Work Text:
BRAK!
Meja kantor SSS bergetar kencang saat Yuri memukul meja itu. Kedua matanya melotot, napasnya terdengar berat.
“AKU TAK PERCAYA INI!” teriaknya. “PASTI ADA KESALAHAN! KAKAKKU BUKAN PEMBUNUH BAYARAN!”
Letnan Curtis tampak tidak terganggu oleh teriakan Yuri. Dia meletakkan dengan pelan sebuah map di meja itu. “Buktinya sudah jelas, Letnan Briar. Kami juga sudah mengintrogasinya dan dia sendiri sudah mengakuinya–”
“BOHONG! ITU PASTI BOHONG!” teriak Yuri lagi sambil melempar map itu hingga terjatuh ke lantai. Isinya berhamburan ke mana-mana.
Yuri tiba-tiba terperanjat. “Tunggu, KALIAN MENGINTROGASINYA?! Kalau sampai kalian menyakiti kakakku, aku akan–”
“Mengajukan protes?” potong Letnan Curtis. “Ingat posisimu, Letnan Briar. Kau bisa terkena sanksi disiplin jika dianggap menghalangi penyelidikan,”
Yuri langsung terdiam, tapi dia terus menggertakkan giginya frustasi. Tujuannya bergabung ke SSS adalah melindungi kakaknya, tapi kenapa malah jadi begini?
“Tapi jangan khawatir, kami tidak melakukan penyiksaan fisik padanya. Kami sempat mencobanya, tapi dia selalu melawan. Sudah ada 10 anggota SSS yang dirawat karena kakakmu.”
Letnan Curtis lalu mengambil selembar kertas dari dokumen yang dijatuhkan Yuri, lalu menaruhnya ke meja dan menunjukkan gambar Yor.
“Itu bukan hal yang mengejutkan, karena Yor Briar Forger adalah Thorn Princess, pembunuh bayaran terhebat dari Garden. Asal kau tahu, Garden adalah organisasi pembunuh bayaran yang sudah seperti pemerintah bayangan Ostania. Bahkan SSS sekalipun tidak bisa macam-macam dengan mereka. Dengan level seperti itu, Thorn Princess bisa saja membunuh semua orang di gedung ini dan melarikan diri. Tapi dia tidak melakukannya. Kami sama sekali tidak mengerti kenapa dia seperti itu. Di sinilah peranmu, Letnan Briar.”
Yuri menggeram. “Jadi maksudmu … kau ingin memanfaatkan hubungan darah kami agar bisa mengorek informasi darinya?”
“Darah lebih kental daripada air, Letnan Briar,” jawab Letnan Curtis. “Interogasi dia. Tidak masalah kalau kau juga sampai membicarakan hal-hal pribadi. Jika kau beruntung, kakakmu bisa memberikan informasi penting yang bisa jadi meringankan hukumannya.”
.
.
.
BERJALAN KE SISI GELAP
Disclaimer: Spy x Family © Tatsuya Endo. Terinspirasi dari fic Godfather karya are.key.take.tour. Tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiction ini.
Dilarang keras mempublikasikan ulang atau menyalin karya ini untuk keperluan pelatihan AI. Yang melakukannya semoga hidupmu menderita dunia akhirat. Ingat, doa orang terzalimi itu mustajab.
.
.
.
Yuri perlahan membuka pintu ruangan interogasi. Hanya ada dia dan kakaknya di ruangan itu, tapi ada sebuah alat penyadap yang terpasang di bajunya. Mereka seolah diberi privasi, tapi sebenarnya juga diawasi.
Yuri menatap kakaknya yang duduk di meja seberangnya. Wajahnya terlihat jauh lebih kusam dari sebelumnya. Sama sekali tidak ada senyum lembut dan wajah berbinar yang selalu mencerahkan hari-hari Yuri. Kakak yang paling dia sayangi, kini duduk di sana dengan wajah pucat dan pipi yang agak tirus. Yang membuat Yuri agak heran, kakaknya mengenakan gaun hitam yang dulu sering dia gunakan saat menghadiri pesta atau acara resmi.
Matanya yang tadinya tampak kosong, tiba-tiba melebar saat melihat Yuri. Dia sontak berdiri, dan kalau bukan karena tangannya yang terborgol, Yuri yakin kakaknya sudah menghampirinya.
“YURI! Kenapa kau bisa ada di sini?!” seru Yor. “Kenapa kau menggunakan seragam SSS?! Apa mereka menyeretmu dari kementrian lalu memaksamu menggunakan itu–!”
“Bukan, kak,” Yuri menjawab cepat. “Aku sudah tidak bekerja di kementerian. Aku sekarang adalah anggota SSS, Letnan Dua Yuri Briar.”
Yor membekap mulutnya. Tubuhnya tampak gemetar, matanya tampak berkaca-kaca. “Yuri, jadi selama ini … kau …”
Yuri merasakan retakan di hatinya saat melihat air mata menggenang di mata kakaknya. Kenapa kakaknya harus tahu pekerjaan aslinya dengan cara seperti ini?
Yuri sekuat tenaga menahan emosinya, lalu mulai duduk di kursi interogator. Dia mulai bicara dengan nada dingin.
“Itu sekarang bukan hal penting, Kak. Sekarang beritahu aku siapa itu Thorn Princess, bajingan yang menuduh Kakak sebagai pembunuh bayaran hingga Kakak berakhir di sini.”
Yor tampak masih terpukul, tapi dia menurut dan duduk bersebrangan dengan Yuri. “Aku adalah Thorn Princess, Yuri. Itu memang aku.”
“TIDAK, INI PASTI BOHONG!” teriak Yuri. “Tidak mungkin Kakak yang baik hati dan lembut bisa menjadi pembunuh bayaran! Pasti ada yang menjebak Kakak!”
“Tapi aku memang Thorn Princess, Yuri–”
“BERHENTI BERBOHONG KAK!”
“Yuri, aku–”
“INI SEMUA BOHONG!”
“Yuri–”
“SEMUA INI TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN!”
Yuri yang tak sanggup berteriak lagi, terduduk lemas. Kakaknya sama sekali tidak menyangkalnya.
Yor tampak tertunduk, lalu bicara dengan suara tertahan, seolah sedang menahan tangis. “Maaf, Yuri. Aku benar-benar minta maaf ….”
Mendengar suara kakaknya, Yuri berusaha kembali melunak. Dia lalu bertanya dengan suara bergetar, “Kapan, Kak? Sejak kapan Kakak menjadi pembunuh bayaran?”
“Tidak lama setelah orang tua kita meninggal,” jawab Yor pelan. “Aku melakukan pekerjaan ini agar bisa mendapatkan uang ….”
Jawaban itu menusuk hati Yuri. Itu menjawab semua pertanyaannya kenapa kakaknya selalu pulang dalam keadaan bersimbah darah. Itu juga menjawab kenapa di dokumen yang Letnan Curtis berikan terdapat beberapa korban Thorn Princess yang tanggal kematiannya lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Yuri merasa sangat bodoh. Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?! Aku yang membuat Kakak melakukan hal kotor itu!
“Kenapa Kakak masih melakukannya sampai sekarang?! Apa Kakak kesulitan uang, meskipun Kakak sudah bekerja di Balai Kota? Aku sudah dewasa, kak! Aku sudah punya uang sendiri! Kalau Kakak butuh uang, Kakak bisa minta padaku–!”
“Tidak, Yuri,” potong Yor. “Aku juga sempat memikirkan ini beberapa kali. Aku melakukan ini bukan hanya demi uang, tapi karena aku ingin menjaga perdamaian dunia yang kita tempati dengan menyingkirkan orang-orang jahat dan pengkhianat negara.”
Tatapan Yor sempat menjadi gelap untuk sesaat. “Meskipun sekarang aku mulai berpikir … kalau pekerjaanku tidak semulia yang aku kira ….”
Yuri terdiam. Dia kembali teringat perkataan Letnan Letnan Curtis tentang Garden, organisasi pembunuh bayaran yang lebih kuat dari SSS. Kakaknya masuk ke organisasi itu demi membiayai hidupnya dan adiknya, lalu dicuci otak seolah pembunuhan itu pekerjaan mulia. Tak bisa dimaafkan.
Tapi alasan itu menimbulkan pertanyaan baru di kepala Yuri.
“Kakak adalah anggota penting Garden, bukan? Kenapa mereka tidak berusaha menolongmu, setelah pengabdianmu bertahun-tahun di sana? Kakak juga hebat, pasti Kakak bisa melawan SSS lalu kabur dan kembali ke Garden!”
“Aku dibuang, Yuri,” jawab Yor pendek. “Aku telah gagal melaksanakan tugasku dan mengacaukannya. Itu sudah dianggap sebagai pengkhianatan oleh Garden. Seharusnya aku bersyukur hanya berakhir di tangan SSS. Biasanya para pengkhianat akan dihabisi oleh Garden sendiri. Tidak ada gunanya aku kabur dari sini.”
Yuri mengepalkan tangannya keras. Garden membuangnya, setelah semua yang Kakak lakukan untuk organisasi itu?
“Tugas? Memangnya mereka memberi tugas apa pada Kakak?” tanya Yuri lagi. Bertanya-tanya seberat apa tugas yang membuat Yor sebagai Thorn Princess, salah satu pembunuh bayaran terbaik Garden, gagal melakukannya.
Hening sesaat. Yor tampak ragu-ragu, tapi akhirnya dia menjawabnya.
“...aku diperintahkan untuk membunuh Loid.”
“Hah?! Lottie?!” Yuri terperanjat. “Kenapa Kakak–tidak, kenapa Lottie menjadi target Kakak? Bukannya dia cuma psikiater biasa di rumah sakit?”
Apakah Lottie diam-diam melakukan kejahatan besar yang sampai membuatnya menjadi target Garden? Seperti memanipulasi data pasien, atau bahkan menjual data-data pasien ke Westalis? Sialan, sudah kuduga dia memang pria brengsek–!
Yor menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku tidak bisa menceritakan semuanya, tapi intinya yang kutahu Loid adalah mata-mata yang dikirim oleh Westalis. Dan nama aslinya … Twilight.”
Mendengar nama itu, Yuri merasa seperti disambar petir. Ini lebih buruk dari yang dia bayangkan. Bajingan yang dicari SSS selama ini, ternyata adalah suami kakaknya?
“Kenapa Kakak tidak membunuhnya saja?!” teriak Yuri. Dia tak bisa menahan diri lagi. “Dia adalah musuh Ostania! Sadarlah, dia pasti sudah memanipulasi Kakak agar jatuh cinta padanya! Semua tindakan dan perkataan manisnya selama ini hanya kebohongan!”
Yor hanya diam. Tapi dia tersenyum. “Aku tidak tahu apakah semua yang dilakukan Loid selama ini adalah kebohongan atau tidak, tapi di pertemuan terakhirku dengannya … aku merasa dia tidak lagi berbohong.”
Yuri menggeram. “Bagaimana Kakak yakin itu bukan bohong?! Orang yang jatuh cinta biasanya selalu susah membuat penilaian yang benar! TWILIGHT SIALAN! Pasti dia membujuk Kakak agar menyerahkan diri sehingga dia bisa kabur seperti pengecut! Dasar pria pembohong, brengsek, bajingan–!”
“Yuri, cukup,” suara Yor tiba-tiba menjadi tegas. “Tolong jangan menghina Loid lebih dari itu.”
“KAKAK MASIH MEMBELANYA?! Bahkan setelah Kakak ditangkap oleh SSS karena hasutan bajingan itu?! Harusnya kakak lebih memikirkan kondisi Kakak sendiri–!”
“Kau sendiri kenapa tidak memikirkanku, Yuri?” potong Yor tiba-tiba. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Kau tidak memikirkan perasaanku saat melihatmu mengenakan seragam SSS? Perasaanku saat tahu bahwa kau menyembunyikan hal seperti ini padaku?! Apa bedanya Loid dengan kau dan aku yang menyembunyikan pekerjaan asli kita selama ini?!”
Yuri seketika membeku. Lidahnya kelu. Tapi dia berusaha membalas. “I-ini berbeda! Kau dan aku melakukan ini demi Ostania–!”
“Dan Loid melakukan itu demi Westalis, negaranya!” potong Yor lagi. “Kita semua tahu ini pekerjaan yang berat, tapi kita semua bertahan demi seseorang atau sesuatu yang penting untuk kita. Aku menjalani pekerjaan sebagai assassin, demi menciptakan dunia yang damai di mana kau tinggal. Alasan kenapa aku melakukan pernikahan kontrak dengan Loid karena aku ingin membuatmu tenang sekaligus menjadi penyamaranku agar aku bisa terus melakukan pekerjaan ini!”
Yor mulai terisak. Dia menutupi wajahnya dengan tangannya.
“Kau harusnya tidak bergabung dengan SSS, Yuri …” Yor terus berbicara di sela isak tangisnya. “Kau harusnya hidup normal … menikah … memiliki banyak anak … sebagai ganti kita tidak punya orangtua … lalu berumur panjang hingga jadi kakek-kakek … pekerjaan kotor ini harusnya … kau serahkan saja padaku ….”
Tubuh Yuri gemetar mendengar kalimat-kalimat itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Yuri bisa merasakan kukunya menancap di tangannya saking kerasnya dia mengepalkan tangan.
“HARUSNYA AKU YANG MENGATAKAN ITU!” teriak Yuri, dia sampai berdiri dari kursinya. “Aku tahu Kakak sudah berkorban banyak demi aku! Kakak mengorbankan waktu, tenaga, dan segalanya demi aku! Karena itu aku ingin Kakak hidup bahagia! Aku ingin Kakak menikah dengan laki-laki baik, punya banyak anak dan hidup bahagia sampai nenek-nenek! Itulah alasan kenapa aku bergabung dengan SSS! Aku tidak peduli meskipun akan dianggap jahat, asalkan aku bisa membuat dunia yang damai untuk Kakak!”
Yuri lalu duduk kembali dengan wajah tertunduk, mulai ikut terisak. “Tapi yang terjadi … gara-gara aku menekan kakak untuk segera punya pasangan … kakak malah terjerumus dalam jebakan Twilight … dan berakhir di sini … maaf Kak, aku gagal melindungimu ….”
Hening sejenak menyelimuti mereka, meskipun masih diselingi suara isak tangis mereka. Yuri yang pertama berusaha berhenti menangis, dengan mengelap air matanya dengan lengan bajunya, dan mulai bicara dengan suara pelan.
“Kak, aku mohon …” pinta Yuri. “Beritahukan SSS segala yang Kakak tahu tentang Twilight. Kakak sudah hidup lama dengannya, jadi Kakak pasti tahu banyak soal dia. Kebiasaannya, makanan kesukaannya, apa saja! Kalau Kakak bersedia memberikan informasi, atau bahkan ikut membantu menangkap Twilight, Kakak bisa mendapat keringanan hukuman–!”
“Tidak, Yuri. Aku tidak akan melakukannya,” potong Yor, isak tangisnya sudah berhenti tapi wajahnya masih sembab. “Aku melakukan semua ini demi menyelamatkan Loid dan Anya. Kalau aku memberitahumu soal itu, maka apa gunanya aku di sini?”
“KAKAK MASIH PEDULI PADANYA?!” teriaknya. “Sudah kubilang kalau Twilight–!”
“Seorang mata-mata jahat yang mengancam Ostania? Iya, aku tahu itu, Yuri,” potong Yor lagi. “Tapi kuberitahu, aku melakukan semua ini atas keputusanku sendiri, Yuri. Bahkan aku sendiri yang menyuruh Loid untuk lari.”
Yor menghela napas panjang sebelum kembali bicara.
“Aku tahu apapun yang kukatakan tentang Loid, kau takkan mempercayainya. Tapi meskipun pernikahanku dengan Loid hanyalah pernikahan pura-pura, aku mengakui kalau waktu yang kulalui bersama Loid dan Anya adalah masa-masa terbaik dalam hidupku.”
Yor mengatakan itu sambil tersenyum kecil. Senyum yang bahkan terlihat cerah di ruangan interogasi yang harusnya mencekam.
“Aku tidak menyesal atas semua yang terjadi. Aku ditangkap oleh SSS bukan karena Loid adalah mata-mata, tapi karena aku adalah pembunuh bayaran. Apapun alasannya, aku sudah membunuh banyak orang. Karena itu, aku takkan lari dari hukumanku.”
Kata-kata Yor membuat Yuri terdiam. Dia ingin membantah, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Tapi sekali lagi, mulutnya seolah terkunci rapat.
.
.
.
Yuri menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Meskipun dia sudah membaca selusin buku tentang hukum, tapi dia tidak kunjung mendapat titik terang.
SSS saat ini mengalami tekanan dari berbagai pihak (meskipun kasus ini ditutup-tutupi agar tidak diketahui publik). Para korban Thorn Princess memang rata-rata telah melakukan kejahatan yang membuatnya layak dicap sebagai pengkhianat negara, tapi mereka memiliki kolega atau kerabat yang memiliki jabatan tinggi di berbagai sektor. Mereka semua menuntut agar Thorn Princess dihukum seberat-beratnya.
Hasil interogasinya dengan Yor tidak menghasilkan hal yang berarti. Malah menunjukkan hasil yang buruk: Thorn Princess mengetahui soal Twilight, tapi dia menolak untuk memberikan informasi. SSS jadi tidak memiliki alasan kuat untuk mempertahankan keberadaan Thorn Princess. Kemungkinan terburuk tapi paling mungkin terjadi, adalah Thorn Princess akan dieksekusi di kursi listrik.
Tapi Yuri tidak mau menyerah. Dia akan mengerahkan seluruh sel di otaknya untuk menemukan celah hukum agar hal itu tidak terjadi.
Hukuman kerja paksa? Masa hukumannya memang relatif pendek, tapi kebanyakan orang yang menjalani hukuman ini berakhir dengan cacat fisik atau mental permanen. Meskipun kakak itu kuat, aku tak bisa membiarkan menjalani hukuman sekeras itu.
Penjara seumur hidup? Jika beruntung, kakak bisa mendapat pembebasan bersyarat meskipun harus menunggu sekitar 20-30 tahun. Tapi bagaimana jika nanti kakak tidak mendapat hak untuk mengajukan itu? Aku tidak mau Kakak menghabiskan sisa hidupnya di penjara yang dingin dan kotor.
Diasingkan di tempat terpencil atau dibuang ke luar negeri? Ini mungkin opsi yang lebih baik. Setidaknya kakak tidak perlu hidup terkurung. Tapi apa tidak masalah kakak hidup sendirian seperti itu?
“Sejak kau memiliki pekerjaan dan mulai hidup sendiri, sejujurnya aku merasa agak kesepian ….”
Sialan, apa aku harus membiarkan Kakak menjalani hidup seperti itu lagi?!
“Letnan?”
Suara itu membuyarkan pikiran Yuri. Dia melihat Chloe masuk ke ruangannya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Ini jam 1 pagi–!”
“Harusnya aku yang bertanya soal itu, Letnan Briar. Kau bahkan sudah tiga hari menginap di kantor, padahal tidak ada pekerjaan yang memaksamu lembur,” balas Chloe tajam.
“Bukan urusanmu!” sergah Yuri sambil membuang muka.
Chloe hanya bisa menghela napas. Kalimat Letnan Curtis kembali menggema di benaknya.
“Awasi Letnan Briar. Pastikan dia tidak melakukan hal nekat.”
“Kau masih memikirkan soal kakakmu?” tanya Chloe. Berusaha menunjukkan simpati.
Yuri tidak menjawab. Tapi mendadak dia berdiri. Dia melangkah ke arah pintu sambil mengambil pistolnya.
“Hei, kau mau ke mana?!” tegur Chloe.
“Aku perlu bicara dengan kakakku sekali lagi,” kata Yuri. “Aku harus membuatnya memberikan informasi soal Twilight.”
“Sekarang?! Hei, kau takkan diizinkan ke penjara di jam segini!” seru Chloe. “Kau sendiri juga tahu bukan kalau kakakmu tetap teguh dengan pendiriannya meskipun sudah diinterogasi?! Aku tahu dia itu kakakmu, tapi memaksanya–”
“Aku harus membuatnya bicara soal Twilight. Hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa selamat dari eksekusi,” kata Yuri sambil terus melangkah. “Akan kulakukan apapun caranya, meskipun harus mempertaruhkan nyawaku.”
Chloe langsung bergidik mendengar kalimat itu. Dia sontak memegang lengan Yuri, menahan langkahnya.
“Jangan bilang … kau akan mengancam akan bunuh diri jika kakakmu terus menolak?!” seru Chloe dengan mata terbelalak. “Kau gila! Kakakmu akan membencimu kalau kau sampai melakukan itu!”
“Itu lebih baik daripada dieksekusi, kan?!” balas Yuri dengan nada tinggi.
“Tetap saja! Kalau kau sampai senekat itu, kau takkan aku izinkan pergi! Aku juga akan mengadu pada Letnan!” sahut Chloe.
Yuri menggertakkan gigi. “Baiklah! Aku punya opsi lain! Aku akan membuat cerita bohong tentang Twilight atau Gadis Chihuahua sedang berada dalam bahaya, sehingga kakak akan menerobos kabur dan membunuh siapapun yang menghalanginya–!”
“Itu sama gilanya!” seru Chloe. “Kau bisa membuat rekan-rekanmu terbunuh–!”
“Lalu apa yang harus kulakukan agar kakakku selamat?!” teriak Yuri kesal. “Chloe, sekarang katakan padaku! Bagaimana cara agar kakakku bisa selamat dari eksekusi?!”
Chloe sontak terdiam. Kali ini dia tidak sanggup membalas perkataan Yuri.
“Tidak ada, kan? Hanya ini satu-satunya cara!” teriak Yuri lagi. “Sekarang hanya ada dua pilihan, mempertaruhkan nyawaku atau nyawa seluruh SSS–!”
Perdebatan mereka terhenti saat tiba-tiba alarm berbunyi. Asalnya dari penjara bawah tanah SSS.
Yuri dan Chloe bergegas berlari ke pusat suara. Begitu sampai di penjara, mereka terkejut saat menyaksikan banyak tubuh para penjaga yang bergelimpangan di lantai.
Yuri melihat luka-luka itu sekilas. Luka itu jelas merupakan senjata tajam, bukan senjata api atau semacamnya.
Siapa yang melakukan ini? WISE? Atau–
Hati Yuri langsung mencelos. Dia seketika teringat dokumen yang dia baca soal Garden. Sebagai organisasi pembunuh bayaran, mereka jarang menggunakan senjata api karena akan menimbulkan suara keras. Mereka sangat terampil sehingga senjata tajam dengan jarak dekat-menengah sudah cukup untuk membunuh target mereka.
Apa ini ulah Garden? Apa mereka datang untuk menyelamatkan kakak? Atau jangan-jangan ….
Yuri bergegas berlari ke dalam sel penjara, mengabaikan teriakan Chloe dan mayat yang tidak sengaja dia injak. Sampailah dia di sel tempat Yor ditahan. Sel itu terbuka, sehingga Yuri bisa langsung masuk tanpa kunci.
Dengan napas memburu, Yuri menyaksikan Yor sedang berdiri di tengah sel penjara, tampak mematung. Dengan cepat dia langsung memeluk kakaknya itu.
“KAK! Kau baik-baik saja?! Aku kaget sekali–!”
Perkataan Yuri seketika terhenti saat merasakan ada rembesan darah mengenai bajunya. Yuri seketika menyadari bahwa ada lubang besar di dada bagian kiri Yor, tempat jantungnya harusnya berada. Tubuh Yor mulai tumbang di detik berikutnya.
“KAKAK–!”
Yuri dengan sigap menahan tubuh kakaknya, membaringkannya dengan pelan di pelukannya. Mata Yor masih terbuka, tapi napasnya sangat putus-putus. Tubuhnya juga mulai terasa dingin.
“KAKAK?! KAKAK?!” panggil Yuri putus asa.
Tangan Yor tiba-tiba terangkat, membelai pipi Yuri lembut. Yor menatap ke wajah Yuri dengan setitik air mata mengalir keluar dari matanya. Bibirnya yang juga mengeluarkan darah membisikkan satu sata dengan sangat lirih.
“... maaf .…”
Tangan Yor perlahan lepas dari pipinya Yuri, lalu terjatuh ke lantai. Mata Yor berubah menjadi kosong. Napasnya telah terhenti.
Selanjutnya, Yuri tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Yuri hanya mengingat sensasi aneh di tubuhnya.
Telinganya berdenging.
Tenggorokannya sakit.
Beberapa tangan mulai memegang tubuhnya, beberapa mengguncang bahunya. Yuri bisa melihat sekilas wajah Chloe yang panik dan mulutnya tampak bergerak, seolah mengatakan sesuatu. Tapi Yuri sama sekali tak bisa mendengarnya.
Barulah Yuri menyadari kalau rasa sakit di tenggorokannya dan denging di telinganya, diakibatkan karena dia yang terus menerus berteriak.
.
.
.
Yuri hanya ingat sedikit-sedikit apa yang dilaluinya setelah hari itu. Tubuhnya terasa melayang, langkahnya goyah, dan segalanya tampak kelabu.
Dia ingat Letnan Curtis menepuk bahunya dan mengatakan hal seperti ‘perlu usaha keras untuk membujuk para atasan agar kakakmu diizinkan untuk dimakamkan di pemakaman sipil’. Dia ingat ada di acara pemakaman. Dirinya hanya diam mematung di depan peti mati tertutup, di mana kakaknya terbaring di sana. Dia ingat Dominic dan Camilla hadir di pemakaman itu, mengguncang bahunya dan mengatakan sesuatu yang Yuri tidak ingat apa yang mereka katakan.
Dia ingat berdiri di hadapan nisan yang bertuliskan nama Yor Forger, dengan tanggal lahir dan tanggal kematian tertulis di bawah nama itu. Dia ingat berjalan di bawah gerimis, dengan Chloe yang menarik tangannya, membimbingnya berjalan meninggalkan pemakaman. Hingga pada akhirnya saat Yuri mendapatkan seluruh kesadarannya lagi, dia sudah berada di dalam apartemennya dalam keadaan tubuh kering.
Dia tengah duduk di sofa, di hadapan dinding yang terpasang banyak foto kakaknya.
Kakaknya Yor, satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Kakaknya Yor, yang menjalani kehidupan hitam selama bertahun-tahun demi dirinya.
Kakaknya Yor, yang sudah pergi dari dunia ini.
Meninggalkan dirinya sendirian.
Sendirian.
“Kakak …”
Setitik air mata jatuh dari pipi Yuri.
“Maaf … aku minta maaf ….”
Yuri mulai terisak. Air matanya mengalir makin deras.
“Setelah semua yang kulakukan … aku kira aku sudah cukup kuat dan dewasa untuk bisa melindungimu … tapi pada akhirnya, aku gagal … AKU GAGAL!”
Yuri makin berteriak, meratap di depan foto kakaknya. Dia menangis dan terus menangis, hingga pada akhirnya dia terbaring lemas di sofa itu, kelelahan.
Di antara kesadarannya yang memudar, berbagai memori random berputar di benaknya. Hingga pada akhirnya sebuah memori baru muncul, masih dengan Camilla dan Dominic yang mengguncang tubuhnya di pemakaman. Tapi kali ini Yuri bisa menangkap apa yang Camilla katakan.
“Apa yang terjadi?! Kenapa Yor bisa meninggal?! Di mana suami Yor?! Kenapa dia tidak datang?!”
Pertanyaan itu sontak membangkitkan kembali kesadaran Yuri, seolah ada kabel listrik di kepalanya yang sebelumnya terputus kini tersambung kembali. Pikiran Yuri kembali berjalan, dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya. Tubuhnya seketika kembali duduk tegak.
“Twilight …” Yuri membisikkan nama itu dengan pelan.
Loid Forger, bukankah kau sendiri yang bilang akan melindungi kakakku dari hujan tombak, peluru, bahkan meteor? Mana buktinya? Kau malah membiarkan istrimu ditangkap dan kau kabur seperti pengecut!
Sialan, aku lupa kalau dia itu Twilight. Sudah pasti selama ini dia berakting menjadi laki-laki baik yang memikat Kakak demi misinya! Lalu saat Kakak sudah tidak berguna lagi, dia membuangnya begitu saja. Tak bisa dimaafkan!
Wajah Loid Forger terbayang di benaknya. Yuri langsung merasa jijik. Semua kebaikan yang dia lakukan selama ini, mulai menjadi suami dan ayah yang baik, membuatkan makanan yang lezat, mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan melindungi Yor dari todongan pistol teroris, semua itu hanyalah akal bulus Twilight agar bisa memerankan Loid Forger dengan sempurna.
Kau benar-benar bajingan keji, Twilight ….
Yuri menggeram. Matanya melotot. Napasnya memburu, dadanya tidak lagi sesak oleh isak tangis, tapi oleh kobaran api raksasa yang membara. Api itu membakar seluruh tubuh Yuri dengan kemarahan.
“Kubunuh kau … kubunuh kau ….”
Yuri mengucapkan kalimat itu berulang-ulang.
“Kubunuh kau! Kubunuh kau! KUBUNUH KAU!”
Yuri berteriak keras, suaranya menggaung di dalam ruangan itu. Menumbuhkan satu tujuan baru dalam hidupnya: balas dendam.
.
.
.
“Bagus sekali, Yuri Briar. Arahkan kemarahanmu pada Twilight, pada WISE, dan pada Westalis. Hingga kemarahanmu membakar seluruh Westalis hingga menjadi abu ….”
.
.
.
TAMAT
