Work Text:
"Jeya..."
"..."
"Jeya?"
"Kenapa Yun?"
Wajah Jake kontan menghangat oleh panggilan itu.
Jay bukan orang pertama yang memanggil Jake dengan nama tengahnya, Jay bahkan juga bukan satu-satunya juga. Panggilan itu tidaklah spesial, keluarga inti Jake sudah memanggilnya dengan nama Jaeyun sejak dia bayi, sepupu jauh yang hanya Jake temui saat natal juga memanggilnya seperti itu.
Mungkin memang karena Jay hingga panggilan itu malah hasilkan semburat merah muda yang tak bisa Jake bendung sama sekali.
Bibir bervolumenya menggulum senyum, langkah mendekati sofa lalu menempatkan dirinya ringan di sebelah Jay. Pandangan laki-laki yang lebih tua beberapa bulan itu mengarah pada Jake, senyum tipis terulas sebelum membenarkan posisi duduk--menerima kehadiran Jake masuk ke dalam rengkuhan lengannya.
"Ngapain?" Tanya Jake. Ada sebuah buku pada pangkuan Jay, beberapa lembar pertama terbuka menjelaskan bahwa Jay baru saja memulai bacaannya beberapa saat yang lalu.
Sampul buku itu Jay tutup, memperlihatkan pada Jake judul yang tertera. Judulnya tidak asing, sebenarnya pun buku itu merupakan milik Jake. Dia telah memilikinya beberapa tahun silam dan tak terhitung sudah berapa kali dia membacanya ulang.
"Tumben." Komen Jake. "Kamu bahkan ga suka astronomi."
"But you do... And I want to get involved in every inch of you."
Semburat yang nyaris hilang itu menerpa lagi. Kali ini lebih parah diikuti usapan lembut Jay pada belah pipinya. Jake merona dan senyum yang masih dia paksa kulum itu berkedut dalam senyum malu-malu.
Jay tau dan dia terkekeh akan respon itu. Tangannya yang lain membuka lembar buku paling belakang, ada coretan tangan dengan pensil disana dan Jay tak harus menerka, tau betul itu merupakan tulisan tangan Jake.
"At least, I knew we saw the same moonlight every night." Suara Jay mengalun rendah gumamkan patahan kalimat itu.
Usapan ujung jarinya pada pipi Jake menjalar pada rahang, gerakannya lembut dan Jake kian menyamankan diri masuk lebih jauh dalam pelukan Jay. Wajahnya beradu dengan sisian pundak laki-laki itu, tulang hidungnya yang tinggi menggali aroma pada ceruk itu pula, berulang sampai Jake pikir kapasitas aroma tubuh Jay akan habis oleh dirinya.
Tapi tidak, aroma menenangkan itu masih ada disana, selalu ada disana; merengkuhnya, memeluknya, menciumnya, dan akan selalu menjadi miliknya.
"Aku emang agak cheesy pas puber." Suara Jake berat menguar pada leher Jay. Matanya mendadak berat dan Jake akan tenggelam dalam kantuk dalam hitungan menit.
"Sekarang juga masih sih."
Jake memutar bola mata. "Bear with that, then."
Kekehan yang sama menguar lagi sebagai respon. Buku itu Jay tutup menemani sepasang elang miliknya pada sampul. Bintang bertebaran banyak, langitnya berwarna biru dan ungu disapu oleh semburat jingga yang membuat Jay bertanya-tanya; apakah semesta memang aslinya secantik ini? Atau hanya manusia saja yang melebih-lebihan untuk sekedar nilai?
Tidak nyata, mungkin juga tidak mungkin tercipta?
"How's class?" Tanya Jay menarik mereka pada topik pembicaraan yang lain.
Jake bergumam lagi di atas potongan leher Jay. "Kayak biasa, boring." Suaranya semakin rendah dan perlahan kesadaran mulai menarik diri. "Tadi ketemu Jill lagi." Sambungnya nyaris tak terdengar.
Tapi Jay masih dengan sangat jelas menangkap ucapan itu. Tangannya di atas sampul buku menegang diikuti dengan usapan pada wajah Jake yang ikut berhenti.
"Ya?"
Gumaman yang sama Jake beri sebagai jawaban.
"Kalian sempat ngobrol?"
"Engga."
"Kenapa?"
"I don't want to." Posisi kepala Jake berganti lebih rendah. Satu lengannya memeluk perut Jay, melingkari pada pinggang dan bertahan pada posisi itu. "Kita ga pernah dekat juga lagian, why would I?"
Jill memang tidak berteman dengan Jake, tidak pernah bertukar sapa juga seingat Jay. Mereka tidak lebih dari dua orang yang berbagi kampus yang sama yang mungkin hanya satu dua kali tak sengaja berpaspasan pada lorong. Dan Jay juga ingat alasan dibalik itu.
"It's... because you out of league Yun."
"Hm?"
"You're Jake Sim, The Jake Sim."
Kantuk Jake menghilang tapi dirinya tetapi berada pada posisi yang sama.
Itu adalah pujian, bukan kali pertama dia mendengarnya, lagi, Jay juga bukanlah satu-satunya yang mengatakan hal itu. Tidak spesial, untuk yang ini Jake sama sekali tidak berkesan.
"What's the point, you don't even know me back then."
Rahang Jay kontan terkatup, lidah dalam mulutnya melengkung berkat rasa tak nyaman yang menyebar cepat oleh canggung.
"But I heard about you, tau." Jay membela dirinya. "I mean, everyone adores you, they talked a lot of good things about you."
"Still, it's pointless."
Jay hilang kata.
Karena Jake memang benar. Hari lalu itu, Jay bahkan sama sekali tak tau ada manusia bernama Jake Sim di dunia ini.
Bukan hal yang baru akan adanya seleb dalam sebuah komunitas, termasuk dalam lingkaran kampus mereka. Jake adalah seleb itu. Bukan hanya karena dia tampan dan orang-orang tergila-gila akan rupanya. Jake lebih dari sekedar figura yang rupawan; Jake mengagumkan, dia menakjubkan.
Dia pintar dalam akedemik, dalam sosial sosoknya selalu hadir pada pertemuan-pertemuan kemanusiaan. Di luar lingkungan kampus, namanya tak lagi asing sebagai relawan yang terlibat pada organisasi amal non profit. Pembawaannya yang ramah membuatnya dengan mudah berteman dengan siapa saja. Semua orang menyukai Jake, semua orang mengagumi Jake.
Semua orang; ada banyak orang, dan Jay tidak termasuk dalam bagian itu.
Bukan karena popularitas Jake yang menurun tapi memang Jay yang terlalu apatis untuk peduli akan sekitarnya. Jay dengan lingkar kecil dunianya, yang masuk dalam tabel kumpulan orang-orang yang tak terlihat. Berbanding terbalik dengan Jake yang selalu terlihat.
Jake is someone, while Jay is no one.
Tapi gambaran selalu dan banyak itu masih tak cukup membuat Jay terlibat masuk dalam salah satu.
Karena Jay tidak peduli, karena Jay bahkan sama sekali tak tertarik untuk mencari tau.
"But I do now." Sergah Jay cepat. Dan hanya ucapan itu saja, dengan mudahnya berhasil membawa semburat merah muda itu lagi. Jake mendongak dan serta merta temukan Jay yang tengah menatapnya juga di atas sana.
"Yun aku disini sekarang, sama kamu." Patah kata itu menekan tegas dalam suara Jay.
Mata mereka terkunci dan Jake terlena untuk jumlah yang sudah tak terhitung kalinya. Dia menjilat bibir tanpa sadar sebelum membawanya pada Jay dalam pangutan. Belah bervolumenya itu menarik semua sudut bibir Jay. Gerakannya pelan seolah tak ingin melewatkan semili apapun dari tekstur Jay.
Jake selalu mendominasi, bahkan seperti tak ingin Jay mengambil porsi.
Ciuman itu berakhir tak sempat Jay balas sama sekali. Jake berganti posisi dari sofa, buku kesukaan miliknya pada pangkuan Jay dia lempar tanpa peduli sebelum mengambil posisi pangkuan itu untuk dia duduki.
Jake selalu kurus, namun dalam beberapa bulan terakhir ini Jay telah kehilangan banyak berat badannya. Menerima beban tubuh Jake tiba-tiba seperti ini selalu membuatnya terkesiap namun Jay tak ajukan protes apapun. Tangannya memegang masing-masing pinggang Jake lalu menyusup masuk ke dalam pakaian itu guna pertemukan kulit mereka seperti yang selalu Jake pinta.
Posisi Jake yang lebih tinggi membuatnya leluasa jelajahi paras Jay. Untuk bagian terkecil pada ujung poninya yang menjuntai, Jake pastikan inderanya tak melewatkan itu sama sekali. Manik mata Jay bulat dengan iris gelap, kelopak berbentuk tajam, bulu matanya yang panjang--Jake biarkan dirinya tenggelam dalam semesta itu. Semesta yang sudah lama dia cintai.
Jake kecupi kelopak itu, bergantian dua kali sebelum bubuhkan kecupan yang lain pada ujung hidung Jay.
"Jeya..." Panggil Jake. "Jeya-ku..."
Ujung bibir Jay berkedut dalam senyum tipis. "Iya Jaeyun..."
"Jangan pergi, jangan tinggalin aku."
Jay menggeleng cepat dalam bantahan. "Aku ga akan tinggalin kamu." Tangan kurus Jay menonjolkan urat dengan warna pucat, bagian kulit itu tersiram bayangan oleh warna lebih gelap bekas memar lama, samar bergetar saat Jay paksa untuk menggenggam erat tangan Jake. Kecupan Jay juga berlabuh banyak pada punggung tangan itu namun itu takkan berarti jika Jake tak percaya. "Aku disini."
Tapi Jake percaya, dia akan selalu percaya.
"Jeya-Jeya-Jaya." Panggil Jake berulang.
"Jaeyun-Jaeyun-Jaeyun." Jay balas memanggil.
Tawa Jake penuhi ruangan. Mata teduhnya penjarakan Jay lagi dalam semestanya. Jake tidak lagi terlihat sedih, dia tidak terlihat marah dan itu menenangkan Jay sampai ke ujung saraf. Perlahan, getaran tangan Jay juga ikut menghilang.
"You should eat, you lose a lot already." Itu bukan tawaran, bukan juga ajakan. Dalam posisi Jay itu berarti perintah yang harus dia turuti. Dan Jay akan turuti itu.
"I know and I will."
Jake menarik tangannya pertama kali, matanya menjelajahi tangan Jay lalu berganti pada kerah yang menyembunyikan tulang selangka. Dari tulang selangka menuju pundak, samar bekas luka yang sama mengintip. Jake merawat luka-luka yang Jay miliki dengan baik namun dia tetap merasa bersalah akan hal itu.
"I'm sorry for the bruises." Gumamnya menyesal.
"It's getting better." Sahut Jay cepat mencoba menenangkan. "Thank you, Jaeyun..." Jay beri kecup pasa pipi Jake.
Jake meringis oleh sisa rasa bersalah sebelum berikan senyum. Jay membalasnya dengan senyum yang lebih lebar.
DINGG
Suara notifikasi pesan berasal dari ponsel Jake memutus jembatan mereka. Jake turun dari pangkuan Jay guna mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Pada layar Jake membaca tanpa suara pesan yang baru masuk itu. Pelipisnya berkedut samar nyaris tak terlihat namun Jay melihatnya.
"It's Jill, again." Jelas Jake tanpa menunggu Jay bertanya terlebih dahulu. "Chat broadcast, again."
Tubuh Jay tanpa mampu dicegah berikan respon tegang yang sama, tapi Jay sudah cukup lihai bermain dengan ekspresi wajahnya.
"Oh..." Dia bergumam singkat berusaha keras untuk tak menunjukkan minat sama sekali.
"Kamu mau baca?" Tawar Jake.
Jay menggeleng.
"Kenapa?"
"It's broadcast right, berarti cuman announcement or something."
"Bener." Jake matikan layar dan meletakkan ponselnya begitu saja pada meja tanpa berniat membaca lebih lengkap isi pesan itu.
"Kita makan sekarang?" Itu masih bukan tawaran atau juga ajakan. Masih dalam posisi yang sama, bagi Jay itu berarti perintah yang harus dia turuti. Dan Jay akan turuti itu.
Jay mengangguk sembari bangkit dari sofa. Uluran tangan Jake, dia terima bersama langkah menapak bersamaan menuju kitchen set yang ada pada ruangan yang sama. Permadani tebal dan halus di bawah sofa lekas menyapa telapak kaki Jay, pada langkah ketiga berganti dengan dingin marmer bersama gemericing rantai besi serta merta penuhi ruangan.
Rantai besi yang telah membelenggu kaki Jay berbulan-bulan lalu yang membuatnya tak bisa lari dari Jake meskipun mau.
MISSING
Jay Jongseong Park, 22
Went missing since last semester
Last seen at parking lot Hamgang University
If you have any information please call Seoul Police Department
Or Jillian Park +82 0422 2004
