Chapter Text
Lagi-lagi, Jiung menerima pesan singkat dari sang kekasih—Theo, bahwa kencannya hari ini dibatalkan begitu saja.
“Maaf ya, next time aku janji ga gini lagi. At least biarin aku pesenin driver buat kamu.”
Bajingan. Kutuknya dalam hati.
Dalam keadaan terpaksa, Jiung kini berdiri di halte kampusnya menunggu driver yang diutus oleh Theo dari sebuah aplikasi untuk mengantarkan dirinya ke kosan.
Pikirannya berkecamuk di hadapan jalan padat merayap dengan bisingnya klakson dari kendaraan yang terjebak di sepanjang beberapa meter jalan terik berfatamorgana itu. Perasaannya membuncah merindukan sang kekasih. Rasa yang kian membesar seiring berkali-kali pembatalan yang tidak dia duga ini membuatnya geram, bertanya-tanya, dan ragu. Apakah ini saatnya dia menyudahi hubungan tersebut dan segera mencari pengganti?
“Atas nama Kak Jiung bukan ya? Ini yang order namanya Theo tapi.”
“Iya betul kok mas, itu dipesenin temen saya.” jawab Jiung yang kini agak terkesima melihat driver dengan name tag KEEHO dan menampilkan wajah dibalik helm yang menunjukkan rahang dan hidung tajam dan menawan. Sampai-sampai Theo saja hanya disebut teman olehnya.
“Anu kak, maaf agak lama tadi macet di lampu merah…” ujar Keeho sambil membuka jok dan memberikan helm ke pelanggan cantiknya hari ini.
“Gapapa, mas santai aja. Tapi tolong ngebut ya saya buru-buru.” hanya jawaban singkat itu saja yang sanggup ia katakan, rasanya ada urgensi untuk segera duduk di jok belakang motor beatstreet keluaran tahun 2017an bersama pria dengan berbahu lebar itu.
Sepanjang perjalanan, Jiung tetap menekuk kusut wajahnya karena kecewa, bahkan dengan pemandangan di depan matanya saat ini pun tidak membuat pikiran beratnya ini agak ringan—mesipun tetap agak menggoda.
“Lagi banyak pikiran ya kak?” usaha Keeho memecah hening, mengingat masih ada sekian kilometer lagi dengan arahan full merah hingga titik tujuan dari aplikasi driver online nya itu. "Kok mukanya ditekuk begitu?"
“Iya mas, saya buru-buru mau pulang tapi malah kejebak macet begini.” Jiung menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “tapi santai aja mas, gausah dipikirin banget, emang hari ini dimana-mana macet semua, apalagi rush hour begini.”
“Anu kak… kalau memang mau cepet banget, saya hafal jalan tikus di depan, nanti masuk lewat gang kecil gitu, tapi jalannya rusak banyak kubangan airnya juga karena tadi pagi sempat hujan, kakaknya mau lewat sana aja ga? Nanti saya bawa ngebut juga biar ga berasa.” Ide brilian itu keluar begitu saja dari Keeho agar pelanggannya yang ini dapat sampai ke tujuan dengan segera.
“Oh boleh mas, lewat sana aja.” tanpa pikir panjang Jiung menyetujui saran dari Keeho.
Setelah jalanan agak lenggang, Keeho tanpa aba-aba menancapkan gasnya untuk menuju gang yang barusan ia sebutkan, tanpa tahu kalau yang dibonceng akan refleks terkaget dan mengalungkan lengan kurus itu di pinggangnya, tak hanya itu saja, dada bertattoo bulan sabit yang hanya terbalut kemeja tembus pandang pun kini menempel dan terasa jelas tiap lekuknya di punggung lebar Keeho.
"Pegangan yang kenceng aja ya mas, gapapa kok." serunya dibalik helm full face itu sambil menengok ke arah belakang, memastikan pelanggannya setuju dan pegangannya tambah erat.
Baru beberapa meter dalan jalan tersebut, Jiung merasa drivernya ini berbohong. Mana jalanan jelek yang dia katakan tadi? Tapi tak sampai sekian detik, lonjakan naik turun akibat jalan rusak itu dia rasakan. Dadanya kian sering menggesek punggung Keeho seiring kecepatan motor yang beranjak naik dari 60 kmh, 80 kmh, 100 kmh, seperti orang gila yang diburu setan Keeho mengendarai motor itu.
"Waduh, nyundul banget tuh... kan jadi gue yang keenakan." batin Keeho yang merasa punggungnya kian terhimpit gumpalan otot dan lemak yang menggoda itu.
Lubang basah demi lubang basah telah diterjang, beberapa kali Jiung mengerang tidak nyaman akan lonjakan tiba-tiba tanpa henti itu. Untuk kali ini Keeho tidak mempedulikannya dan hanya fokus pada tangan yang memeluknya dari belakang dan gesekan dada seseorang pada punggungnya.
"Ahh, mas. Becek banget." protes Jiung.
"Bentar ya kak, dikit lagi nyampe nih." jawab keeho sambil mempercepat motornya dan menerjang kubangan air lainnya.
"Mas basah." , "Mas becek." , "Mas pelan." protes Jiung nonstop dan makin melenguh. Keeho mendengarnya pun semakin kotor isi pikirannya, tak berarah, hingga tertanam niat terselubung.
"Anjing ya, gue jadi ngaceng kalo dia ngomongnya gitu mulu, protes sekali lagi gue entot dia." ucapnya iseng dalam senyap, lalu memikirkan strategi dan skenario di kepalanya kira-kira apa yang akan dia lakukan bila satu protes lagi lolos dari mulut Jiung. Sesekali ia melirik ke arah spion melihat wajah cantik Jiung yang lucu saat ketakutan, membuat alat yang dia banggakan bisa membuat banyak mantannya mabuk kepayang itu kini nyaris sepenuhnya tegak dan menyesakkan celananya.
"Masss, udahhh basahh banget celana saya iniiiii, pelan aja gapapaaaa kooook" teriaknya di telinga Keeho dengan lantang, dan dianggap sebagai tanda menantang oleh Keeho.
Keeho menyeringai, motornya ia pelankan sambil melontarkan bom atom, "Ohiya kak, nanti kalau sudah sampai, saya boleh numpang ke toilet ga? Udah kebelet banget saya ini, diujung banget."
Jiung akhirnya melepaskan tautan lengannya bersamaan dengan kecepatan motor yang melamban dan mengangguk, "Boleh aja mas, tapi paling di kamar saya toiletnya, yang buat tamu di luar lagi mampet." mendengar hal yang Jiung katakan barusan Keeho semakin menampilkan senyumannya, tanpa Jiung tahu sebenarnya bukan air seni yang tidak bisa Keeho tahan.
Kini seluruh pakaian Jiung sudah ia tanggalkan. Selain karena basah terkena cipratan dari kubangan air berkali-kali itu, hasratnya yang sudah lama tidak terlampiaskan pada Theo ingin dia lampiaskan di hadapan Keeho. Gila memang. Hanya saja apa bisa Jiung cuma diam dalam keadaan kini kamar mandinya berisikan pria asing dengan badan tegap, dada bidang, hidung mancung, rahang tegas, dan mata yang menawan? Mana tahan bukan? Itu yang terlintas dibenak Jiung saat ini. Kesempatan untuk dipuaskan dengan pria setampan itu pastinya tidak datang dua kali.
Keeho yang tak kunjung keluar pun membuatnya resah, haruskah dia berganti baju seperti biasa? Atau membiarkan dada sintal dengan tattoo cantiknya itu terekspos begitu saja? Atau perlu dia berganti memakai boxer hitam kesukaannya? Dirinya kini hanya mondar-mandir dalam keadaan telanjang di hadapan cermin hanya terbalut dengan handuk pendek yang (nyaris) melingkar di pinggang kecilnya dan terbelah di bagian paha, tetapi dalam keadaan gagap begitu dan belum sempat mengganti, Keeho terlanjur membuka pintu.
"Maaf lama ya kak, anu... sleting saya ga bisa ditutup, malu." jawab Keeho menarik berulang sleting macetnya itu sambil tertunduk.
Jiung (dalam keadaan seperti itu) menghampiri Keeho.
"Mau dibantuin aja ga mas?" spontannya memegangi sleting Keeho sebelum dapat persetujuan. Kenapa keadaannya begini? Bukankah Keeho yang berniat untuk memakai Jiung habis-habisan.... Bagaimana bisa kini keadaan berbalik jadi Jiung yang menginisiasikan kontak seperti ini?
"Ahh, ga bisa kak.. Takut kejepit saya..." resahnya pura-pura, padahal ada rasa terpendam ingin dia buka dan pamerkan miliknya yang sudah tegang sejak saat mengemudi.
Jiung masih berusaha, modusnya sedetik menyentuh milik Keeho kini membuatnya tambah penasaran, tanpa pikir panjang Jiung melesapkan tangannya ke dalam celana Keeho. Diusapnya alat kebanggaan itu yang basahnya kini sudah agak rembes, entah karena habis kencing tadi atau itu adalah cairan precum. Nomor dua lebih masuk akal melihat ukurannya yang sudah maksimal tegak itu.
"Masnya tegak sama basah begini..." Keeho yang kelaminnya mulai dimainkan dari luar celana kini gelagapan. Masa iya pria cantik dan lugu yang baru saja iya bonceng berani seliar ini? Keeho pikir dirinya lah yang paling liar, tetapi dia salah, masih ada Jiung di dunia ini. Hentakkan sletingnya masih Jiung paksakan hingga keeho mengerang tidak nyaman. Guncangan itu menyebabkan balutan handuk dipinggang Jiung merosot ke mata kaki dan menunjukkan miliknya yang memerah dan sudah basah pula.
"Kak... punya kakaknya juga udah lepas... kalo kita langsung main aja gimana?" tanya keeho sambil menatap Jiung penuh harap dan mulai menanggalkan atribut hijau terangnya itu, diikuti menurunkan celananya seraya mendorong Jiung yang mengangguk pelan ke atas kasurnya.
Jiung dan seluruh tattoo indahnya disekujur tubuh mundur perlahan membiarkan Keeho menghampirinya, ciuman tak terduga dari orang asing yang dia temui hari ini rasanya lebih memabukkan dari cumbuan sang kekasih. Keeho yang sesekali menjeda tautan kedua bibir itu memandangi belahan bawah Jiung yang sudah berkedut.
"Ga mau laporan 'Mas becek' lagi hm? Ini kakak udah luber kemana-mana loh?" jarinya ia susupkan tanpa permisi membuat Jiung terengah nikmat, "Ahh iya mas... mau masukin yang dalem..." balas Jiung sambil mengocok dan memutar penis Keeho seperti knob pintu, "Mau dikontolin langsung mas... mau..."
Keeho mengiyakan permintaan Jiung, penis itu dia benamkan kedalam vagina ketat Jiung, "Anjing, kak... rapet banget nghhh enakk... mentokin sekalian yah, tahan." ia melanjutkan ciumannya sembari meremas dada sintal yang sepanjang perjalanan jadi biang kerok utama nafsu Keeho tak tertahankan seperti ini. Remasan dirasanya kurang mengobati hasratnya... Jiung membusungkan dadanya dengan gairah diantara mereka yang semakin memuncak, "Mas, aku mau ngenenin... mau di isep yang kenceng... dijilat yang enakkk... ahhh mau mentokin lagi!!!" Jiung mengerang dan kini badannya menggeliat tak tahan akan hentakkan penis Keeho yang penuh dan mulai berkedut.
"Kak, cerewet gini tambah cantikkk, nghhh rapet banget sialan... mau banget ada yang ngenen sambil diisep isep pentil cantiknya iyaaa??" Keeho memegangi perut Jiung dimana terletak rangkaian bunga mawar dan kupu-kupu untuk menjadi tumpuan saat memperdalam hentakkan penisnya, juga masih dilanjut dengan memilin puting kemerahan itu sebelum menjilatinya dengan jail.
"Ga mau gitu gelii, mau isep yg kenceng... mau dienakin yang lama..." Jiung tak berdaya dan mulai kehabisan tenaga seiring sensitivitasnya bertambah, Keeho yang sudah dipuncak ingin keluar akhirnya mencabut penisnya sementara dan fokus menyesap puting Jiung serta tak henti meremas satunya.
"Mas kok kontolnya dilepas sih... masih ingin di mentokin.... mau digenjot lagiii... aku mau keluar tadi..."
Keeho menghentikkan aktivitasnya, "Sabar ya cantik, aku juga mau keluar tadi... nanti kita bucatnya barengan, sini ngangkang lagi mana memek rapetnya aku mau liat."
Jiung melebarkan kedua kakinya dengan sisa tenaga yang ada, Keeho kini sudah benar benar gila melihat milik Jiung yang meneteskan lendir sebanyak itu dan berkedut dalam keadaan memerah, menenggelamkan kepalanya untuk menjilat tiap lapisan, tiap lembaran, tiap titik milik Jiung.
"Ahhhh jangann jilmek mas.. gelii... mau pipisss... gakuattt," Keeho yang iseng semakin menjulurkan lidahnya lebih dalam dengan memberikan gerakan memutar menjelajahi dinding berlendir itu. Jiung mulai merasa hilang arah, bahkan hubungan sekian tahun bersama Theo belum pernah kekasihnya itu meniduri Jiung seperti ini, "Gapapa mas terusinnn ahhh... hmmm kaya gitu yang dalem enakkkk... mau kenain ke clit jugaa uhhhh..." manja Jiung, saliva kini menjuntai di selakangannya akibat mulut Keeho yang menjilat tak henti, seolah vagina dihadapannya adalah hidangan terlezat yang pernah iya makan.
Jiung menikmati lumatan di bawah sana. Rasanya seperti nyaris gila karena nikmat. Betapa handalnya pria asing yang ia temui hari ini dan bisa memuaskan hasratnya. Deringan ponselnya berkali-kali kini membuyarkan rasa nikmatnya. Melihat nama kontak yang muncul "My theo not mattheo" membutnya kesal dan melempar ponselnya sembarang arah dan mencoba menikmati jilatan demi jilatan yang Keeho lakukan.
"Mas udahannn... mau dikontolin lagi ajaa.... mau dibucatin di dalem... biar diangetin sama kontol Mas keeho."
Mendengar namanya Keeho bangkit. Tanpa ragu penis berurat yang kini jadi favorit Jiung itu menghentak lagi kian cepat... Tetapi masih tidak ingin untuk ejakulasi secepat itu. Dalam pikirannya jika telah ejakulasi, momennya bersama Jiung akan usai.
"Kak Jiung kamu cantik banget, makin digenjot kontol makin jago ya goyangnya? suka ya kak diewe kaya gini?" hentakkan Keeho kian nikmat dirasakan oleh Jiung.
"Ngyhhh mas enakk... mau ngewe terus sama kontol mas Keeho..." Jiung mengikuti ritme dari Keeho yang semakin intens.
"Aduhhh cantikk, jangan makin di rapetin dong makin enakkk... mau bucat aku kak..."
"Jangan dulu... aku masih mau terusin ngewenya mas... aku mau diatas ya... biar makin goyangin memeknya makin rapet..." pinta Jiung tambah bergairah untuk menunggangi pria asing yang menggagahinya ini.
Keeho spontan menjatuhkan badannya ke kasur dan merengkuh pinggang kecil itu untuk menungganginya, Jiung mulai menggoyangnya pinggul itu dan merapatkan jepitan pada penis Keeho "Mas... anjing enak banget makin sesek di akunya..." hentakkan itu tidak berlangsung lama, Keeho menghentikannya dan memberi perintah, "Menghadap belakang kak.. biar aku entotin memek kamunya makin kenceng juga.
Jiung menurutinya, dan benar saja, goyangan yang dia berikan disambut dengan hentakkan keras dari Keeho. Membuat penetrasi itu semakin dalam. Bunyi tepukan antar kulit basah itu menggema diseluruh ruangan. Sesekali diiringi erangan dan tamparan Keeho pada bokong Jiung yang munungging sempurna.
Sedang menikmati lenguhan dan ritme hentakan bersama itu, pintu terbuka tiba-tiba menampilkan Theo dengan wajahnya yang datar tanpa ekspersi kaget sedikitpu, seolah dia tahu hal ini akan terjadi. Theo spontan menghampiri Jiung yang terperanjat, Keeho yang pandangannya terhalang oleh punggung hingga bokong Jiung bingung mendengar suara isakan Jiung dan goyangannya yang terhenti seketika.
"Theo maaf.... Semua ini ga kaya yang kamu pikirin... Sayang..." penyesalan terpancar dari matanya, Theo yang semakin dingin hanya bisa mendorong dada Jiung pelan, "Terusin dong, aku pengen liat... cantikku kalo diewe sama orang lain gimana." sarkasnya.
"Ga mau Theo..." kalimatnya terpenggal ketika Theo mencengkram erat pergelangan tangan Jiung dan mengarahkan pada penis Keeho yang baru saja lepas dalam keadaan berkedut dan baru saja pecah berlumur cairan ejakulasi.
"Pegang punya dia, masukin ke belakang."
"Theo..."
"Aku bilang masukin ke belakang."
Jiung menangis merintih. Malu. Hanya itu yang dia rasakan. Rasanya seumur hidup dia baru pertama kali merasakan seks sehebat itu dan malu dengan sangat hina seperti ini sambil menuruti perintah Theo.
"Bagus, genjot lagi dong kaya tadi, katanya kamu mau diewe dia terus kan? Lanjutin dong biar bucat bareng." Theo melontarkan kalimat itu dengan datar, tapi tatapan kecewanya tak dapat dipungkiri. Itu semua pun salah dia yang selalu menelantarkan Jiung setelah janji demi janji. Tetapi rasanya sungguh aneh dan betapa perihnya pengkhianatan ini jika dia mempertanyakannya lebih jauh, sudah berapa kali Jiung selingkuh saat dia mulai abai akan kekasihnya itu?
Theo membuka celananya. Membuka miliknya yang sudah mengacung tinggi juga lalu memasang karet pengaman yang diambil di balik sakunya, "Tiduran, ngangkang lagi kakinya cantik." perintahnya lagi pada Jiung yang dengan pasrah menurutinya. Belahan merah merekah milik Jiung kini kembali bertemu dengan benda tumpul yang selama ini sudah jadi kepunyaannya yang dia rindukan selama ini. Hentakkannya memang tidak senikmat Keeho tetapi ada kerinduan tak terucap pada penterasi mereka kali ini dibalik itu semua. Keeho yang masih bingung untuk bereaksi dan kini tertimpa tubuh Jiung yang terlentang sepenuhnya tidak bisa lari dan melakukan apapun selain lanjut menggenjot penisnya yang kini berada pada anal Jiung. Kewarasannya mulai dapat dipertanyakan pada titik ini. Bagaimana bisa lubang yang ini terasa lebih memijit dan kencang dibanding lubang sebelumnya. Bisa-bisa dia ejakulasi lagi lebih cepat dari sebelumnya. Desahannya sudah tidak sedominan tadi saat belum ada Theo. Tentu saja dia tahu diri. Kalau bukan Theo yang memesan jasanya tadi, Keeho tidak akan bertemu Jiung. Kini semua kendali ada pada Theo, seseorang yang sepertinya memiliki otoritas yang lebih berhak atas hubungan dan permainan ini.
"Theo... aku kangenn.. mau gini terus sama kamu..." Jiung melanjutkan tautan bibirnya dengan sang kekasih dengan mesra dan rasa mendamba yang sudah sangat lama, "Aku kangennh... cuma mau kamu yang ngewein aku terus... Maafin aku..." tangannya meraih dan menangkup wajah Theo yang menolak untuk dicium kembali tetapi masih melesapkan penisnya didalam Jiung, tanpa mendesah nikmat, tanpa banyak kata, hanya menatap mata Jiung dengan lekat dan menunjukkan kekecewaanya yang besar, tetap saja bulir air mata lolos dari mata pria tanpa ekspresi itu.
Keeho yang menikmati permainan dan drama ini dalam diam baru saja menuntaskan ejakulasinya. Dalam keadaan terhimpit satu orang dewasa dan terkena hentak oleh satu orang lainnya dia sepertinya nyaris pingsan saking lemasnya.
"Sayang aku mau keluar... enak... nghhh mau sama kamu terus... maafin aku... aku cuma mau nungguin kamu mhhh"
"Yang jahat harus tahan ga boleh keluar, kan aku juga baru main sama kamu, kok kebagiannya bentar?" jawab Theo yang dibalas dengan gelengan oleh Jiung, mengakibatkan satu tamparan melayang pada pipi merona itu.
"Aku bilang tahan! Ahhhh fuckk kamu rapet terus... udah berapa kali kamu ngewe sama strangers gini hah?? Saking ga sabarnya memek kamu minta digenjot makanya mau mau aja sama strangers ga jelas kaya dia? Iya? Ga bisa banget sabar nunggu pacar kamu sendiri? Kamu tuh apa sih pacar aku atau lonte?" runtuh sudah pertahanan Theo yang sedari tadi bertahat untuk tidak memberikan reaksi apapun, rasa kecewa dan nafsunya sudah tidak terbendung. Dihadapannya kini Jiung bukan lagi pacarnya. Hanya seorang yang bisa dipakai begitu saja oleh orang tidak dikenal.
"Berapa banyak cantik?" tanya Theo sambil menghentak keras dengan rasa kesalnya.
"Theo sayang maaf..." jawab Jiung dengan tangisannya yang kian keras.
"Aku ga butuh maaf kamu, aku cuma tanya udah berapa banyak yang tidurin kamu kaya gini tiap ga ada aku?" tanya Theo memaksa, “Masih suka kamu ternyata sama kontol aku? Tadi dari luar aku denger katanya cuma mau dikontolin dia hm? Kok bucatnya tetep sama aku?” air mengalir deras dan terciprat ke banyak arah seiring Theo masih akan terus menghujamnya hingga dirinya selesai nanti, “Hey? Jawab dong? Keenakan ya kamu diewe dua orang?”
"Ga ada.... cuma ini... aku khilaf Theo aku cuma sayang kamu…" rengek Jiung bergetar suara dan seluruh badannya, semakin menyesal memohon ampun dengan memegan erat jemari Theo seolah takut ditinggalkan... Lagi.
Satu tamparan kembali melayang, "Bohong, dasar lonte." ucap Theo dengan nafas terengah-engah setelah melepaskan puncaknya, "Kita putus ya Ji, aku ga minat sama lonte murah kaya kamu," ucapnya santai sambil melepas kondom dan mengikatnya agar cairannya tidak menetes kemana-mana, "Tuh, kenang-kenangan, jangan pernah cari aku lagi, bye." pamitnya setelah melemparkan kondom itu, Theo merapihkan tampilan dirinya dan pergi begitu saja.
Jiung yang masih sulit bergerak hanya bisa beranjak dan merangkak ke arah pintu berusaha mengejar Theo dengan tenaga seadanya berujung hasil yang sia-sia. Keeho—yang kini sudah bisa bangkit juga, berusaha mengggapai Jiung dan mencoba menenangkannya.
"Jangan pegang saya, pergi dari sini sekarang." ucap Jiung ketus sambil terisak meringkuk, masih bingung bagaimana memproses semua ini, terlalu banyak kejadian dalam waktu yang singkat.
Keeho hanya mengangguk dan berujung membereskan barangnya dan pergi meninggalkan Jiung, pikirnya ini semua sudah cukup menghibur untuk dia yang sedang jenuh dan tidak sanggup berkomitmen dengan orang lain, "Kak saya pergi dulu ya, makasih banyak udah main sama saya."
Tak hanya Theo, Keeho pun kini meninggalkan Jiung yang tidak terbalut apa-apa selain penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Customer: Theo
Driver Rate: ★★★★★
Note: Pendiem, pacar saya puas.
