Actions

Work Header

Adek Minta Jatah

Summary:

Hildan tidak mengingat kapan terakhir kali ia menghabiskan waktu untuk bersenggama bersama mas Malik semenjak pacarnya itu hamil tua. Pokoknya hari ini ia harus mendapatkan jatah dari si Mas, entah jika mas Malik juga menginginkannya atau tidak.

Notes:

Maaf kalau kalian menemukan banyak kekurangan, ya. Soalnya work ini nggak di-beta!

Disclaimer sebelum membaca, work ini adalah bagian dari series au-ku di X yang berjudul 'Mas dan Adek'. Aku sarankan untuk baca thread-nya terlebih dahulu karena jalan ceritanya nyambung. Tetapi kalau mau lanjut baca juga tidak apa-apa.

 

Happy Reading!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Niat Malik ingin rebahkan badan setelah seharian sibuk mengurus rumah, tetapi tidak jadi karena pekerjaannya tak kunjung selesai. Pekerjaan rumah yang biasanya mudah Malik kerjakan sendiri terasa jauh lebih berat setelah ia memasuki trimester akhir. Terlebih lagi akhir-akhir ini, di mana tanggal persalinan kian dekat dan hanya tinggal hitungan jari saja. Oleh karena itu, Malik mencicil sebagian pekerjaan rumah hingga tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, yakni waktu kepulangan sang pacar.

Sebenarnya tidak ada masalah dari kepulangan sang pacar, Hanya saja Malik teringat tentang permintaan sang pacar selama beberapa hari kebelakang, yang mana Hildan memintanya untuk berhubungan badan. Beberapa hari yang lalu Hildan mengutarakan permintaannya itu melalui sebuah pesan singkat, dia mengatakan kalau mereka sudah lama tidak berhubungan dan Hildan merindukan kebersamaan intim itu dengan Malik.

Mulanya Hildan tidak langsung meminta jatah pada sang pacar. Lelaki yang lebih muda lima tahun dari Malik itu awalnya menanyakan terlebih dahulu tentang anak mereka yang dikandung Malik. Lalu Hildan basa-basi bertanya apa komentar dokter kandungan yang ditemui Malik sendirian—ketika Hildan tidak sempat mengantarnya ke rumah sakit—perihal melakukan aktivitas seksual saat hamil besar. Malik menjawab jujur pertanyaan Hildan tersebut bahwa dokternya mengatakan tidak apa-apa jika ingin melakukan seks secara konsen dengan pasangan. Mulai dari situ, Hildan pun menanyakan kapan si Mas mau memberikannya jatah esek-esek.

Sekali dua kali Malik masih bisa menolak, dengan alasan kesehatan tentunya. Namun, ini sudah lewat dari lima hari semenjak Malik memberikan alasan tersebut. Dia tidak mungkin memberikan alasan yang sama untuk kesekian kalinya pada Hildan hanya demi mengabaikan ajakan seksnya.

Malik bukannya tidak mau menyetujui ajakan Hildan yang kedengarannya menggiurkan tersebut. Ia sendiri sebenarnya sangat rindu dengan kehangatan dan sentuhan lembut dari ayah anak yang dikandungnya. Malik merindukan belaian tangan Hildan di tubuhnya, merindukan bagaimana lelaki yang lebih muda berpeluh di atas tubuhnya, dengan pinggul yang bergerak kasar merojok lubangnya. 

Pun ada satu rahasia yang Malik sembunyikan, tidak pernah diutarakan kepada Hildan. Yaitu pada malam hari ketika hormon Malik sedang tinggi-tingginya, Malik melakukan kegiatan yang sudah tidak pernah dia lakukan sendirian semenjak berpacaran dengan Hildan. Benar kata orang jika orang hamil memiliki sexual drive yang tinggi. Nafsu seksual Malik yang hampir tiap malam meninggi membuatnya terpaksa memuaskan diri sendiri sebab dirasa terlalu berahi. Masturbasi di malam hari pun menjadi dirty little secret seorang Malik.

Entah Malik harus merasa lega atau kecewa. Lega karena nafsunya bisa terkendali untuk sementara sehabis satu kali senggama, atau kecewa lantaran aktivitas itu tidak didampingi oleh orang yang dia cinta—yang paling Malik damba sentuhannya. Malik hanya bisa menyerukan nama lelaki yang lebih muda setiap kali dia meledakkan pelepasannya, lantaran Hildan mengatakan terlalu sibuk untuk pulang.

Maka ketika Hildan sampaikan kebutuhan biologisnya yang sudah tak terbendung, respon dari hati Malik yang paling dalam adalah enggan mengabulkan dan secara lowkey ingin balas dendam. Sehingga Malik mencari-cari alasan yang masuk akal supaya Hildan mau mengerti tentang kondisinya yang kelelahan dan kesepian—sebab Hildan jarang pulang, dan walau pulang pun hampir tidak pernah membantunya mengurus rumah tangga. Jika saja sebelumnya Hildan lebih memperhatikan Malik dan anak mereka, pasti dengan senang hati ia akan melayani.

Malik mendengar pagar rumahnya dibuka, dibarengi suara motor matic yang masuk ke garasi rumahnya. Tidak lain dan tidak bukan itu merupakan kehadiran sang pacar yang datang langsung dari kampus sehabis bimbingan skripsi. Begitu Hildan masuk ke dalam, ia memberikan salam dan untungnya ketakutan terbesar Malik tidak langsung terjadi. Ia menyambut Hildan dengan senyuman dan ucapan selamat datang, sementara yang lebih muda menuju ke sofa untuk merebahkan badan.

“Capek banget aku hari ini, Mas.” Malik bernapas lega mendengar penuturan Hildan. Pikirnya dengan Hildan yang sedang capek, itu berarti mungkin saja ia lupa perihal hasrat terpendamnya yang sudah lama ditekan.

“Mas tahu pasti Adek kecapekan, makanya ini mau Mas bikinin makan malam.”

“Ada yang perlu aku bantu nggak, Mas?” tanya Hildan penuh perhatian, rasanya seperti ada air yang menggenang di ujung kedua pelupuk mata Malik. Ia terharu mendengar pertanyaan sederhana itu saking sudah lama ia tidak mendengarnya.

Hildan pun bangkit dan berjalan mendekati Malik yang berdiri di depan undakan dapur sambil mengolah bahan makanan. Sore itu, Malik ingin membuat masakan yang gampang diolah saja, yakni seporsi sup yang cukup untuk dimakan olehnya dan sang pacar. Hildan berhenti di samping Malik, lalu melontarkan sebuah pertanyaan kepada pria di sebelahnya.

“Mas mau bikin apa?” tanya Hildan penuh keingintahuan. Dari nada bicaranya yang terdengar innocent hampir tidak ketara bahwa ada maksud lain di baliknya.

“Mau bikin sop ayam kesukaan kamu, Dek. Bisa kamu tolongin mas ambil panci di lemari atas nggak, Dek?”

Tanpa mengatakan apa-apa, Hildan berjinjit di belakang Malik dan membuka lemari kitchen set yang berada tepat di atasnya, kemudian meraih panci sesuai perintah sang pacar. Hildan pun meletakkan panci berukuran sedang itu di kitchen island. Saat Malik mau bilang terima kasih pada pacarnya, matanya membola merasakan kedua tangan besar Hildan melingkar di pinggangnya.

“Makasih …. D-dek?” ucap Malik kaget ketika merasakan telapak tangan Hildan menyentuh perutnya.

Terkejutnya Malik tidak hanya sampai di situ. Ia dibuat lebih tidak menyangka lagi begitu Hildan berbisik di telinganya. “Tapi kayaknya sekarang adek nggak mau makan sop deh, Mas.”

Bukan hanya suara berat Hildan yang membuatnya tidak berdaya, melainkan sentuhan tangan nakal Hildan yang menggoda paha dalamnya lah yang menjadi masalah. Karena hamil besar, tubuh Malik jadi jauh lebih sensitif sekarang. Menyebabkan elusan telapak tangan Hildan di balik apron yang Malik kenakan dapat dengan cepat memancing nafsunya. Tidak sampai di situ, tangan yang lebih muda juga berusaha mencari celah untuk menyelinap ke dalam celana pendeknya.

“T-terus Adek maunya makan apa?”

“Adek maunya makan Mas aja.”

Begitu mulut Hildan tertutup, bibirnya segera mendekat ke pundak yang lebih tua. Hildan menarik leher kaos yang Malik pakai ke arah samping untuk memberikan akses supaya ia dapat membubuhkan kecupan di sana. Tubuh Malik meremang kala bibir kenyal dan agak sedikit basah milik Hildan menyapu pundak mulusnya. Meski Malik belum mandi, sepertinya itu tidak menjadi penghalang bagi Hildan untuk menciumi bahu Malik secara ganas. Wangi keringat Malik bercampur aroma air susu yang rembes ke baju malah menjadi candu tersendiri bagi Hildan.

Tiba-tiba saja Malik merasakan apron yang semula masih terpakai kini sudah jatuh ke lantai. Secara terampil Hildan lepas pakaian yang jadi penghalang antara dirinya dengan tubuh Malik. Buatnya jadi lebih leluasa untuk merajalela, meraba ke bagian yang dapat membuat Malik melayang. Contohnya seperti perut besarnya, buah hasil kisah kasih keduanya. Mahakarya Hildan yang bernyawa, hidup dan terus berkembang di dalam rahim lelaki yang dicintainya. 

Jika saja selama ini Hildan tidak lalai menjaga Malik dan calon anak mereka, hidup Malik akan terasa sempurna.

“Cantik banget Mas-ku, tambah cantik pas hamil anakku.”

Sungguh Hildan tidak berkata dusta sewaktu mengungkapkan kalau Malik yang tengah mengandung anaknya kini terlampau seksi. Malik dengan perut bundar dan badan yang bertambah gempal itu sangat cantik di mata Hildan. Laki-laki yang lebih muda diam-diam menyukai pemandangan yang dilihat setiap ia mampir ke rumah si Mas dan mendapati yang lebih tua menyambutnya sambil memegangi perut bulatnya.

Selama di kampus, tak jarang Hildan membayangkan akan pulang ke rumah yang berisi manusia secantik Malik. Mas Malik yang keberatan membawa beban di perutnya, yang pipinya bertambah penuh dan memerah, yang bahkan untuk berjalan saja kesulitan karena gendutan semenjak hamil anak mereka. Belum lagi bayang-bayang durjana serta fantasi liar setiap mengingat perubahan di tubuh Malik terutama pada buah dadanya, yang belakangan ini terlalu banyak memproduksi air susu.

“Adek … tadi katanya kamu capek—mmmpphhh!”

Laki-laki yang dipanggil oleh Malik tidak menanggapi. Ia malah semakin asyik menyesap leher Malik dan sesekali menggigit-gigit kecil sampai menyisakan tanda di sana. Tangan Hildan juga tidak tinggal diam, yang kanan masuk ke dalam baju sementara yang kiri mencari cara untuk melepaskan celana pendek Malik. Di rumah, Malik yang berat badannya naik drastis terpaksa pakai baju kebesaran—sebab baju lamanya tidak ada yang muat—dan hot pants. Adapun pemandangan Malik yang lucu memakai semua itu mempercepat batang kemaluan Hildan untuk berdiri.

Pinggul Hildan buat gerakan maju ke depan sampai mengenai pantat sintal yang lebih tua. Dari situlah Malik dapat mengetahui kalau penis Hildan sudah ereksi hanya dari mengendus dan meraba tubuhnya. Hildan yang jadi agresif karena sudah sange tak tertampung membuat Malik panik. Belum lagi sang pacar yang menekan kelenjar dadanya secara kasar—sampai mengeluarkan beberapa tetes cairan putih—buat Malik tersadar kalau ia harus mengatakan sesuatu.

“Adek … Mas mohon jangan sekarang …,” pinta Malik berbarengan pada saat celana pendek beserta dalamannya jatuh ke lantai dalam satu kali tarikan.

“Sebentar aja, Mas. Adek janji nggak lama. Lagian ‘kan kita sudah lama nggak ngeseks, Mas.”

Mulut Malik kesusahan menjawab kala jemari sang pacar mulai membelai kemaluannya, lalu mengocoknya perlahan dengan harapan supaya cepat mengeluarkan pre-cum . Mau protes lagi, tetapi Malik khawatir jika membuka mulut, maka yang keluar adalah desahan saking enaknya kocokan Hildan pada penisnya. Lutut Malik yang lemas menjadi pengingat kalau ia tidak boleh tinggal diam, karena jika dilanjutkan dalam situasi seperti ini hanya akan membawa mereka ke suatu hal yang tidak Malik harapkan.

“Adek, please, Mas lagi kurang enak badan. Kayaknya Mas kecapekan.”

Permohonan Malik barusan ditanggapi oleh Hildan dengan tidak kalah menyebalkan dari sebelumnya.

“Mas tuh cuma alasan aja, ya? Dari kemarin bilangnya gitu mulu. Sekali dua kali adek maklumi, tapi lama-kelamaan adek jadi mikir mas nggak pernah minta apa karena udah nggak ada rasa sama adek? Adek juga punya kebutuhan batin kalau mas lupa. Mana hari ini adek kena banyak revisi, kalau bukan karena lagi stress juga adek nggak bakal maksa!”

Mendengar pernyataan Hildan yang separuh memelas, ada rasa tidak tega yang muncul dalam benak Malik. Ia tahu betul seberapa keras Hildan berusaha menyelesaikan tugas akhir kuliahnya. Semua itu Hildan upayakan sekuat tenaga agar selesai tepat waktu, yaitu sebelum anak mereka lahir ke dunia. 

Satu-satunya effort Hildan yang tampak bermakna bagi keluarga kecil mereka adalah berniat habiskan quality time bersama nantinya. Meski kebutuhan Malik selama hamil yang tak kalah penting jadi tak terpenuhi, Malik sudah merelakannya asal nanti Hildan bisa fokos pada sang anak. Jadi, Malik tidak mau menghancurkan masa depan itu. Dia tidak mau anaknya nanti kurang perhatian dari sang ayah karena masih sibuk mengerjakan skripsi, sehingga Malik terpaksa menuruti kehendak Hildan detik ini.

“Ya sudah, tapi Mas nggak mau di sini. Mas nggak mau sambil berdiri, mas nggak kuat, Adek ….”

Sebuah senyuman pun terhias di wajah yang lebih muda. Dalam hatinya bersorak gembira karena akhirnya bisa menang melawan kehendak orang hamil. Muncul banyak ide di kepala Hildan tentang bagaimana cara paling enak dan efektif dalam menikmati lubang sang pacar yang sedang hamil besar tersebut. Namun, untuk saat ini Hildan memilih cara yang paling gampang dan yang bisa cepat mereka lakukan saja—sebab ia sudah tak sabar untuk segera mencicipi kekasihnya.

“Kalau begitu mas tiduran sambil ngangkang di sofa. Adek mau beresin dapur dulu.”


Meski Malik sudah lakukan segala yang Hildan perintahkan, nyatanya itu semua belum cukup untuk membuat yang lebih muda merasa puas. Sebelumnya Hildan menyuruh sang pacar untuk merebahkan badan di sofa, dan merentangkan paha selebar-lebarnya. Akan tetapi, kini Malik diminta untuk ganti posisi, sebab posisi sebelumnya kurang menguntungkan bagi Hildan.

‘Mas, gantian kamu naikin kontol aku, ya? Habisnya lihat kamu ngangkang bikin aku sange parah. Bisa-bisa aku terlalu cepat keluarnya. Buat sekarang aku nggak mau keluar dulu.’

Batin Malik berbisik, ternyata membawa calon anak Hildan saja sepertinya belum cukup agar ia merasa dicintai. Sudah susah payah hamil sembilan bulan tanpa mengeluh—yang sebenarnya Malik ingin mengeluh—pun masih dituntut untuk melayani nafsu si ayah dari sang anak. Kini Malik didudukkan di atas pangkuan Hildan, dengan kondisi kaki yang hampir kram karena harus naik turun pada penis sang pacar.

“Mas, bisa cepetin sedikit nggak goyangannya? Ahh!” minta Hildan sambil merem melek keenakan, tanpa mengetahui kalau Malik bahkan untuk bergerak saja sangat kesulitan.

“Nggak bisa, Adek! Ini aja mas kesusahan geraknya!” seru Malik tanpa memberhentikan penyatuan mereka yang padahal kini pinggulnya sudah sakit. Jangankan mau berhenti, mau memelankan tempo saja Malik ketakutan, sebab Hildan baru saja menyuruhnya untuk kencangkan gerakan. 

Penis Hildan yang ketika tegang seutuhnya berdiameter di atas rata-rata itu keluar masuk lubang senggama Malik yang sempit. Panjang milik Hildan bisa Malik rasakan seperti menggelitik perutnya, karena ia benamkan seluruhnya sampai habis tak bersisa. Walaupun Malik belum menemukan kenikmatan yang hakiki dari persetubuhan mereka kali ini, setidaknya ia merasakan lubangnya hangat dipenuhi penis Hildan. Maka dari itu ia tetap berusaha melayani Hildan seperti yang laki-laki itu suka.

“Memangnya goyangan Mas sekarang nggak enak, Dek?” ucap Malik seduktif, berusaha menggoda Hildan supaya yang lebih muda tambah nafsu.

“Enak kok, enak banget malah—fuck!” Hildan mendesah kala dinding anal Malik dirapatkan olehnya, menambah sensasi milik Hildan seolah dipijit-dipijit sekarang. “Rapet banget kamu, Mas. Enak. Lubangnya jepit kencang punyaku di salam sana—ahh!”

Bangga terhadap pengakuan Hildan yang sekaligus memuji dirinya, Malik yang juga ingin menikmati sesi bercinta mereka pun mencari di mana letak prostatnya dan berusaha supaya gerakannya membuat kepala penis Hildan mengenainya. Ia lalu memeluk pundak Hildan, mendekati kekasihnya serta mendekatkan tubuh mereka. Membuat penis Malik yang sedari tadi dibiarkan pun kini terhimpit, tergesek oleh perut besarnya dan perut rata sang pacar.

Ahh, aduh, Adek … Mas juga enak—mmphh!

Bawah perut Malik rasanya melilit setelah kenikmatannya mulai terbangun. Hildan yang tak mau kalah ikut menopang paha si Mas dan membantunya melonjak-lonjakkan tubuh sang kekasih di atas pangkuan. Suara tepukan antara dua paha yang terdengar erotis pun tak terelakkan. Nyaringnya dipadu dengan bunyi kecipak basah dari kencing Malik yang sedikit nyiprat karena tak dapat ditahan. Memang beberapa hari terakhir ini kandung kemih Malik sulit untuk dikontrol olehnya.

Hmmmm, adek …, maaf mas pipisin kamu!”

Hildan yang nafsunya tersulut itu pun langsung meraup bibir ranum si Mas yang terbuka, yang jika tidak dicium maka akan mengeluarkan suara desah menggairahkan. Setiap detik berlalu, lubang senggama Malik semakin kedutan dan menyedot penis Hildan kuat-kuat. Kaki Malik yang gemetar menjadi tanda bahwa pelepasannya sudah dekat, dan penis kecilnya yang terapit sebentar lagi pasti hendak menumpahkan cairan.

Ahh, enak, Dek. Mas udah lama nahan sange … pengen ngewe sama adek!” bisik Malik di telinga Hildan setelah ia melepaskan tautan bibir mereka.

Malik merengek di pundak Hildan sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher yang lebih muda, menahan malu sebab akhirnya ia ketahuan kalau selama ini menyembunyikan nafsu ingin dikawini. Kini hasrat itu sudah tidak dapat dibendung lagi. Malik lantas membiarkan dirinya merasakan senggama sebab disetubuhi penis keras dan tebal kekasihnya setelah sekian lama melewati malam dalam kesendirian karena terlalu enggan meminta. Malik pasti sudah klimaks sekarang jika bukan karena Hildan mencabut penisnya dari liang kawin yang lebih tua.

“Adek—kenapa?!” tanya Malik teramat kecewa dengan apa yang dilakukan sang pacar.

“Ganti posisi, Mas. Aku nggak bisa keluar kalau mas yang di atas.”

Seketika Malik ingin marah. Dia kesal luar biasa karena rupanya Hildan tidak peduli terhadap kenikmatan bersama. Hildan hanya peduli pada dirinya sendiri, dan itu dibuktikan saat yang lebih muda menentukan gaya apa yang harus Malik turuti walau tanpa persetujuan dari yang lebih tua. Sayangnya ketika mau menyuarakan keresahannya, ia tidak bisa karena Hildan telah menggeser tubuh Malik sesuka hati.

“Nungging yang bener buat aku, Mas. Kasih tunjuk lubang kawinnya, adek mau lihat. Nah, iya betul begitu.”

Pelan-pelan Malik bawa tubuhnya menungging di atas sofa seperti yang Hildan perintahkan. Posisi ini tidak terlalu nyaman bagi Malik karena tidak ada yang jadi tumpuan perutnya. Namun, tetap Malik lakukan biar semua ini segera selesai, dan ia bisa mendapatkan klimaksnya yang tadi sempat tertunda. Kekurangan dari posisi ini hanya satu, yaitu Malik jadi tidak bisa melihat apa yang hendak dilakukan pacarnya di belakang sana.

Adapun hal pertama yang dilakukan Hildan adalah mengocok penisnya sendiri sambil memandangi lubang Malik yang cengap-cengap minta diisi. Pemandangan kerutan pinggir anal Malik yang merah muda, dengan pipi pantat yang jauh lebih kenyal dan berisi dari biasanya buat Hildan jadi tak sabaran. Ia meludah ke telapak tangannya lalu melumuri batang kemaluannya menggunakan saliva, lalu mengarahkan ujung kepala penisnya tepat di depan pintu masuk tubuh Malik.

Dalam sekali dorongan, Hildan benamkan miliknya sambil mengerang nikmat. Mengabaikan fakta bahwa seseorang di bawah sana meringis ngilu sebab analnya yang kembali kering kembali dimasuki benda tumpul dan panjang secara kasar. Lagi-lagi Malik harus merasa kesakitan, dan yang kali ini rasanya berkali lipat jauh lebih sakit sebab mengetahui fakta sakitnya itu hanya karena Hildan tidak mau repot-repot untuk mengambil botol lubrikan yang jatuh ke lantai.

Tubuh Malik terhuyung-huyung ke depan saat Hildan mulai bergerak dan memakai lubangnya untuk bersenggama. Tangan Malik yang tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya sendiri pun akhirnya menyerah. Ia jatuhkan kepalanya ke bantal sofa sementara pantatnya di belakang sana menghadap ke udara, dan yang seperti itu tidak ditoleransi oleh sang pacar.

“Bangun, Mas. Jangan begitu posisinya . Adek mau pegang pentil Mas.”

Malik pun bangkit mengangkat tubuh bagian depannya dengan menahan nyeri di dekat lambung. Tidak ada pertanyaan yang muncul dari mulut Hildan kala menyaksikan struggle yang lebih tua demi memberi makan egonya. Hildan cuek saja dan segera menggapai dua bongkah kenyal serta pucuk dada Malik yang ngacung menggunakan dua buah tangan. Puting Malik yang sensitif dimainkan oleh Hildan sampai mengucurkan air susu saking terangsangnya ia. Sementara yang lebih tua meracau, kembali memuji lubang rapat yang lebih tua.

“Enak banget mas, ngentot kamu pas lagi hamil gede gini—AAHHH!”

Mendengar kalimat cabul yang diucapkan Hildan kepadanya buat Malik overstimulasi. Kepala Malik ringan karena semua titik manisnya dikerjai oleh Hildan, termasuk prostatnya yang ditumbuk penis sang pacar secara berulang-ulang. Permainan Hildan pada payudara kecilnya pun mengantarkan Malik pada perasaan seperti ada yang ingin keluar dari penisnya yang menggantung di antara kedua paha.

Dirasa sebentar lagi akan klimaks, Malik mencoba untuk mengurut kemaluannya sendiri. Namun, tangan mungilnya tidak cukup panjang untuk menggapai penisnya sendiri dikarenakan terhalang oleh perutnya yang buncit. Seketika Malik berlinangan air mata, bukan karena tidak dapat mengulurkan tangannya lebih jauh, melainkan karena tampaknya Hildan tidak punya inisiatif sedikit pun untuk menolongnya mencapai puncak bersama. Hildan lebih mementingkan pada orgasmenya sendiri dan tidak memedulikan Malik.

Fuck, Mas! Adek mau keluar! Adek crot di dalem, ya?”

Malik terisak saat membalas perkataan Hildan, tetapi sepertinya yang lebih muda tidak menyadarinya. “J-jangan, Dek!”

Tidak terima dengan tanggapan si Mas, nada bicara Hildan pun terdengar meninggi. “Hah?! Kenapa jangan? Mas ‘kan sudah hamil, jadi nggak mungkin hamil lagi mau aku buang peju di lubang Mas berapa kali pun!”

Malik terdiam mendengar penuturan Hildan, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Beberapa hentakkan kencang setelahnya, Malik rasakan penis Hildan yang kedutan. Lalu tidak lama ada kehangatan akibat Hildan membanjiri lubangnya dengan sperma. 

Ahh! Adek keluar, Mas!”

Badan Malik menggelinjang dan ambruk ke depan akibat pada dorongan yang terakhir, Hildan menekan g-spot-nya. Bola mata yang lebih tua bergulir ke atas saat penisnya sendiri menyemburkan air mani. Seluruh tubuhnya masih bergetar saat Hildan cabut miliknya dari anal Malik, dan menampar-nampar pipi pantat yang lebih tua. Melihat lubang Malik yang berlumuran sperma—karena tidak dapat menampung semuanya—membuat Hildan kembali horny. Ia pun berkata lagi.

“Mas, kita lanjut di kamar biar kamu nyaman, ya? Adek ngaceng lagi karena masih sange sama mas. Janji deh nanti adek yang bersihin semuanya.”

Hildan bangun dari tempatnya berlutut lalu berbalik badan, meninggalkan Malik yang masih dalam posisinya dan lebih dahulu berjalan menuju ke kamar utama di lantai atas. Lelaki yang lebih tua pun berdiri sendiri, menguatkan kaki yang sudah tak bertenaga dan hati yang remuk karena perlakuan pacarnya. Meskipun begitu, Malik tetap mengikuti arahan Hildan supaya yang lebih muda tidak marah kepadanya.

Semua itu dilakukan Malik karena walau saat ini fisik dan mentalnya sakit, tetapi lebih sakit lagi membayangkan jika Hildan tidak ada di masa depan—pergi meninggalkan Malik dan sang anak serta tidak ikut menemani kehidupan mereka di kemudian hari karena keegoisan Malik hari ini.

Notes:

Akun X Arz @whiskview

Do not forget to give me kudos if you like this story!

This author likes kudos so much ... please give her kudos <3