Actions

Work Header

The Golden Cage

Summary:

Gift for my lovely Jean

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

THE GOLDEN CAGE

 

Bunyi gemerincing pil yang beradu dengan dinding botol kaca terdengar begitu nyaring di keheningan laboratorium pribadi itu, seolah mengejek pemiliknya. Tangan Li Shen, yang biasanya sestabil bongkahan es abadi saat membedah jantung pasiennya, kini gemetar hebat. Tiga butir pil berwarna biru pucat menggelinding ke telapak tangannya.

 

Tanpa air, tanpa ragu, dia menelan ketiganya sekaligus. Rasa pahit bahan kimia sintetis meledak di lidahnya, namun itu tidak sebanding dengan api yang mulai menjalar di bawah kulitnya.

 

Li Shen mendesis pelan, berharap pil biru itu segera memberinya efek yang diinginkannya. Buku-buku jarinya memutih ketika mencengkeram pinggiran wastafel stainless steel menahan gejolak yang membakar tubuhnya.

 

Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Apa yang dilihatnya adalah kekacauan. Keringat dingin mengalir di pelipis, membasahi rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi. Napasnya pendek dan putus-putus, menciptakan uap tipis di permukaan cermin. Tapi yang paling dia benci adalah matanya. Pupilnya melebar, berkabut, dan basah oleh insting yang menjijikkan.

 

Omega.

 

Satu kata yang selama ini berhasil dia kubur di bawah lapisan jas dokter, prestasi akademis, dan dinginnya kekuatan Evol Es miliknya.

 

Namun malam ini, benteng itu retak.

 

Li Shen tak pernah membenci dirinya seorang Omega. Namun, di dunia yang penuh dengan kejahatan, bercampur dengan bisingnya suara tembakan yang saling menyahut, dia tidak ingin terlihat lemah atau bahkan dianggap seperti salah satunya. Apalagi dia seorang dokter, yang harus siap sedia kapanpun dibutuhkan.

 

Li Shen merasakan gelombang panas lain menghantam perut bagian bawahnya, membuatnya mengerang tertahan. Resistensi. Tubuhnya telah membangun kekebalan terhadap suppressant legal tingkat tinggi yang dia racik sendiri. Dosis yang biasa dia gunakan kini tak lebih dari sekadar manisan.

 

“Sial," umpatnya, sebuah kata kasar yang jarang keluar dari bibir Sang Surgeon.

 

Li Shen tahu apa yang dia butuhkan. Bukan bahan kimia sintetis dari Linkon City. Dia butuh sesuatu yang lebih murni, lebih kuat, dan yang pasti ilegal. Dustless Protocore. Varian langka yang bisa membekukan siklus hormonnya secara instan, memaksanya kembali dalam kendali. Bahkan dia pernah dengar, efeknya bisa bertahan lebih dari 6 kali siklus heatnya.

 

Dan hanya ada satu tempat di muka bumi ini di mana benda itu ada. Zona N109.

 

Li Shen membuka laci tersembunyi di bawah meja kerjanya, mengeluarkan sebuah ponsel tua. Di sana hanya ada satu kontak yang tersimpan. Sebuah nama samaran dari seorang kriminal yang pernah dia selamatkan nyawanya dua tahun lalu di gang belakang, sebuah hutang budi yang belum pernah ia tagih.

 

Jari-jarinya yang gemetar mengetik pesan dengan cepat, mengabaikan akal sehatnya yang berteriak menyuruhnya berhenti.

 

To: Unknown

Sampaikan pada Tuanmu di Onychinus. Aku butuh Dustless Protocore murni. Untuk penelitianku. 50 gram. Malam ini. Harga bukan masalah.

Dr. Zayne.

 

Li Shen melempar ponsel itu ke meja. Berjalan menuju keran air yang tak jauh dari sana lalu menyalakan. Dia membasuh wajahnya dengan kasar, mencoba meredam aroma tubuhnya yang mulai menguar. Aroma feromonnya yang biasanya dingin dan tajam, kini mulai merekah menjadi sesuatu yang manis dan memabukkan. Layaknya feromon Omega yang sedang memanggil pasangannya.

 

Ponsel yang tergeletak di atas meja itu bergetar. Balasannya datang terlalu cepat. Jauh lebih cepat dari birokrasi mana pun yang pernah ia tahu. Li Shen menahan napas saat membaca layar yang menyala dalam kegelapan lab.

 

From: Unknown

Bos bilang, dia ingin kau mengambilnya sendiri. Datanglah ke Menara Onychinus dalam satu jam. Sendirian. Tanpa pengawal.

 

Darah Li Shen berdesir. Pesan yang dia terima bukan undangan tapi sebuah perintah yang harus dipatuhi.

 

Dia tahu siapa yang ada di balik pesan itu. Pemimpin Onychinus dari N109 Zone, Si Naga Terkutuk, Sylus. Pria yang namanya saja cukup membuat siapa saja yang mendengarnya gentar.

 

Logika Li Shen berteriak bahaya. Masuk ke sarang Sylus dalam kondisi pra-heat seperti ini sama saja dengan bunuh diri. Itu tindakan irasional, bodoh, dan ceroboh. Itu bukanlah dirinya. Dia adalah orang yang selalu memegang kendali atas pikiran dan tubuhnya. Tapi saat ini, mempertahankan kewarasannya saja sulit.

 

Kemudian, gelombang kram menyakitkan kembali menghantam perutnya, memaksanya membungkuk. Rasa sakit itu mengingatkannya pada kenyataan pahit: jika dia tidak mendapatkan obat itu malam ini, dia akan jatuh dalam heat total besok pagi, di tengah rumah sakit, di hadapan ratusan staf dan pasien. Reputasinya, kariernya, hidupnya yang telah dia bangun dengan susah payah akan hancur.

 

Li Shen bangkit dari kursi kerjanya. Dia meraih jubah putihnya, menyampirkannya ke bahu untuk menutupi tubuhnya yang menggigil. Wajahnya kembali datar, dingin, dan tanpa ekspresi, meski matanya menyiratkan badai. Dia lebih memilih menghadapi satu monster si pemilik Zona N109 daripada harus kalah dengan insting omeganya.

 

"Baiklah," bisiknya, suaranya gemetar.  "Ayo kita selesaikan ini."

 

Dia melangkah keluar, meninggalkan keamanan laboratoriumnya menuju malam yang gelap, tanpa menyadari bahwa dia bukan sedang berjalan menuju obat penawar... melainkan menuju takdir yang tidak akan bisa dia hindari.

 

….

 

Zona N109 tidak pernah tidur, tapi malam ini udaranya terasa lebih berat dari biasanya. Hujan asam turun rintik-rintik, memantulkan cahaya neon merah dan ungu yang menyilaukan dari gedung-gedung pencakar langit yang tak terawat.

 

Li Shen melangkah keluar dari mobil sewaannya yang berhenti di depan Menara Onychinus. Dia merapatkan kerah jubahnya, bukan karena dingin, tapi untuk menahan aroma tubuhnya sendiri yang semakin tidak terkendali. Di sini, udara berbau logam, pengab, dan bahaya. Sebuah tempat yang sangat asing bagi seorang dokter bedah jantung sepertinya.

 

Dua sosok penjaga, Si Kembar Luke dan Kieran, sudah menunggunya di lobi yang remang-remang.

 

"Dokter Zayne," sapa Kieran dengan nada yang terlalu ceria untuk situasi ini. Dia tidak bergerak untuk memeriksa senjata. "Bos sudah menunggu di atas. Penthouse. Lift pribadi."

 

Luke hanya menyeringai, matanya melirik sekilas ke leher Li Shen yang berkeringat. "Kau terlihat... tidak sehat, Dok. Yakin tidak butuh bantuan? Kami bisa membantumu masuk ke dalam. Menggendongmu misalnya."

 

Li Shen mengabaikan ejekan itu. Dia berjalan melewati mereka dengan dagu terangkat, mempertahankan sisa-sisa martabatnya yang rapuh. "Aku bisa berjalan sendiri.”

 

Pintu lift tertutup, memisahkannya dari kebisingan lobi. Namun, keheningan di dalam kotak logam yang meluncur naik itu justru lebih menyiksa. Li Shen melihat pantulan dirinya di dinding lift. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit terbuka untuk meraup oksigen.

 

Tahan, batinnya. Ambil barangnya, bayar, lalu pergi. Sepuluh menit. Kau hanya perlu bertahan sepuluh menit.

 

Pintu lift terbuka langsung ke sebuah ruangan luas yang memancarkan aura kekuasaan. Lantainya marmer hitam, perabotan kulit gelap, dan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan Zona N109 dari ketinggian, bak singgasana dewa di atas neraka. Dan di sana, duduk di sofa tunggal di tengah ruangan yang remang, adalah Sylus.

 

Pria itu tampak santai, satu kaki ditumpangkan di atas kaki lainnya. Dia memegang gelas kristal berisi cairan merah pekat—anggur. Atau mungkin sesuatu yang lain. Gagak mekanik bertengger di sandaran kursinya, mata merahnya berkedip lambat menatap Li Shen.

 

“Kau tepat waktu," suara Sylus memecah keheningan. Berat, rendah, dan... dominan.

 

Li Shen merasakan lututnya goyah seketika.

 

Jika bau Zona N109 di bawah sana sudah mengganggu, aroma di ruangan ini menghancurkan. Ruangan ini dipenuhi feromon Sylus. Feromonnya seperti bubuk mesiu yang terbakar, dan sesuatu yang tajam seperti darah segar. Aroma seorang Alpha. Bukan sembarang Alpha. Alphanya para Alpha.

 

Bagi Li Shen yang sedang dalam kondisi pre-heat, aroma itu bukan ancaman. Itu adalah undangan. Tubuhnya berteriak ingin mendekat, ingin berlutut, ingin menyerah.

 

Li Shen menggigit bagian dalam pipinya hingga berdarah, menggunakan rasa sakit itu untuk tetap sadar. Dia berhenti tak jauh dari tempat Sylus duduk.

 

"Aku bukan orang yang suka membuang waktu," kata Li Shen, suaranya terdengar serak namun tajam. Dia mengeluarkan kartu kredit dari sakunya dan meletakkannya di meja kaca terdekat. "Pembayarannya. Sesuai permintaan. Sekarang, mana Dustless Protocore-nya?"

 

Sylus tidak melirik kartu itu sedikit pun. Dia meletakkan gelasnya perlahan, lalu berdiri. Gerakannya luwes dan mematikan, seperti predator yang melihat mangsa yang menarik.

 

“Uang?" Sylus terkekeh pelan, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Li Shen meremang. Dia melangkah mendekat, perlahan, sengaja mengulur waktu. "Aku punya cukup uang untuk membeli rumah sakitmu sepuluh kali lipat, Dokter."

 

Li Shen mundur selangkah, instingnya menjerit bahaya. "Lalu apa maumu? Kau bilang ini transaksi."

 

"Memang," Sylus terus maju, memangkas jarak di antara mereka. "Tapi aku tidak menjual barang langka kepada orang asing. Apalagi orang asing yang berbohong padaku."

 

Punggung Li Shen membentur dinding dingin di dekat jendela. Dia terpojok.

 

Sylus berhenti tepat di depannya. Meski perbedaan tinggi mereka tak seberapa. Tapi, di momen ini, pria bersurai perak itu tampak begitu tinggi, tubuhnya menjulang menghalangi cahaya dari luar. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Li Shen bisa merasakan panas tubuh Sylus yang memancar.

 

"Kau..." Li Shen mencoba memanggil es-nya, membuat suhu ruangan turun drastis. Bunga-bunga es mulai merambat di dinding kaca. Itu adalah peringatan. "Mundur."

 

Sylus tidak terkesan. Dia justru menghirup napas dalam-dalam, tepat di samping leher Li Shen. Seolah sedang menghirup semua aroma yasmin dari tubuh Li Shen.

 

"Aroma ini..." bisik Sylus, suaranya kini berubah serak, lebih dalam. "Yasmin. Manis. Sangat manis.”

 

Mata Sylus yang biasanya tajam kini berkabut oleh nafsu yang gelap saat dia menatap Li Shen tepat di mata.

 

"Kau tidak sakit, Zayne. Dan kau tidak datang ke sini untuk penelitian medis," Sylus menyeringai, menampakkan taringnya. Tangan Sylus terulur, bukan untuk menyerang, tapi untuk menyentuh ujung dagu Li Shen yang gemetar, memaksanya mendongak.

 

"Kau sedang heat."

 

Jantung Li Shen seakan berhenti berdetak. Rahasianya, hal yang paling dia lindungi seumur hidupnya, telah ditelanjangi dalam hitungan detik.

 

“Berikan... obatnya," suara Li Shen pecah, berubah menjadi bisikan putus asa. Pertahanan es-nya mulai retak. Kakinya terasa seperti jeli. Dia benci betapa tubuhnya merespon sentuhan Sylus di kulitnya.

 

Sylus merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah vial kecil berisi cairan perak yang berkilauan. Dustless Protocore. Mata Li Shen membelalak. Dia mengulurkan tangan untuk meraihnya, tapi Sylus mengangkat vial itu tinggi-tinggi, jauh dari jangkauannya.

 

"Kau menginginkan ini?" tanya Sylus lembut, namun kejam.

 

"Berikan padaku!”

 

“Tentu," jawab Sylus santai. Dia mencondongkan tubuh, bibirnya menyapu telinga Li Shen, mengirimkan kejutan listrik ke sepanjang tulang belakang sang dokter. "Tapi kau tahu aturan di tempatku ini, Dokter. Tidak ada yang gratis. Dan seperti yang kubilang... aku tidak butuh uangmu."

 

Tangan Sylus yang bebas turun, mencengkeram pinggang Li Shen dengan posesif, menahannya agar tidak jatuh atau agar tidak lari.

 

"Aku ingin kau memohon.”

 

Hening.

 

Hanya ada suara hujan yang mengetuk kaca jendela, seirama dengan detak jantung Li Shen yang kian tak beraturan. Di ruangan yang megah itu, harga diri seorang dokter bedah jantung yang dihormati dan terkenal karena penemuannya di dunia medis khususnya pada penyakit jantung, sedang dipertaruhkan di ujung lidah.

 

"Memohon..."

 

Kata itu terasa asing, seperti duri yang tersangkut di tenggorokan. Li Shen memejamkan mata, mencoba memanggil kembali dinginnya es yang selama ini menjadi tameng jiwanya. Namun, di hadapan Sylus, di hadapan Alphanya para Alpha yang auranya setajam aroma mesiu dan dark wood, es itu tidak hanya retak tapi menguap.

 

Rasa sakit di perutnya bukan lagi sekadar kram; itu adalah kekosongan yang menuntut untuk diisi. Seperti rasa lapar yang menggerogoti logika.

 

"Aku..." Suara Li Shen pecah, serak oleh dahaga yang tak wajar. Kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuh maupun berat egonya. Perlahan, lutut itu menyentuh lantai marmer yang dingin. Sebuah kekalahan yang sunyi.

 

Tangan Li Shen terulur, gemetar hebat, mencengkeram ujung celana Sylus bukan untuk melawan, melainkan sebagai satu-satunya pegangan agar ia tidak hanyut dalam badai hormonnya sendiri.

 

"Tolong..." bisiknya, sebuah pengakuan yang menghancurkan sisa-sisa topeng profesionalnya. "Berikan padaku. Sylus..."

 

Sudut bibir Sylus terangkat, membentuk senyum yang tak menyentuh matanya. Matanya merah menyala, menatap Li Shen bukan dengan belas kasih, tapi dengan kepuasan seorang kolektor yang akhirnya mendapatkan permata langka.

 

"Anak pintar," gumam Sylus. Suaranya rendah, merambat masuk ke tulang belakang Li Shen seperti getaran musik klasik di ruang hampa.

 

Tanpa banyak bicara, Sylus mengeluarkan alat suntik perak dari saku jasnya. Cairan di dalamnya berkilauan di bawah lampu neon. Janji akan ketenangan. Janji akan kendali.

 

"Biar kuringankan bebanmu, Dokter," bisik Sylus lembut, terlalu lembut untuk pria yang tangannya berlumuran darah ribuan orang.

 

Li Shen mendongak, matanya berkabut, menyerahkan lengannya pasrah. Saat jarum dingin itu menembus kulit halusnya, Li Shen menghela napas panjang. Ia membayangkan sensasi beku yang familiar, rasa kebas yang akan memadamkan api di dalam darahnya, mengembalikan dunianya menjadi hening dan putih.

 

Cairan itu masuk.

 

Satu detik berlalu seperti keabadian. Li Shen menunggu dingin itu datang. Namun yang datang adalah neraka. Bukan es yang mengalir di pembuluh darahnya, melainkan api cair.

 

"Akh...!"

 

Pekikan tertahan lolos dari bibir Li Shen. Matanya terbelalak lebar, pupilnya membesar hingga nyaris menelan iris hijaunya.

 

Ini bukan penawar.

 

Rasanya seolah bendungan yang retak itu kini diledakkan paksa. Sensasi di kulitnya meledak seribu kali lipat. Gesekan kain kemeja di kulitnya terasa kasar seperti amplas, namun sentuhan udara dingin ruangan terasa membakar. Aroma Sylus, yang tadinya hanya menggoda, kini menyerbu masuk ke paru-parunya, memabukkan, mendominasi, menuntut ketaatan mutlak.

 

Li Shen terhuyung mundur. Tubuhnya lemah hingga dia jatuh terlentang, napasnya memburu cepat, disertai isak tangis karena pengkhianatan indranya sendiri. Dia benci dirinya yang seperti ini. Hilang kendali. Hilang kontrol.

 

“Apa... apa yang kau lakukan..." rintihnya, tubuhnya meringkuk di atas lantai dingin, menggeliat dalam penderitaan yang nikmat.

 

Sylus berdiri menjulang di atasnya, bayangannya menelan sosok Li Shen yang rapuh. Ia membuang alat suntik kosong itu sembarangan, dentingnya terdengar nyaring di lantai.

 

"Kau meminta kemurnian, Zayne. Aku memberikannya," ujar Sylus kelewat santai. Dia berjongkok perlahan, jemarinya yang bersarung tangan kulit menyusuri rahang Li Shen yang basah oleh keringat dingin.

 

“Kau berpikir tubuhmu butuh diredam. Butuh dibekukan lagi." Sylus menggeleng pelan, tatapannya tajam menusuk jiwa. "Salah. Tubuhmu sudah lelah menyangkal. Obat itu bukan racun, dan bukan penawar. Itu adalah akselerator."

 

Dunia Li Shen berputar. Akselerator. Pemicu. Sylus tidak memadamkan api heat-nya. Dia menyiramnya dengan bensin murni.

 

"Kau..." Li Shen ingin marah, ingin memanggil tombak es untuk menusuk dada pria itu, tapi tangannya justru bergerak sendiri, mencari kehangatan, mencari sentuhan Sylus. Tubuhnya mengkhianati otaknya dengan cara yang paling memalukan.

 

"Sakit..." bisik Li Shen, air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam.

 

"Aku tahu," Sylus mendekatkan wajahnya, bibirnya menyapu telinga Li Shen yang merah padam. Napas panasnya membuat Li Shen merinding hebat. "Dan hanya ada satu cara untuk menyembuhkannya."

 

Sylus menarik kemeja Li Shen hingga kancingnya terlepas, mengekspos dada yang naik-turun dengan panik. Ia meletakkan tangannya tepat di atas jantung Li Shen yang berpacu liar.

 

"Kau tidak butuh obat, Dokter. Kau butuh pelepasan. Kau butuh Alpha untuk itu.”

 

Suara Sylus berubah menjadi geraman rendah, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.

 

"Sekarang, berhentilah berpikir. Biarkan nalurimu mengambil alih. Jadilah milikku."

 

Dan di detik itu, saat tangan Sylus mulai menguasai tubuhnya, Li Shen menyadari dengan ngeri sekaligus lega: dia tidak ingin lari lagi. Es itu telah mencair sepenuhnya, dan kini dia siap untuk tenggelam.

 

Li Shen tidak lagi bisa memanggil kemarahan. Hanya ada rasa sakit, rasa lapar, dan satu kebenaran yang kejam, bahwa hanya Sylus yang bisa mengakhirinya. Dia mendapati dirinya mematuhi perintah itu.

 

Tubuhnya, yang tadi berjuang melawan api, kini merangkak menuju sumber panas itu. Ia tidak lagi melihat Sylus sebagai musuh, tapi sebagai penyembuh. Alpha yang dibutuhkannya.

 

Dengan isak tangis yang terdengar menyakitkan, ratapan Omega yang telah kalah, Li Shen meraih pergelangan tangan Sylus yang terulur. Sentuhan kulit mereka bagaikan arus listrik. Dingin tubuh Li Shen yang menggigil berhadapan dengan bara panas tubuh Sylus

 

Saat genggaman itu terjalin, Sylus menarik Li Shen dari lantai dengan mudah, menegakkannya, dan menghimpitnya ke dinding marmer.

 

"Bagus," Sylus bergumam, suaranya kini mendalam dan serak, menandakan Alpha-nya telah mengambil alih sepenuhnya. "Bagus, Zayne. Jangan melawan lagi."

 

Di bawah kendali instingnya, Li Shen tidak melawan. Ia hanya mencengkeram jubah kulit Sylus, hidungnya mengendus aroma yang dominan itu, aroma bubuk mesiu dan kayu hitam yang kini terasa seperti satu-satunya tempat berlindung di dunia yang sedang terbakar. Pheromon Li Shen memancar hebat, aroma yasmin yang manis dan memohon itu kini menyelimuti Sylus, membasahi jaketnya.

 

Sylus membiarkan momen itu. Dia tidak buru-buru. Dia hanya mencium Li Shen dengan ganas, sebuah hukuman sekaligus penghargaan. Ciumannya kasar, menuntut setiap desahan dan keluhan yang ditahan Li Shen selama bertahun-tahun.

 

Di saat ciuman itu melumat segalanya, tangan Sylus bergerak cepat, merobek kemeja putih Li Shen. Tubuh Li Shen terekspos, putih, rapuh, dan terbakar. Sylus menjauhkan ciuman, matanya menyala merah. Ia menatap Li Shen yang kini terengah-engah, dengan tatapan yang sepenuhnya posesif.

 

"Kau milikku," Sylus mendesis. "Sejak kali pertama kau mengirimiku pesan dan memintaku akan Dustless Protocore. Aku telah menunggu saat-saat seperti ini, Zayne. Dan aku akan pastikan kau tidak akan pernah melupakan ini."

 

Dia mencengkeram dagu Li Shen dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang dihiasi Evol Resonansi merah mulai memancarkan energi. Energi itu tidak menyakiti Li Shen; justru menyelimutinya, terasa hangat dan berat, menekan semua rasa sakit dan menyisakan sensasi yang memabukkan.

 

Li Shen, yang secara insting mencoba melawan dengan Evol Es-nya, merasakan kristal es kecil yang keluar dari ujung jarinya langsung hancur menjadi uap oleh aura panas Sylus. Es itu kalah. Logika kalah. Sylus menggendong Li Shen dengan mudah, tanpa melepaskan kontak mata yang mendominasi itu.

 

Setiap sentuhan Sylus, kulitnya yang panas, cengkeramannya yang kuat, kini menjadi satu-satunya kenyamanan yang Li Shen kenal. Di tengah gejolak heat-nya, tubuh Li Shen menyambut kekerasan dan dominasi itu. Ini bukan hanya pelepasan, ini adalah klaim teritorial.

 

Sylus menurunkan Li Shen ke tempat tidur, tidak melepaskan kontak mata. Dia menciumi setiap inci kulit Li Shen yang terbuka, meninggalkan jejak keunguan di kulit sensitifnya. Jejak Kepemilikan.

 

Saat akhirnya mereka menyatu, Li Shen mengeluarkan ratapan panjang yang menyayat. Rasa sakit dan kenikmatan yang saling tumpang tindih membuatnya tidak mampu berkata-kata, membuatnya linglung. Li Shen hanya bisa mencengkram bahu Sylus dengan putus asa. 

 

Sylus tidak hanya bergerak dengan naluri. Dia bergerak dengan tuntutan. Setiap dorongan adalah penguatan klaimnya, sebuah pesan biologis yang ditanamkan jauh ke dalam jiwa Li Shen: Kau adalah milikku.

 

Airmata Li Shen mengalir deras di ujung matanya, menerima semua yang diberikan Sylus. Kenikmatan duniawi yang belum pernah ia rasakan berjalan selaras dengan kehancuran yang terasa begitu pas. Kehancuran yang ditandai dengan sebuah gigitan pada scent glandnya.

 

Sylus menarik tubuhnya sedikit, memposisikan dirinya di leher Li Shen yang terbuka, tepat di belakang scent glandnya. Geraman rendah dan dalam memenuhi tenggorokan Sylus sebelum ia menancapkan taringnya.

 

Li Shen menjerit, rasa sakit yang tajam dan nyata itu memaksanya melengkung. Namun, rasa sakit itu dengan cepat diikuti oleh gelombang kepemilikan dan euforia yang mematikan. Evol Resonansi merah milik Sylus mengalir ke dalam tubuh Li Shen, menyegel ikatan itu. Mate.

 

Di tengah penyatuan itu, Li Shen merasakan Sylus semakin membesar di dalamnya. Knotting. Rasa penuh dan berat itu terasa seperti belenggu, namun juga seperti jangkar yang stabil. Li Shen, dalam kepasrahannya, mencengkeram punggung Sylus, memohon agar Alpha itu tidak pernah melepaskannya. Hilang sudah harga diri yang Li Shen pertahankan. Namun, di saat bersamaan identitasnya sebagai Omega adalah penerimaannya atas penolakannya selama ini.

 

Pada akhirnya, yang tersisa adalah tubuh Omega yang lemas, terikat, dan berlumuran keringat di bawah tubuh Alpha-nya. Api nafsu itu mereda, bukan karena obat, tapi karena telah menemukan pemenuhannya, telah menemukan pasangannya.

 

Li Shen bukan lagi dokter. Dia adalah Omega yang diklaim, disatukan, dan aman dalam kurungan yang dibangun Sylus.

 

Keheningan kembali menyelimuti penthouse. Namun ini adalah keheningan yang berbeda. Ruangan itu terasa berat, hangat, dan beraroma. Aroma bubuk mesiu Sylus dan yasmin manis Li Shen bercampur, menciptakan aroma dominasi dan kepasrahan yang kini terasa seperti oksigen bagi Li Shen.

 

Knot itu akhirnya terlepas.

 

Li Shen menjerit pelan, bukan karena rasa sakit, melainkan karena perpisahan yang singkat itu. Tubuhnya terasa kosong, lemas, dan kaku, tetapi anehnya... tenang. Gelombang heat yang menyiksa telah berlalu, dan kini ia tenggelam dalam lautan feromon Alpha yang terasa seperti balutan selimut halus terhangat.

 

Sylus tidak bergerak. Dia tetap berada di atas Li Shen beberapa saat, membiarkan tubuh mereka menyeimbangkan hormon yang baru saja bercampur. Ia mencium kening Li Shen yang basah oleh keringat, lalu turun ke bagian leher yang baru saja ia tandai.

 

"Jangan bergerak," perintah Sylus, suaranya kini kembali normal, tidak lagi dipenuhi gairah liar. Itu adalah suara seorang pemimpin yang puas dengan penaklukannya.

 

Dengan kekuatan yang tenang namun tak terbantahkan, Sylus mengangkat Li Shen ke pelukannya. Ia tidak memanggil pelayan. Ia tidak ingin orang lain menyentuh atau melihat miliknya yang baru diklaim.

 

Sylus membawa Li Shen ke kamar mandi yang mewah. Di bawah pancuran air hangat, Alpha Onychinus itu dengan sabar dan lembut membersihkan setiap inci tubuh Li Shen dari keringat, cairan, dan sisa-sisa klaim mereka. Kontrasnya begitu brutal: tangan yang tadi mencengkeram kasar kini membelai kulit dengan kehati-hatian.

 

Li Shen tidak tak berdaya setelah heat pertamanya yang menghantamnya bak ombak di tengah laut. Ia hanya bersandar pada dada keras Sylus, membiarkan Sylus yang memegang kendali sepenuhnya.

 

Setelah tubuh Li Shen bersih dan dibalut handuk lembut, Sylus membawanya ke tempat tidur. Tempat tidur itu besar, dikelilingi bantal-bantal mewah. Aroma pekat Sang Alpha menyelimuti Li Shen yang tampak tenang, nyaman. Seolah memberi Omega yang baru saja diklaimnya.

 

Sylus mengoleskan salep Protocore khusus yang berfungsi sebagai penenang dan penyembuh luka cepat di bekas gigitannya. Gerakannya sangat telaten, seolah merawat karya seni paling berharga. 

 

"Ini permanen," bisik Sylus. "Mereka akan tahu siapa yang menjagamu, Zayne. Dan mereka akan tahu siapa yang harus mereka takuti jika mereka menyentuhmu.”

 

Li Shen hanya bisa menghela napas pelan. Rasa perih di tengkuknya bercampur dengan rasa nyaman yang dipancarkan feromon Sylus. Itu adalah rantai, tapi rantai yang terbuat dari kehangatan.

 

Setelah memastikan Li Shen berpakaian, hanya mengenakan kemeja bersih Sylus yang kebesaran, Sylus membaringkan dirinya di sampingnya. Dia memeluk Li Shen dari belakang, mengunci Li Shen dalam dekapan yang tak mungkin melarikan diri.

 

Sylus menenggelamkan wajahnya di rambut Li Shen, menarik napas panjang, menanamkan aroma dominasinya sekali lagi. Tubuh Li Shen yang lemas kini berfungsi sebagai jangkar bagi Sylus yang Alpha-nya sedang menstabilkan diri.

 

"Kau tidak akan kembali ke rumah sakit itu," suara Sylus bergetar rendah di belakang Li Shen. "Kau tidak akan menyuntikkan sampah lagi ke dalam tubuhmu. Aku yang akan mengurus siklusmu. Aku yang akan menjadi obatmu."

 

Li Shen membuka matanya, menatap pemandangan malam Zona N109 yang gelap. Dia menyadari ia telah kehilangan segalanya: pekerjaannya, reputasinya, bahkan kepemilikan atas tubuhnya sendiri.

 

Namun, di dalam pelukan Alpha yang berbahaya ini, yang telah menipu dan memaksanya, Li Shen merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di Linkon City: keamanan mutlak. Di dalam sarang Sylus, di balik perlindungan kejahatan terkuat, dia aman dari dunia yang kejam.

 

Li Shen membalikkan badan, meringkuk lebih dalam ke dada Sylus. Itu adalah penyerahan diri total, namun diiringi dengan desahan lega. Dia mencium aroma kayu hitam dan bubuk mesiu yang kini terasa seperti aroma rumah.

 

"Janji..." bisik Li Shen, suaranya diselimuti kelelahan.

 

"Janji," jawab Sylus, mencium bekas gigitannya. "Mulai sekarang, kau adalah milikku. Kau dilindungi. Selamanya."

 

Mereka tertidur, Omega yang baru diklaim dan Alpha yang posesif. Pintu emas di sangkar Li Shen telah tertutup rapat.

 

 

Epilogue

 

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam di mana Li Shen menukarkan jubah putihnya dengan belenggu. Musim dingin di Linkon City telah berganti, namun di dalam penthouse milik Sylus suhu selalu diatur oleh dua hal: kemauan Sylus dan kebutuhan Li Shen.

 

Li Shen tidak lagi bekerja di Akso. Sylus memang menepati janjinya; dia membangunkan laboratorium tercanggih di lantai bawah penthouse, membanjirinya dengan Protocore langka, semua yang dibutuhkan Li Shen untuk penelitiannya. Li Shen masihlah seorang dokter, namun sekarang, keahliannya hanya melayani dua orang: dirinya sendiri, dan kadang-kadang, bawahan Onychinus yang dipercayai Sylus.

 

Dia sudah terbiasa dengan tanda gigitan di lehernya. Bekas gigitan itu, yang dulunya terasa seperti luka yang memalukan, kini adalah perhiasan permanen, segel yang membebaskannya dari keharusan menyembunyikan diri. Dia masih merindukan hiruk pikuk ruang operasi, tetapi tubuh Omeganya yang telah diklaim dan distabilkan, terasa begitu tenang hingga rasa rindu itu sering tenggelam dalam kehangatan yang nyaman.

 

Malam itu, Sylus kembali dari pekerjaannya di N109. Dia tidak menyapa dengan kata-kata, melainkan dengan sentuhan.

 

Dia mendekati Li Shen yang sedang duduk di sofa, membaca laporan medis. Sylus menyingkirkan rambut dari bahu Li Shen, lalu menunduk. Dia menghirup feromon di sekitar bekas gigitannya. Itu adalah ritual harian, konfirmasi kepemilikan. Dia kemudian menempelkan bibirnya ke tanda itu, memberikan ciuman ringan, seolah menyegel kembali klaimnya.

 

Li Shen menutup laporan itu. Dia melingkarkan lengannya di leher Sylus dan membalas ciuman itu dengan kelembutan yang baru ia pelajari. Dia masih membenci fakta bahwa dia dicurangi, tapi dia mencintai hasil dari kecurangan itu.

 

Dia menerima takdir ini: sebuah kehidupan di mana dia dikurung, tetapi dipuja; di mana dia kehilangan kebebasan, tetapi mendapatkan keamanan absolut.

 

Li Shen bersandar di bahu Sylus. Di luar jendela, ia bisa melihat cahaya Linkon City yang terang—dunia yang pernah menjadi miliknya, kini hanya tinggal kenangan. Dunia yang gelap, yang dipimpin oleh Alpha posesif di sampingnya, kini adalah rumahnya.

 

"Kurungan ini," gumam Li Shen, tersenyum kecil pada dirinya sendiri. "Aku rasa... aku tidak ingin keluar."

 

Sylus hanya terkekeh, mengangkat Li Shen ke pangkuannya dengan mudah. Dia memeluk Li Shen erat.

 

"Kau tidak akan pernah keluar," janji Sylus. "Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi.”

 

Di bawah langit N109 yang gelap, kisah cinta terlarang antara dokter yang dingin dan penjahat yang posesif itu telah terpatri, diukir dalam janji dominasi dan kenyamanan abadi.

 

Notes:

1 down, 2 more 😅. Not my best but I hope you like it. Semoga sesuai dengan karakter mami n papi di hc nya Jean. Love you 😍