Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-01-12
Words:
1,170
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
65
Bookmarks:
3
Hits:
2,185

Flight Affair

Summary:

Senior pilot Ushijima wakatoshi, dan hubungannya dengan senior flight attendant oikawa tooru

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari senin, kesibukan di bandara Narita lebih padat dari biasanya. Mengingat ini adalah hari terakhir sebelum liburan panjang, jadi banyak orang memilih naik pesawat untuk pulang.

 

Pilot Ushijima Wakatoshi, yang sudah meniti karir kurang lebih 7 tahun dan sudah menjadi senior pilot di maskapai tempatnya bekerja, tentu disibukkan dengan penerbangan yang luar biasa padat. Bayangkan saja 20 jam terbang dalam sepekan ini—ia berjanji akan langsung mengajukan cuti setelah semua pekerjaannya selesai.

 

"Selamat siang capt!"

"Hm. Selamat siang."

 

Ushijima dikenal pribadi yang—sedikit—dingin di kalangan pilot lain. Bukan tanpa alasan, bimbingan dari seniornya dulu lumayan membuat dirinya disiplin. Meskipun dulu dirinya ditempa habis-habisan, Ushijima masih punya hati untuk tidak mewariskan kepada juniornya.

 

Namun tetap saja, karyawan mana yang tidak segan jika Ushijima lewat dihadapan mereka.

 

Dengan sikap tegas dan jam terbang tinggi, tentu namanya menjadi populer. Namun bukan hanya itu. Tubuh tegapnya yang dibalut jas dan baret, serta wajahnya yang tampan, membuat tak sedikit pramugari yang terpesona.

 

Di ketinggian 35.000 kaki ini, Ushijima dibantu oleh Co-pilot muda, Kageyama Tobio untuk mengemudikan boeing 769 penerbangan Tokyo - Okinawa. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 3 jam.

 

"Capt, mau makan apa?" Tanya Kageyama. Saat ini pesawat sudah dalam mode auto pilot, sehingga mereka bisa sedikit santai.

 

"Apa saja. Ramen juga boleh."

 

"Oke. Aku telpon kak Tooru kalo gitu." Baru saja Kageyama akan mengangkat teleponnya, Ushijima menginterupsi cepat.

 

"Jangan."

 

"Hah?"

 

"Jangan suruh pramugari senior, tanggung jawab utamanya mengurus penumpang. Masih ada crew yang lain kan." Ushijima bangkit dari seatnya.

 

"Saya tinggal ke toilet sebentar bisa?"

 

"Bisa Capt!"

 

Lantas Ushijima langsung membuka ruangan kokpit untuk berjalan ke arah toilet belakang. Melewati kabin penumpang—beberapa dari mereka ada yang menyapa. Tentunya sebagai Pilot yang baik Ushijima  harus tersenyum balik kepada mereka.

 

Dikarenakan penerbangan masih tergolong pagi, tidak banyak penumpang yang mengisi seat. Hanya 40% dari kapasitas pesawat.

 

Dua menit berada di dalam toilet, Ushijima mendengar dua kali ketukan dari luar. Lantas dibukanya pintu toilet dari dalam, mempersilahkan seorang pramugari untuk masuk.

 

“Kenapa sih mas nyuruh aku kesini?”

 

“Sstt, jangan berisik Tooru.” Ushijima langsung menyatukan kedua bibir mereka. Tangan kanannya merengkuh pinggang si cantik, sedangkan tangan kirinya bergerilnya memasuki rok seragam milik pramugari di depannya.

 

Oikawa Tooru, pramugari senior Japan Airlines yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun ini memang sering berada satu penerbangan dengan Pilot Ushijima.

 

Bukannya sengaja, maskapai memang terlalu sering memasangkan mereka. Beberapa kali terlibat dalam satu lokasi pekerjaan, membuat mereka saling suka.

 

“Nghh..” Oikawa bisa merasakan bagian selatan kekasihnya yang mengeras. Karena tidak ingin membuang waktu, lantas dibukanya kancing seragam miliknya. Menyingkap branya keatas hingga memperlihatkan payudara miliknya yang ujungnya mengeras.

 

“Mas jangan cium di leher, disini aja.”

 

Ushijima menurut. Diarahkannya bibirnya ke payudara Oikawa. Putingnya dikulum, sesekali dihisap. Sedangkan yang satunya diremas kuat oleh Ushijima.

 

Berada di ruangan sempit dengan dirinya yang dikukung oleh prianya membuat Oikawa nafu semakin memuncak. Kedua dadanya dimainkan sedemikian rupa—karena dirinya yang tak mengijinkan Ushijima memberi tanda di leher, tentu saja kedua dadanya menjadi korban.

 

“Hurry, we only have 15 minutes left.” Oikawa yang sadar jika dirinya tak bisa berlama-lama langsung membuka resleting roknya.

 

“Shit, it’s not enough sayang. I wanna lick your cunt so bad.” Ushijima merengut. Jarang-jarang melihat Pilot senior 32 tahun itu merajuk.

 

Yang diajak bicara hanya terkikik pelan. “Masih ada waktu 7 jam di Okinawa ok? I swear this body will belongs to you. I’m all yours, Mas.” Hibur Oikawa.

 

Oikawa berbalik ke belakang. Karena tidak mau roknya kusut, wanita cantik itu lantas melepaskan roknya dan menggantung di hok pintu.

 

Ushijima mendorong penisnya masuk. Pelan, agar tak menimbulkan pekikan dari si manis. Begitu miliknya sudah tertanam semua, Ushijima mulai memaju mundurkan miliknya.

 

“Ngh—do it faster.” Bisik Oikawa. Ushijima menaikkan temponya menjadi sedikit lebih cepat. Tubuh mereka terhentak, Ushijima meraih tengkuk si manis untuk menoleh ke belakang. Bibir mereka disatukan kembali dalam lumatan panas. Saling memagut, dan bertukar saliva. Kedua tangan Ushijima menangkup payudara si manis galam genggamannya.

 

Tiga titik sensitifnya dimanjakan oleh prianya membuat Oikawa semakin dekat dengan pelepasan. Vaginanya mengetat. Dindingnya memijat penis Ushijima. Sedang pria yang menusuknya dari belakang ini memperlambat temponya. Lambat, namun penisnya semakin mentok ke dalam.

 

“Hahh.. I’m going cum.” Bisi Ushijima di telinga Oikawa.

 

“Umhh.. i—inside me please. Aku gak mau jadi bau sperma.” Rengek Oikawa.

 

Beberapa tusukan yang intens dan pijatan dinding sempit Oikawa membuat putih semakin dekat. Baik Oikawa maupun Ushijima sama-sama mendongakkan kepalanya. Namun tangan si dominan menutup mulut si manis—mencegah teriakan kekasihnya jika tiba-tiba keluar.

 

Lima menit setelahnya Ushijima menembakkan spermanya jauh ke dalam vagina Oikawa. Sedangkan si manis menahan desahannya mati-matian. Biasanya dia akan berteriak—karena tidak tahan dengan sensasi hangat yang memenuhi perutnya. Namun dirinya tak mempunyai opsi lain.

 

Daripada mereka kepergok oleh penumpang lain dan berakhir viral di media sosial, lebih baik tersiksa karena orgasme yang tak seperti biasanya.

 

“Kamu yakin bisa nahan ini sampai landing?” Bisik Ushijima. Tangannya yang sudah meraih tissue untuk membersihkan vagina Oikawa yang kotor karena spermanya yang berceceran.

 

Oikawa mengangguk. “Aku bawa pembalut, jangan dikeluarin spermanya.”

 

Tepat setelah mereka selesai, dua ketukan terdengar lagi di balik pintu toilet. Jangan kira mereka bodoh. Ushijuma sudah menyiapkan ini, bahkan bekerja sama dengan sahabat Oikawa—Miya Atsumu untuk standby di dekat toilet belakang kabin.

 

Jika ada penumpang yang akan pergi ke toilet, pramugari itu akan beralasan jika toilet sedang tidak bisa dipakai. Sehingga mereka harus berjalan ke depan untuk memakai toilet kelas bisnis.

 

Jangan heran, hal seperti ini bukan hal tabu lagi bagi dunia penerbangan. Rekan pilot Ushijima—Aone, bahkan melakukan sex di hampir setiap penerbangan dengan pramugari yang berbeda-beda.

 

Terkadang bukan Pilot yang menginginkannya, tak sedikit pramugari yang melebarkan kaki mereka sendii untuk disetubuhi para pilot. Ada udang di balik batu tentu saja. Agar karir mereka tetap mulus, mereka harus mau melayani pilot.

 

Setelah mendapat sinyal dari Atsumu, mereka segera berberes. Ushijima keluar terlebih dahulu hingga satu menit kemudian disusul oleh Oikawa.

 

“Dasar lonte. Spermanya Captain Ushijima nempel tuh di paha loe.” Canda Atsumu.

 

“Apa sih enggak ya anjing. Udah clean kok semuanya.” Dengus Oikawa kesal.

 

Ketika Ushijima sampai di ruangan kokpit, Kageyama terlihat pucat pasi.

 

“Kenapa Kageyama? Ada masalah?”

 

“Saya hampir masuk ke awan cumulonimbus Capt. Nyaris banget, beberapa meter baru kelihatan, untung masih sempet naik ketinggian.” Ucapnya sedikit gemetar.

 

Ushijima terkekeh. “Kamu harus sigap kalau melewati badai. Ini bukan penerbangan pertama kamu Kageyama. Tapi saya salut kamu bisa menghitung kemungkinan agar tidak masuk ke awan itu.”

 

“Kedepannya jangan telat sadar. Kamu cek radar, jangan terlalu mepet untuk ambil resiko naik ketinggian. Pesawat kita bisa gak siap, sama saja bisa terjadi turbulensi nanti.”

 

Kageyama mengangguk. Yang disukainya dari Captain Ushijima adalah karena beliau memang tidak pernah memarahi—selagi bukan kondisi emergency. Jika dirinya salah, akan langsung dibimbing. Sangat jarang ada senior yang seperti ini.

 

Tersisa satu jam perjalanan menuju Okinawa, dirinya sudah menyiapkan penginapan paling bagus untuk dirinya dan wanitanya. Dan dirinya sangat tidak sabar untuk itu.

 

Mengabaikan jika Oikawa sudah memiliki suami.

 

Mengabaikan jika dirinya juga long distance relationship dengan kekasihnya yang lain.

 

Namun mereka tidak peduli, baik keduanya akan meneruskan hubungan terlarang ini meskipun terhalang oleh orang lain

Notes:

Comeback lagi dengan work kedua di AO3.
Jangan lupa feedbacknya.

Find my other works :

X / Wattpad : @bvcinprkapalan