Work Text:
Dalam sepuluh tahun kariernya di dunia musik—ah, tidak, bahkan mungkin lebih dari setengah umurnya—Kalva punya satu kebiasaan yang tak pernah usang. Tak pernah lekang oleh waktu. Tak pernah tergantikan. Tak pernah mati. Sudah bisa disebut tradisi, tatanan yang memang akan selalu ada dan tak akan berhenti, bahwa ia akan menjadikan Aras orang pertama yang mendengarkan karya-karyanya. Apapun itu, mau sebatas kumpulan melodi tak bernama atau bait-bait lirik tanpa irama, hingga lagu yang baru tuntas digarapnya. Maka, mencari kontak Aras dan mengirimkan fail adalah langkah yang seakan sudah sewajarnya, sudah sepatutnya, ia lakukan. Namun, fakta tentang hancurnya hubungan mereka, perasaan sesak yang tak kunjung hengkang dari dadanya, tentu hak itu sudah runtuh dan mau tak mau Kalva mesti mengurungkan keinginannya.
Dan di sinilah ia kini, duduk di balik jendela kafe, bersama secangkir amerikano yang tak lagi panas, dengan kaki yang terentak dalam tempo yang tak beraturan, dan diska lepas yang tergenggam erat di antara jemari. Matanya tak bisa berhenti lari, pindah dari satu titik pandangan ke titik lainnya, menanti sekaligus menahan kegugupan akan perjumpaan kembali dengan sang mantan kekasih seusai berbulan-bulan terlampaui.
Gila.
Kalau begini lama-lama jantungnya akan meledak akibat rasa gugup dan takut yang tak terkira.
Sepertinya tiba lebih awal bukanlah suatu keputusan yang cerdas. Lihat betapa tertekannya ia sekarang.
Kalva menahan setengah mati untuk tidak beranjak pergi. Untuk tetap duduk manis dan mengatur napas saja alih-alih mengingkari janjinya sendiri.
Ia yang bilang kalau ia membutuhkan pertemuan ini. Karena memang benar. Rasanya perlu menyerahkan lagu di genggamannya sekarang pada Aras, sebagai kali terakhir sebelum ia mematahkan kebiasaan. Biar ia benar-benar bisa menerima segalanya, dan kembali seperti semula. Mempertahankan apa yang ada, tanpa balik menoleh ke rasa yang kini tak lagi sama di antara keduanya.
Maka, ketika bel kafe berdenting dan sosok terkasih muncul di hadapan, Kalva berdiri dari kursinya, menyelipkan senyuman tipis yang telah ia latih sehari semalam. Berusaha untuk tidak menyadari semerbak manis paduan lemon dan melati, dari parfum favoritnya yang dikenakan Aras—wewangian yang juga menyambut hidungnya bertahun-tahun lalu kala ia jatuh hati. Atau pada relap hangat manik beriris cokelat kayu itu, yang tak pernah gagal bikin ia kehilangan kata-kata dan ingin tenggelam di antara sentuhan lembutnya.
"Sori, Kal, got caught up on work. The shoot took longer than I thought. Mbak Yaya lagi bad mood gitu, we ended up doing too many retakes. Like I even lost count." Aras menarik kursi di seberang Kalva, lalu menaruh ranselnya dan menjatuhkan diri sembari menggulung lengan kemeja. Ia tersenyum, meringis sungkan. "Lo pasti udah nunggu lama, kan? Maaf ya, Kal."
"C'mon, Ras. It's just me. I know how it is. Nggak perlu minta maaf." Suaranya terdengar aneh—serasa sekali kecanggungan di dalamnya. Kalva berdeham. "If there's someone who should be apologizing right now, obviously it's me. I'm truly sorry that I dragged you out here. That you had to make time to meet me, padahal I know very well how tight your schedule could be."
Aras tertawa, menggelengkan kepala. "Kenapa jadi nggak mau kalah gini? Kompetisi siapa yang paling bersalah?" Didorongnya frame kacamata. "Apology accepted. Though I should still look into whataver we're talking about to know if you're really worth my precious time," suaranya teruntai dalam nada jenaka, seirama dengan tatapannya, "or not."
Kalva tersenyum simpul. Tangan kirinya, yang menyimpan diska lepas di genggaman, ditaruh di pangkuan. Rasanya ingin sekali segera menaruh benda itu di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Aras. Tapi tidak, tidak, ia tidak akan menghancurkan kesempatan ini. Tidak seperti September lalu saat emosinya justru meluap-luap dan mengambil alih kelogisan otaknya. Kalva telah bersumpah tak akan mengulanginya.
Sementara tangan kanannya menarik cangkir kopi, menyesapnya dengan tenang. Seolah tidak ada sekumpulan pikiran buruk yang bergemuruh di kepalanya, melancarkan upaya untuk melucuti keberanian dan keyakinan yang sudah dibangunnya mati-matian.
Konyol.
Akan sangat konyol kalau sikap pengecutnya ini diberitakan di seluruh negeri, jadi bulan-bulanan warganet tiada henti. Sebab seorang Gamaliel Kalva yang pandai bersenandung tentang cinta kenyataannya tak pernah tahu apa-apa. Bahwa faktanya, ia pernah memilih untuk menyalahkan Aras daripada mengakui kesalahannya.
Oh, how that fucking news, with this exact photo of him scrunching cowardly in front of Aras without being able to say anything, will definitely be all over the headlines for weeks.
And he, for sure, will be grateful for that to happen. For at least he could get the reality check he so much needed.
Selagi Aras pergi memesan minuman, lalu kembali dengan segelas macha latte di tangan, Kalva berusaha keras untuk mengingat semua kalimat yang sejak kemarin dirangkainya. Juga garis besar atas apa saja yang mesti dikatakannya.
Minta maaf atas pesannya malam itu. Bicara mengenai pertemuan terakhir mereka—yang lagi-lagi memalukan dan karenanya ia berutang maaf pada Aras. Kembali membahas kondisi hubungan mereka. Memberikan surat yang disimpannya di saku. Menyerahkan diska lepas sekaligus berterimakasih untuk semua waktu yang diberikan Aras padanya.
Baiklah. Tidak terdengar sesulit itu.
Jika ia bisa membabat habis belasan konser, berjam-jam menanggapi pembawa acara membosankan cuma untuk promosi album, atau dipaksa merespons rentetan rumor tidak jelas yang tak pernah absen menyambangi presensinya, membuka percakapan dengan Aras bukanlah suatu yang rumit.
For fuck's sake, they've known each other for more than a decade.
Been strangers who only knew each other's names, got to know better and became friends, ended up staying in love for years until his naivety and overly dependent antics got the best of him and destroyed everything they built together.
It should be fine.
Yet it's not.
Ketika Aras duduk kembali di depannya, menggumamkan melodi sebuah lagu sambil menaruh minumannya di meja, Kalva merasa konsentrasi oksigen di sekitarnya turun drastis. Seakan udara tersedot begitu saja oleh suatu teknologi tak kasatmata. Menyisakan sesak dan panik yang perlahan-lahan mencekik lehernya.
"So, lo mau ngobrolin soal apa?"
Kalva membasahi bibirnya. Sekali lagi berdeham. "Gue tahu lo bakalan anggap omongan gue sebatas kaset rusak, yang terus-menerus memutar ulang kata-kata yang lo benci." Ditariknya napas dalam. "But I'm sorry, Ras. I'm so sorry for what happened that night."
Aras mengerjap. Sorot matanya tak berubah. Masih sama hangatnya. Cuma ada kebingungan di sana. Kebingungan yang memunculkan tanda tanya, melafalkan pertanyaan yang bikin Kalva betulan remuk redam mendengarnya.
"Which night?"
Karena memang begitu realitanya.
Mau ia percaya atau tidak, terima atau tidak, tak terhitung berapa kali ia telah melukai sang tersayang. Mengingkari sekaligus mengencingi ikrar yang dulu pernah digugunya—bahwa katanya ia tak akan pernah membiarkan apapun dan siapapun di dunia ini dapat menyakiti Aras.
"We fought a lot, Kal. Hell, we spent most of our time together picking apart what we dislike about the other person." Suaranya mengalun tenang. Aras melanjutkan, "Kalau yang lo maksud adalah malam ketika lo ngirim chat itu, as I said before, you're already forgiven. Tapi kalau maksud lo itu malam terakhir gue ketemu lo, I feel like I need to hear what you're gonna say first."
Kalva menelan ludah. Tidak berani ditatapnya Aras tepat di mata. Maniknya justru menjadikan cangkir di hadapan sebagai pijakan. "Gue nggak akan beralasan apapun. Gue tahu dan gue sadar kalau yang gue lakukan malam itu nggak bisa dibenarkan. I hated myself for kissing you out of consent that night." Dan ketika kalimat selanjutnya keluar darinya, Kalva makin menunduk. Suaranya pecah di akhir kalimat. "And I'm sorry, Ras, that I tried to force myself onto you. That I accused you of cheating."
Sebelum semua keberaniannya menguap begitu saja, Kalva melanjutkan perkataannya. Sebisa mungkin merangkai ucapan, bukannya malah meraung-raung dan menangis minta dimaafkan. Aras pantas mendapatkan penjelasan darinya. Utamanya tentang bagaimana ia menerima putusnya hubungan mereka.
"I shouldn't have lashed out to you. Lo berhak pergi kapanpun lo mau. Apalagi ketika gue justru bikin lo jalan di tempat, alih-alih jadi seseorang yang bisa lo ajak lari ngejar mimpi-mimpi lo itu—orang yang gue janjiin ke lo bertahun-tahun lalu." Kalva menggigit bibir, menahan tangis yang mengancam akan pecah. "Apalagi ketika rasa itu udah pudar, apa yang dulu kita percaya sebagai cinta udah nggak ada. Now I realized that no matter how much I burn myself for it, I wouldn't be able to lit that spark again. And it was none of your fault. Neither was it mine—though basically everything broke apart because of me."
"I kept thinking of the what ifs, of what it would've been if I did better, if I did everything right. Makanya gue nggak bisa menerima kalau ternyata gue udah kehilangan lo jauh sebelum lo minta putus, Ras. That I didn't even know you were burning yourself alone trying to keep us."
"Kal."
Aras berusaha untuk menjeda, menunjukkan ketidaksetujuan atas pilihan kata yang digunakan. Tapi Kalva hanya menggeleng pelan, makin menunduk guna menyembunyikan matanya yang mulai memerah.
"Gue sama sekali nggak tahu gimana gue harus hidup tanpa lo. Part of it tentu karena kita selalu bareng-bareng, jauh sebelum lo dan gue jadi kita, jauh sebelum lo nemenin gue sampai titik ini. Tapi sebagian lagi karena adanya lo bikin hidup gue lebih tenang. Karena gue egois."
Kalva memejamkan mata, mengusap air matanya yang jatuh dengan jemari, lantas mengangkat kepala. Dan di situlah ia percaya situasi ini sangat-sangat ironis—bagaimana Aras masih mampu menatapnya dengan penuh sayang dan pemahaman. Tanpa memaksa, hanya mendengarkan.
Kalau ditanya perlu sebodoh apa seseorang untuk menyia-nyiakan malaikat macam Aras? Lihatlah dirinya sekarang. Jelas-jelas jawabannya adalah sebodoh ia.
Kalva menarik napas. "You took care of everything. You never asked for help. Padahal lo selalu bantu gue kalau gue butuh. Dan bukannya nanya ke lo apa kiranya yang bisa gue bantu, gue malah memanfaatkan cinta lo. Lo juga yang harus nyemangatin gue, ngeyakinin gue pas gue down." Tanpa menghindari tatapan Aras, Kalva menelan ludah dan melanjutkan, "And yet, I dared to wonder, to question your sincerity, to scream at you for leaving me behind."
Selanjutnya hening. Senyap mengisi. Kalva mengusap wajahnya dan berpura-pura menghabiskan amerikano miliknya. Berusaha untuk bersikap biasa saja soal bagaimana cara Aras menatap lurus padanya. Tatapan yang lucunya, setelah apa yang ia lakukan dan ia ucapkan, tak pernah jua berubah.
Kalva berdeham, melarikan mata ke manapun asal bukan pada sosok di depannya. "You know, you have every right to hate me."
Sudut bibirnya terangkat. Aras kemudian menyahut dengan, "But I chose not to. You know why?"
Kalva menggeleng.
"'Cause above everything, after everything that happened, you're still a dear friend of mine, Kal. Always have been. And will always be."
"No, but—" Melihat Aras menaikkan alis, Kalva perlu berdeham dulu untuk mencuri waktu. Biar kata-kata yang keluar darinya betulan terpikirkan matang. "Tapi kalau gue itu orang lain, tanpa perlu berpikir dua kali, lo pasti bakal langsung cut off gue the second I was dependent on you. Kenapa kalau soal gue, lo jadi terlalu baik, Ras?"
Tidak langsung merespons, Aras lebih dulu meneguk macha latte favoritnya itu, menyisakan setengah. "We've known each other since we were twelve, Kal. I know you better than you know yourself. And so do you. It's not that I'm being soft when it comes to you, tapi apa ya? I think you're like one of a few people that I'd never regret knowing. Someone I consider really precious to me. I never wanted to lose you either, Kal."
Menyebut apa yang dirasakannya sekarang adalah keterkejutan akan terdengar seperti pernyataan yang cukup meremehkan. Sebab Kalva sekalipun tidak pernah meragukan perasaan Aras padanya.
Namun, mendengarkan semua itu keluar dari mulut Aras, setelah segala hal yang terjadi di antara mereka, Kalva merasa sangat tidak pantas. Sumpah, kiranya apa yang pernah ia lakukan di kehidupan lalu sampai-sampai ia bisa punya seseorang seperti Aras di hidupnya saat ini, tapi dengan bodohnya menyia-nyiakannya begitu saja?
"I feel like you keep reminding me of how bad of a boyfriend I was," gumamnya lirih. Tapi dilihat dari bagaimana Aras terpingkal, lelaki itu jelas mendengarkan. Menahan malu, Kalva mengusap wajahnya, menyembunyikannya untuk jadi sasaran tatapan Aras. "God, I feel awful for what I did to you."
Dan tawa Aras justru kian kencang. "You're so silly sometimes."
Sedangkan di seberangnya, Kalva diam-diam menghela napas lega. Yah, mungkin tidak seperti rencananya. Dan penjelasannya tidak serapi yang ia rancang. Tapi setidaknya, ia bisa membuat Aras tertawa lagi.
Apapun itu, Kalva rela menukarnya demi dapat mendengarkan renyah dan manisnya tawa Aras sepanjang hari.
"Ras."
Aras baru saja menyudahi tawanya. Tatapannya kembali fokus ke Kalva. "Iya, kenapa?"
Kalva meraih surat dari sakunya, lantas menaruhnya di meja. Bersama dengan diska lepas yang sejak tadi tak pernah usai digenggamnya. Lantas didorongnya dua benda tersebut, menuju tepat ke hadapan Aras.
"Your new song?" tebaknya.
Kalva mengangguk. "And a letter I wrote for you when you turned twenty." Mendeham, ia menambahkan, "I know it's too late for me to give it to you right now, but I want you to keep it. Will you?"
Senyuman Aras mengembang. "Tentu," balasnya. Nada ringan, nan jenaka, kemudian muncul dalam suaranya. Yang akan timbul jika ia tengah meledek seseorang. "Well, it's actually my pleasure to accept a letter written solely for me, from the one and only Gamaliel Kalva."
Kalva mengerang jengah. Setiap olok-olok yang ditujukan Aras padanya bikin ia makin ingin lenyap menyatu dengan debu saja.
Sementara Aras lagi-lagi terpingkal mendapati reaksinya. Dibenahinya kacamata yang nyaris melorot akibat kebanyakan ketawa. "What about the song?"
"Gue mau lo jadi pendengar pertama buat lagu itu. Khusus untuk lagu itu," ungkap Kalva. "Kalau soal lagu-lagu gue nanti, I think I need to give myself a plenty of time. To get used to the life I had before. Nggak fair juga buat lo kalau lagi-lagi lo mulu yang bantu gue."
"Oh, maksudnya lo mau bantu gue juga?"
Kalva mengernyit. "Helping you with what, exactly? Reciting those lines of dialogues from your scripts?" Dan ketika Aras mengangguk dengan semangat, Kalva memutar mata malas. "Nggak ya, gue nggak mau. Malu anjir kalau disuruh akting sama lo."
"Why not? You used to help me out with those back then."
"You do remember what we ended up with, right?"
Lalu keduanya tertawa.
Sebab di malam ia memenuhi janji untuk jadi lawan latihan akting buat Aras, bukannya makin menghafal dialog atau mendalami emosi karakter, keduanya justru berakhir memagut bibir satu sama lain. Meninggalkan setumpuk skrip itu berserakan di lantai. Dan keesokan harinya, kecanggungan di antara mereka begitu pekat hingga rasanya orang luar yang tak sengaja melirik pun akan tahu ada perasaan rahasia yang mesti diutarakan.
Tentu bukan opsi, atau akhir yang patut untuk dipilih, mengingat situasi mereka saat ini.
"You wanna come to my show next week?" Akibat tawa yang bikin perutnya sakit, suaranya juga terdengar lebih serak. "If you're free, of course."
"Hm, let's see. I think I might be somewhere in Europe next week?"
Dan Kalva akan memendam dalam-dalam, atas apa yang sebetulnya ia rasakan. Tidak, ia betulan sudah bisa menerima fakta bahwa Aras tak lagi punya rasa yang sama—atau setidaknya, tidak akan memberikannya kesempatan untuk mengulang segalanya. Pun ia tahu, patah yang tersisa di antara mereka, tidak akan pernah sama lagi tak peduli upaya apa yang bisa ia berikan untuk menyatukannya kembali. Karena itulah, kini ia tengah mencoba untuk meninggalkan semuanya di hari lalu, untuk melangkah tanpa rengkuhan Aras di sampingnya.
Namun, hanya namun, jika memang suatu saat nanti Aras berubah pikiran dan menoleh ke belakang, Kalva akan tetap selalu ada di sana. Sedia menyambutnya dalam pelukan. Menjatuhkannya kecupan. Dan menjalin jemarinya di antara sela-sela jemarinya sendiri.
