Actions

Work Header

what a funny, lively commotion

Summary:

Junghwan banyak berubah setelah jadi Prefect Gryffindor: sering senyum-senyum sendiri, suka menghilang tiba-tiba, bahkan jarang meluangkan waktu untuk main bersama kedua sahabatnya, Jihoon dan Kyungmin.

Plot twist pertama, ternyata Junghwan punya pacar yang selama ini dia rahasiakan.

Plot twist kedua, pacar Junghwan adalah musuh bebuyutan Jihoon, sahabat Junghwan sendiri.

(basically jihoon-kyungmin who’s spying over their bro junghwan)

Notes:

work of fiction. this fic might have a little difference with the canon harry potter au.

title taken from tws - first hooky (with addition)

Chapter 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Ada yang tidak beres dengan perilaku Junghwan akhir-akhir ini.

Awalnya Jihoon yang menyadari itu, yang lantas dia adukan ke sahabat satu asramanya, Kyungmin. 

Mereka bertiga — Junghwan, Jihoon dan Kyungmin — merupakan tiga sahabat yang tersortir ke asrama Gryffindor saat belajar di Hogwarts. Junghwan kebetulan masuk satu tahun lebih awal dibandingkan Jihoon dan Kyungmin. Dari yang awalnya sekadar kumpul bersama di common room dan sarapan di Great Hall, lama-lama mereka bertiga semakin dekat layaknya kertas dan lem.

Tahun ini, Junghwan terpilih menjadi Prefect Gryffindor. Posisi prestisius itu membuat Junghwan yang sudah populer jadi semakin populer lagi. Tidak hanya itu, Junghwan juga semakin sibuk mengemban tugas prefect sehingga jarang bermain dengan kedua adik Gryffindor-nya.

Awalnya Jihoon dan Kyungmin bangga ketika kakak kesayangan mereka berhasil jadi orang nomor satu se-asrama Gryffindor. Tapi siapa sangka terpilihnya Junghwan sebagai prefect menjadi awal mula ‘keretakan’ persahabatan mereka.

Yang bicara seperti itu Jihoon, omong-omong. Jangan hiraukan sifat berlebihannya itu.

Kendati Jihoon dan Kyungmin sedih karena Junghwan semakin sibuk, sebenarnya ada juga hal-hal yang membuat mereka senang dengan Junghwan yang terpilih menjadi prefect. Di antaranya, kecipratan sejumlah hak istimewa prefect dari Junghwan.

Seperti saat ini, Jihoon dan Kyungmin masih bisa mengerjakan tugas di common room walaupun sudah masuk waktu curfew. Seharusnya jika sudah masuk waktu curfew, semua murid harus kembali ke kamar masing-masing.

'Ya udah, kalian boleh stay di common room walaupun udah curfew, asal jangan berisik!’ Junghwan pernah berpesan seperti itu.

Meski terciprat privilege, tetap saja Jihoon dan Kyungmin jadi jarang bertemu dengan si kakak. Kebiasaan mereka bermain board games di common room hingga larut malam semakin jarang dilakukan. Persis seperti malam ini, di mana hanya ada Kyungmin dan Jihoon yang mengerjakan tugas Muggle Studies di perapian common room Gryffindor tanpa kehadiran Junghwan. Dia sedang berpatroli malam, salah satu tugas tambahannya sebagai prefect untuk memastikan tidak ada murid yang berkeliaran di malam hari.

“Eh, kamu ngerasa nggak kalau Kak Junghwan makin kesini makin berubah?”

Setelah mendengar pertanyaan Jihoon barusan, Kyungmin langsung memukul meja dengan kilat mata yang berapi-api. “Ngerasa, ngerasa banget!”

“Iya kan?!” Jihoon ikut bersemangat dan tidak sadar meninggikan suaranya. Untung hanya ada mereka berdua di common room malam itu. Kalau tidak, keduanya sudah pasti akan diusir dari sana.

“Sebenernya perubahannya positif sih, dia jadi lebih sering senyum dan ketawa.” Kyungmin kembali menganalisis di antara jeda tugasnya. “Aku ikutan seneng kalau Kak Junghwan juga seneng.”

Jihoon mengangguk. Hal itu benar adanya. Junghwan yang bahagia juga menjadi kebahagiaan baginya. 

“Kayaknya dia berubah semenjak jadi prefect deh…”

Kyungmin nampak setuju dengan ucapan Jihoon. “Right. He's been acting weird since then."

Mendengar pernyataan Kyungmin, Jihoon kembali mengingat momen-momen ‘aneh’ Junghwan setelah menjabat sebagai prefect. Junghwan yang dulu pendiam, hanya bisa tertawa lepas ketika bersamanya dan Kyungmin tiba-tiba menjadi lebih sering tersenyum. Bahkan, Jihoon pernah mendapati Junghwan senyum-senyum sendiri bak orang gila ketika mereka sarapan bersama di Great Hall. Reaksi itu terjadi setelah Junghwan membaca surat yang dikirimkan oleh burung hantu peliharaannya, Ara.

Sampai hari ini, Junghwan tidak pernah mengizinkan Kyungmin dan Jihoon untuk membaca surat tersebut.

Junghwan juga pernah tiba-tiba menghilang saat mereka bertiga sedang bersantai di common room. Cukup lama Junghwan pergi hingga dia kembali lagi ke asrama saat tengah malam. Ketika Kyungmin menanyakan keberadaannya tadi, Junghwan hanya menjawab pendek, “habis berendam di kamar mandi prefect."

Jangan lupakan wajah Junghwan yang berseri-seri dan… entah imajinasi Jihoon saja atau bagaimana, dia mendapati telinga si kakak merah sekali.

Memangnya ada apa di kamar mandi prefect? Apakah airnya sepanas itu sampai sekujur tubuh kakaknya menyerupai kepiting rebus?

“Tapi iya juga, sih.” Jihoon mengangguk setuju setelah merenungkan ucapan Kyungmin tadi. “He also seems more secretive nowadays, huh.”

Kyungmin kembali menuliskan kalimat di buku tugasnya. “Precisely.”

Jihoon ikut melanjutkan tugasnya. “Pokoknya keliatan banget deh kalau dia berubah! Apalagi setiap dia baca surat kiriman dari Ara, itu udah yang paling aneh.”

“Jangan-jangan ada yang Kak Junghwan sembunyiin–”

“Loh, kalian belum tidur?”

Bagaikan rusa yang tersorot lampu mobil saat menyeberang di malam hari, Kyungmin dan Jihoon membeku di tempat. Walaupun suara Junghwan pelan, tapi eksistensinya langsung membuat kedua adik Gryffindor-nya itu mati kutu.

Terlebih Kyungmin dan Jihoon tadi sedang bergosip tentang Junghwan, duh.

“E-eh! Kak Junghwan!” Kyungmin langsung memecah keheningan itu dengan tertawa kikuk. “Baru selesai keliling, kak?”

Junghwan hanya mengedikkan bahunya lemas. “Ya… as you see,” namun senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.

Tuh, mulai. Jihoon mengintip cepat wajah si kakak dan kembali pura-pura mengerjakan tugas. Senyum-senyum sendiri lagi!

Gryffindor yang paling tua lantas mendudukkan dirinya di sofa. Sejenak, Junghwan memejamkan mata dan meregangkan badannya. Di sela-sela jari lentik Junghwan, Jihoon dapat melihat ada secarik kertas kecil yang terselip.

Tidak ada yang berbicara setelah itu. Jihoon melirik ke arah Kyungmin yang tengah fokus mengerjakan tugas Muggle Studies, sementara Junghwan tengah membuka kertas yang barusan terselip di jarinya. Baru beberapa detik kertas itu dibacanya, Junghwan sudah terkekeh pelan.

Sebenarnya, Jihoon bisa saja menanyakan hal itu kepada si kakak. Selama berteman, mereka bertiga hampir tidak pernah menyimpan rahasia satu sama lain. Namun kali ini, Junghwan seakan membangun tembok yang mengelilingi dirinya, tidak pernah menceritakan alasan di balik perubahan sikapnya itu.

“Kakak duluan ke atas ya.” Setelah melipat kembali kertasnya, Junghwan bangkit dari sofa dan mengelus kepala kedua adik Gryffindor-nya. “See you tomorrow?”

“He-em, kak.” Kyungmin menjawab asal tanpa melepaskan pandangan dari buku tugasnya. Sedangkan Jihoon memberikan jempol untuk Junghwan, tanda dia mendengarkan ucapannya tadi.

Meski Kyungmin terlihat acuh tak acuh, Jihoon tahu di dalam hatinya, Kyungmin sedang mati-matian menahan diri untuk tidak geregetan. Layaknya saudara kembar yang saling mengerti pikiran satu sama lain, keduanya menunggu Junghwan jalan menjauh lebih lama, lantas langsung bertatapan.

“Tuh, kamu liat kan tadi?” Sergah Jihoon yang langsung disusul oleh Kyungmin, “dia cekikikan lagi!”

“Dasar sinting.” Jihoon menggeleng-gelengkan kepalanya seraya terkekeh. “Sebenarnya dia kenapa sih…”

Kyungmin cuma tertawa, kemudian menggumam ‘entahlah’ dan kembali fokus menyelesaikan esai Muggle Studies-nya. 

Suara kayu bakar perapian, goresan quill dan gemerisik perkamen menjadi irama penenang di malam itu. Dua anak Gryffindor yang masih terjaga itu semakin hanyut dalam kesunyian common room hingga tidak menyadari suara derap langkah kaki dari tangga penghubung ruangan kamar.

“Oi, buruan tidur. Jangan sakit.” Junghwan kembali menyembul dari balik pintu. Dia sudah mengganti pakaian dengan piyama biru muda dan nightcap berwarna senada. “Bentar lagi ada Quidditch sama Slytherin. Kalian kan suka marah-marah sendiri kalau telat dateng ke pertandingan.”

“Oh iya! Quidditch!” Kyungmin menepuk dahinya. “Bentar kak, tanggung sedikit lagi!”

Jihoon mengintip esai Kyungmin terkait benda keseharian muggle beserta kegunaannya. Esai tersebut harus ditulis sepanjang satu perkamen, namun tulisan Kyungmin baru berjumlah empat paragraf.

Dikit lagi apanya, setengah aja belum…

Sebagai seorang half-blood, Jihoon cukup beruntung bisa mengetahui kedua sisi dunia muggle dan wizard. Dia sendiri kerap mengunjungi rumah neneknya di Kanada saat liburan sekolah. Jadi ya, tugas esai tentang barang-barang muggle rasanya cukup gampang bagi Jihoon. Toh, beberapa barang yang menjadi topik esai kerap digunakannya saat mengunjungi rumah nenek.

“Hah? Rubber duck?” Kyungmin mengernyitkan dahi ketika melihat pertanyaan esai dan menoleh ke Jihoon. “Rubber duck itu apa, kak?”

Jihoon menatapnya malas. “Hiburan waktu mandi.”

 

 

 

 

Kalau Jihoon pikir-pikir lagi, Junghwan mulai berubah saat masuk tahun ajaran baru, lebih tepatnya setelah libur musim dingin dan Natal.

Jihoon selalu menantikan libur akhir tahun. Tidak ada yang lebih hangat dibandingkan berkumpul bersama keluarga, meminum cokelat panas dan bertukar hadiah. Dia juga selalu mengirimkan surat ucapan Natal untuk sahabat-sahabat Hogwarts-nya. Jihoon masih ingat saat mengirimkan surat kepada Kyungmin, Hanjin, Youngjae, dan terutama kepada Junghwan.

Berbeda dengannya dan Kyungmin, Junghwan memilih untuk tidak pulang pada libur Natal kemarin. Alasan klise sebenarnya, Junghwan berniat menggunakan waktunya di Hogwarts untuk persiapan O.W.L.

“Supaya lebih fokus,” jelas Junghwan.

Jihoon tadinya hendak protes, tapi dia teringat bahwa kakak Gryffindor-nya itu akan memasuki tahun kelima, tahun di mana murid Hogwarts harus fokus menghadapi sejumlah ujian dan persiapan karir.

Berbicara tentang karir, Junghwan merupakan salah satu sahabatnya yang paling tenggang hati, attentive dan berdedikasi. Jihoon tahu betul akan hal itu. Di balik muka datar atau perangai kikuknya, Junghwan adalah seseorang yang paling peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Maka tidak heran apabila kakak Gryffindor-nya itu bercita-cita menjadi healer, kurang lebih sama seperti pekerjaan dokter di dunia muggle. Bahkan Junghwan sampai merelakan hari libur untuk belajar demi mengejar mimpinya itu.

Kalau sudah begitu, Jihoon bisa apa?

Andaikan Ara, burung hantu peliharaan Junghwan cukup kuat untuk mengantar seloyang besar kue buatan ibunya, Jihoon pasti akan mengirimkan kue itu ke Hogwarts untuk Junghwan. Setidaknya meskipun Junghwan tidak pulang, masakan rumah bisa mengobati sedikit kerinduannya akan rumah.

Tunggu, kembali ke Junghwan.

Sebenarnya selain perilaku Junghwan, cukup banyak hal yang berubah ketika Jihoon memulai tahun keempatnya di Hogwarts. Menurutnya, ada beberapa peristiwa remarkable yang terjadi di awal semester ini: Jihoon dapat konsol gim terbaru dari orang tuanya, Junghwan yang terpilih menjadi prefect Gryffindor, begitupun teman baiknya Youngjae yang menjadi prefect Ravenclaw, penampakan giant squid di Great Lake Hogwarts dan…

Kim Dohoon yang menggantikan Hwang Hyunjin sebagai kapten Quidditch Slytherin terbaru.

Kim Dohoon. Mendengar namanya saja sudah membuat darah Jihoon naik ke ubun-ubun.

Sejak tahun pertamanya di Hogwarts, Jihoon sebisa mungkin menghindari eksistensi Kim Dohoon. Selalu saja ada insiden menyebalkan antara dia dan si Slytherin itu. Sumpah demi apapun, Jihoon bahkan sedang diam dan seorang Kim Dohoon tiba-tiba memutuskan untuk mengusiknya.

Meski Jihoon ingin, sebenarnya agak sulit untuk menghindari Dohoon. Secara, dia dan Dohoon sama-sama berada di tingkat empat sehingga mereka mau tidak mau harus berpapasan ketika jadwal kelas gabungan. Untunglah Dohoon biasa mengambil bangku di bagian belakang kelas bersama anak-anak Slytherin lain, berbeda dengan Jihoon yang kerap duduk di bagian tengah bersama Kyungmin dan Hanjin, sahabatnya dari Hufflepuff.

Kalau kalian bertanya alasan Jihoon membenci Kim Dohoon, dia pasti bisa menjawabnya lebih panjang dari esai History of Magic. Tapi kalau dirangkum, ada dua poin besar yang jadi penyebab utama:

Pertama, Kim Dohoon merupakan kapten Quidditch baru untuk Slytherin.

Jihoon happens to like Quidditch very much. Bisa dibilang, dia adalah die-hard fans olahraga tersebut. Saking cintanya, Jihoon selalu update perkembangan Quidditch di sekolah maupun dunia internasional. Jihoon mungkin tidak hafal bahan-bahan ramuan Shrinking Solution, namun Jihoon hafal nama-nama anggota tim nasional Quidditch dari tahun ke tahun.

Kenapa dari sekian banyak olahraga di dunia, Kim Dohoon harus menjadi kapten untuk olahraga yang Jihoon sukai?

Maka ketika tahu bahwa dia harus melihat wajah Dohoon setiap ingin menonton pertandingan olahraga favoritnya, Jihoon seperti kebakaran janggut.

“Duhhh kenapa nggak Kak Ryujin aja sih?!” Jihoon pernah menggerutu kepada Junghwan dan Kyungmin. Si kakak tertawa lebar, sedangkan si adik mengangguk-angguk setuju. “Padahal Kak Ryujin keren pas jadi seeker!

“Katanya Kak Ryujin mau fokus belajar, makanya ngundurin diri juga kayak Kak Hyunjin,” ujar Kyungmin. “Aku juga kalau jadi Kak Ryujin bakal milih pelajaran, sih. Sixth year is such a nightmare.

“Kim Dohoon juga keren kok.” Junghwan tiba-tiba berucap santai.

Dua pasang mata langsung melirik tajam Junghwan.

“Loh, bener!” Junghwan lantas memasang posisi defensif. “Let’s be honest here, kemarin Slytherin langsung menang habis dia jadi kapten. Artinya apa?”

Jihoon memasang wajah sebal. Bukan apa-apa, tapi ucapan Junghwan memang benar adanya. Tim Slytherin semakin kuat semenjak Kim Dohoon jadi kapten Quidditch. Facts are hard pill to swallow, indeed.

Oh, dan alasan kedua Jihoon membenci Kim Dohoon adalah… because Kim Dohoon himself is a Slytherin.

Kuno, memang, kalau seseorang masih meyakini bahwa Gryffindor dan Slytherin harus saling membenci. Nampaknya hal itu sudah tidak berlaku di zaman sekarang (apalagi setelah you-know-who kalah dalam peperangan). Aturan menjaga jarak antar asrama sudah tidak seketat dulu, terlihat dari banyaknya pertemanan atau bahkan pernikahan beda asrama.

Tapi hal itu tetap tidak berlaku bagi Jihoon; karena sumpah demi The Bloody Baron, Kim Dohoon memang semenyebalkan itu. Jihoon akan selalu menjaga jarak dengan si Slytherin.

Dan Kim Dohoon yang kebetulan merupakan seorang Slytherin menambah ketidaksukaan Jihoon terhadap asrama hijau.

Satu hal yang pasti adalah Jihoon membenci Slytherin. His resentment of Slytherin might be connected to… his older sister’s death.

Yah, sudahlah. Jihoon tidak ingin membahasnya lagi.

 

 

 

 

Kalian tahu kan, kalau lebah tidak akan menyerang apabila tidak diganggu duluan?

Jihoon sendiri percaya dan mencoba hidup dengan mengikuti prinsip itu. Dia berusaha untuk menjadi anak yang taat peraturan, mencari teman sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menghindari konflik.

Tapi momen di mana dia bertemu Kim Dohoon? Prinsip Jihoon tadi langsung hancur seketika.

All the beef he has with Kim Dohoon starts in their first year.

Waktu itu, anak-anak tahun pertama masih polos dan semangat mengikuti pelajaran Hogwarts. Jihoon pun demikian; dia antusias melihat semua hal yang berkaitan dengan sekolah barunya. Jihoon berdebar saat menabrakkan dirinya di Platform 9¾, Jihoon terpana saat pertama kali melihat Kastel Hogwarts kala menaiki perahu, dan Jihoon gembira ketika Sorting Hat memasukkannya ke Gryffindor.

Welcoming Feast sudah dimulai, namun Jihoon mendapati dirinya masih malu-malu untuk membuka percakapan dengan anak first-year lain. Untung saja seorang anak Gryffindor di sebelah Jihoon lebih dulu mengajaknya berbicara saat makan malam.

“Lee Kyungmin,” dia menawarkan tangannya. Jihoon tersenyum lebar dan menjabat tangan Lee Kyungmin, anak Gryffindor yang kelak menjadi sahabatnya.

Kyungmin mengingatkan Jihoon pada binatang meerkat dengan energi golden retriever. Secara alami, bak dua magnet yang berseberangan, mereka dekat dan tidak terpisahkan.

Pada akhirnya, Jihoon dan Kyungmin tentu berkenalan dengan anak-anak Gryffindor lain. Hal itu menambah keberanian Jihoon untuk berteman dengan first-years di luar asrama Gryffindor. Bahkan, Jihoon bisa bilang salah satu sahabat terdekatnya dan Kyungmin berasal dari asrama lain.

Jihoon ingat kapan dia dan Kyungmin pertama kali bertemu Hanjin: flying class yang diampu oleh Madam Harriet. Flying class adalah kelas yang mempelajari bagaimana cara menggunakan sapu terbang. Hal itu menjadi kemampuan dasar seorang wizard, sehingga diwajibkan untuk anak-anak first-year tanpa terkecuali.

Yay, flying class!” Jihoon bersorak kecil. “I was looking forward to this class the most.” 

Di sebelahnya, Kyungmin tertawa dan ikut bercerita tentang beberapa merk terbaru sapu terbang yang pernah dia lihat di toko.

Ketika memasuki selasar North Courtyard, di sanalah Jihoon dan Kyungmin menemukan seorang Hufflepuff yang terlihat kebingungan. Kalau dilihat dari seragamnya yang lengkap dan rapi, raut mukanya yang kebingungan, he must be a first-year. Belum lagi Hufflepuff tersebut sedang bersusah payah membawa dua sapu terbang yang lebih tinggi dari badannya sendiri. Dia terlihat sendirian dan celingak-celinguk.

Jihoon memberanikan diri untuk menyapanya dan menawarkan bantuan. Sesuai dugaannya, anak Hufflepuff itu adalah seorang first-year yang juga hendak mengikuti flying class. Namanya Hanjin; manis, pemalu, tapi lama-lama Jihoon bisa melihat kalau Hanjin adalah anak yang hangat, ceria, dan membuat siapapun ingin melindunginya.

“Makasih banyak ya!” Hanjin tersenyum kepada Jihoon dan Kyungmin yang membantunya membawa sapu terbang. “Tadi aku diminta tolong sama Madam Harriet buat ambil sapu terbang lagi. Tapi karena Hogwarts besar banget, aku jadi nyasar…”

“Nggak apa-apa, wajar kalau masih suka nyasar,” celetuk Kyungmin. “Kita kan masih first-year.

Ketiganya berhasil sampai di Training Grounds, sebuah lapangan luas untuk kelas yang membutuhkan praktikum. Hampir semua murid tahun pertama sudah ada di sana dan berkumpul sesuai asramanya masing-masing. Madam Harriet yang berdiri di depan mereka sedang menjelaskan keamanan saat menggunakan sapu terbang. Jihoon, Kyungmin dan Hanjin segera menaruh dua sapu terbang yang mereka bawa ke sebelah Madam Harriet.

“Thank you, boys,” ucapnya pada ketiga muridnya dan kembali melanjutkan penjelasan. Jihoon, Kyungmin dan Hanjin lantas bergabung dengan para murid. Ketiganya berdiri berdekatan dan memperhatikan demonstrasi Madam Harriet.

“Okay, that should be enough, so let’s get started!” Madam Harriet meniup peluitnya. Di sampingnya sudah ada beberapa sapu terbang yang tergeletak di tanah. “I will call one student from each house to try on the broomstick. Use one of these and try to fly without any injury.”

Madam Harriet secara acak memanggil empat murid dari masing-masing asrama secara bergantian. Berhubung tidak semua murid pernah mengendarai broomstick, flying class hari itu tidak sepenuhnya bebas dari insiden. Untung hanya beberapa murid yang terluka ringan seperti mendapat goresan karena pendaratan yang kurang mulus.

Until Madam Harriet calls one name that turns Jihoon’s entire school life upside down.

“Okay, for Slytherin…” Madam Harriet memindai seluruh murid dari asrama hijau, “Mr. Kim! Dohoon Kim!”

Seorang anak laki-laki maju ke depan dengan percaya diri. Dia segera memposisikan dirinya di dekat broomstick.

“Oh, Kak Dohoon!” Hanjin yang berdiri di sebelah Jihoon dan Kyungmin langsung berbisik semangat. Kedua sahabat Gryffindor-nya memberikan tatapan bingung.

“Kamu kenal dia?” Tanya Jihoon.

“Yap, dia kakak sepupu aku.” Hanjin bercerita riang. “Being a Quidditch captain is one of his biggest dream, jadi harusnya dia bisa terbang sih.”

Jihoon dan Kyungmin membulatkan bibir dan bergumam kagum. Keduanya mengangguk paham.

Kim Dohoon. Jihoon kembali memperhatikan Slytherin itu dari jauh. Apabila memang dia bercita-cita menjadi kapten Quidditch, maka siapapun bisa melihat tampilan atlet darinya: dia tinggi, pundaknya tegap dan penuh percaya diri. Belum lagi bentuk rahang yang tajam dan kulit sehatnya bak tercium sinar matahari. Jihoon sebagai penggemar Quidditch bisa melihat kemungkinan itu pada seorang Kim Dohoon.

Jihoon kembali memperhatikan Madam Harriet. Wanita itu memanggil murid lain dari Ravenclaw dan Hufflepuff.

And then… Gryffindor… Mr. Han!” Madam Harriet akhirnya menyebut nama Jihoon. “Come, come, prepare yourself.”

Jihoon tersenyum lebar saat namanya dipanggil. Terbang dengan broomstick tentu bukanlah hal yang bisa Jihoon coba di dunia muggle, sehingga ini akan menjadi pengalaman pertamanya. Kyungmin dan Hanjin yang sebelumnya sudah mencoba terbang lantas memberikan ucapan semangat.

“Hati-hati pas mendaratnya.” Kyungmin mengingatkan kembali dan Jihoon mengangguk cepat. Dia bergegas maju ke depan dan berdiri di dekat salah satu broomstick. Setelah empat murid dari masing-masing asrama maju ke depan, Madam Harriet kembali meniup peluitnya untuk mengambil atensi.

“Oke, pertama-tama, summon your broom.” Wanita tersebut membuat gestur kepada Jihoon dan ketiga murid lainnya untuk mencoba ‘memanggil’ sapu terbang mereka. “Sama seperti yang tadi, just put your right hand above your broom and say ‘up’. Don’t forget to say it with feelings!

Keempat anak tersebut mencoba mengikuti apa yang diperintahkan Madam Harriet. Jihoon sendiri terlalu bersemangat dan tidak sadar berseru kencang untuk memanggil sapu terbangnya. Untung saja perasaan menggebu-gebu itu membuahkan hasil; sapu terbang Jihoon yang tadinya tergeletak di tanah langsung bergerak naik. Jihoon segera menangkap gagang sapu tersebut dan tertawa senang. Sama halnya dengan ketiga anak lain yang berhasil memanggil sapu terbang masing-masing tanpa kesulitan yang berarti.

“Wow, aren't these guys prodigies? Very well, very well.” Madam Harriet tersenyum. “Let’s get into the third step, mount your broom. Be careful, the end of your broom might be slippery which can be dangerous. Now, put one of your legs over… no no no, Mr. Evans, that’s not how you mount your broom!”

Jihoon melirik ke arah Madam Harriet yang tengah membetulkan posisi murid dari Ravenclaw. Setelah mengamati posisi yang Madam Harriet ajarkan, Jihoon perlahan memindahkan satu kaki ke sisi lain sapu terbangnya. Jihoon sudah siap dengan sapu terbangnya dan tinggal menunggu aba-aba lanjutan.

… sebelum Jihoon mendengar decakan dari sebelahnya.  

“Posisi tangan kamu salah.”

Jihoon segera menengok ke kanan. Di sana, Kim Dohoon tengah memperhatikan kedua tangannya yang asal memegang sapu terbang.

“Oh! Oke.” Jihoon melepas satu tangannya dari gagang sapu. “How to do it properly, then?”

“Just watch my hands, duh.” Kim Dohoon mengedikkan dagu ke arah tangannya. “Pegang dari arah bawah, jangan dipelintir dari atas.” 

Jihoon merengutkan dahi ketika melihat posisi tangan Kim Dohoon. Betul saja, dua tangan Jihoon masih dalam posisi yang aneh sehingga tidak sama dengan tangan si Slytherin. Jihoon segera membenahi posisi tangannya, sebisa mungkin mencontoh Kim Dohoon.

Tepat setelah Jihoon selesai menata ulang kedua tangannya, Madam Harriet kembali.

Now go back into the lesson — oh, well done, Mr. Kim, Mr. Han, that is an excellent way to grip your broomsticks!”

Jihoon berseri-seri mendengar pujian Madam Harriet barusan. Di sebelahnya, Kim Dohoon hanya bergumam ‘yes’.

“Thank you for telling me.” Ketika Madam Harriet sedang menjelaskan cara-cara memegang sapu terbang untuk grip yang kokoh, Jihoon tidak lupa berbisik kepada Kim Dohoon untuk berterima kasih. 

Bukan ucapan baik yang Jihoon terima sebagai balasan, Kim Dohoon malah memalingkan wajahnya. 

Well, that was… unexpected. Jihoon mengedikkan bahu dan kembali memperhatikan Madam Harriet. Si Gryffindor berusaha mengenyahkan perasaan bingung di dalam hatinya.

“The next thing we will do is liftoff and landing. I want each of you to kick off from the ground, hard. Keep your broom steady, hover for a moment, then lean forward slightly and touch back down.” Madam Harriet kembali memperhatikan keempat murid di depannya. “If that goes well, kita bisa coba terbang lebih tinggi lagi dengan rute berputar mengelilingi Training Grounds.”

Inilah yang Jihoon tunggu-tunggu: terbang menggunakan broomstick. Dia terus mengingatkan diri sendiri bahwa hal terpenting dari belajar terbang adalah keamanan. Let’s try not to be injured, Jihoon menggumam dalam hati.

“On my whistle.” Madam Harriet bersiap membunyikan peluitnya. “Three, two, one!”

Jihoon langsung menghentakkan kakinya sebisa mungkin dari tanah. Setelahnya, Jihoon bisa merasakan tubuhnya terangkat ke atas, sedikit demi sedikit. Dia tertawa gembira saat melihat kakinya yang tidak menyentuh tanah karena berhasil terbang menggunakan broomstick. Sesuai dengan perkataan Madam Harriet tadi, Jihoon mencoba untuk menyeimbangkan tubuh agar broomstick miliknya stabil. 

Sama seperti Jihoon, ketiga murid lainnya juga sukses melayangkan sapu terbangnya di udara. Selang beberapa menit, Madam Harriet menyuruh keempat muridnya untuk kembali mendarat di tanah. Jihoon sedikit tersandung saat mendarat, namun dia sempat melihat Kim Dohoon berhasil mendarat dengan mulus.

“Great! As I said before, now you may try to fly higher around Training Grounds. Remember to keep it safe. One funny trick and you’ll be expelled from Hogwarts.”

Jihoon mengangguk patuh mendengar ucapan Madam Harriet tadi. Dia kembali bersiap terbang untuk kedua kalinya. Sewaktu Madam Harriet membunyikan peluit, Jihoon lantas menghentakkan kakinya dan kembali terbang. Kali ini, Jihoon mengarahkan sapu terbangnya lebih tinggi hingga sejajar dengan lantai tiga Kastel Hogwarts. Si Gryffindor lantas terdiam sebentar karena terpukau dengan pemandangan di sekitarnya.

“Wow.” Jihoon tertawa senang. “Wow!”

Dari tempatnya terbang, terhampar pemandangan Hogwarts berupa kastel cantik, danau luas hingga undakan bukit kecil. Waktu itu masih bulan September, sehingga beberapa spot Hogwarts dipenuhi oleh daun-daun kering berwarna kuning. Meskipun Jihoon sudah sering melihat pemandangan musim gugur saat berkunjung ke rumah nenek, entah mengapa pemandangan di depan matanya membuat Jihoon senang berkali-kali lipat.

Dengan hati-hati, Jihoon mengendarai sapu terbangnya dengan rute mengelilingi Training Grounds, persis seperti perintah Madam Harriet. Jihoon juga melihat ketiga murid Hogwarts lainnya, termasuk Kim Dohoon, yang tengah mencoba mengendalikan sapu terbangnya dan mengitari rute yang sama. Dari atas sini, Jihoon bisa melihat Madam Harriet yang mengawasi mereka, serta Kyungmin dan Hanjin yang melambaikan tangan ke arahnya.

Jihoon tidak pernah merasa sesenang ini. Si Gryffindor kembali mengitari Training Ground sambil bersenandung ‘yoohoo!’ di sela-sela putarannya. Sebut dia berlebihan, tapi pengalaman pertama Jihoon terbang menggunakan broomstick akan jadi salah satu yang paling dia kenang dalam hidupnya.

Oh, tentu saja Jihoon akan mengingat pengalaman terbang ini selama hidupnya.

Jihoon masih merasa ekstatik sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitar. Kejadian yang dialami Jihoon berlangsung cepat sekali; tiba-tiba dari arah belakang, Kim Dohoon menyenggol sapunya dan melesat menjauh. Jihoon yang sedang lengah pun tidak siap dengan guncangan mendadak itu dan akhirnya terpental bersama sapu terbangnya. Jihoon terguling-guling di udara selama beberapa saat, sebelum akhirnya terjatuh di tanah Training Grounds.

“AAAAAAA!!!”

Semua orang bisa mendengar suara ‘bruk!!’ yang keras dan terdengar menyakitkan itu. Jihoon mengaduh ketika badannya bertabrakan dengan tanah Training Grounds, bahkan dia sampai tidak bisa bergerak dan terkapar pasrah di sana. Dari kejauhan, Jihoon bisa mendengar Kyungmin dan Hanjin yang memanggil namanya.

“Everyone, get down!” Madam Harriet memerintahkan tiga muridnya yang masih mengudara untuk turun. Setelah memastikan semua muridnya aman, Madam Harriet mendekati Jihoon yang masih berbaring kesakitan. Kyungmin, Hanjin dan beberapa murid lain sudah berdiri mengerubungi Jihoon.

“Jihoon!” Hanjin berjongkok di dekat si Gryffindor. “Yang mana yang sakit?”

“Semua…” Jihoon meringis. Nampaknya Jihoon mengalami cedera di lengan kanan, mengingat bagian itulah yang menyentuh tanah lebih dulu.

“Mr. Park and I will take Mr. Han to the hospital wing, Madam.” Tidak tahan melihat sahabatnya meringis kesakitan, Kyungmin mengambil inisiatif tersebut. “We already did our flying practice.”

Setelah menghela napas panjang, Madam Harriet memperbolehkan keduanya membawa Jihoon ke hospital wing. “Make sure you go straight to the hospital wing, okay, boys? Ask Madam Poma to help Mr. Han.” Wanita itu lantas membubarkan murid-murid yang mengerubungi Jihoon. “Everybody make a way!”

Kyungmin dan Hanjin lantas membantu Jihoon untuk duduk terlebih dahulu. Ketika duduk, Jihoon dapat mendengar suara retakan tulangnya sendiri. Jatuh dari ketinggian rupanya benar-benar meremukkan seluruh badan Jihoon.

Speaking of falling…

Jihoon yakin bahwa Kim Dohoon menyenggol sapu terbangnya saat mengudara sebelum dia kehilangan keseimbangan. Keyakinan itu diperkuat dengan Jihoon yang melihat sekelebat dasi berwarna hijau-perak, warna khas Slytherin. Selain Kim Dohoon, tentu tidak ada lagi Slytherin yang terbang bersamanya tadi.

Jihoon tidak ingin apa-apa dari Kim Dohoon; permintaan maaf yang tulus sudah cukup baginya. Si Gryffindor tidak suka diperlakukan semena-mena seperti ini. Dia harus mengonfrontasi Kim Dohoon terlebih dahulu, menanyakan apa maksud dari tindakan menyenggolnya barusan.

“Tunggu—” Jihoon menahan Kyungmin dan Hanjin, lantas segera menengok kesana kemari untuk mencari Kim Dohoon.

Dan betapa geramnya Jihoon ketika dia menemukan sosok Kim Dohoon dari kejauhan.

Jihoon menyesal telah mencari Kim Dohoon, karena dari kejauhan, Kim Dohoon tengah berkumpul bersama teman-teman Slytherin-nya yang lain. Dia hanya memasang muka datar, kemudian tertawa bersama teman-temannya tanpa merasa bersalah sama sekali.

Dan seakan belum cukup menyebalkan, Kim Dohoon melambaikan tangan ke arah Jihoon dengan santai.

Jihoon langsung merasakan seluruh darahnya naik ke ubun-ubun. “What the he—”

“Jihoon!” Suara Hanjin menyadarkannya kembali. “Kita harus ke hospital wing, sekarang.”

Belum sempat meneriakkan apa-apa kepada Kim Dohoon, Jihoon sudah terlanjur dipapah Kyungmin dan Hanjin. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju hospital wing.

Jihoon masih merasa dongkol dengan ekspresi Kim Dohoon barusan; Jihoon benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan si Slytherin. Padahal Jihoon baru pertama kali bertemu dengannya, hanya berbincang sedikit, tapi kenapa tiba-tiba Kim Dohoon memilih untuk mencelakainya?

Awalnya Jihoon tidak mau termakan stereotip bahwa orang-orang Slytherin adalah yang terburuk, tapi ternyata Jihoon mengalaminya sendiri. Attacking someone without any particular reason? Slytherin indeed is a worst house.

Semenjak hari itu, Jihoon bersumpah sebisa mungkin untuk tidak terlibat dengan murid-murid asrama hijau, terutama dengan murid laki-laki bernama Kim Dohoon.

Belum ada seminggu belajar di Hogwarts, Jihoon sudah merasakan betapa buruknya rasa ramuan Skele-Gro. Ketika menelan ramuan itu, Jihoon merasakan mulut dan tenggorokannya terbakar. Belum lagi dia harus menginap di hospital wing selama dua malam untuk menunggu proses penyembuhan tulang lengannya.

Selama dua malam itu, Jihoon sangat tersiksa, sebab proses menumbuhkan tulang memakan waktu yang lama dan terasa menyakitkan. Untung saja Hanjin dan Kyungmin kerap menjenguknya di sela-sela waktu istirahat, jadi Jihoon sedikit terhibur.

Sekarang mengerti kan, kenapa Jihoon membenci Kim Dohoon sejak tahun pertamanya?

 

 

Notes:

hi hi!!! to celebrate shinyu’s bday, i decided to write about two things that i love: tws and wizarding world!

ini pertama kalinya aku unggah fic di ao3, jadi pasti banyak kekurangan dan aku minta maaf akan hal itu yaa. but i really hope you enjoy reading it as much as i enjoy writing it! it's still one chap, so many chaps still on the go!

i also would love to know what you think. feel free to discuss anything in the comment section💙

until then, please be healthy and happy, take care of yourself!💙💙💙