Work Text:
Udara sore itu cukup kering, sinar mentari menuju jingga, Satoru menopang dagunya di atas meja, ia memperhatikan jalanan dari jendela lantai dua restoran keluarga di tengah-tengah distrik perkantoran Kyoto. Jalanan ramai oleh orang-orang berpakaian formal, ekspresi mereka cukup beragam; ada yang sumringah, mungkin karena sudah jam pulang kerja, namun ada juga yang masih suram, aura mereka menguar dan terlihat bibit-bibit kutukan yang akan muncul, bahkan ada beberapa orang dengan kutukan minor yang bertengger di badannya, Satoru menghela napas, mungkin tidak lama lagi akan ada panggilan untuk pembasmian kutukan di distrik ini.
Bosan melihat jalanan, Satoru mengambil buku menu yang sudah diberikan staff restoran saat ia memilih tempat duduk, matanya mencoba menyisir menu yang menurutnya menarik. Kids Menu , judul menu itu membuat Satoru kembali gugup, ia mengatur nafasnya, mencoba menenangkan kembali rasa gugup yang tadi sudah hilang.
“Satoru…”
Satoru berjengit dan langsung mendongakkan kepalanya, ia hanya mengangguk dan melihat Utahime meletakkan map di atas kursi kosong dan duduk di seberang Satoru.
“Maaf aku terlambat, kamu sudah lama disini?”, ucap Utahime sambil membenahi posisinya, baju mikonya tersangkut karena jarak antara kursi dan meja makan yang sempit.
Ia menelan ludahnya dan menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku yang terlalu cepat datang, bahkan sekarang belum jam lima sore”, Satoru meringis sambil menunjuk angka jam pada ponselnya.
Utahime tertawa kecil, “Benar, tadi aku kaget banget liat pesan darimu, tidak biasanya kamu datang awal”
Mendengar hal itu, Satoru hanya tersenyum sambil mencoba menenangkan rasa gugupnya yang belum mereda. Ia memanggil staff restoran dan menggeser buku menu ke arah Utahime, “Hime, mau pesan apa?”
Kening Utahime berkerut, bibirnya sedikit manyun, manisnya . “Aku mau pesan katsu-omurice, banana split, cheesecake, dan… untuk minumnya… mm, milkshake coklat”, Utahime meringis, “Maaf aku lapar banget, kamu mau pesan apa?”
“Cheesecake, soda float, daaan… semangkok sundae”
Satoru melihat Utahime menyebutkan ulang pesanan mereka kepada staff restoran dan mengucapkan terimakasih. Utahime melirik ke arah Satoru sambil terkekeh, “Tidak kusangka aku memesan makanan manis sepertimu”
Perkataan Utahime membuat Satoru tertegun, ia kembali gugup, jantungnya berdegup dengan sangat kencang sampai Satoru takut Utahime dapat mendengarnya. “Kan sudah kubilang, seleramu itu buruk, Hime. Di jaman sekarang, siapa sih yang ga suka manis-manis?”
Utahime hanya tertawa kecil mendengarnya, kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, “Satoru, aku mau ke kamar mandi bentar ya”, setelah mendapat anggukan dari Satoru, Utahime melenggang pergi membawa tas kain meninggalkan Satoru yang kembali dalam pikirannya lagi.
<<
“Eh– Satoru?”
“Himee~~ tebak apa yang kubawaaa~~”, Satoru tersenyum lebar sambil menggoyangkan kresek yang ia bawa di depan pintu apartemen Utahime.
Utahime melebarkan daun pintu apartemennya mempersilakan Satoru masuk, “Bukankah kamu ada misi besar di foreign market Tokyo? Apa yang kamu lakukan disini?”
“Ah… itu sudah selesai~ Ijichi sedang menyusun laporannya”, Satoru cemberut sambil meletakkan kresek yang ia bawa di atas meja kopi ruang tengah apartemen Utahime. “Kamu emang ga kepo apa yang kubawa?”
Utahime berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Lagi-lagi kamu lari dari tanggung jawab”, ia menghela napas, “Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?”, Utahime berjalan menyusul Satoru yang ada di ruang tengah.
“Lihat sajaa~~”
Mata Utahime membelalak melihat barang yang diangkat Satoru, badannya otomatis mendekat dan meraih barang dari tangan Satoru, ia berkali-kali memastikan tulisan merek yang tertera pada lilitan kemasannya, satu pak kaleng Beer bermerek Guinness, “EH— Guinness? Seriusan? Ini untukku?”
“Tadi aku sempat mampir di ruko barang impor samping tempatku bertugas, trus Ijichi bilang ‘ Iori-san pernah bilang ingin merasakan beer merek Guinness’ , akhirnya beli deh. Gimana? Senang?”, senyumnya semakin melebar melihat mata karamel itu berbinar.
Pandangan Utahime masih mengagumi pak kaleng beer di tangannya, “Wahh… bahkan aku lupa pernah mengatakan itu, Ijichi perhatian banget deh, wahhh…”
Senyum Satoru seketika menghilang dan jadi manyun, “Loh… kan aku yang beli, Gojo Satoru yang beli”, ia menepuk dadanya karena tidak terima Ijichi yang dipuji.
Utahime hanya tertawa lemas menanggapi perkataan Satoru, kemudian Satoru berjalan ke arah pantry dan mengambil gelas untuk Utahime.
Wajah Utahime menjadi pucat, “Satoru, aku sedang tidak mau minum beer”, tiba-tiba badannya terhuyung, raut wajahnya berubah seperti menahan mual.
“Kenapa, Hime? Sakit perut? Pusing? Atau, menstruasi? Kalau diingat-ingat seharusnya minggu kemarin menstruasimu bukan?”, Satoru tampak khawatir, ia menempelkan dahinya dengan dahi Utahime untuk mengecek suhu badannya, Satoru juga memegang lengan atas Utahime untuk menopang tubuh lemas Utahime.
Utahime hanya menggeleng, ia terdiam cukup lama, mengalihkan pandangannya seperti sedang mengumpulkan keberanian, kemudian tangannya balik memegang erat tangan Satoru, tangannya meremas-remas tangan Satoru beberapa kali, mata karamelnya menatap Satoru yang makin kebingungan lekat-lekat, setelah menghela nafas panjang, akhirnya Utahime bersuara.
“Satoru… sebenarnya aku sedang hamil”
<<
Malam itu berakhir cukup damai untuk situasi yang genting, opini mereka berbeda, Utahime ingin mempertahankan kehamilannya, namun setelah mencoba berbicara lagi, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu kembali setelah Satoru berpikir lebih tenang dan matang.
Satoru melihat sekeliling restoran, sesekali ia meminum minumannya yang sudah datang, melihat anak muda yang sedang berduaan, orang makan sendirian sambil menonton layar ponselnya, sekelompok anak SMA yang sedang kencan buta, dan akhirnya pandangannya terjatuh pada Utahime yang sedang berjalan membelah ruangan. Rambut panjangnya terikat dengan rapi seperti ekor kuda, pita putihnya menjuntai mengintip dari balik rambutnya, baju miko yang tadinya ia pakai berubah menjadi blouse denim longgar dan celana panjang hitam, tangannya membawa tas kain yang terlihat baju miko yang terlipat didalamnya.
“Gerah?”
Utahime menggeleng, “Tidak, setelah ini aku sudah tidak ada rencana lagi, jadinya ganti baju deh”
Satoru mengangguk tanda setuju, “Lalu apa yang Utahime lakukan disini? Tumben ngajak ketemuan di distrik perkantoran”
“Ah… tadi aku mengurus beberapa hal… yah, ada banyak hal”
Satoru mengangguk lagi, ia merasa Utahime menghindari pertanyaannya. “Kalau begitu, ayo kita makan, makanannya sudah datang”
Utahime terdiam, tangannya tertutup oleh meja, namun Satoru bisa memastikan Utahime sedang memainkan kukunya.
“Satoru…”, ia memberi jeda sebentar kalimatnya, “Bisakah aku mendengarkan keputusanmu, sekarang?”.
Ah, sepertinya Utahime memang ingin langsung membicarakan hal itu. Satoru mengaduk minumannya dengan gugup, ia menundukkan kepalanya dan meletakkan tangannya diatas pahanya dengan rapi. Lalu mata birunya mencoba menatap lurus Utahime.
“Maaf… aku tidak berubah pikiran, berurusan dengan klanku… bahkan aku tidak mau memikirkannya”
Satoru cepat-cepat menundukkan kepalanya lagi, ia takut melihat ekspresi Utahime. Tangannya meremas lututnya dengan gugup menunggu Utahime berbicara.
“Baiklah”, Utahime tersenyum manis, “Ah, mungkin aku akan ke dokter Obgyn akhir pekan, kau tak perlu datang”, Satoru membalasnya dengan anggukan kecil.
“Kalau begitu, ayo kita lanjut makan, aku udah lapar banget”, ia sedikit tertawa saat mengakui ia sedang lapar.
Reaksi Utahime terlalu tenang, jujur saja hal itu membuat Satoru merasa tidak nyaman dan merasa bersalah. Namun ia tetap mengangguk dan melanjutkan makannya bersama Utahime.
Mereka bercengkrama di sisa waktu mereka bersama, Utahime dalam mood yang bagus, ia bercerita tentang ujian naik level anak didiknya, beberapa kali ia menyebut kesal dengan Todo karena obsesinya dengan idol wanita. Makannya lahap, bahkan setelah makanannya habis ia masih sanggup memesan boba tea dan crepes. Dan akhirnya mereka berpisah saat langit sudah gelap, berjalan ke arah pulang mereka masing-masing.
<<
Dua minggu sudah berlalu sejak Satoru bertemu dengan Utahime di Kyoto, Satoru tidak pernah menerima kabar darinya, ia juga terlalu ciut untuk bertanya lebih dulu, ia juga takut akan mengganggu masa pemulihan Utahime, oleh karena itu Satoru memutuskan untuk menunggu Utahime mengabarinya terlebih dahulu.
Sejak awal mereka memang tidak berpacaran, mereka hanya bertemu sesekali untuk memuaskan satu sama lain. Tidak ada yang tahu, walau mungkin sebenarnya Ijichi diam-diam tahu karena pernah memergoki Utahime keluar dari apartemennya.
Satoru ingin sekali menghubungi Utahime terlebih dahulu, namun akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Utahime setelah ia kembali dari Afrika jadwal rutinnya untuk menjenguk Yuuta.
Begitu landing di Jepang, Satoru langsung menghubungi Utahime, beberapa kali menelfon hasilnya sama saja, nomornya tidak aktif. Dengan panik ia langsung teleportasi ke apartemen Utahime, namun sialnya Utahime tidak ada, apartemennya kosong, bahkan perabotannya bersih. Satoru bingung, ia tidak tau harus kemana dan akhirnya mengingat Shoko.
“Gojo! Sudah kubilang jangan teleportasi di ruang otopsi! Kau tidak lihat aku sedang otopsi, hah?”, Shoko memekik kesal.
“Ah… maaf… Shoko, ini penting, apakah kau tau mengapa nomer Utahime tidak aktif? Dan juga apartemennya kosong, apakah dia pindah? Apa yang terjadi selama aku pergi?”
Shoko tertegun, ia melepaskan maskernya, “Utahime-senpai tidak berpamitan padamu?”
“Pamit?? Utahime pamit kenapa? Kenapa dia berpamitan??”, Satoru mencengkram lengan atas jubah dokter Shoko dengan kencang.
“Kamu beneran tidak tau? Utahime-senpai bilang kalau dia sudah berpamitan denganmu sebelum kamu berangkat ke Afrika minggu lalu, bahkan katanya kamu memberi selamat padanya dan memberikan hadiah beer Guinness”
Cengkraman Satoru mulai melemah, ia mempunyai firasat tidak enak setelah mendengar kalimat akhir Shoko. “Tidak… aku sudah lama tidak bertemu dengan Utahime…”
“Eh…”, Shoko ikut kebingungan, kemudian ia melepaskan sarung tangannya dan menarik Satoru untuk duduk di kursi ujung ruangan bersamanya.
“Jadi… apa kata Utahime saat berpamitan?”
Shoko menelan ludahnya, ia bingung dan menimbang-bimbang kalimat yang ingin ia katakan. “Utahime-senpai akan menikah…”, Shoko sulit menebak ekspresi Satoru dibalik penutup matanya itu.
“Menikah?”
Ia mengangguk. “Iya, Utahime-senpai akan menikah dengan seorang non-penyihir, ia juga memutuskan untuk keluar dari sekolah Jujutsu, juga berhenti menjadi penyihir. Kita memang tidak diundang ke pernikahannya, namun itu cukup dimengerti karena biasanya penyihir yang menikah dengan non-penyihir memang langsung memutus hubungan dengan dunia penyihir.”
Satoru terdiam cukup lama, kemudian akhirnya ia bangkit dari duduknya.
“Oke, terimakasih, setelah diingat-ingat aku memang memberinya sekotak beer Guinness”
Dan akhirnya Satoru melambaikan tangannya pergi.
Tentu saja pencariannya tidak berhenti disitu, Satoru merasa janggal dan tidak percaya Utahime pergi meninggalkan sekolah dan murid-muridnya begitu saja. Ia tidak berhasil mengendus energi kutukan Utahime, bahkan residunya tidak ada seakan-akan Utahime tidak pernah ada. Akhirnya ia mencoba menelusuri tempat-tempat yang biasa Utahime kunjungi; Izakaya, Batting Centre, Kuil kecil di belakang apartemen Utahime, Famima, Kedai Sushi kesukaannya, Kedai Ramen, bahkan ia juga mencoba menemui pemilik apartemen Utahime dan hasilnya nihil.
Setelah berhari-hari, ia memutuskan untuk mencoba mendatangi restoran keluarga tempat mereka terakhir bertemu. Walau sejujurnya Satoru merasa tidak yakin tempat ini akan memberinya petunjuk. Ia ragu untuk masuk dan beberapa kali mondar-mandir depan pintu restoran.
“Permisi… Okyaku-sama?”
Satoru sedikit melompat karena kaget, dengan cepat ia malu dan meminta maaf. “Ah, maaf sepertinya aku akan pergi”
“Eh… tidak, anu… apakah Okyaku-sama kesini untuk mengambil barang yang tertinggal?”, staff itu meringis dan ragu-ragu menunjuk ke dalam restoran, “Sebenarnya beberapa minggu yang lalu ada perempuan dengan bekas luka di wajahnya menitipkan map disini, katanya tolong berikan jika ada pelanggan berambut putih dan terlihat mencurigakan”
Satoru terdiam, jantungnya seperti berhenti saat mendengar ucapan staff restoran itu. Perlahan kepalanya mengangguk, melihatnya staff restoran tadi sumringah lalu bergegas masuk ke dalam restoran dan memberikan map kepada Satoru dan buru-buru membungkuk tanda hormat.
Setelah berdiri beberapa saat, ia memutuskan berjalan dan terus berjalan tanpa arah. Pikirannya berkecamuk, mungkin seharusnya ia cukup mendengarkan kabar dari Shoko dan tidak mencari Utahime, ia bertanya-tanya siapa non-penyihir yang dimaksud Shoko? Apakah Utahime benar-benar akan menikah? Apakah Utahime benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia penyihir? Apakah Utahime benar-benar ingin berpisah dengan murid-muridnya? Bukankah Utahime suka mengajar? Apakah mereka tidak akan bertemu lagi?
Jika ia membuka surat ini, akankah Utahime kembali?
Apakah Satoru sudah terlambat?
<<
Halo, kohai-kun
Sejujurnya aku tak yakin kau akan mencariku sampai sini, kadang aku berharap untuk tidak usah memberi tahumu, tapi aku yakin harus memberitahumu karena kamu berhak untuk tau keputusanku
Maaf aku tidak menggugurkan kandunganku
Aku ingin punya anak, sekarang umurku 33 tahun, jika aku menggugurkan kandunganku, aku takkan tau kapan aku akan menikah dan bisa hamil lagi, kamu benar, mungkin seharusnya aku harus lebih anggun lagi agar bisa membuat para laki-laki tertarik padaku, hahaha
Aku tau aku egois, maaf aku tidak menghargai keputusanmu
Aku sudah pergi dari dunia penyihir, aku sudah memastikan untuk menghilangkan jejakku dan pergi di tempat yang tidak seorangpun tau, oleh karena itu jangan khawatir, aku bisa menjamin klanmu tidak akan pernah tau tentangku. Juga semua orang menganggapku sudah menikah dengan seorang non-penyihir.
Tenang saja, akan kubesarkan anak ini dengan baik sampai tidak mirip denganmu
Barang-barangmu yang tertinggal di apartemenku sudah aku paketkan, seharusnya kamu sudah menerimanya
Terimakasih untuk beernya, pasti akan kuminum
Dari senpaimu
<<
