanya terbakar ketika pria itu mengubah senyumnya menjadi tipis dan hanya mengangguk padanya.
“Apakah kau masih bertengkar dengan Zuko?” Suaminya terheran. “Padahal saat kunjunganmu sebelumnya kalian seperti tidak terpisahkan.”
Katara menaikkan sudut bibirnya.
“Benarkah? Kami memang tidak terpisahkan?”
Gumaman kecil itu hanyut bersama dengan suara kembang api. Katara mengelus perutnya sebelum melirik ke arah balkon. Jutaan spektrum cahaya menghiasi langit malam dan pemusik mulai mengambil tempatnya masing-masing untuk melanjutkan pesta mereka ke tahap selanjutnya.
Katara ingat pernah membandingkan kembang api itu dengan bagaimana perkiraannya atas perasaan Zuko terhadapnya.
Ketika melihat Zuko lagi, dia tengah menunduk dan menangkup kedua pipi sang istri—membisikkan sesuatu hingga ujung telinga perempuan malang itu memerah. Kala itulah Katara merasakan sesuatu miliknya retak berkeping-keping; kala itulah juga dia sadar bahwa dia ternyata memiliki sesuatu itu—perasaan itu.
Dia pikir tidak. Dia pikir mustahil. Dia sudah berusaha untuk tidak memikirkannya.
Katara menatap langit dalam waktu yang lama. Seluruh tubuhnya panas—terutama matanya. Sesuatu memaksa keluar dari tenggorokannya, entah itu makan malam atau teriak frustrasi atau caci-maki untuk semua tamu Zuko di sini. Wanita itu mulai mengatur napas ketika merasakan presensi lain di sisinya.
“Katara, kau baik-baik saja?”
Berusaha menampilkan senyum, dia menjawab, “Hanya sedikit panas.”
Pria itu membuka mulut untuk bertanya lagi namun sang istri menyelanya, “Apa yang kaupikirkan tentang kembang api?”
“Kembang api?”
Katara menunjuk ke arah langit di mana intensitas ledakan warna-warni itu tidak berkurang sejak tadi.
“Kurasa … indah? Berisik, sih, tetapi ini memang pesta! Sangat cocok untuk menari juga. Ah, Katara, kuharap kau bisa menari hari ini.” Lensanya melirik perut besar wanita itu.
Katara tersenyum pahit sebelum berucap, “Kau ingin tahu apa yang kupikirkan tentang kembang api ini?”
“Hm? Apa itu?”
“Bahwa itu sesuatu paling menawan dan menakjubkan yang seseorang pernah berikan padaku, dan mungkin … mungkin aku telah membuat kesalahan karena meremehkan warna-warni yang diperlihatkannya.”
.
.
.
.
'Cause I wonder
Will I always
Will I always wonder?
.
.
.
.
